Arsip

Archive for the ‘Trekking.’ Category

Tafsir Quanta Ikhlas pada riak Curug Sawer

Januari 24, 2013 1 komentar
"Freedom!" Pose favorit kalau berfoto di depan air terjun hehe

“Freedom!” Pose favorit kalau berfoto di depan air terjun hehe

Jika dan hanya jika saya harus memilih destinasi favorit antara hutan, laut, dan air terjun, saya akan memilih yang paling akhir. Ini tidak jelas kenapa, pada mulanya, tapi kemudian saya mengerti bahwa air terjun selalu menakwilkan “kebebasan”, persis seperti pendakian gunung menakwilkan mikraj kehadirat Allah.

Saya jatuh cinta pada laut, saya menikmati pendakian gunung, tapi mendengar riak air terjun selalu membuat saya sumringah, seperti beban ini terlepas, seperti masalah itu tak pernah ada, seperti semua se-happy ending roman-roman picisan.

Setelah 3 kali ke Curug Cibeureum, sekali ke Curug di Baros—yang tidak touristy—akhirnya saya kesampaian juga berkunjung ke Curug Sawer. Curug ini berlokasi dekat Situ Gunung, Kadudampit, Cisaat, Sukabumi.

Biaya masuknya terbilang murah: 2000 perorang, plus 3000 untuk setiap motor.

 

Setelah berdiskusi, akhirnya kami memilih ke Curug terlebih dahulu—nama curugnya apa, saat itu kami belum tahu. Kami berjalan ke arah kanan, kemudian lurus mengikuti jalan setapak. Kata orang tadi, jaraknya sekitar 45 menit jalan kaki.

Itu artinya, lebih dekat dari jarak Curug Cibeureum.

Takoyakindo Crew on Tour :))

Takoyakindo Crew on Tour :))

Dan memang benar, hanya saja, treknya naik turun, sehingga cepat membikin lelah.

Tapi, saya selalu percaya bahwa perjalanan ke Curug akan selalu terbayar dengan pemandangan air terjun yang membikin tenang, membikin bebas.

 

Dan benar saja. Selepas mengikuti trek menurun, kami mendapati sebuah lapangan luas dekat warung-warung yang tutup. Berbelok ke kiri melewati gerbang ke arah Curug Sawer—demikian kami mengetahui namanya—kami sudah dapat melihat gemuruh air terjun tersebut—membikin rasa lelah hilang seketika.

Pemandangan Curug Sawer

Pemandangan Curug Sawer

Tak ada penjaga di pos sehingga kami tak membayar lagi.

Tak seperti Curug Cibeureum, Curug Sawer memiliki sungai besar yang airnya jernih. Beberapa kali kami berfoto di sana, kemudian lanjut berfoto persis di depan Curug.

Bagi saya, mendengar gemuruh air terjun selalu mendatangkan ketenangan. Demikianlah quanta ikhlas. Inilah musik relaksasi alamiah.

Berdoa di sini membikin khusyuk. Saya memejamkan mata dan merasakan seolah semua mimpi saya terwujud dan feel yang saya rasakan amat mengena. Seolah target Omzet Takoyakindo Group memanglah sudah terwujud. Seolah target buku-buku saya sudahlah tercapai. Seolah saya sudah naik haji lagi, umrah lagi, punya mobil, dan lain-lain, dan lain-lain.

IMG-20130107-00284

Refresh!

 

Arief mengajak saya menikmati arung jeram di Probolinggo. Arus sungai yang dahsyat plus air terjun tersembunyi laksana air terjun di Amazon, menggoda saya. Februari kami jadwalkan. Tapi sebelum itu, saya penasaran dengan Curug pada DP Blackberry-nya Mas @Pelancongmalas, Curug Cikaso.

Air terjunnya lebih besar daripada Curug Sawer.

 

 

IMG-20130107-00273

Meditasi dulu

 

Suatu hari saya harus ke sana. Biar esok lusa bisa ke air terjun Niagara. Bagaimana kira-kira rasanya, yak?

Citarasa Dunia di Taman Bunga Nusantara

Tapi memang, jika konteks “Nusantara” pada nama “Taman Bunga Nusantara” itu mengacu pada “Indonesia hari ini”, maka penamaan taman seluas 35 hektar ini agak keliru. Kenapa? Karena tipe taman yang menghuni taman ini lebih bercitarasa dunia ketimbang Nusantara semata.
Hanya bermodal 20 ribu sebagai tiket masuk, Anda akan disuguhi panorama taman berbunga yang luas dengan seekor burung merak raksasa menyambut dekat air terjun. Burung merak itu bukan sembarang burung merak karena merupakan patung yang ditumbuhi bunga di sekujur tubuhnya.
Dari air terjun jernih yang memanjang terdapat dua jalur jalan. Ke kiri ke Rumah Kaca, ke kanan ke Taman Amerika. Baiklah, seperti sudah saya bilang, mari kita ke taman Amerika. Melewati patung kerbau yang menarik gerobak penuh bunga, kami beralih ke jalan setapak berkrikil dimana dua patung dinaosaurus bersiaga. Tapi begitu tiba kembali di jalan beraspal, arah ke Taman Amerika tidak kami temukan. Alih-alih hanya patung barongsai di kejauhan, lesehan di dekat pintu masuk area piknik, serta taman berbunga di kejauhan.
Tapi Taman Apa? Ini penampakannya!

Arifa masih malu-malu diambil foto, jadi kami hanya berkeliling menikmati bunga mawar merah dan putih dan kuning. Di setiap blok mawar yang diapit dedaun yang dibikin berbentuk balok, terdapat tempat duduk melingkar yang berpayung pohon rindang. Membatasi dua blok bunga mawar tersebut, sebuah air mancur membikin sejuk.
Dan mari lihat di sebelah depan!
Taman Prancis!
Arifa menyukai Paris lebih dari kota manapun di dunia ini. Melihat miniatur tamannya adalah kesyahduan tersendiri bagi gadis ini. Okelah, mau berfoto? Tapi lagi-lagi malu-malu kucing. Kami berjalan-jalan saja melihat kotak-kotak bunga dengan pilar-pilar dari daun di setiap sudut, air mancur di kedua sisi, kursi memanjang di pinggiran jalan.
Lalu ke mana?
Karena bingung, sembari melihat peta, kami masih mencari dimana sebetulnya Taman Amerika. Tapi karena yang lebih mencolok justru Menara Pandang dan Taman Labirin, maka kami memutuskan mencicipi taman yang disebut belakangan.
Masuk melalui pintu belakang, tinggi daun di taman labirin ini sekepala saya. Bergerak mengikuti ke mana hati membawa kami, tiba-tiba saja kami sudah masuk lebih jauh dari pintu belakang. Tapi ketika kami hendak masuk lebih dalam, sekumpulan awan hitam terdorong cepat ke atas kepala.
Diteruskan atau berbalik arah dan cari tempat berteduh? Nampaknya tidak akan hujan. Tapi orang-orang di sana sudah berlarian kehujanan? Sebelum percakapan itu selesai, satu-dua butir hujan jatuh. Kami resmi mencari arah pintu keluar tapi yang pertama kami temukan justru jalan-buntu. Baiklah, kita balik arah!
Kembali mengikuti arah berlawanan sementara seorang lelaki malah berlari ke belakang kami, berharap menemukan pintu keluar. Nah lho! Hujan kian menderas ketika akhirnya kami menemukan pintu keluar. Berteduh sejenak bersama tiga orang remaja belasan tahun. Sebelum hujan semakin deras, kami berlari melewati Taman Paris dan berteduh di mushalla.
Hujan jatuh nyaris setengah jam. Dan sepanjang itu pula kami cemas kalau-kalau petualangan kami harus berakhir sampai di sana. Tapi karena segala sesuatu selalu mengandung hikmah, maka panorama Taman Mawar dan Taman Paris sewaktu hujan tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Dengan perpaduan antara kabut dan gunung di kejauhan, hujan yang ritmis dan udara yang menyegarkan, Garden Tram yang sesekali melewati Taman Paris membikin kami serasa berada di Eropa.
Baiklah, baiklah, tapi kalau tak percaya simak saja fotonya!
Baru setelah hujan mereda kami melanjutkan tur ke Air Mancur Musikal tempat Arifa beberapa kali difoto di depan patung bebek untuk kemudian melanjutkan tur ke Taman Bali. Taman Bali? Baiklah, ujar saya dalam hati, tidak boleh berekspektasi. Bali adalah Pulau Dewata disetiap jengkalnya. Pengalaman ke sana tak terlupakan. Menikmati miniatur taman dari Bali bisa-bisa membikin kecewa.
Taman Bali dibuka oleh gafura berwarna pastel. Membuka dua jalur di mana rerimbun pepohonan acak tersebar dimana-mana. Berbeda dari Taman Paris yang rapi dan teratur dan polos dan cantik dan menawan, Taman Bali lebih ekspresif, alami, memikat. Di dalamnya terdapat saung dan gapura dan danau dan jembatan kayu dan riak air memercik.
Inilah Nusantara yang sejati. Iklim tropisa dan spontanitas yang kaya dan tak tertebak.
Mau lanjut? Ke mana sekarang? Mari kita lihat peta!
Tak sulit menemukan pintu keluar dan mendapati Taman Palem. Tapi kelengangannya yang hanya sesekali diganggu Garden Tram yang melintas tak membikin saya tertarik. Kecuali untuk berfoto di kursi taman berdua dengan Arifa, tak ada lagi aktivitas yang bisa kami kerjakan jadi kami melanjutkan perjalanan ke Taman Mediterania.
Nah, inilah taman favorit saya. Dengan meja dan kursi dari batu, kerikil dan kaktus, dan rumah warna salem pink beratap rata tanpa pintu. Segalanya terlihat begitu komplit. Kami berfoto di dekat patung kura-kura dari batu kemudian menikmati rumah mediterania yang berisi jajaran pohon kaktus aneka spesis. Kaktus-kaktus tersebut diberi pagar dan di gang yang selebar pintu masuk, terdapat sebuah kursi taman.
Hujan kini telah benar-benar berhenti.
Dari Taman Mediterania, kami naik ke Menara Pandang dengan membayar seribu perak per orang sebagai tiket masuk. Dari sana sejauh mata memandang hanya taman, taman, dan taman. Hanya bunga, bunga, bunga, dalam gradasi yang berpresisi luar biasa. Tapi karena waktu sudah semakin sore, kami kembali turun dan kebingungan: nah, sekali lagi, sekarang ke mana hayoo?
Kami mengambil jalur di samping Taman Labirin sebelum sadar bahwa itu jalan itu hanya menyambungkan kami ke taman-taman yang sudah dijelajah. Sebaliknya, Taman Jepang dan Rumah Kaca belum kami singgahi. Jadi lantas harus ke mana?
Akhirnya, kami berbalik ke arah Taman Mediterania dan dari sana lurus melewati jembatan. Pada pertigaan terdapat papan penunjuk arah. Ke kiri ke Alam Imajinasi, ke kanan ke Taman Jepang dan Rumah Kaca. Kau mau naik Go-Kart atau Bom Bom Boat atau yang sebangsanya? Tanya saya pada Arifa. Karena yang ditanya menggeleng, jadilah kami masuk ke Taman Jepang!
Dengan gerbang kayu bercat hitam cantik di depan dan belakang!
Masuk ke sana seperti masuk ke dunia yang sepenuhnya lain. Taman-tamannya rapi-kaku dan dingin tetapi karismatik. Persis seperti Jepang. Setidak-tidaknya dalam penggambaran saya. Sebuah jembatan kayu di atas ‘danau’ kecil menghubungkan dataran ke rumah kayu yang diisi beberapa pengunjung. Tak jauh dari sana, melalui jalan setapak berbatu, terdapat tempat lesehan.
Setelah lelah berkeliling berjalan kaki selama sekitar 2 jam, kami menuju Rumah Kaca sebagai tempat kunjungan terakhir sebelum pulang. Tapi karena masuk ke sana harus bayar lagi dan kami sudah terlanjur terlalu lelah untuk santai menikmati, akhirnya kami berbelok kanan dan bersiap untuk pulang!
Jadi inilah Taman Bunga yang konon Nusantara padahal sebetulnya menawarkan berbagai jenis taman dari beberapa penjuru dunia. Arifa hanya menanggapi sekilas, cekikikan, sebelum kami berdua bertanya-tanya, “Jadi, di mana sebetulnya Taman Amerika?”

Dan Sendirian, Di Pantai Pulau Impian

Juni 30, 2012 2 komentar

Bali selalu mengesankan. Bukan hanya soal kulturnya, tetapi juga deret pantai di sejauh mata memandang. Bali adalah mahakarya dewata. Tak heran jika, jauh sebelum orang asing ngeh dengan Indonesia, mereka lebih dulu jatuh cinta pada pulau mungil yang satu ini. Tapi kecuali udara teriknya yang gerah, tak ada komplain apapun soal kompleksitas kecantikan pulau ini.
Pada hari pertama tiba di Bali, kami berburu sunset di Pantai Kuta. Duduk dan berfoto dan hanya memandang jauh ke laut lepas. Ribuan orang tumpah-ruah memenuhi setiap sudut pantai: sebagian berlari, sebagian berenang, satu-dua orang berselancar, tiga-lima orang lari-lari kecil, tujuh-delapan orang berjemur. Tapi matahari yang dinanti sejak tadi malah tertutup awan tepat ketika dia mulai terbenam. Alhasil, perburuan pun gagal. Tapi tak masalah, kami masih bisa ke sini lagi esok hari, bukan?
Butuh 37 jam untuk tiba di Bali. Kami berangkat naik kereta api jurusan Bandung-Malang yang berangkat pukul setengah 4 hari rabu dan tiba dini hari pada Jumat. Main kartu di depan Circle K menunggu pukul 6 untuk check in hotel yang disediakan panitia, setelah menyantap soto Madura di pelataran Wisma Cottage 2. Selepas itu tidur demi mengembalikan kondisi tubuh yang kelelahan, dan baru sore hari sempat ke pantai setelah berhasil menyewa motor demi kebutuhan jalan-jalan.
Tapi jadwal hari kedua meleset. Kami tak penasaran lagi pada sunset di Pantai Kuta, alih-alih itu rombongan terbagi ke dalam dua bagian. Satu, memilih berangkat ke Uluwatu demi menikmati Dreamland Beach dan Uluwatu Beach. Satu lagi, yakni kami, memilih ke Pantai Legian. Kenapa kami memilih ke pantai Legian?
Selepas selesai acara, saya terlambat sampai ke asrama. Karena memilih untuk mampir dulu ke Joger, akhirnya saya melepaskan kesempatan untuk berangkat sama-sama ke Uluwatu. Begitu selesai belanja oleh-oleh, saya mendapati tiga kawan saya yang tidak keburu ikut ke Uluwatu sedang santai makan sore di salah satu tempat makan. Kenapa belum berangkat? Percuma, Ak, jawab salah seorang dari mereka, udah kesorean, nggak akan keburu kalau ke Uluwatu. Mending ke Legian aja yuk? Deket dari sini.
Akhirnya, kami berenang di Legian. Hanya bertiga. Yang seorang sudah merasa cukup dengan duduk menunggui pakaian dan sandal kami. Langit menggelap dan ombak terdengar lebih nyaring bergemuruh. Selepas berenang, kami duduk di kursi berpayung sembari menyeruput sebotol cola dingin. Berbincang dengan Penjaga Pantai. Seorang bule paruh baya masih berenang bermeter ke kedalaman. Anaknya yang balita, berdiri berjinjit di mulut pantai, melepas pandang berharap ayahnya akan muncul ke permukaan.
Tapi ayahnya masih masyuk berenang dan si ibu memilih membawa anaknya ke tepi pantai. Tak lama kemudian ayahnya muncul di mulut pantai dan keluarga itu pun bergegas pulang. Pada saat itu saya tersadar. Saya berumur 20 tahunan dan masih takut-takut kalau harus berenang ‘agak jauh’ ke kedalaman. Orang bule itu, pendatang dan tamu di bumi Indonesia ini, berenang jauh ke tengah seolah ini adalah pantai mereka sendiri. Pertanyaan selanjutnya agak menohok, siapa sebetulnya yang menjadi tuan rumah di Indonesia kita ini?
Barangkali memang tak sevital itu. Barangkali karena saya saja yang terlalu penakut. Namun begitu, hasrat untuk mendatangi pantai-pantai lain di Bali semakin menggebu-gebu. Sejak dalam perjalanan, pantai-pantai di Uluwatu memang menjadi perbincangan hangat. Kunjungan ke sana akan menjadi titik krusial dalam liburan kali ini. Tapi bagaimana mungkin? Besok harus sudah check out dari hotel pukul 9 pagi, sedangkan sekarang sudah malam. Saya menyimpan mimpi itu dalam-dalam sembari berharap suatu saat bisa kembali ke Bali demi mengunjungi kompleks pantai Uluwatu.
Pada perjalanan pulang, kami mampir ke Ground Zero demi melihat monumen peringatan tragedi Bom Bali yang fenomenal itu. Tragedi yang tidak hanya meyorot Bali, pulau yang damai ini, ke dalam pemberitaan yang menyudutkan Indonesia, tetapi juga menyorot Islam dan terorisme. Butuh bertahun-tahun bagi kita untuk meyakinkan bangsa asing bahwa kita adalah masyarakat yang toleran, yang ramah, yang easy welcoming.
Setibanya di hotel, kawan saya yang ke Uluwatu bercerita tentang keindahan pantai di sana, dan bagaimana mereka harus menyiasati untuk memilih hanya satu dari sekian banyak pantai untuk dikunjungi. Kenapa hanya satu? Karena mereka nyasar di perjalanan sehingga sudah mau petang setibanya di sana.
Tapi hati saya kok tak rela. Saya merasa harus ke sana apapun caranya karena kapan lagi bisa main ke Bali? Belum tentu. Kesempatan tak selalu datang dua kali. Saya berpikir dan berpikir dan kemudian… Aha! Saya mendapat ide. Saya membuka daftar kontak blackberry massanger saya dan kemudian mengirim pesan….
Sudah sejak subuh saya keluar kamar. Saya shalat di mesjid di kompleks tentara sembari harap-harap cemas. Tadi malam saya meminta tolong pada teman kuliah yang kebetulan sedang mengunjungi pamannya di Bali. Saya meminta diantarkan ke Uluwatu sejak subuh karena saya harus sudah di hotel pukul 8. Dia menyanggupi.
Tapi di mana dia?
Belum selesai saya berdoa, bbm saya berbunyi. Dia menunggu di luar kompleks. Kami berkendara menuju Uluwatu. Melewati bandara Ngurah Rai dan Universitas Udayana. Saya berusaha menghafal jalan, demi Tuhan, tapi karena gelap, akhirnya saya nyerah. Kami naik ke pebukitan, tempat dia beberapa kali bertanya kepada warga, di mana pantai Dream Land itu berada. Akhirnya, setelah beberapa kali bertanya, kami menemukan sebuah gerbang berpatung garuda raksasa lengkap dengan lambang freemasonry-nya.
Melewati gerbang itu, saya merasa mencium bau pantai. Bau kebebasan. Rasanya seperti mimpi! Baru sore kemarin saya putus asa dan berpikir tidak akan bisa ke sini, tapi pagi ini keajaiban membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia sama sekali tak mustahil. Ia niscaya. Tapi di mana gerangan pantai yang kesohor itu?
Setelah dua kali berputar karena malah masuk ke kompleks golf milik Tommy Soeharto, akhirnya kami berhasil menemukan belokan menuju pantai Dream Land. Setelah teman saya memarkir motor, saya berlari ke bawah, ke arah pantai. Melewati susuran jalan yang diapit pertokoan di sisi kanan dan rawa-rawa di sisi kiri. Kabel sebesar paha menyembul dari dasar rawa seumpama ular phyton. Dan gagasan itu mengangguku.
Ke mana orang-orang?
Tak ada siapapun di sana kecuali saya. Teman saya pun memilih menunggu di pelataran parkir. Tapi pantai apakah ini? Benarkah ini Dream Land Beach? Saya mulai ragu. Langkah saya melambat. Kendati pantai dan ombak dan pasir yang tampak di depan mata begitu indah, keyakinan saya mulai meluruh. Apakah benar ini Dream Land Beach? Kenapa bisa sebegini sepi?
Untungnya, selepas beberapa langkah, saya mendapatkan kepastian. Tepat di tembok di salah satu cafe, terdapat sebuah tulisan seperti ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

Sisa 10 menit di sana dihabiskan untuk berfoto. Teman saya kemudian datang untuk ikut menikmati kesunyian, keindahan, kecantikan, kebersahajaan, ketiadaan, keberjarakan. Sesuatu yang membuat kabut dan biru laut dan gemuruh ombak dan batu karang dan pasir kelabu dan cafe dan tangga kayu seperti not-not pembangun simfoni Mozart. Agung dan melenakan!
Ya Tuhan, saya sendirian, di Pantai Pulau Impian!

 

 

 

 

 

 

 

Kami melanjutkan perjalanan ke arah Pantai Uluwatu. Tapi karena waktu sudah semakin siang, saya harus memutuskan satu diantara dua pilihan: Uluwatu ataukah Padang Bay. Saya memilih yang kedua. Berbelok ke kanan, kami menyusuri jalanan selebar dua mobil diantara pebukitan dan hutan.
Kawan saya menjelaskan, Uluwatu memang kompleks pantai-pantai indah di Bali. Selain dua yang saya kunjungi hari ini, sebetulnya masih banyak lagi. Sebagian tersembunyi dan belum banyak terjamah turis. Saya semakin takjub.
Setibanya di Padang Bay, kami memarkir motor di tempat parkir yang kosong. Berjalan melewati gapura hindu, seorang bule paruh baya sedang bersiap untuk berselancar. Kami memasuki terowongan kecil selepas penunjuk arah, dan kemudian terkesima oleh pantai yang berbatu karang.
Tak banyak orang di sini kecuali beberapa penjaga pantai dan beberapa papan luncur. Sekawanan orang utan berlari-lari kecil dari rumahnya ke mulut pantai, demi kembali lagi sembari meloncat-loncat ke rumahnya. Ombaknya bergemuruh. Birunya jernih hingga ke tapal batas perspektif dua dimensi.

 

 

 

 

 

 

 

Saya yakin, di sinilah Elizabeth Gilberth memutuskan untuk menikah dengan pria pujaannya. Saya yakin, tempat inilah salah satu alasan kenapa Elizabeth Gilbert kembali ke Bali untuk kedua kalinya. Eat Pray Love memang luar biasa.
Tapi Indonesia lebih dari segalanya.

Situ Gunung, Folklor dan Daya Tarik Magis

Kendati lokasinya berada di pinggiran Sukabumi, toh saya pertama kali tahu keberadaan Situ Gunung dari Buku Sejarah Cianjur. Menurut buku tersebut, danau di kaki Gunung Gede Pangrango tersebut dibuat oleh Mbah Jalun demi merayakan kelahiran putra pertamanya. Tapi siapa sebetulnya Mbah Jalun itu?

Dia adalah pangeran Mataram yang sangat anti-Belanda. Alih-alih hidup di istana dengan segala kemewahan dan fasilitasnya, Mbah Jalun malah memilih hidup berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung yang lain sembari mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda. Naik pitam, Belanda mengerahkan pasukannya demi menangkap sang pangeran, tapi pangeran tersebut selalu mampu meloloskan diri dengan cara yang supranatural.

Suatu ketika, dalam pengejaran Belanda, Mbah Jalun berlari menelurusi hutan Gunung Gede Pangrango. Betapapun hebat tentara-tentara Belanda, toh mereka tak akan mengenal kontur hutan lebih baik daripada Mbah Jalun. Setelah sekian lama dalam pelarian, Mbah Jalun menetap di sebuah daerah yang kelak akan dikenal dengan nama: Cianjur.

Di titik itulah pertemuan antara Situ Gunung dengan Sejarah Cianjur. Di titik ketika Mbah Jalun memutuskan menetap di lereng selatan Gunung Gede yang kini terkenal dengan nama Gunung Masigit. Kenapa Gunung Masigit? Karena berdasarkan folklor yang beredar, di sinilah Mbah Jalun mendirikan masigit—masjid.

Pertanyaan menarik berikutnya adalah: Situs Megalithikum Gunung Padang yang dipercaya telah ada sekira 5000 tahun SM, memiliki batu berbentuk sujud di pintu gerbangnya yang mengarah tepat ke Gunung Masigit. Padahal, Gunung Masigit dibangun justru pada abad ke-19 Masehi. Kenapa bisa ‘sekebetulan’ itu?

Sejarah memang selalu memiliki sisi misteri yang lebih besar. Sama saja seperti alam semesta.

Tapi baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan.

Saya memutuskan untuk melakukan one day trip ke sana, tanpa menginap. Kenapa? Karena jarak dari rumah ke sana tak lebih dari 2 jam. Lagipula, kebutuhan saya ke sana hanya demi menyempurnakan riset untuk novel Meander yang saat itu sedang saya tulis. Saya mengajak serta Arifa, yang butuh relaksasi ditengah tekanan persiapan acara Gempas.

Pada hari jumat, setelah menjemput Arifa, kami berangkat ke Sukabumi. Shalat jumat di mesjid besar Sukabumi kemudian melanjutkan perjalanan tanpa makan siang. Begitu tiba di kantor Polsek Cisaat, kami berbelok ke kanan menuju Kecamatan Kadu Dampit. Ke kaki Gunung Gede Pangrango, ke ketinggian 850 Mdpl.

Setelah berkali-kali bertanya karena takut salah jalan, akhirnya kami tiba di pintu gerbang Situ Gunung. Ada dua tempat parkir. Satu dekat pintu gerbang, satu agak ke bawah. Saya memutuskan parkir di tempat yang kedua. Selepas itu jalan kaki menuruni bebukit. Diapit pepohon tinggi menjulang. Udara semilir sejuk. Beburung bersahut-sahutan.

Ada dua lokasi wisata di sini, sebetulnya. Satu, Curug Sawer. Yakni air terjun. Dan kedua, Situ Gunung. Yakni danau yang diapit oleh beberapa gunung. Oleh karena tujuan utama kami ke Situ Gunung, maka kami mengabaikan sepenuhnya keinginan berangkat ke Curug Sawer.

Dan inilah dia, Situ Gunung. Danau persembahan Mbah Jalun untuk putra pertamanya. Danau di kaki Gunung Gede-Pangrango yang diapit gegunung di delapan penjuru mata angin. Hamparan rerumput rata dengan beberapa pohon besar tersebar di beberapa titik. Mushalla kayu dekat toilet yang tak terurus. Beberapa pedagang yang tidur-tiduran karena sepi pengunjung. Sebuah perahu kayu yang diparkir dekat mulut danau. Sebauh ‘daratan’ mungil di tengah danau seumpama Samosir.

Selebihnya keheningan yang diselingi sahut burung-burung.

Situ Gunung

 

 

 

 

 

 

 

 

Di atas sebuah akar besar yang menyembul, kami duduk menikmati semilir angin sembari memakan roti isi cokelat. Hanya duduk beberapa lama tanpa bicara sepatah katapun. Apa yang ditawarkan Situ Gunung melebihi ekspektasi saya. Airnya memang tidaklah jernih atau biru atau hijau seperti Telaga Biru di dekat Curug Cibeureum. Alih-alih itu, airnya justru keruh kecokelatan. Tapi keheningan dan kesejukan yang dibawanya memberi kedamaian tak terdefinisikan.

Berjalan ke mulut danau, kami duduk sembari mendekatkan kaki kami pada air yang bergerak lirih, pelan. Mengikut ke mana angin berhembus. Dari ‘kebun’ di sisi kanan kami, menyeruak bapak dan anak yang tengah memancing ikan menggunakan jala. Keduanya berjalanan bersisian menyisir pinggiran danau.

 

 

 

 

 

 

 

Kami beralih duduk di teras mushalla, sekali lagi menikmati keheningan dan kesejukan dan kedamaian tak terdefinisikan. Tapi baru saja saya membuka perbincangan soal “apakah boleh berenang di danau itu ataukah tidak” sekumpulan anak kecil serempak membuka baju mereka di mulut danau dan melompat akrobatik ke dekat perahu. Byuuuuuur! Satu di antara mereka naik ke atas perahu sementara yang lain mendorong dari belakang.

Menuju “Samosir mungil” di tengah danau.

Pandangan saya tiba-tiba menjauh. Jauh melewati sekumpulan anak itu. Jauh menyebrangi danau besar kecokelatan itu. Pada jalan setapak kecil di bebukit di seberang danau. Benar, pada jalan setapak kecil di bebukit di seberang danau. Karena jika saya mampu melewati danau dan tiba di tepian sana untuk kemudian naik ke atas bukit, pemandangan yang tersaji pasti akan jauh lebih ajaib.

Tapi sekali lagi saya harus kembali ke realitas, sekali lagi harus menikmati pemandangan pemancing yang berjalan melewati sisi danau tempat kami duduk 10 menit yang lalu. Dan tiba-tiba saja saya merasa tak ada yang lebih ajaib daripada pemandangan itu. Karena inilah wajah Indonesia sejatinya: kesederhanaan dalam eksotisme dan keanggunan mistik, keceriaan komikal yang tak tergerus arus zaman. Hanya tinggal menunggu waktu bagi kita, Indonesia, untuk kembali menemukan jati diri sejatinya.

Pasti. Tak terelakkan.

Hanya tinggal menunggu momentum.

Dan tiga jam di sana serasa baru satu menit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Opera Travel Blog Competition

Ke Kanan, ke Taman Labirin

Ada pameo yang bilang kalau Cipanas memisahkan diri dari Cianjur, Cianjur bakal mengap-mengap nggak bisa makan. Kenapa? Karena mayoritas pendapatan daerah berasal dari sana.

Walaupun sekarang Cianjur Kota sudah mulai berbenah, toh daya tarik wisata Cipanas tetaplah tidak pudar. Seminggu yang lalu, saya dan Arifa main ke Taman Bunga Nusantara

Tiket 20 ribu belum termasuk biaya parkir 5 ribu. Masuk melalui pintu utama, kami disambut air terjun jernih yang bersisian dengan Burung Merak. Sehabis leyeh-leyeh bentar, kami mengambil jalur kiri dan melewati patung dinosaurus besar untuk masuk ke lokasi Taman Mawar, Taman Paris, Taman Labirin, Taman Air, Menara, dan seterusnya!

Patung Dinosaurusnya sih dibikin dari kawat yang dibentuk sedemikian rupa dimana dibagian luar ditumbuhi rerumput dan daun yang merambat. Akibatnya, dari kejauhan akan tampak seperti Pohon berbentuk Dinosaurus.

Taman Mawar memiliki beberapa area duduk berpayung dedaun. Membikinnya mirip taman yang biasa kita lihat di film-film romansa bersetting kerajaan Eropa.

Di hadapan Taman Mawar terdapat Taman Paris. Cirinya kursi taman memanjang, air mancur, dan beberapa pohon yang dibentuk kubus tegak di berbagai sudut.

Dari sana kami masuk ke Taman Labirin. Lewat pintu belakang. Memutari tak jauh, tapi langit keburu gelap. Kami harus sedikit berlari sebelum hujan menderas tapi jalan keluar entah dimana! Akhirnya, berbalik ke arah awal kami masuk, kami berhasil menemukan jalan keluar lalu memaksakan diri hujan-hujanan dan berteduh di mushola.

Setelah hujan reda, kami ke Taman Musik dan hanya melihat sekilas, kemudian berfoto agak lama di Taman Bali. Sebelum masuk saya mempersiapkan diri untuk kecewa. Kenapa? Karena tak berapa sebelumnya saya sudah ke Bali dan saya khawatir ekspektasi saya terhadap taman ini terlalu tinggi.

Tapi tidak. Saya justru kagum. Seperti barongsai: awut-awutan oleh perpaduan berbagai pohon yang acak dan alami, diselingi keindahan sungai kecil yang beriak, danau yang memiliki jembatan kayu, serta tempat lesehan dan pura.

Dari sana, kami keluar dan bersantai sejenak di Taman Palem. Berfoto dua kali di kursi memanjang.

Perjalanan berlanjut ke Taman Mediterania. Berfoto di area luar yang sangat “Mediteran” (Pohon kaktus, kerikil, meja dan kursi batu, bahkan tiga patung kura-kura dari batu). Di sebuah rumah bercat merah muda, tetumbuhan kaktus meraja. Pintu rumah itu hanya sebuah ‘payung’ bergaya Meksiko tanpa pintu.

Keluar dari pintu samping, kami naik ke Menara dan memandangi berhektar-hektar Taman ini. Saya mengajukan pertanyaan kepada Arifa kenapa namanya harus “Taman Bunga Nusantara” sedangkan Taman yang banyak dipamerkan justru Taman Luar Nusantara, seperti Paris, Mediteran, Amerika, Jepang, dan lain-lain. Tapi kemudian saya ngeh, barangkali yang disebut Nusantara di sini adalah fase ketika bangsa Majapahit atau Sriwijaya menguasai berbagai negara. 700 dan 1400 tahun yang lalu.

Itu hanya hipotesa.

Karena kelelahan, kami berjalan santai menuju Taman terakhir. Arifa sangat jatuh hati pada Jepang, jadi kunjungan ke Taman Jepang wajib hukumnya. Kami mengabaikan danau besar yang memiliki patung setengah badan seorang perempuan (Nyi Roro Kidul? Entalah). Alih-alih itu, kami berjalan terus dan masuk ke Taman Jepang.

Lagi-lagi seolah udara yang ada di sana adalah udara Jepang. Semua tanamannya, tanaman Jepang. Kolam dan rumah kayu dan kursi taman dan bebatuan dan tempat leseh-leseh. Sangat minimalis, tertata, sekaligus menggemaskan seperti… seperti siapa yah? Ahahaha.

Karena kaki kami sudah kelewat lelah dan waktu sudah semakin sore, kami tak masuk ke Rumah Kaca dan memilih langsung pulang setelah berfoto di dekat Taman Merak dan Kereta Putih di Areal Parkir.

Sekian. Wassalam. 😀

Kategori:Trekking.