Archive

Archive for the ‘Sarjana Copas’ Category

Sekilas Pilgub Jabar 2013

Januari 3, 2013 Tinggalkan komentar

Bagi saya, keputusan Aher untuk menggaet Deddy Mizwar sebagai pasangannya dalam bursa pencalonan cagub dan cawagub jabar, hanya mencerminkan, setidak-tidaknya dual hal:
1) Kekuranyakinannya pada elektabilitas dirinya sebagai incumbent, dalam menghadapi elektabilitas Dede Yusuf dan Rieke Diah Pitaloka sebagai selebritis, sehingga harus mengggaet selebritis yang tak kalah kesohor.
2) Strategi dalam rangka membentuk imaji pemimpin yang bersih dan peduli. Seperti kita tahu, Deddy Mizwar belakangan ini terpersepsikan sebagai seorang yang alim, yang peduli pada nasib bangsa, melalui karya-karyanya yang luar biasa bagus, mulai dari Kiamat Sudah Dekat, Lorong Waktu, Nagabonar Jadi 2, sampai Para Pencari Tuhan. Dia adalah seorang sosok bersahaja yang amanah dan mengerti agama.

Imaji tersebut, ditambah dengan keputusan ‘seragam’ mereka yang berwarna putih berkancing merah, semata-mata menguatkan kepada kita bahwa merekalah pemimpin yang bersih, berjiwa berani, tegas, dan dapat dipercaya.

Sedangkan Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki, yang karena pertimbangan partai, tiba-tiba mengenakan seragam kemeja kotak-kotak, bagi saya, justru malah menurunkan citra dan kualitas kecerdasan seorang Rieke Diah Pitaloka. Kenapa? Sederhana saja, karena keputusan dia dan/atau partai menggunakan ‘seragam Jokowi style’ hanya membuat Rieke Diah Pitaloka tampak tidak yakin pada elektabilitas dan kualitas dirinya sendiri sehingga harus mendompleng popularitas Jokowi. Pada akhirnya, saya melihat Rieke justru menempatkan (kualitas) dirinya di bawah kualitas Jokowi. Seolah-olah menjadi Jokowi wannabe, dan bukan menjadi dirinya sendiri.

Bagaimana dengan Dede Yusuf dan Lex Lasmana? Perpaduan antara biru dan putih adalah perpaduan yang hangat. Dede Yusuf, melalui senyumnya dalam setiap foto, seolah-olah ingin menyampaikan kepada kita bahwa dialah sosok pemimpin yang hangat, yang mampu memeluk dan mengayomi masyarakat. Dia juga adalah golongan generasi muda yang punya jiwa perubahan. Itu poin kampanye-nya.

Lantas, Yance bagaimanakah? Terlepas dari kasus hukum yang tengah menjeratnya sewaktu masih menjabat Bupati Indramayu, keputusan Yance untuk menggaet Agung Hercules dalam menciptakan dan menyanyikan lagu untuk kampanyenya, bagis aya adalah sebuah blunder. Ketika pertama kali melihat lagu itu di salah satu stasiun televisi swasta, lengkap dengan video klip orang-orang dibagi sticker Yance, membikin Yance, terus terang, tampak seperti Pohon Plastik Palsu. Tipikal orde baru.

Sayangnya, jika geliat calon independent di Jakarta justru menuai banyak simpati dan dukungan dari kalangan selebritis, calon independent di Pilkada Jabar ini malah ditanggapi dingin. Kampanyenya melemepem, sampai banyak orang berpikir bahwa calon gubernur dan wakil gubernur itu hanya ada 4 calon. Jika sudah begini, saya pun bingung mengomentari.

Tapi ya sudahlah, siapapun pilihan Anda, rakyat Jawa Barat, pilihlah dengan cerdas. Lima detik Anda memilih, lima tahun Anda merasakan dampaknya. Inilah Calon Pemimpin Jawa Barat mendatang

Plagiarisme: Tantangan Dunia Pendidikan di Era Teknologi Informasi

November 17, 2012 Tinggalkan komentar

Singa yang terbiasa disuapi takkan fasih berburu.

Itu hukum alam. Pun demikian pada konteks kita, manusia. Keterlalumudahan akses terhadap informasi, dalam beberapa hal, justru menimbulkan efek yang setara seperti ‘suapan makan’ pada seekor singa. Sederhananya begini: semakin mudah kita mendapatkan informasi, semakin kita terangsang untuk “tidak mau ambil pusing”. Karena “ambil pusing” = “membikin ribet” = “tidak praktis” = “tidak instan” = “tidak cepat” .

Akibatnya, apa? Tentu banyak. Tapi mari kita batasi pada lingkup dunia pendidikan.

Sekarang, mari kita lihat.

Perkembangan teknologi informasi yang sedemikian cepat seperti sekarang, pada satu sisi memang menawarkan akselerasi proses belajar-mengajar. Tapi di sisi lain, kita jadi terlampau keasyikan, sehingga apa yang awalnya diset sebagai bahan referensi, bahan masukan, lama-lama di-copas mentah-mentah atas dasar “efisiensi” waktu, tenaga, dan pikiran.

Sepintas lalu mungkin (terkesan) bukan masalah. Kita bisa mengajukan argumen seperti, “Toh ini cuma makalah.” “Toh ini bukan perkara serius. Dan aneka pembenaran lainnya, tapi keterbiasaan meng-copas tulisan orang untuk kita jadikan sebagai makalah kita, tugas kita, lama-lama akan melahirkan hasrat untuk melakukan hal serupa pada konteks yang lebih besar—skripsi, misalnya, atau desertasi, thesis, dan lain sebagainya.

Di sinilah dia tantangan serius pada teknologi informasi tersebut: plagiasi atau plagiarisme. Yakni penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri . Secara moral, plagiasi sama seperti pencurian. Secara hukum, seorang plagiator bisa dicabut gelar dan dipecat atau diturunkan jabatannya. Seperti dialami Prof Anak Agung Banyu Perwita atas plagiasi yang dia lakukan. Tokoh yang pernah dijuluki “Profesor termuda di Indonesia” ini kedapatan melakukan 4 kali tindakan plagiasi sehingga dicopot gelar dan diturunkan jabatannya .
Tapi kita tentu mengerti bahwa jumlah pelaku plagiasi yang mendapat hukuman jauh lebih sedikit dengan pelaku plagiasi yang bebas berkeliaran. Akibatnya apa? Tentu saja kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Plagiasi atau plagiarisme, setidak-tidaknya, memastikan, (1) kurang optimalnya proses belajar, karena mindset short-cut yang selalu ingin potong-kompas. Akibatnya, (2) daya nalar dan kemampuan analisis kita tak terasah, sehingga (3) menghambat proses brainstorming dalam rangka menemukan solusi yang paling baik untuk setiap persoalan (akademis) yang muncul. Akibatnya, (4) kualitas pendidikan mengalami penurunan oleh sebab kualitas pendidik dan kualitas anak-didik sama-sama anjlok.

Sialnya, persoalan plagiarisme ini ternyata tak sekedar persoalan jiplak-menjiplak. Alih-alih itu, memunculkan tingkat ‘kejahatan’ yang lebih ekstrim, seperti joki makalah, industri skripsi, sampai beli-gelar. Fenomena tersebut muncul seiring mindset perguruan tinggi yang beralih menjadi serba “bisnis”, serba “komersil”.

Ini tak mengejutkan, sebetulnya. Pasalnya, jumlah anak muda di Indonesia yang demikian banyak menjadi pangsa pasar potensial bagi perguruan tinggi. Jumlah dan jenis perguruan tinggi pun kian menjamur. Persaingan di industri ini semakin lama semakin sengit. Akibatnya apa? Beberapa perguruan tinggi bisa bertahan pada kompromi yang masih, katakanlah, idealis, dengan mempertahankan standar-baku-penerimaan, dan mengawasi secara ketat proses belajar-mengajar. Tapi beberapa perguruan tinggi lain harus banting setir jual harga demi bisa menarik minat calon mahasiswa. Caranya apa? Ya itu tadi, misalnya, daftar kuliah hari ini, besok sudah “sah” sebagai sarjana!

Jika sudah begitu, ruang untuk plagiarisme beranak-pian kian terbuka lebar. Kok bisa? Ya jelas. Karena kontrol dari pihak lembaga menjadi (terlalu) longgar. Tentu saja akibat dari keterlalufokusan mereka pada “bagaimana cara mengeruk laba sebesar-besarnya”. Hal-hal semacam, (1) remidial bisa diganti dengan uang, (2) makalah yang dikumpulkan mahasiswa tak dibaca secara seksama, dan (3) skripsi bisa dilelang, pada akhirnya menumbuhkan sikap tak acuh (dan tidak merasa bersalah) saat melakukan tindakan plagiasi, yang padahal, seperti diujarkan Prof. Didi Turmudzi, merupakan kejahatan kriminal, pemerkosaan intelektualitas.

Nah, persoalan ini akan semakin pelik, jika, anak-anak didik sudah dibiarkan melakukan tindakan plagasi sejak mereka masih duduk di bangku SMA, misalnya, atau bahkan SMP. Alasannya sederhana: karena keterbiasaan mereka dalam melakukan plagiasi (dan tidak ditegur oleh gurunya) akan menumbuhkan keyakinan bahwa plagiasi bukanlah kejahatan, bahwa plagiasi adalah hal yang wajar dan lumrah—yang pada akhirnya akan mempengaruhi karakter dan watak si anak tersebut.

Pada titik inilah guru memegang peranan penting, tentu saja, dan selalu begitu sejak dulu. Tapi konteks kali ini agak lain. Yakni terletak pada amanah untuk “memutus mata rantai” plagiarisme sejak dini. Penyadaran untuk menumbuhkan kesadaran diri, karakter jujur, sikap untuk mau berlaku fair play , dan menghormati proses alih-alih terjebak dalam mindset short-cut. Bukankah untuk mencapai usia sedewasa sekarang, kita juga tak men-skip sekian tahun dari saat kita lahir? Lalu apa susahnya mengaplikasin hal serupa pada konteks yang lebih luas?

Telepon Salah Sambung

Karena OSPEK itu ibarat telepon.
Ia hanya sekedar ‘alat’ yang punya tujuan dasar serta fungsi, tapi bisa difungsikan untuk tujuan yang sepenuhnya hak preogratif manusia. Misalkan, telepon itu kan dibikin untuk tujuan connecting people, menghubungkan manusia dengan manusia, tapi toh bisa difungsikan juga untuk connecting manusia dengan internet. Salah? Tidak juga, karena telepon hanya alat dan manusia punya kuasa penuh.
Begitu juga dengan OSPEK. Dia punya 8 tujuan dasar dan fungsi yang mahaluhur, tapi toh dalam implementasi bisa melenceng jauh dari mistar kesemestian. OSPEK bertujuan antara lain agar:
(1) mahasiswa baru memahami setting sosial serta kondisi objektif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(2) mahasiswa baru memahami peran dan fungsinya sebagai bagian dari suatu masyarakat;
(3) mahasiswa baru menyadari tanggung jawab sosialnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(4) mahasiswa sebagai insan akademik;
(5) mahasiswa sebagai agent of social change;
(6) memahami kampus sebagai garda ilmiah atau lingkungan akademik;
(7) memahami kejurusan atau keprodian serta tugas dan fungsinya;
(8) mengetahui lembaga-lembaga kemahasiswaan di tingkat universitas maupun fakultas serta sejarah perkembangannya;
dan berfungsi untuk menatar, melatih, dan menggembleng (maha)siswa untuk menjadi pribadi yang tangguh, bermental baja, serta cerdas tapi tidak sok tahu. Apa dalam pelaksanaan semua itu terpenuhi? Tidak juga. Karena OSPEK hanyalah alat, sedangkan senior punya kuasa penuh.
Kuasa penuh?
Iya.
Dalam hal apa?
Implementasi.

Implementasi
Karena tujuan boleh sama berdelapan, fungsi boleh sama untuk menatar, tapi implementasi bisa jauh saling berbeda—bahkan terkadang, bertolak belakang.
Lho, kok bisa?
Karena interpretasi. Pemaknaan. Penafsiran. Pada hal-hal yang normatif dan umum, penjabaran pada detail bisa beraneka rupa seperti jalan menuju Roma. Seperti perintah untuk shalat saja bisa menghasilkan penafsiran yang berbeda-beda—dalam konteks tata cara pelaksanaannya.
Seperti telepon.
Telepon tetaplah telepon. Tapi untuk dapat berfungsi sesuai fungsi dasar dan tujuan ia dikreasikan oleh manusia, ia punya berbagai jalan. Untuk berfungsi sebagai penyambung seseorang dengan rumah sakit, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka. Untuk berfungsi menyambungkan saluran ke si pacar, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka yang khusus.
Kesemuanya bersifat korespondensial.
14017 misalnya, hanya akan menjadi jalan yang benar, jika yang Anda tuju adalah BRI. Sebaliknya, 14017 akan menjadi jalan yang sesat jika yang Anda tuju adalah layanan siap-antar Mc Donald.
Padahal bedanya sedikit saja. Hanya pada dua angka terakhir. Layanan call center BRI pada jalur 14017, sedangkan layanan siap-antar Mc Donald pada 14045. Nah, kalau beda dua angka saja bisa melahirkan tujuan yang jauh berbeda, apalagi kalau beda seluruhnya yak?
Tapi sekali lagi, telepon tetaplah telepon. Ia hanya sebatas alat.
OSPEK juga tetaplah sebatas alat.
Alat untuk menyampaikan tujuan dan fungsi ia dikreasikan oleh manusia: dalam rangka menjadikan calon mahasiswa bermental baja sehingga mampu menjadi agen perubahan. Siswa yang berstatus maha. Kelas terpelajar. Pelopor dan pembangun. Pencerdas kehidupan bangsa. Pengontrol sosial politik. Penyambung lidah aspirasi masyarakat awam. Oposan tulen.
Tapi dalam mencapai tujuan tersebut, toh implementasinya juga mewujud dalam berbagai cara, dalam berbagai jalan—walaupun secara keseluruhan masih memiliki sederet kesamaan. Misalnya: keharusan mengenakan kostum yang aneh dan konyol, memakai atribut yang dibuat-buat, bullying, tugas yang menumpuk, hukuman dan bentakan, dan lain-lain, dan lain-lain.
Apa itu salah?
Bergantung. Mana sebetulnya yang dituju oleh panitia OSPEK selaku ‘Pemilik Telepon’, apakah kantor polisi ataukah rumah sakit jiwa, apakah sang kekasih ataukah mantan yang terlanjur menikah dengan orang lain? Detail-detail teknis itu ibarat nomor-nomor. Ketika dia dikonfigurasikan, dikombinasikan, maka jadilah ‘nomor telepon’. Perpaduan detail-teknis yang dipilih penyelenggara OSPEK akan menentukan ke arah mana sebetulnya OSPEK ini mengarah—menuju rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?
Oleh karena satu nomor saja yang salah bisa membawa saluran ke antah barantah, maka proses pengkonfigurasian angka-angka ini—atau dalam mudahnya: penafsiran dan pengimplementasian tujuan dasar dan fungsi luhur OSPEK—mestilah dilakukan dengan seksama, penuh pertimbangan, dan sepenuh-penuhnya demi penegakan keadilan.

Kostum
Tapi mari kita lupakan sejenak tujuan dan fungsi besar dari OSPEK. Kita mengarah terlebih dahulu pada hal kecil semisal: pengenalan civitas akademika dan kampus. Toh tujuan ini juga sering tak kesampaian karena penyelenggara OSPEK lebih berfokus pada ‘kedisiplinan’—atau mari sebut saja seperti itu. Akibatnya, yang jadi perhatian utama penyelenggara OSPEK hanya kostum dan tugas-makanan yang harus dibawa besok hari—karena itulah kiranya poin utama dari ‘kedisiplinan’ tersebut: kostum yang aneh dan makanan yang mesti ditafsirkan dari kode-kode yang diberikan panitia pada hari sebelumnya.
Kostumnya biasanya menganut mazhab Lady Gaga: kaos kaki musti dua warna, tali sepatu mesti diganti rapia, tas mesti dari karung goni, topi dari bola yang dipotong setengah, papan nama dari karton, pita warna-warni ngejreng. Kalau ada yang kurang, bolehlah mereka dibentak dan dihukum push up, disuruh lari, dipermalukan di hadapan mahasiswa baru yang lain. Asal jangan pulangkan saja aku pada ibuku. Atau kalau mereka salah membawa makanan karena salah menafsir kode yang dikasih kakak senior, maka terimalah nasib jadi bulan-bulanan. Ditertawakan dan dipermalukan.
Berfokus pada prioritas itu saja yang utama.
Tak jadi soal apakah mahasiswa baru sebetulnya betul-betul tahu ataukah tidak letak kantor rektorat atau nama dosen mata kuliah. Toh itu nanti bisa menyusul. Yang penting mereka dibekali olok-olok sebagai inagurasi. Biar kerasa naik tingkatnya. Biar kerasa menjadi mahasiswanya.
“Karena dulu kami juga digituin, kok!”
Nah, karena detail teknis adalah konfigurasi angka-angka pada telepon bernama OSPEK, maka kiranya muncul pertanyaan: jika detail teknisnya semisal di atas, ke manakah kira-kira saluran telepon ini akan menuju? Tempat sampah ataukah parit? Rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?

Cara, Bukan Niat
Tapi kan yang penting niatnya?
Itu dalih. Anies Baswedan saja bilang, “Niat itu urusan dia dengan Tuhan. Urusan dia dengan kita ya perbuatannya.” Manusia tidak bisa menghukum manusia lain karena niat, karena urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun soal rasa lidah tak pernah bohong.
Pada perbuatannyalah kita bereaksi, kita merespon.
Boleh jadi niat penyelenggara OSPEK adalah baik, demi tujuan dan fungsi yang diamanatkan, tapi jika dalam penyelenggaraannya, malah memicu hal yang kontradiktif, apakah kita tak boleh menentang hanya karena niat mereka baik?
Pada cara kita merespon. Pada perbuatan. Terlepas dari niat mereka baik ataukah buruk. Karena seseorang yang berniat menelepon Mawar toh bisa saja jadi salah sambung andaikan nomor yang dia pijit malah nomor Afika. Mau dia ikhlas mau dia nggak, mau dia sengaja ataupun tidak sengaja, mau dia iseng ataupun emang niat ganggu, toh kita tak pernah tahu. Karena sekali lagi, urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun dalamnya Lautan Hindia dapat diselami. Aiiish kok jadi ke dangdut?
Pada perbuatannyalah kita merespon. Pada kenyataan bahwa dia salah sambung. Itu saja. Itu poinnya. Mudah kan?
Nah, pada OSPEK, pemfokusan pada kostum dan kekerasan verbal non verbal adalah perbuatan, adalah cara yang dipilih. Terlepas dari apakah niatnya baik atau bukan, cara ini mesti diretrospeksi ulang. Apakah memang tepat dalam menunjang ketercapaian fungsi dan tujuan luhur OSPEK ataukah justru sebaliknya. Apakah dengan berkostum gila, seseorang sudah pasti akan mampu menjadi agent of change yang tangguh? Apakah dengan harus menerjemahkan kode makanan, si mahasiswa baru akan mampu menebak di mana WC kampus? Apakah dengan diolok-olok dipermalukan seseorang malah akan bertransformasi menjadi insan akademik?
Sampah melahirkan sampah. Kecuali ditransformasi menjadi pupuk atau kerajinan daur ulang. Artinya, kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Berkat duplikasi dan pewarisan kebiasaan buruk yang menahun—dari tahun ke tahun. Tagline untuk peristiwa semacam ini khas sekali, “Dulu juga saya digituin sama senior, jadi sekarang giliran saya.”
Inilah, sekali lagi, inilah kasus “salah sambung” itu.

Tiga Sebab
Ada tiga sebab kenapa seseorang bisa salah sambung. Pertama, karena dia tidak tahu nomor yang hendak dituju. Orang jenis ini terbagi ke dalam tiga kategori:
(1) orang yang tidak tahu dan tidak (mau) mencari tahu,
(2) orang yang tidak tahu tapi malas (mencari) tahu, dan
(3) orang yang tidak tahu tapi mau (mencari) tahu.
Poin pertama. Pada konteks OSPEK, orang-orang semacam ini adalah kakak senior yang jangankan mampu menjabarkan fungsi dan tujuan OSPEK dengan baik, kenal kedua makhluk itu saja tidak. Masih mending kalau dia mau mencari tahu agar tidak salah sambung, lha kalau malah main gowes saja tanpa hirau, bagaimana? Parahnya, orang-orang jenis ini seringkali sok tahu dan merasa paling benar. Masih mending kalau mau mendengarkan masukan dan kritik, lha kalau malah dilawan dengan kontak fisik kan gawat!
Kedua, karena dia tidak sengaja memencet nomor yang salah. Ketidaksengajaan ini bisa diakibatkan oleh:
(1) keteledoran—sikap tidak hati-hati—dan
(2) kekhilafan.
Penafsiran adalah murni kebebasan individual. Pada proses ini human error adalah niscaya. Itu sebabnya apa yang kita percayai sebagai benar pada hari ini, bisa jadi terasa meragukan esok lusa—seiring bertambahnya pengetahuan dan sudut pandang kita. Kakak senior pada tipe ini adalah orang yang tahu betul apa fungsi dan tujuan OSPEK, harus seperti apa sebetulnya jalan yang dia tempuh, tapi sekali dua kali atas dasar human error dia melakukan kesalahan sehingga OSPEK tercederai kredibilitasnya. Atas dasar apa dia bersalah? Atas dasar, misalnya, ketidakmampuan melawan mainstream.
Ketiga, karena dia sengaja memencet nomor yang salah. Entah karena motif iseng-iseng berhadiah gebetan ataupun sekedar ingin mengganggu orang lain. Dalam konteks OSPEK, orang-orang jenis ini mengusung misi balas dendam. Misi pemasti maba tahun ini merasakan sesuatu yang dia rasakan saat menjadi maba—di tahun-tahun sebelumnya.

Penutup
Kalau sudah begitu kan jadi lingkaran setan. Semua orang saling mewariskan kekerasan. Pada akhirnya yang termaknai dari OSPEK hanya kostum aneh, bullying, dan kode untuk makanan dan tugas lain yang harus dikumpul keesokan harinya. Sisanya tidak ada.
Mereka yang pro OSPEK menilai fenomena ini sebagai:
(1) pertanda bahwa OSPEK sejatinya memang harus dikondisikan untuk membuat maba tidak nyaman sehingga bisa menggembleng mental dan karakter mereka. Seperti keris yang hanya akan menjadi keris jika digembleng di dalam bara api. Dan,
(2) karena hanya dengan pengondisian ketidaknyamanan itulah semua mahasiswa baru lintas kota lintas provinsi bisa lebih cepat saling kenal, bisa lebih cepat bersatu. Ibarat Indonesia yang (kembali) dipersatukan karena sama-sama terdesak oleh penjajahan.
Tapi yang kontra punya dalih: sampah hanya akan menghasilkan sampah. Kekerasan yang dipelihara hanya akan melestarikan pewarisan budaya kekerasan. Sekali lagi lingkaran setan. Seperti kasus beberapa tahun lalu di IPDN. Tentu kematian adalah harga yang terlalu mahal.
Apakah kita masih mau hal demikian terulang?
Telepon Salah Sambung

Karena OSPEK itu ibarat telepon.
Ia hanya sekedar ‘alat’ yang punya tujuan dasar serta fungsi, tapi bisa difungsikan untuk tujuan yang sepenuhnya hak preogratif manusia. Misalkan, telepon itu kan dibikin untuk tujuan connecting people, menghubungkan manusia dengan manusia, tapi toh bisa difungsikan juga untuk connecting manusia dengan internet. Salah? Tidak juga, karena telepon hanya alat dan manusia punya kuasa penuh.
Begitu juga dengan OSPEK. Dia punya 8 tujuan dasar dan fungsi yang mahaluhur, tapi toh dalam implementasi bisa melenceng jauh dari mistar kesemestian. OSPEK bertujuan antara lain agar:
(1) mahasiswa baru memahami setting sosial serta kondisi objektif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(2) mahasiswa baru memahami peran dan fungsinya sebagai bagian dari suatu masyarakat;
(3) mahasiswa baru menyadari tanggung jawab sosialnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(4) mahasiswa sebagai insan akademik;
(5) mahasiswa sebagai agent of social change;
(6) memahami kampus sebagai garda ilmiah atau lingkungan akademik;
(7) memahami kejurusan atau keprodian serta tugas dan fungsinya;
(8) mengetahui lembaga-lembaga kemahasiswaan di tingkat universitas maupun fakultas serta sejarah perkembangannya;
dan berfungsi untuk menatar, melatih, dan menggembleng (maha)siswa untuk menjadi pribadi yang tangguh, bermental baja, serta cerdas tapi tidak sok tahu. Apa dalam pelaksanaan semua itu terpenuhi? Tidak juga. Karena OSPEK hanyalah alat, sedangkan senior punya kuasa penuh.
Kuasa penuh?
Iya.
Dalam hal apa?
Implementasi.

Implementasi
Karena tujuan boleh sama berdelapan, fungsi boleh sama untuk menatar, tapi implementasi bisa jauh saling berbeda—bahkan terkadang, bertolak belakang.
Lho, kok bisa?
Karena interpretasi. Pemaknaan. Penafsiran. Pada hal-hal yang normatif dan umum, penjabaran pada detail bisa beraneka rupa seperti jalan menuju Roma. Seperti perintah untuk shalat saja bisa menghasilkan penafsiran yang berbeda-beda—dalam konteks tata cara pelaksanaannya.
Seperti telepon.
Telepon tetaplah telepon. Tapi untuk dapat berfungsi sesuai fungsi dasar dan tujuan ia dikreasikan oleh manusia, ia punya berbagai jalan. Untuk berfungsi sebagai penyambung seseorang dengan rumah sakit, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka. Untuk berfungsi menyambungkan saluran ke si pacar, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka yang khusus.
Kesemuanya bersifat korespondensial.
14017 misalnya, hanya akan menjadi jalan yang benar, jika yang Anda tuju adalah BRI. Sebaliknya, 14017 akan menjadi jalan yang sesat jika yang Anda tuju adalah layanan siap-antar Mc Donald.
Padahal bedanya sedikit saja. Hanya pada dua angka terakhir. Layanan call center BRI pada jalur 14017, sedangkan layanan siap-antar Mc Donald pada 14045. Nah, kalau beda dua angka saja bisa melahirkan tujuan yang jauh berbeda, apalagi kalau beda seluruhnya yak?
Tapi sekali lagi, telepon tetaplah telepon. Ia hanya sebatas alat.
OSPEK juga tetaplah sebatas alat.
Alat untuk menyampaikan tujuan dan fungsi ia dikreasikan oleh manusia: dalam rangka menjadikan calon mahasiswa bermental baja sehingga mampu menjadi agen perubahan. Siswa yang berstatus maha. Kelas terpelajar. Pelopor dan pembangun. Pencerdas kehidupan bangsa. Pengontrol sosial politik. Penyambung lidah aspirasi masyarakat awam. Oposan tulen.
Tapi dalam mencapai tujuan tersebut, toh implementasinya juga mewujud dalam berbagai cara, dalam berbagai jalan—walaupun secara keseluruhan masih memiliki sederet kesamaan. Misalnya: keharusan mengenakan kostum yang aneh dan konyol, memakai atribut yang dibuat-buat, bullying, tugas yang menumpuk, hukuman dan bentakan, dan lain-lain, dan lain-lain.
Apa itu salah?
Bergantung. Mana sebetulnya yang dituju oleh panitia OSPEK selaku ‘Pemilik Telepon’, apakah kantor polisi ataukah rumah sakit jiwa, apakah sang kekasih ataukah mantan yang terlanjur menikah dengan orang lain? Detail-detail teknis itu ibarat nomor-nomor. Ketika dia dikonfigurasikan, dikombinasikan, maka jadilah ‘nomor telepon’. Perpaduan detail-teknis yang dipilih penyelenggara OSPEK akan menentukan ke arah mana sebetulnya OSPEK ini mengarah—menuju rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?
Oleh karena satu nomor saja yang salah bisa membawa saluran ke antah barantah, maka proses pengkonfigurasian angka-angka ini—atau dalam mudahnya: penafsiran dan pengimplementasian tujuan dasar dan fungsi luhur OSPEK—mestilah dilakukan dengan seksama, penuh pertimbangan, dan sepenuh-penuhnya demi penegakan keadilan.

Kostum
Tapi mari kita lupakan sejenak tujuan dan fungsi besar dari OSPEK. Kita mengarah terlebih dahulu pada hal kecil semisal: pengenalan civitas akademika dan kampus. Toh tujuan ini juga sering tak kesampaian karena penyelenggara OSPEK lebih berfokus pada ‘kedisiplinan’—atau mari sebut saja seperti itu. Akibatnya, yang jadi perhatian utama penyelenggara OSPEK hanya kostum dan tugas-makanan yang harus dibawa besok hari—karena itulah kiranya poin utama dari ‘kedisiplinan’ tersebut: kostum yang aneh dan makanan yang mesti ditafsirkan dari kode-kode yang diberikan panitia pada hari sebelumnya.
Kostumnya biasanya menganut mazhab Lady Gaga: kaos kaki musti dua warna, tali sepatu mesti diganti rapia, tas mesti dari karung goni, topi dari bola yang dipotong setengah, papan nama dari karton, pita warna-warni ngejreng. Kalau ada yang kurang, bolehlah mereka dibentak dan dihukum push up, disuruh lari, dipermalukan di hadapan mahasiswa baru yang lain. Asal jangan pulangkan saja aku pada ibuku. Atau kalau mereka salah membawa makanan karena salah menafsir kode yang dikasih kakak senior, maka terimalah nasib jadi bulan-bulanan. Ditertawakan dan dipermalukan.
Berfokus pada prioritas itu saja yang utama.
Tak jadi soal apakah mahasiswa baru sebetulnya betul-betul tahu ataukah tidak letak kantor rektorat atau nama dosen mata kuliah. Toh itu nanti bisa menyusul. Yang penting mereka dibekali olok-olok sebagai inagurasi. Biar kerasa naik tingkatnya. Biar kerasa menjadi mahasiswanya.
“Karena dulu kami juga digituin, kok!”
Nah, karena detail teknis adalah konfigurasi angka-angka pada telepon bernama OSPEK, maka kiranya muncul pertanyaan: jika detail teknisnya semisal di atas, ke manakah kira-kira saluran telepon ini akan menuju? Tempat sampah ataukah parit? Rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?

Cara, Bukan Niat
Tapi kan yang penting niatnya?
Itu dalih. Anies Baswedan saja bilang, “Niat itu urusan dia dengan Tuhan. Urusan dia dengan kita ya perbuatannya.” Manusia tidak bisa menghukum manusia lain karena niat, karena urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun soal rasa lidah tak pernah bohong.
Pada perbuatannyalah kita bereaksi, kita merespon.
Boleh jadi niat penyelenggara OSPEK adalah baik, demi tujuan dan fungsi yang diamanatkan, tapi jika dalam penyelenggaraannya, malah memicu hal yang kontradiktif, apakah kita tak boleh menentang hanya karena niat mereka baik?
Pada cara kita merespon. Pada perbuatan. Terlepas dari niat mereka baik ataukah buruk. Karena seseorang yang berniat menelepon Mawar toh bisa saja jadi salah sambung andaikan nomor yang dia pijit malah nomor Afika. Mau dia ikhlas mau dia nggak, mau dia sengaja ataupun tidak sengaja, mau dia iseng ataupun emang niat ganggu, toh kita tak pernah tahu. Karena sekali lagi, urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun dalamnya Lautan Hindia dapat diselami. Aiiish kok jadi ke dangdut?
Pada perbuatannyalah kita merespon. Pada kenyataan bahwa dia salah sambung. Itu saja. Itu poinnya. Mudah kan?
Nah, pada OSPEK, pemfokusan pada kostum dan kekerasan verbal non verbal adalah perbuatan, adalah cara yang dipilih. Terlepas dari apakah niatnya baik atau bukan, cara ini mesti diretrospeksi ulang. Apakah memang tepat dalam menunjang ketercapaian fungsi dan tujuan luhur OSPEK ataukah justru sebaliknya. Apakah dengan berkostum gila, seseorang sudah pasti akan mampu menjadi agent of change yang tangguh? Apakah dengan harus menerjemahkan kode makanan, si mahasiswa baru akan mampu menebak di mana WC kampus? Apakah dengan diolok-olok dipermalukan seseorang malah akan bertransformasi menjadi insan akademik?
Sampah melahirkan sampah. Kecuali ditransformasi menjadi pupuk atau kerajinan daur ulang. Artinya, kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Berkat duplikasi dan pewarisan kebiasaan buruk yang menahun—dari tahun ke tahun. Tagline untuk peristiwa semacam ini khas sekali, “Dulu juga saya digituin sama senior, jadi sekarang giliran saya.”
Inilah, sekali lagi, inilah kasus “salah sambung” itu.

Tiga Sebab
Ada tiga sebab kenapa seseorang bisa salah sambung. Pertama, karena dia tidak tahu nomor yang hendak dituju. Orang jenis ini terbagi ke dalam tiga kategori:
(1) orang yang tidak tahu dan tidak (mau) mencari tahu,
(2) orang yang tidak tahu tapi malas (mencari) tahu, dan
(3) orang yang tidak tahu tapi mau (mencari) tahu.
Poin pertama. Pada konteks OSPEK, orang-orang semacam ini adalah kakak senior yang jangankan mampu menjabarkan fungsi dan tujuan OSPEK dengan baik, kenal kedua makhluk itu saja tidak. Masih mending kalau dia mau mencari tahu agar tidak salah sambung, lha kalau malah main gowes saja tanpa hirau, bagaimana? Parahnya, orang-orang jenis ini seringkali sok tahu dan merasa paling benar. Masih mending kalau mau mendengarkan masukan dan kritik, lha kalau malah dilawan dengan kontak fisik kan gawat!
Kedua, karena dia tidak sengaja memencet nomor yang salah. Ketidaksengajaan ini bisa diakibatkan oleh:
(1) keteledoran—sikap tidak hati-hati—dan
(2) kekhilafan.
Penafsiran adalah murni kebebasan individual. Pada proses ini human error adalah niscaya. Itu sebabnya apa yang kita percayai sebagai benar pada hari ini, bisa jadi terasa meragukan esok lusa—seiring bertambahnya pengetahuan dan sudut pandang kita. Kakak senior pada tipe ini adalah orang yang tahu betul apa fungsi dan tujuan OSPEK, harus seperti apa sebetulnya jalan yang dia tempuh, tapi sekali dua kali atas dasar human error dia melakukan kesalahan sehingga OSPEK tercederai kredibilitasnya. Atas dasar apa dia bersalah? Atas dasar, misalnya, ketidakmampuan melawan mainstream.
Ketiga, karena dia sengaja memencet nomor yang salah. Entah karena motif iseng-iseng berhadiah gebetan ataupun sekedar ingin mengganggu orang lain. Dalam konteks OSPEK, orang-orang jenis ini mengusung misi balas dendam. Misi pemasti maba tahun ini merasakan sesuatu yang dia rasakan saat menjadi maba—di tahun-tahun sebelumnya.

Penutup
Kalau sudah begitu kan jadi lingkaran setan. Semua orang saling mewariskan kekerasan. Pada akhirnya yang termaknai dari OSPEK hanya kostum aneh, bullying, dan kode untuk makanan dan tugas lain yang harus dikumpul keesokan harinya. Sisanya tidak ada.
Mereka yang pro OSPEK menilai fenomena ini sebagai:
(1) pertanda bahwa OSPEK sejatinya memang harus dikondisikan untuk membuat maba tidak nyaman sehingga bisa menggembleng mental dan karakter mereka. Seperti keris yang hanya akan menjadi keris jika digembleng di dalam bara api. Dan,
(2) karena hanya dengan pengondisian ketidaknyamanan itulah semua mahasiswa baru lintas kota lintas provinsi bisa lebih cepat saling kenal, bisa lebih cepat bersatu. Ibarat Indonesia yang (kembali) dipersatukan karena sama-sama terdesak oleh penjajahan.
Tapi yang kontra punya dalih: sampah hanya akan menghasilkan sampah. Kekerasan yang dipelihara hanya akan melestarikan pewarisan budaya kekerasan. Sekali lagi lingkaran setan. Seperti kasus beberapa tahun lalu di IPDN. Tentu kematian adalah harga yang terlalu mahal.
Apakah kita masih mau hal demikian terulang?
Telepon Salah Sambung

Karena OSPEK itu ibarat telepon.
Ia hanya sekedar ‘alat’ yang punya tujuan dasar serta fungsi, tapi bisa difungsikan untuk tujuan yang sepenuhnya hak preogratif manusia. Misalkan, telepon itu kan dibikin untuk tujuan connecting people, menghubungkan manusia dengan manusia, tapi toh bisa difungsikan juga untuk connecting manusia dengan internet. Salah? Tidak juga, karena telepon hanya alat dan manusia punya kuasa penuh.
Begitu juga dengan OSPEK. Dia punya 8 tujuan dasar dan fungsi yang mahaluhur, tapi toh dalam implementasi bisa melenceng jauh dari mistar kesemestian. OSPEK bertujuan antara lain agar:
(1) mahasiswa baru memahami setting sosial serta kondisi objektif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(2) mahasiswa baru memahami peran dan fungsinya sebagai bagian dari suatu masyarakat;
(3) mahasiswa baru menyadari tanggung jawab sosialnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(4) mahasiswa sebagai insan akademik;
(5) mahasiswa sebagai agent of social change;
(6) memahami kampus sebagai garda ilmiah atau lingkungan akademik;
(7) memahami kejurusan atau keprodian serta tugas dan fungsinya;
(8) mengetahui lembaga-lembaga kemahasiswaan di tingkat universitas maupun fakultas serta sejarah perkembangannya;
dan berfungsi untuk menatar, melatih, dan menggembleng (maha)siswa untuk menjadi pribadi yang tangguh, bermental baja, serta cerdas tapi tidak sok tahu. Apa dalam pelaksanaan semua itu terpenuhi? Tidak juga. Karena OSPEK hanyalah alat, sedangkan senior punya kuasa penuh.
Kuasa penuh?
Iya.
Dalam hal apa?
Implementasi.

Implementasi
Karena tujuan boleh sama berdelapan, fungsi boleh sama untuk menatar, tapi implementasi bisa jauh saling berbeda—bahkan terkadang, bertolak belakang.
Lho, kok bisa?
Karena interpretasi. Pemaknaan. Penafsiran. Pada hal-hal yang normatif dan umum, penjabaran pada detail bisa beraneka rupa seperti jalan menuju Roma. Seperti perintah untuk shalat saja bisa menghasilkan penafsiran yang berbeda-beda—dalam konteks tata cara pelaksanaannya.
Seperti telepon.
Telepon tetaplah telepon. Tapi untuk dapat berfungsi sesuai fungsi dasar dan tujuan ia dikreasikan oleh manusia, ia punya berbagai jalan. Untuk berfungsi sebagai penyambung seseorang dengan rumah sakit, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka. Untuk berfungsi menyambungkan saluran ke si pacar, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka yang khusus.
Kesemuanya bersifat korespondensial.
14017 misalnya, hanya akan menjadi jalan yang benar, jika yang Anda tuju adalah BRI. Sebaliknya, 14017 akan menjadi jalan yang sesat jika yang Anda tuju adalah layanan siap-antar Mc Donald.
Padahal bedanya sedikit saja. Hanya pada dua angka terakhir. Layanan call center BRI pada jalur 14017, sedangkan layanan siap-antar Mc Donald pada 14045. Nah, kalau beda dua angka saja bisa melahirkan tujuan yang jauh berbeda, apalagi kalau beda seluruhnya yak?
Tapi sekali lagi, telepon tetaplah telepon. Ia hanya sebatas alat.
OSPEK juga tetaplah sebatas alat.
Alat untuk menyampaikan tujuan dan fungsi ia dikreasikan oleh manusia: dalam rangka menjadikan calon mahasiswa bermental baja sehingga mampu menjadi agen perubahan. Siswa yang berstatus maha. Kelas terpelajar. Pelopor dan pembangun. Pencerdas kehidupan bangsa. Pengontrol sosial politik. Penyambung lidah aspirasi masyarakat awam. Oposan tulen.
Tapi dalam mencapai tujuan tersebut, toh implementasinya juga mewujud dalam berbagai cara, dalam berbagai jalan—walaupun secara keseluruhan masih memiliki sederet kesamaan. Misalnya: keharusan mengenakan kostum yang aneh dan konyol, memakai atribut yang dibuat-buat, bullying, tugas yang menumpuk, hukuman dan bentakan, dan lain-lain, dan lain-lain.
Apa itu salah?
Bergantung. Mana sebetulnya yang dituju oleh panitia OSPEK selaku ‘Pemilik Telepon’, apakah kantor polisi ataukah rumah sakit jiwa, apakah sang kekasih ataukah mantan yang terlanjur menikah dengan orang lain? Detail-detail teknis itu ibarat nomor-nomor. Ketika dia dikonfigurasikan, dikombinasikan, maka jadilah ‘nomor telepon’. Perpaduan detail-teknis yang dipilih penyelenggara OSPEK akan menentukan ke arah mana sebetulnya OSPEK ini mengarah—menuju rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?
Oleh karena satu nomor saja yang salah bisa membawa saluran ke antah barantah, maka proses pengkonfigurasian angka-angka ini—atau dalam mudahnya: penafsiran dan pengimplementasian tujuan dasar dan fungsi luhur OSPEK—mestilah dilakukan dengan seksama, penuh pertimbangan, dan sepenuh-penuhnya demi penegakan keadilan.

Kostum
Tapi mari kita lupakan sejenak tujuan dan fungsi besar dari OSPEK. Kita mengarah terlebih dahulu pada hal kecil semisal: pengenalan civitas akademika dan kampus. Toh tujuan ini juga sering tak kesampaian karena penyelenggara OSPEK lebih berfokus pada ‘kedisiplinan’—atau mari sebut saja seperti itu. Akibatnya, yang jadi perhatian utama penyelenggara OSPEK hanya kostum dan tugas-makanan yang harus dibawa besok hari—karena itulah kiranya poin utama dari ‘kedisiplinan’ tersebut: kostum yang aneh dan makanan yang mesti ditafsirkan dari kode-kode yang diberikan panitia pada hari sebelumnya.
Kostumnya biasanya menganut mazhab Lady Gaga: kaos kaki musti dua warna, tali sepatu mesti diganti rapia, tas mesti dari karung goni, topi dari bola yang dipotong setengah, papan nama dari karton, pita warna-warni ngejreng. Kalau ada yang kurang, bolehlah mereka dibentak dan dihukum push up, disuruh lari, dipermalukan di hadapan mahasiswa baru yang lain. Asal jangan pulangkan saja aku pada ibuku. Atau kalau mereka salah membawa makanan karena salah menafsir kode yang dikasih kakak senior, maka terimalah nasib jadi bulan-bulanan. Ditertawakan dan dipermalukan.
Berfokus pada prioritas itu saja yang utama.
Tak jadi soal apakah mahasiswa baru sebetulnya betul-betul tahu ataukah tidak letak kantor rektorat atau nama dosen mata kuliah. Toh itu nanti bisa menyusul. Yang penting mereka dibekali olok-olok sebagai inagurasi. Biar kerasa naik tingkatnya. Biar kerasa menjadi mahasiswanya.
“Karena dulu kami juga digituin, kok!”
Nah, karena detail teknis adalah konfigurasi angka-angka pada telepon bernama OSPEK, maka kiranya muncul pertanyaan: jika detail teknisnya semisal di atas, ke manakah kira-kira saluran telepon ini akan menuju? Tempat sampah ataukah parit? Rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?

Cara, Bukan Niat
Tapi kan yang penting niatnya?
Itu dalih. Anies Baswedan saja bilang, “Niat itu urusan dia dengan Tuhan. Urusan dia dengan kita ya perbuatannya.” Manusia tidak bisa menghukum manusia lain karena niat, karena urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun soal rasa lidah tak pernah bohong.
Pada perbuatannyalah kita bereaksi, kita merespon.
Boleh jadi niat penyelenggara OSPEK adalah baik, demi tujuan dan fungsi yang diamanatkan, tapi jika dalam penyelenggaraannya, malah memicu hal yang kontradiktif, apakah kita tak boleh menentang hanya karena niat mereka baik?
Pada cara kita merespon. Pada perbuatan. Terlepas dari niat mereka baik ataukah buruk. Karena seseorang yang berniat menelepon Mawar toh bisa saja jadi salah sambung andaikan nomor yang dia pijit malah nomor Afika. Mau dia ikhlas mau dia nggak, mau dia sengaja ataupun tidak sengaja, mau dia iseng ataupun emang niat ganggu, toh kita tak pernah tahu. Karena sekali lagi, urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun dalamnya Lautan Hindia dapat diselami. Aiiish kok jadi ke dangdut?
Pada perbuatannyalah kita merespon. Pada kenyataan bahwa dia salah sambung. Itu saja. Itu poinnya. Mudah kan?
Nah, pada OSPEK, pemfokusan pada kostum dan kekerasan verbal non verbal adalah perbuatan, adalah cara yang dipilih. Terlepas dari apakah niatnya baik atau bukan, cara ini mesti diretrospeksi ulang. Apakah memang tepat dalam menunjang ketercapaian fungsi dan tujuan luhur OSPEK ataukah justru sebaliknya. Apakah dengan berkostum gila, seseorang sudah pasti akan mampu menjadi agent of change yang tangguh? Apakah dengan harus menerjemahkan kode makanan, si mahasiswa baru akan mampu menebak di mana WC kampus? Apakah dengan diolok-olok dipermalukan seseorang malah akan bertransformasi menjadi insan akademik?
Sampah melahirkan sampah. Kecuali ditransformasi menjadi pupuk atau kerajinan daur ulang. Artinya, kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Berkat duplikasi dan pewarisan kebiasaan buruk yang menahun—dari tahun ke tahun. Tagline untuk peristiwa semacam ini khas sekali, “Dulu juga saya digituin sama senior, jadi sekarang giliran saya.”
Inilah, sekali lagi, inilah kasus “salah sambung” itu.

Tiga Sebab
Ada tiga sebab kenapa seseorang bisa salah sambung. Pertama, karena dia tidak tahu nomor yang hendak dituju. Orang jenis ini terbagi ke dalam tiga kategori:
(1) orang yang tidak tahu dan tidak (mau) mencari tahu,
(2) orang yang tidak tahu tapi malas (mencari) tahu, dan
(3) orang yang tidak tahu tapi mau (mencari) tahu.
Poin pertama. Pada konteks OSPEK, orang-orang semacam ini adalah kakak senior yang jangankan mampu menjabarkan fungsi dan tujuan OSPEK dengan baik, kenal kedua makhluk itu saja tidak. Masih mending kalau dia mau mencari tahu agar tidak salah sambung, lha kalau malah main gowes saja tanpa hirau, bagaimana? Parahnya, orang-orang jenis ini seringkali sok tahu dan merasa paling benar. Masih mending kalau mau mendengarkan masukan dan kritik, lha kalau malah dilawan dengan kontak fisik kan gawat!
Kedua, karena dia tidak sengaja memencet nomor yang salah. Ketidaksengajaan ini bisa diakibatkan oleh:
(1) keteledoran—sikap tidak hati-hati—dan
(2) kekhilafan.
Penafsiran adalah murni kebebasan individual. Pada proses ini human error adalah niscaya. Itu sebabnya apa yang kita percayai sebagai benar pada hari ini, bisa jadi terasa meragukan esok lusa—seiring bertambahnya pengetahuan dan sudut pandang kita. Kakak senior pada tipe ini adalah orang yang tahu betul apa fungsi dan tujuan OSPEK, harus seperti apa sebetulnya jalan yang dia tempuh, tapi sekali dua kali atas dasar human error dia melakukan kesalahan sehingga OSPEK tercederai kredibilitasnya. Atas dasar apa dia bersalah? Atas dasar, misalnya, ketidakmampuan melawan mainstream.
Ketiga, karena dia sengaja memencet nomor yang salah. Entah karena motif iseng-iseng berhadiah gebetan ataupun sekedar ingin mengganggu orang lain. Dalam konteks OSPEK, orang-orang jenis ini mengusung misi balas dendam. Misi pemasti maba tahun ini merasakan sesuatu yang dia rasakan saat menjadi maba—di tahun-tahun sebelumnya.

Penutup
Kalau sudah begitu kan jadi lingkaran setan. Semua orang saling mewariskan kekerasan. Pada akhirnya yang termaknai dari OSPEK hanya kostum aneh, bullying, dan kode untuk makanan dan tugas lain yang harus dikumpul keesokan harinya. Sisanya tidak ada.
Mereka yang pro OSPEK menilai fenomena ini sebagai:
(1) pertanda bahwa OSPEK sejatinya memang harus dikondisikan untuk membuat maba tidak nyaman sehingga bisa menggembleng mental dan karakter mereka. Seperti keris yang hanya akan menjadi keris jika digembleng di dalam bara api. Dan,
(2) karena hanya dengan pengondisian ketidaknyamanan itulah semua mahasiswa baru lintas kota lintas provinsi bisa lebih cepat saling kenal, bisa lebih cepat bersatu. Ibarat Indonesia yang (kembali) dipersatukan karena sama-sama terdesak oleh penjajahan.
Tapi yang kontra punya dalih: sampah hanya akan menghasilkan sampah. Kekerasan yang dipelihara hanya akan melestarikan pewarisan budaya kekerasan. Sekali lagi lingkaran setan. Seperti kasus beberapa tahun lalu di IPDN. Tentu kematian adalah harga yang terlalu mahal.
Apakah kita masih mau hal demikian terulang?

Kodakenik Fotogenik

Sehari setelah kabar kematian Kodak merebak, saya menyampaikan pidato bela sungkawa di hadapan ribuan alayers di Indonesia yang tengah berduka. Kita harus berterima kasih kepada Kodak, ujar saya, karena Kodak telah menjadi satu titik tolak evolusi kaum alay. Setengah berseloroh, saya melanjutkan: dahulu sebelum kamera digital lahir, Saudara-saudara, untuk satu kali berfoto saja sulitnya minta ampun. Kenapa bisa sampai sulit?

Pertama, tidak semua orang punya kamera. Baik itu yang Kodak asli maupun Kodak kw 7. Kamera menjadi salah satu barang mewah di bawah motor dan mobil. Setara dengan televisi dan kulkas dan telepon rumah. Kedua, jikapun punya, tidak semua orang bisa membeli roll film Kodak 35 mm setiap saat—lagipula buat apa? Terasa menghambur-hamburkan uang. Oleh karena itu, roll film Kodak 35 mm itu hanya dibeli ketika kami menghadapi momen-momen spesial: pernikahan, piknik ke Pelabuhan Ratu, samen atau prosesi kenaikan kelas, dan lain-lain.

Ketiga, jikapun kameranya ada—entah itu dapet beli ataukah minjam—dan roll film Kodak 35 mm atas berkat rahmat Tuhan berhasil terbeli, kami masih dihadapkan pada tiga masalah: pertama, tidak semua orang mahir memasangkan roll film Kodak 35 mm, dan kedua, karena satu roll hanya berisi maksimum 36 slide, maka kami harus pandai berhemat dan memilih momen agar tidak ada momen yang terlewat gara-gara roll film Kodak 35 mm-nya keburu habis. Masalah ketiga, kami harus berhati-hati saat memotret karena bisa saja hasilnya jelek, atau terbakar, atau menyisakan sebagian jari yang menutupi lensa, karena foto itu tidak bisa dihapus secara manual apalagi otomatis!

Keempat, okelah kita anggap tidak ada masalah: kamera ada, roll film Kodak 55 mm terbeli, bisa dipasangkan, difoto sudah pada momen-momen yang istimewa, sudah yakin seyakin-yakinnya tidak ada yang terbakar, tapi kami masih tetap saja menghadapi masalah: yakni afdruk. Foto itu belum bisa dilihat jika belum dicuci dan diafdruk. Karena untuk ‘mencuci’ dan meng-afdruk memerlukan biaya tambahan yang tak kalah besar, ada kalanya foto pernikahan yang digelar bulan Juli baru bisa dinikmati di penghujung Desember, atau foto menjelang idul fitri baru bisa dilihat pada idul adha. Kadang-kadang bikin penasaran, tapi di saat lain bikin geregetnya hilang, seperti makanan yang terlanjur basi: percayalah, menunggu itu tidak menyenangkan!

Akibat dari keempat faktor di atas adalah buruknya tingkat kefotogenikan kaum Alay Tempo Doeloe. Hal tersebut dapat dibuktikan dari minimnya gaya berfoto. Jika sendiri maka gayanya pasti tidak akan lepas dari gaya ini: jari membentuk tanda v perlambang damai, jari membentuk metal, kedua tangan masuk saku sembari memakai kacamata, duduk menyangga dagu dekat pohon, memandang nanar memegang daun pisang, melotot dengan pipi tegang seperti kebelet, senyum canggung seperti orang sariawan. Jika berdua, hanya berdiri berdekatan sambil memandang kamera, atau paling banter, merangkul pundak. Jika berfoto ramai-ramai, semua orang heboh berebutan takut nggak kebagian foto. Atau jika suasana sedang aman, saling merangkul pundak seperti pemain sepakbola sebelum bertanding, dan masih saja ada yang jarinya membentuk tanda metal.

Tapi tak selalu seburuk itu. Jika kami sedang tajir dan ingin foto yang ‘agak mendingan’, maka kami akan pergi ke studio foto dan berdiri kaku dan tegang berlatar gambar pemandangan, atau kain-kain polos warna merah dan biru. Kami akan terkesan oleh lampu blitz yang mengkilap, kami akan bersabar menunggu satu atau dua minggu sampai fotonya selesai, dan perlu satu bulan untuk bosan mengomentari-membicarakan satu foto itu.

Rasanya seperti punya harta keramat! Inilah citarasa alay berkemasan jadul. Alay Tempo Doeloe.

Era Digital

Mungkin yang saya ceritakan tadi terdengar ribet bagi Saudara-saudara generasi Alay Millenium. Tapi sebetulnya tidak. Kodak pada masa itu merupakan terobosan hebat dalam dunia fotografi. Berfoto yang asalnya super-duper-ribet disederhanakan prosesnya berkat penemuan George Eastman, seorang drop out SMA, mantan pegawai bank, penemu kamera genggam di tahun 1870-1880an, yang mengubah sejarah fotografi untuk selamanya.

Kamera Kodak terasa ribet karena Saudara-saudara melihatnya dari kacamata kamera digital yang super-duper-hi tech—perkembangan yang memungkinkan Anda melihat foto sebelum dicetak, yang tidak mengharuskan Anda membeli roll film Kodak 35 mm. Perkembangan berlanjut pada fitur kamera pada ponsel. Pada masa itu, ponsel juga mulai turun tahta dari barang mewah yang hanya dimiliki orang-orang kaya, menjadi barang setengah-mewah yang dimiliki kalangan atas dan menengah[1].

Efek langsungnya adalah: akses yang mulai tak terbatas terhadap dunia fotografi. Kami tidak harus bingung memikirkan uang untuk membeli roll film Kodak 35 mm, kami tidak harus bingung memikirkan biaya cetak, kami tidak harus takut kemungkinan hasil foto jelek, atau terbakar, atau menyisakan jari yang terpotret, kami juga tak perlu menunggu lama hanya untuk melihat hasil foto, dan tak perlu menunggu momen-momen spesial untuk berfoto. Karena semuanya bisa dilihat saat itu juga, bisa dihapus kalau benar-benar jelek, bisa diedit untuk diperbagus.

Alhasil, hobi berfoto semakin menjalar di mana-mana. Orang tak lagi berfoto hanya pada acara-acara nikahan, tapi ketika mau tidur, mau makan, saat marahan sama pacar, saat belajar, saat duduk menunggu guru, saat main kartu sembari begadang, saat makan baso, saat duduk melamun, saat ingin berfoto, saat upacara, saat berenang, saat mencangkul, dan semua aktivitas lainnya.

Akibatnya, tingkat kefotogenikan[2] mengalami lonjakan drastis. Hal ini ditenggarai oleh semakin variatifnya pose-pose saat berfoto: gaya nutup muka dengan kedua tangan, gaya memandang kamera ke atas, gaya menunduk dengan rambut tergerai, gaya memalingkan muka, gaya ngaduk-ngaduk rambut ketombean, gaya nyilangin jari di dekat bibir nyuruh diam, gaya merentang kedua tangan ke udara, gaya manyun, gaya tembem, gaya menekuk leher, gaya pura-pura tidur, gaya pura-pura baca, gaya pura-pura berantem, gaya lumba-lumba, gaya punggung, gaya galau, gaya centil, gaya sariawan (bibir mangap setengah senti), gaya bercermin, gaya menjulurkan lidah, dan masih banyak lagi.

Ketidakterbatasan ini—kemungkinan untuk bisa berfoto 1000 kali dalam setahun—membuat Alay Millenium menjadi Alay Paling Terlatih sepanjang sejarah. Setingkat di bawah kualitas foto model. Saking hebatnya kualitas Alay jenis ini, yang wajahnya berjerawat seabreg-abreg saja bisa disulap seperti Emma Watson. Yang kulitnya sawo matang saja bisa bikin seterang Nicole Kidman.

Kemudian, datanglah friendster, datanglah facebook.

Dan segalanya menjadi lengkap.

Koleksi foto yang awalnya hanya disimpan di komputer, untuk sebagian dicetak, sebagian dibikin slide-show dilengkapi musik dengan menggunakan aplikasi movie maker atau ulead, pada akhirnya mulai di-upload ke situs pertemanan tersebut: entah dijadikan sebagai foto profil atau foto-foto di album yang di-share atau di-tag-kan ke sebanyak mungkin teman. Lalu, habis foto, terbitlah ‘perndekatan’. Saling komen-komenan.

Kebiasaannya berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Yang perempuan biasanya lebih hobi memasang fotonya—tentu saja setelah diedit overmaksimal menggunakan adobe photosop—lalu akan malu-malu kucing ketika ada cowok yang ngasih jempol. Ketika ada komentar, “Foto kamu cantik banget.” Dia akan buru-buru membalas, “Ih itu waktu aku lagi jelek tauuuuuk!” Tiada lain tiada bukan ingin semakin dikagumi dan dipuja-puji. Jika perempuan itu single, maka ia akan menjadi rebutan para pria malang yang menggantungkan nasibnya di bawah tangan Mark Zuckerberg. Tapi jika dia perempuan yang sudah punya pacar atau bahkan suami, biasanya sampai membuat pertengkaran yang mengharuskan lahirnya satu profesi baru: polisi facebook[3].

Tapi jika lelaki, biasanya, lebih hobi untuk nge-add facebook wanita-wanita yang foto profilnya terlihat cantik. Apalagi jika ditambahi detail-profil seperti: hai, aku cewek bispak lho[4]. Setelah nge-add biasanya mereka melihat-lihat album foto si perempuan tersebut, dan mengcopy-paste sebagian ke ponsel atau PC-nya. Fungsinya untuk apa? Jika dia lelaki yang punya pacar, maka fungsi foto itu adalah untuk pelampiasan ketika dia berantem dengan pacarnya. Seolah-olah dengan memiliki foto-foto itu, dia juga memiliki akses yang baik terhadap perempuan-perempuan itu, maka dia tidak merasa galau dan kesepian. Tapi jika dia laki-laki jomblo, apalagi akut, maka foto-foto itu bisa dipamerkan sebagai foto pacar atau mantan-mantannya. Dan jika sedang sendirian sedang kejombloannya sedang menyublimkan rasa sakit, dia akan mengurung diri bersemedi di kamar mandi—dengan satu tangan memegang sabun dan tangan lain memandangi foto-foto itu—dan sembari merintih menangis dia akan meratap, “Kenapa oh kenapa!”

Sejarah Kamera

Adalah Robert Boyle—seorang peneliti asal Inggris—dan pembantunya, Robert Hooke, yang mula-mula menemukan kamera portable obscura pada tahun 1660-an, yang kemudian disempurnakan oleh Johann Zahn pada tahun 1685. Dengan ciri khasnya—selalu memakai lampu kilat dan mengeluarkan asap—kita akan dengan mudah menemukan kamera ini pada film-film ber-setting masa lampau.

Nyaris 2 abad kemudian—atau tepatnya pada tahun 1826—Joseph Niecephore Niepce membikin terobosan dengan membuat kamera yang mengharuskan objek fotonya bergaya selama 8 jam hanya demi satu buah foto yang masih buram. Saya ulangi, 8 jam hanya untuk satu foto! Berbekal pengalaman tersebut, sang ilmuwan bekerjasama dengan seorang seniman asal Prancis bernama Jacques Daguerre, dan mengembangkan teknologi daguerreotype. Yakni proses pembuatan foto yang menggunakan lempengan tembaga (copper) dalam proses cetak. Untuk teknologi ini, keduanya mendapat pensiun seumur hidup dari Pemerintah Prancis[5].

Dan berterima kasihlah Saudara-saudara Alayers sekalian kepada Frederick Scott Archer, karena dialah yang berhasil mengembangkan teknologi ‘foto-cepat’. Dari asalnya harus 8 jam hanya demi satu foto, kini hanya perlu lima detik saja! Tak kurang tak lebih! Beneran! Pada 1852 tercatat! Hanya 26 tahun setelah Joseph Niecephore Niepce menciptakan teknologi foto-delapan-jam-nya. Frederick Scott Archer menggunakan teknik collodion, yang memungkinkan gambar sudah dicetak ketika plat masih basah.

Penggunaan bahan gelatin menjadi rangkaian evolusi berikutnya, pada 1871. Richard Maddox menjadi aktor protagonis di balik penemuan tersebut. Bukan hanya menyempurnakan teknologi yang sudah diciptakan sebelum-sebelumnya, Richard Maddox juga membikin terobosan dengan membuat satu foto bisa dicetak lebih banyak dengan kualitas yang lebih baik. Jadi bergembiralah, Saudara-saudara, bergembiralah!

Evolusi kamera dan dunia fotografi semakin tak terbendung ketika memasuki abad ke-20. Setelah film berwarna ditemukan pada 1901, giliran film berwarna berlapis (kodachrome) meraja sebelum akhirnya ditutup oleh roll Kodak 35 mm. Itulah awal dari ‘akhir’ sebuah era. Kamera digital dan menyingkirkan yang tak mampu menyesuaikan.

Alay Syndrome

Sidang Alayers yang cemungudh eeaa.

Bergembiralah karena berkat inovasi invasi kamera digital dan social media, kaum kita akan menjadi 3 kali bahkan 4 kali lebih banyak. Tersebar tidak hanya pada kalangan ABG labil atau orang tua yang terlambat dewasa, tetapi juga kepada para politisi kelas kakap. Saya tidak mengada-ngada, sesungguhnya bersungguh-sungguh.

Baiklah, biar saya beri gambaran. Sepanjang 2003 sampai pertengahan 2006, setiap kali melewati gedung salah satu parpol besar di Indonesia, tak sekalipun saya menemukan baligo yang isinya foto-foto kader mereka, foto-foto ‘tokoh’ yang akan diusung partai ke kursi pemerintahan. Hari ini, ke manapun saya bepergian, saya selalu disambut dengan baligo, spanduk, stiker, dan/atau apapun yang berisi foto-foto para politisi.

Memang, pada pemilu langsung yang pertama, di tahun 2004, terdapat banyak foto para calon wakil rakyat dan presiden-wakil presiden, tapi kesemuanya tak pernah lepas dari gaya berfoto untuk KTP. Sebagian bahkan berwajah tegang seperti maling ketahuan warga. Tapi sekarang, lihatlah, gayanyapun bervariasi: ada yang menunjuk sembari mengubar janji akan membela rakyat, ada yang mengangkat tinju sembari tersenyum, ada yang duduk menyulam tangan sembari tersenyum tipis sekali, ada yang duduk di kursi warung nasi sembari bercanda dengan rakyat jelata, ada yang memakai baju adat lengkap dengan tagline dalam bahasa daerah, ada yang tiba-tiba menjadi alim dan mengucapkan selamat idul fitri padahal ia tak pernah puasa, ada yang saling berpegangan tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi, ada yang—karena tidak pede—memasang wajah tokoh negara sebagai latar belakang—entah Soekarno entah SBY.

Tapi yang paling unforgetable bagi saya adalah foto salah satu pimpinan parpol besar sekaligus taipan yang berhutang hidup kepada warga Porong Sidoarjo. Di beberapa pasar tradisional yang saya lewati, selalu saya menemukan baligo bergambar wajah sang taipan yang tersenyum senang disertai testimoni mengharukan dari rakyat yang telah ia bela. Testimoni itu kira-kira berbunyi: cemungudh eeaa kakaks (^_^)9


[1] Seperti kita tahu, hari ini ponsel turun tahta lagi, seperti banyak barang elektronik lainnya menjadi barang standar kebutuhan yang dimiliki mulai dari Presiden Bank Dunia sampai tukang mie ayam di Pasar Induk.

[2] Yang setara dengan frasa: tingkat kealayan.

[3] Akan dibahas di buku Makan Nggak Makan Asal Twitteran.

[4] Dan hal semacam ini biasanya sering dijadikan media untuk menipu teman yang katakanlah ‘mata keranjang’.

[5] Khusus untuk Niepce, karena dia sudah keburu meninggal sebelum Pemerintah Perancis memberinya pensiun seumur hidup, maka uang pensiunnya diserahkan kepada ahli waris.

Dari Madun Ke Djohar Arifin

Sebuah peradaban tidak akan hancur, kecuali ia hancur dari dalam. PSSI juga tidak akan hancur, kecuali ia hancur dari dalam.

Terdapat ironi yang menggelikan. Ketika Madun membangkitkan semangat anak-anak untuk bermain sepak bola lewat tendangan sosis ayam dan tendangan sosis sapinya, Okto Maniani malah masih terjebak di Yordania karena belum mendapat visa untuk masuk ke Palestina. Di saat Garuda di Dadaku mulai bertumbuh menjadi national anthem di Gelora Bung Karno, uang di sakuku malah jadi pemicu konflik berkepanjangan di PSSI—ketaktersentuhannya oleh KPK dan BPK membikin lapang untuk korup.

Ketika Bayu (diperankan Emir Mahira dalam film Garuda di Dadaku) berjuang keras demi mimpinya menjadi Patriot Garuda Muda, organisasi yang mengurusi malah sibuk saling sikut saling serang. Kita mulai jatuh hati pada pemain blesteran yang dinaturalisasi, atau pemain asing yang kadung lama di Indonesia seperti Cristian El Loco Gonzales, atau mutiara Timur yang eksplosif, tapi potensi-potensi besar itu dibiarkan tercecer tak terurus.

Tapi sebagai orang yang selalu berpikiran positif, saya berusaha mencari sisi-sisi positif dari fenomena ini. Setelah mandi kembang tengah malam selama 7 hari 7 malam, akhirnya saya mendapat wangsit dari tukang mie ayam di dekat pasar induk. Menurut wangsit tersebut, setidak-tidaknya ada 12 alasan kenapa kita harus mencintai PSSI.

Pertama, Indonesia adalah satu-satunya negeri di mana liganya saja ada dua! Coba tengok di Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, Prancis, Malaysia, Ukraina, semua-muanya hanya punya satu liga. Sekali lagi saya tegaskan: hanya punya satu liga! Inggris mengklaim sebagai negara dengan liga terbaik di dunia, tapi mereka cuma punya satu! Kita? (Muncul Ayu Tingting bawa kecrekan): Du-aaaaa.

Tapi kan di Inggris ada Piala FA dan Carling? Nah, itu kan sifatnya liga tambahan. Diatur tidak dengan skema poin seperti liga utama mereka: Barclays Premier League. Di Spanyol, Italia, Jerman, Prancis, liga-liga tambahan semacam itu juga ada kok—Copa del Rey, Copa Italia, dan lain-lain. Di Indonesia juga ada kan? Piala Soeratin, misalnya. Yang saya maksudkan adalah dua liga yang menggunakan skema poin dengan pertandingan home-away dan kedua-duanya menyatakan diri sebagai satu-satunya liga yang legal!

Saking legalnya kedua liga tersebut, beberapa klub malah sampai memecah diri menjadi dua seperti amuba: Persija IPL dan Persija ISL, Arema ISL dan Arema IPL. Di Inggris mana ada MU memecah diri menjadi dua, yang satu MU BPL, yang satu lagi MU The Real. Ditambah lagi penyaringan pemain ke timnas menjadi macet karena pemain hebat yang berada di lingkup ISL tak dilibatkan dalam timnas oleh Djohar Arifin—konon, inilah salah satunya penyebab kekalahan kita dari Bahrain 10-0. Hebat kan?

Kedua, saking hebatnya liga di Indonesia, namanya saja pakai bahasa internasional alias bahasa Inggris. Padahal, liga Spanyol yang diisi dua klub paling kesohor di dunia saja, nama liganya pakai bahasa Spanyol: La Liga. Atau Liga Italia: Lega Calcio. Atau Jerman: Bundesliga. Atau Prancis: Ligue 1. Atau Belanda: Eredevise. Semua-muanya menggunakan bahasa lokal, bahasa nasional mereka! Tapi lihatlah kita: ISL, Indonesia Super League. IPL, Indonesia Premier League. Dua-duanya berbahasa Inggris. Bahkan soundtrack ISL yang sering muncul di ANTV pun tagline-nya berbahasa Inggris: hey you, you’d rather believe, you’d rather believe! Liga kita berwawasan global, bertaraf internasional! Tinggal tunggu waktu saja sampai orang-orang sadar. Tapi kapan ya?

Tapi sudahlah. Masuk ke alasan ketiga: kursi ketua PSSI yang benar-benar nyaman. Saking nyamannya, Nurdin Halid saja ngamuk-ngamuk nggak mau diturunin. Sekalinya Nurdin Halid berhasil diturunin, rebutan kursi itu malah sampai bikin ‘oknum berkepala cepak’ turun tangan untuk ‘mengamankan’. Agenda Palembang sampai gagal gara-gara kejadian itu.

Keempat, kader-kader yang terlibat juga sangat rajin. Ini saja Djohar Arifin baru naik sudah mau diturunkan lagi. Saking rajin dan kritisnya. Tapi karena Djohar Arifin menanggapi dingin kritikan—termasuk soal kenapa 6 klub ujug-ujug masuk divisi utama—mereka akhirnya membikin KPSI—Komisi Penyelematan Sepak Bola Indonesia—yang akhirnya membikin PSSI Tandingan. PSSI La Nyalla Mattalitti. Persaingan semakin ketat. Yiiiha!

Kelima, saking hebatnya pengaturan liga—yang dualis ini—di Indonesia, sampai-sampai para pemain banyak yang tak terbayarkan gajinya selama berbulan-bulan. Tapi toh para pemain itu tetap mau bermain dan nggak mogok makan. Menurut koran Bola edisi 12-13 Mei 2012, kehebatan yang satu ini tidak lain dan tidak bukan diakibatkan oleh krisis keuangan dari klub yang secara finansial memang tidak sehat tapi dipaksakan ikut kompetisi oleh PSSI. Konon, hal ini jugalah yang membikin need of achievement para pemain semakin tinggi. Apa?

Iya. Dan kita masuk ke poin keenam: para pemain sepak bola Indonesia punya need of achievement yang tinggi. Kebutuhan untuk berpretasi yang luhur. Saking tingginya kebutuhan ini, mereka tak mau gitu aja nyerah kalau kalah. Jadi sekalinya kalah dan tetap susah bikin gol, ya bikin saja pemain lawan cedera hamstring. Kalau itu dirasa belum cukup, ya berantem sajalah di lapangan seperti pertandingan Persib vs Gresik United pada April 2012. Atau kalau wasit dirasa guoblok, maka serbu saja wasitnya, seperti dialami wasit Syarifudin—yang sampai harus dievakuasi dengan mobil polisi dengan pengawalan yang ketat saat memimpin partai Persiba Bantul vs Semen Padang di stadion Sultan Agung, Bantul, Sabtu (19/5)—dan Suharto, yang jadi bulan-bulanan pemain Persela saat duel vs PSMS (20/5)[1].

Ketujuh, untungnya Komdisnya baik hati. Jadi sejahat apapun pelanggaran seperti yang disebutkan di atas, toh belum kedengaran tuh tanda-tanda akan jatuhnya sanksi. Padahal di Inggris, saking kejamnya, Suarez karena nyebut ‘negrito’ ke Patrice Evra sampai dihukum nggak boleh main 8 laga plus sejumlah denda. Kebayang kan kalau satu tim ngeroyok wasit, terus semuanya dihukum 8 laga, terus yang mau main bola nanti siapa? Ternyata bukan hanya Axis yang baik, Komdis juga. Tak heran kalau yusuf Bachtiar, saja memuji, “Penegakkan hukum nyaris tidak ada. Komdis sekedar nama, tapi tak ada kerjanya.[2]

Kedelapan, kita sudah lazim mendengar isu soal wasit yang disogok. Padahal itu keliru. Yang benar adalah—jika memang kejadian semacam itu terjadi—mereka sebenarnya tidak sedang disogok, tetapi mereka hanya tidak mau dicap anak sombong karena menampik rezeki. Padahal Tuhan kan nggak suka orang yang sombong. Jadi kalau misal memang ada manajer klub atau official yang ngasih amplop, mereka cuma nggak tega kalau nggak nerima. Akibatnya, kita masuk ke poin kesembilan.

Yakni, mereka merasa harus membalas budi karena ciri-ciri orang yang baik adalah selalu tidak melupakan kebaikan orang lain. Jadi wajar dong kalau Manajer Tim Ayam Kampung FC memberi amplop, tiba-tiba wasitnya ngasih dua penalti yang rada aneh. Kan itu juga dalam rangka membalas kebaikan. Karena seperti kata pepatah, “Air susu nggak boleh dibalas dengan air comberan.”

Kesepuluh, hakim garis juga luar biasa baik. Mereka sangat berhati-hati. Dalam islam, sikap berhati-hati ini sangat dianjurkan agar kita terjaga dari perbuatan dosa. Misal kalau berwudlu disunnahkan setiap anggota wudlu dibasuh 3x demi tujuan menjaga kalau-kalau basuhan pertama belum sempurna. Nah, dalam konteks hakim garis agak lain. Saking berhati-hatinya mereka, striker yang nggak offside pun dibikin offside. Semata-mata karena pergerakan sang striker kurang sempurna di mata sang hakim garis. Jadi demi kehati-hatian, lebih baik di off side-kan saja!

Kesebelas, dan ini baik bagi perempuan, sepak bola Indonesia punya basis penonton yang cocok jadi tipe pacar idaman. Mau tahu? Coba lihat di Barclays Premier League. Terkadang, ketika tim kesayangan mereka kalah, mereka malah memilih pulang sebelum pertandingan benar-benar selesai. Tapi di Indonesia, fansnya setia. Kalau timnya kalah, mereka serempak membela, berkor berteriak, “Wasit goblog, wasit goblog.” Kalau dirasa belum cukup, mereka melemparkan botol minuman ringan, bom molotov, menyalakan petasan, memancarkan sinar laser, memukul pemain lawan, atau kalau perlu berantem sama supporter tim lawan, semata-mata karena mereka sayang banget sama tim favorit mereka.

Sekarang Anda bayangkan. Ketika Anda disakiti oleh orang lain, pacar seperti apa yang Anda inginkan: (1) yang malah pergi meninggalkan Anda seperti tipikal fans sepak bola BPL, ataukah yang (2) membela seperti supporter sepakbola tanah air?

Tapi masih ada kehebatan nomor dua belas. Yakni, saking hebatnya PSSI, timnasnya saja konon mau dibikin dua. Satu versi Djohar, satu lagi versi La Nyalla Mattalitti. Argentina boleh punya Messi, Higuain, Di Maria, Sergio Aguero, tapi mereka cuma punya satu timnas. Inggris boleh berbangga punya Wayne Rooney, tapi timnas mereka juga cuma satu. Spanyol, juara piala dunia 2010 saja, timnasnya juga cuma satu. Tapi kita, lagi-lagi, punya du-aaaa.

Kurang hebat apa lagi coba?

Sederet pujian pun dihaturkan kepada dualisme PSSI ini. Jimmy Napitupulu misalkan, wasit berlisensi FIFA ini memuji, “Kompetisi kita diambang kehancuran.” Hal yang diamini oleh Robby Darwis, “Pemain terbaik Indonesia tidak berkumpul menjadi satu. Hal itu membuat mutu pertandingan menurun.” Eddy Raharto, mantan wakil GM PSIS menimpali, “Banyak klub akhirnya sekadar ikut kompetisi tanpa target dan perencanaan yang jelas.” Bahkan saking hebatnya berkah dari dualisme ini, Alfred Riedl yang ‘meyakini’ bahwa Indonesia tidak akan masuk ke Piala Dunia setidaknya dalam 20 tahun ini[3], berkata, “Mutu kompetisi menurun karena pemain terbelah… sebagian besar kualitas pemain tidak mengalami perkembangan signifikan.[4]” Dan puncak dari segala puncak barangkali adalah insiden kematian suporter di GBK saat Persija menjamu Persib, serta seorang bonek ketika Persebaya menjamu Persija.

Dengan sederet hal positif di atas, satu-satunya hal yang bisa dilakukan Madun dan kawan-kawan sembari menunggu keputusan FIFA dan AFC, adalah tetap bermain bola, sebagaimana Moh. Hatta.


[1] BOLA, OLE NASIONAL. Hlm 2. (12-13 Mei 2012)

[2] Ibid.

[3] Dalam wawancara eksklusifnya dengan Alfito Deannova, TVOne.

[4] BOLA, OLE NASIONAL. Hlm 2-3. (12-13 Mei 2012)

Siapa yang Harusnya Lebih Dulu?

Perasaan bersalah saya setiap kali menyalip antrian di bank itu tak lepas dari rasa kesal saya kalau disalip ibu-ibu saat mengantri di kasir supermarket. Biar tidak bingung, saya pilah satu-satu. Saya menyalip antrian di bank hanya ketika ditugaskan menyetor uang oleh kakak saya. Sialnya 9 dari 10 kali saya ke bank, selalu untuk melaksanakan tugas kakak saya. Jadi, 90% saya ke bank pasti nyalip antrian.

Sebagai sweetheart man, nyalip antrian itu sama tak jantannya dengan minta jatah BLT dua kali. Jadi pas awal-awal melaksanakan tugas menyetor uang itu, saya harus berhadapan di tengah dua arus: pertama, saya ditugaskan untuk setor cepat-cepat dengan memanfaatkan akses yang dijaminkan oleh bank. Tapi kedua, saya juga tak tega melihat orang lain yang mengantri sejak pagi, jatahnya saya salip.

Sialnya, saya sadar betul bahwa jika saya merasa bersalah ketika saya berjalan ke arah kasir untuk menyetorkan uang, saya hanya akan membuat orang lain secara tidak sadar akan menyadari bahwa saya memang menyalip antrian—dan itu akan menghancurkan akting si kasir yang telah berpura-pura saya nasabah yang terlewat. Kesadaran itu membuat saya harus menunduk sepanjang keluar dari bank dan berpura-pura segalanya baik-baik saja.

Memang lama-lama menjadi biasa juga, persis seperti yang saya tulis dalam Sehabis Lampu Corong Terbitlah Generator. Tapi isu utamanya tetap sama: bagi saya, menyalip antrian itu hanya pantas dilakukan ibu-ibu di antrian kasir supermarket. Bukan karena saya membenarkan, melainkan karena kaum ibu-ibu ini sering merasa berhak menyalip antrian. Entah karena motivasi apa. Kaum lelaki yang menyalip antrian biasanya malu karena ego dia sebagai lelaki, tapi ibu-ibu selalu punya pembenaran bahwa mereka perempuan dan perempuan harus diutamakan. Mommy should got first!

Budaya Nyalip

Budaya nyalip terjadi karena ada budaya ngantri. Sialnya, di Indonesia, budaya ngantri nyaris jadi pemandangan sehari-hari. Ngantri di bank, ngantri di pintu masuk jalan tol, ngantri di kasir supermarket, ngantri BLT, ngantri pembagian zakat, ngantri ngambil air di sumur, ngantri wudlu, ngantri pas beli tiket sepak bola, ngantri beli bunga dalam proyek sejuta Mawar untuk Marwan, ngantri beli pulsa untuk menenangkan hati Kimyi, ngantri beli Oreo biar bisa ketemu Afika, ngantri daftar audisi Indonesian Idol, ngantri dapat jatah kursi di DPR, ngantri jadwal terbit buku, ngantri jadwal tayang di bioskop, ngantri tiket pesawat, ngantri tiket kereta api, ngantri masuk ke kapal feri, dan lain sebagainya.

Sialnya, budaya nyalip sama sekali tak dianjurkan. Selain karena hanya akan memperlihatkan ketidaksabaran dan ketidakdewasaan kita, menyalip antrian dapat memicu serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Kok bisa? Karena menyalip antrian bisa memicu adu mulut, percekcokan, perkelahian, yang bisa saja menyebabkan seseorang kakek yang menjadi saksi mata terkena serangan jantung, seorang yang lain terluka alat kelaminnya sehingga berakibat impotensi, ibu-ibu yang hamil melahirkan di tempat karena shock, dan lain-lain, dan lain-lain.

Menyalip memiliki aturan yang lebih longgar di jalanan. Benar. Di jalan, jika Anda ingin menyalip, Anda dipersilakan. Asal, (1) memberi tanda dengan lampu sen. Untuk apa? Untuk memberi tahu kendaraan di belakang bahwa Anda akan menyalip, sehingga yang belakang tidak ikut-ikutan menyalip yang bisa membahayakan. (2) membunyikan klakson. Untuk apa? Untuk memberitahu kendaraan di depan bahwa Anda ingin menyalip. Jika jalanan luang dan tidak sedang banyak kendaraan dari jalur berlawanan, Anda diperbolehkan melambai-lambaikan tangan seperti Miss Universe. (3) dari kanan. Jadi kalau Anda ingin menyalip, menyaliplah secara baik-baik dari kanan. Jangan dari kiri karena itu akan seperti Anda mengkhianati, menusuk dari belakang.

Tapi kadang-kadang kelonggaran selalu dibuat-buat lebih longgar. Undang-undang lalu lintas hanya membolehkan rombongan Presiden dan Wakil Presiden, ambulance, tamu negara, pemadam kebakaran, dan kereta api[1], untuk menyalip sejumlah mobil dengan biasanya dibuka oleh satu unit mobil pengawal yang menyalakan sirine. Tapi sialnya, saking mentauladaninya rakyat Indonesia kepada akses Presiden dan Wapres dan Ambulance, sampai-sampai: rombongan menteri, rombongan gubernur, rombongan wagub, rombongan bupati, rombongan wabup, rombongan kapolda, rombongan konvoi m0tor, rombongan motor gede, rombongan geng motor, rombongan club motor, sering memaksa kendaraan lain menyingkir hanya agar mereka bisa dengan mudah menyalip. Kadang-kadang ikut-ikutan pakai sirine, kadang-kadang menggunakan tongkat selebar lutut yang biasanya digunakan tukang parkir.

Jika akses untuk menyingkirkan itu ibarat BLT yang hanya hak untuk mereka yang terdapat dalam Undang-undang lalu lintas. Maka, rombongan menteri, rombongan gubernur, rombingan wagub, rombongan bupati, rombongan wabup, rombongan kapolda, rombongan konvoi motor, rombongan motor gede, rombongan geng motor, rombongan club motor, yang suka semena-mena terhadap pengguna jalanan lain sama saja dengan pemilik mobil mewah menggunakan premium, seperti orang kaya yang berobat pake kartu Askes, seperti pejabat yang mengkorupsi BLT, seperti oknum wartawan dan LSM yang memeras kepala sekolah yang mendapat bantuan dari pemerintah untuk merenovasi sekolah.

Egosentris

Sederhananya, kesemena-menaan dalam menyalip hanya memperlihatkan sikap egosentris. Seolah diri lebih penting daripada orang lain. Seolah urusan sang diri jauh lebih fundamental daripada orang lain. Seolah hanya kita yang punya waktu terbatas. Seolah orang lain tidak punya hak yang sama di mata hukum dan pemerintahan.

Padahal, pesan-pesan moral semisal, “kebebasan yang bertanggung jawab”, “saling menghargai”, “saling menghormati”, “tenggang rasa”, adalah pesan-pesan moral yang seiring sejalan dengan sifat hati dan spiritualitas. Jika hal-hal demikian sudah kalah oleh sikap ‘egosentris’, di mana kira-kira derajat spiritualitas kita sebagai manusia?

Konsep Antrian

Budaya mengantri ada untuk memastikan terciptanya rasa berkeadilan, rasa nyaman, ketertiban, dan keamanan. Dengan membudayakan mengantri mereka yang lebih dulu mengambil nomor, berhak mendapatkan service lebih awal. Dengan demikian tidak ada yang dirugikan, tidak ada yang diuntungkan di atas penantian suram orang lain. Hal ini selain mendamaikan secara individual, juga akan lebih menjamin terciptanya masyarakat madani yang non violence.

Bahkan, saking pentingnya sikap mengantri, di Padang Mahsyar saja nanti, ketika manusia dikumpulkan untuk ditimbang amal ibadahnya dan ditentukan akhir nasibnya—surga ataukah neraka—kita mengantri. Kita akan diabsen oleh Malaikat dan dipanggil sesuai nomor urut. Bayangkan jika di Padang Mahsyar kita tak diharuskan dan dikondisikan untuk mengantri, akan seperti apa keributan yang terjadi. Bukan hanya karena ingin lebih dulu tahu, tapi juga karena semua orang panik memikirkan kehidupan di dunia yang disia-siakan.

Dalam konteks sejarah nabi, nama Ali bin Abi Thalib layak diketengahkan. Dalam sebuah riwayat diceritakan, Ali bin Abi Thalib terlambat pergi ke mesjid sehingga nyaris ketinggalan shalat berjamaah. Seolah belum cukup, di jalan dia terhadang oleh seorang kakek yang berjalan pelan. Ali bin Abi Thalib tak berani menyalip tapi juga gemetar luar biasa karena takut tak kebagian shalat berjamaah bersama sang nabi.

Alhasil, Malaikat turun dan ‘memaksa’ nabi untuk memperpanjang rukuk pada salah satu rakaat sehingga Ali bin Abi Thalib bisa tetap ikut shalat berjamaah tanpa sama sekali harus menyalip.

Penutup

Di Jawa ada pribahasa “alon-alon asal klakon”, biar lambat asal selamat. Daripada nyalip dan menyakiti kemanusiaan kita dan berlaku tidak adil kepada orang lain, lebih baik lambat saja, tenang saja. Rezeki takkan kemana. Sudah ada yang mengatur.

Dalam al-Quran dijelaskan “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang sabar”. Melahirkan pribahasa “Orang sabar disayang Tuhan”. Sabar menanti sesuai giliran ngantri atau sabar didahului yang nyalip tanpa permisi. Tapi sebagian lain menyindir, “Orang yang sabar memang akan kebagian, tapi itu sisa. Jadi segalanya harus dilakukan dengan cepat!”

Jadi siapa sebetulnya yang boleh lebih dulu?

Tentu saja jawabannya kontekstual. Yang boleh lebih dulu di kasir supermarket dengan di jalanan kan berbeda. Di kasir supermarket harus yang lebih duluan nyamperin kasir, di jalanan asal kita nyalip dari kanan. Tapi secara umum semangatnya tetap sama: mari pastikan seseorang hanya mengambil yang sesuai haknya karena dengan demikian kita bisa saling memanusiakan manusia. Jadi biarkan yang lebih dulu mendapat giliran lebih awal. Karena ajal pun takkan dipercepat apalagi diperlambat.


[1] Sujiwo Tedjo. Ke Antasari Via Java Jazz. http://www.beritasatu.com