Arsip

Archive for the ‘PandoRandom’ Category

Great Deal of Money Related to Any Kind of Professions

Agustus 6, 2014 Tinggalkan komentar

It is true that successful sports profesionals can earn a great deal of money more than other important professionals. Although it is unfair for some people, it might be fully justified for the others.

Those who believe it is unfair according to their opinion on some reasons such as the imbalance of worked payment and the effect of that job to human race. The fact that a successful footbal coach can earn money more than a lawyer means imbalance, and imbalance means justice is already died. As a result, society start to re-think about how does sport professions impact the human race. They find nothing obviously and they far believe that other important professions such as teacher and lawyer should get a higher payment.

However, those who believe that a great deal of money which gotten by successful professionals is fully justified begin to give reasons. Firstly, it is all about economic laws. As we know, nowadays, sport is becoming a huge business which is designed and controlled by supply and demand rule. The bigger its business become the higher payment they can get. So does happen in sport business. So it is normal for those who work in sport, especially once who success, to get a higher payment than others.

Secondly, it is normal for people who have great capability which lead them into great success to get higher salaries. The prize of the first champions is always higher than the second best. Thirdly, it is all about paradox. As you know, life is not as simple as eating. We cannot divide things into white side and black side because too many caused involve.

In conclusion, both opinion have right reasons. In contrast, for me, higher wage of successful sport professional is fully justified because life’s value is not always related to how much money we can earn. Moreover, to make it fairer, the government used to regulate a minimum salary in order to “rescue” other important professions.

Modes of Transportation in UK

The chart above describe four kinds of transportation’s modes used to deliver goods in UK during 1974 until 2002. Except the different numbers of each modes, the graph of all modes is fluctuating and ended in a higher level than it began.

During 1974 until 2000, every modes shown less growth, except train which was stagnant. Then during 4 years later, while modes of pipeline and water were incline, the other two are obviously decline. Modes of road had a steady rise during 1982 until 1990 from about 70 million tonnes to more than 80 million tonnes. In the same time, modes of pipeline and water showed no change: almost 20 million tonnes for pipeline and about 60 million tonnes for water. Modes of rail, in contrast, fluctuate around 40 million tonnes. In the last 12 years (1990-2002), there was only modes of pipeline showed the increasing number of million tonnes goods transported. Started at 20 million tonnes in 1990, it reached below 30 million tonnes in the end of the period. Unfortunatelly, it was still the lowest.

The highest top was modes of road. Fluctuated during 1990 until around 1995, it sharply increased for about 4 years before became virtually stragnant after 1998. It reached 100 million tonnes at the end of the period while modes of water only got 20 million tonnes and mode of rail reached below 40 million tonnes.

As a result, this trend explained that modes of road were the most-used mode to transport quantities of goods.

 

Why did Quraisy Took Care of Kaaba During Stupidness Era?

After my friend who had read my seventh book had asked about “how can Quraisy—which most of them was not moslem—took care of Kaaba and Mecca—which was the main holy mosque and place for moslem?”, I started to put points to answer.

 

As we know, there were, at least, four religions belong to Mecca’s society during that time: Hanifiyah—whose Ibrahim as their Rasul—pagan, which Hubal was their main god, yahudi, the believers of Musa’s religion, and nasrani—the Jesus Christ followers.

 

Generally, Quraisy Clan were pagans. They believe that Allah, whose “house” is located there, had several daughters—hubal, latta, uzza, and so on. But eventhough the majority of Mecca’s people believe in many gods, a few of them still remain for Ibrahim religion. They known as “Hanif”—those who practice Hanifiyah religion. At that time, because of years-without-massangers, the ritual of this religion was only “i’tikaf”—stay for at least a while in a mosque—“uzlah”—being alone in a place far from society for several nights—and pilgrim—as we can see today.

 

So that, eventhough pilgrim was Ibrahim’s tought, the pagans had also pilgrim ritual, with, of course, distances of term and time and god(s).

 

It leads us to the question: why did these pagans took-care of Kaaba and kept Mecca eventhough by war?

 

  1. Kaaba was an unchangeable historical building. Was built by Ibrahim and Ismail hundread years before the stupidness era, Kaaba began to become an important heritage monument. People all over the world loved to visit this site and as a consequence, Mecca’s society need to took-care of both Kaaba and Mecca or they will be forced by pilgrimmers around the world and lossing tourism market and trading bussiness.
  2. They setted Kaaba as the centre of their god. Hubal was located, exactly in the heart of Kaaba. The 359-other-gods was surrounding this holy mosque.
  3. The more successful they were in caring of Mecca, the more respect that they will get from people. As the society who payed attention more in respectness, Quraisy was willing to do everything to keep their existance in Mecca. They learnt from the failure of Khuza’ah who had been kicked out because of their disintegrity on caring Mecca.
  4. Mecca was located in important trading way, so that, by leading Mecca, they could also lead the international market.

 

That’s all that I can share. Thank you.

Best Regards,

Irfan L. Sarhindi

Jika Galau Adalah Sebuah Agama

Februari 14, 2014 Tinggalkan komentar

Untunglah facebook datang setelah masa alay saya—nyaris—usai.

Karena kalau tidak, bisa gawat. Namun begitu, sisa-sisa jejak kealayan itu masih dapat ditemukan dalam sejumlah status dan foto lama, persis sebagaimana fosil dan prasasti purba. Tapi ngomong-ngomong soal alay, tak sahih kiranya kalau kita tak menyinggung pula soal galau. Ya, galau! O, galau! Terlalu! Ha ha!

Tidak ada yang salah, sebetulnya, dengan galau, karena orang-orang besar dan hebat dalam sejarah dunia pun pernah galau—Rasulullah, Abu Bakar, Mahatma Gandhi, Soekarno, Albert Einstein, atau bahkan… Adolf Hittler. Hanya barangkali, objek penggalauan mereka berbeda dengan objek penggalauan remaja zaman sekarang yang disuruh makan pagi, galau. Nggak diajak belajar bareng, galau. Telat disms, galau. Seharian hujan terus, galau. Youtube rentan buffering, galau. Status nggak dikomen, galau. Akun di-unfollow, galau. Annisa keluar dari Cherrybelle, galau. Dan hal-hal lain yang serupa dengan itu, yang dapat Anda ingat dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Masih mending kalau galaunya hanya menjajah ranah hati dan laman socmed, hanya menjajah tissue dan bantal yang basah oleh tangis, lha kalau sampai melibatkan obat nyamuk dan oplosan dan silet dan tali gantungan, gimana? Seolah hidup ini tak lebih kompleks ketimbang drama Korea. Seolah mati bunuh diri akan sedramatis dalam film.

Saya juga sering sih galau. Tapi dari sekian banyak objek penggalauan yang saya alami, sebagian di antaranya—untunglah—merupakan objek penggalauan eksistensialis. Seperti kegalauan akibat pertanyaan-pertanyaan sederhana yang bagi saya, berjawaban sulit: siapa sebenarnya saya? Untuk apa saya hidup? Harus ke mana saya menuju? Kenapa Tuhan menciptakan planet berjuta-juta tetapi yang “dihamparkan” untuk dihuni hanya Bumi?

Dan jikalau galau adalah sebuah agama, salah satu mazhab yang saya sukai—yang fatwanya akan saya “amalkan” atau taqlidi—sudah pasti adalah mazhab galau Soe Hok Gie-an. Terutama pada dua fatwa hebatnya. (1) Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Dan (2) nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

Pernah suatu kali—ketika masih dalam fase alay—saya mengirimi fatwa nomor 2 di atas kepada beberapa kakak dan seorang guru BK SMA yang sudah saya anggap ibu sendiri dan semuanya membalas dengan nada seirama—seperti koor paduan suara 17 Agustusan—“SABAR IRFAN, SABAAAAAAR!!!!”  

Karena sepintas-lalu, barangkali juga bagi Anda, fatwa nomor 2 di atas tidak menyiratkan apapun kecuali kemarahan membabibuta kepada Allah, peludahan terhadap nasib, pemersepsian hidup sebagai—sebagaimana Milan Kundera beranggapan—hanya sebuah perangkap takdir. Padahal, saya memahami fatwa nomor 2 sebagai kegalauan eksistensialis yang senada dengan kegalauan Umar bin Khattab al-Faruq, salah satu khalifah Islam terbesar, yang berkata, “Duhai! Andai Allah menjadikanku ubin! Andai Allah tak menjadikanku apapun! Andai ibuku tak melahirkanku! Andai aku tak menjadi sesuatu, andai aku dilupakan!”

Silakan perhatikan.

Sekali lagi perhatikan.

Bukankah kalimat sang khalifah di atas sepintas-lalu terdengar seperti rapalan kutukan dan kemarahan pada anugerah besar bernama kehidupan? Amukan membabibuta pada berkah umur dan nyawa? Padahal, Umar bin Khattab adalah seorang zahid yang takut pada Allah. Kisahnya memanggul beras untuk rakyat yang kelaparan menjadi teladan kepemimpinan yang terkenal. Jawaban yang beliau berikan kepada orang yang mengajukan diri membantu memanggul beras amat menohok kesadaran, “Siapa yang berani menanggung dosa Umar di hari kiamat?” Dan beliau melanjutkan langkah menuju rumah si rakyat miskin, merasa bahagia melihat mereka bisa makan dengan lahap.

Dengan segala fakta sejarah itu, bagaimana bisa kita menyebut Umar bin Khattab sebagai seorang “tak tahu diri”? Seorang “pengutuk” kehidupan? Tidak mungkin kan?

Karena itu, satu-satunya cara bagi kita, menurut saya, adalah dengan mengubah sudut pandang. Melihat kalimat yang dilontarkan Umar bin Khattab itu—dan juga fatwa nomor 2 Soe Hok Gie, mau tidak mau—sebagai bukan penolakan atas karunia besar bernama kehidupan, melainkan semata-mata sebagai wujud kesadaran mendasar pada konsekuensi besar dari kesempatan mengalami kehidupan, kesempatan memilih jalan nasib.

Bahwa hidup memanglah betul adalah anugerah, tetapi ia tidak segratis air hujan. Kita dilahirkan untuk suatu misi, sebuah tugas, sebuah tanggung jawab, yang ketika kita pulang nanti, rincian pelaksanaan itu akan dimintai pertanggungjawaban.

Benarlah kata monyet dalam sebuah iklan rokok bertahun-tahun yang lalu, “Memang sudah jadi manusia.” Lalu sambil duduk terpaku di jendela menatap rembulan dan gemintang diriingi hujan dan musik keroncong di seberang, saya berpaling kepada si monyet dalam tatap sendu sembari berkata, “Iya, Nyet, asli!” Lalu kami berpelukan bagai saudara yang lama terpisah, larut dalam tangis, dan angin menderu bersemilir.

Lalu bagai seorang kakak yang bijak, si monyet menepuk pelan bahu saya dan berbisik di telinga, “Sabar, Fan, sabar!”

 Lalu kami menangis sesenggukan.

Bhineka Tunggal Islam

Februari 7, 2014 Tinggalkan komentar

Saya bersyukur berada di tengah keluarga, yang dalam urusan sepakbola, katakanlah, berbeda-beda “mazhab”.

Kakak yang ini bermazhab Barcelona dengan “syeikh” utama si mungil dari Argentina. Kakak yang itu memutuskan beralih mazhab dari MU ke Chelsea karena alasan-alasan personal. Lalu keponakan yang ini nyaman menjadi Liverpudian, keponakan yang satu Madridista. Yang menarik, karena salah seorang kakak saya tinggal di Tangerang, maka anak-anaknya secara otomatis terlahir sebagai The Jack. Namun begitu, setiap kali kami berkumpul bersama di Tatar Sunda—wabil khusus Cianjur—tak pernah sekalipun terjadi gontok-gontokan. Bahkan jika yang satu mengenakan seragam orange kebanggaan Persija, dan yang satu lagi mengenakan seragam biru bernomor punggung 7 milik Atep dari Cikalong.

Namun demikian, mazhab mu’tabar di keluarga kami, tetaplah, hanya Manchester United. Bukan karena semua pihak telah sepakat atau karena jumlah penganut mazhab MU di keluarga kami memenuhi lebih dari 50% suara, tetapi semata-mata karena saya senang berfatwa demikian. Keponakan-keponakan saya tahu mereka tak harus setuju sebagaimana kakak-kakak saya bisa dengan mudah mengabaikan. Selesai. Ha ha!

Hal ini—hidup rukun dalam perbedaan mazhab klub—terwujud semata-mata karena (1) kadar kecintaan kami terhadap klub tidak pernah melebihi kadar kecintaan kami terhadap satu sama lain. (2) karena kecintaan kami terhadap klub tidak melebihi kecintaan kami terhadap permainan sepakbola. Hal yang kemudian melahirkan dua sifat agung dalam dunia sepakbola: respect dan fairplay. Dan (3) karena kami semua sadar pada akhirnya itu semua hanya permainan.

Yang terpenting ruh, demikian selalu saya berfatwa kepada diri sendiri. Ruh dari sebuah kompetisi, ruh dari semangat juang tim, ruh dari kerjasama tim, ruh dari profesionalitas—tanpa mesti “kuatir” pada hasil akhir. Persis sebagaimana kita mestinya menjalani hidup.

Selalu ingat bagaimana Jepang kalah 3-4 dari Italia dalam Piala Konfederensi 2013, namun mendapatkan lebih banyak respect dari penonton oleh sebab semangat-juang mereka yang tak mudah pudar. Semangat kamikaze attack. Semangat “merdeka atau mati”. Semangat Isy kariman au mut syahidan—hidup mulia atau mati syahid.

Berdasar analogi ini, dalam konteks yang lebih besar, kita bisa melihat bahwa fanatisme terhadap mazhab, kadang-kadang berlebihan—membabi-buta. Hal yang kemudian menyulut sikap saling ledek, saling menjatuhkan, saling menertawakan. Masih mending kalau diakomodir oleh diskusi yang sehat dan harmonis, lha kalau jatuhnya malah saling debat kusir, bagaimana? Atau malah adu jotos? Waduh! Jangan-jangan nanti kita bertanya-tanya: ini Islam atau pertandingan tinju?

Selain itu, fanatisme yang berlebihan terhadap mazhab juga pada akhirnya memunculkan orang-orang yang lebih nyaman bergaul dengan mereka yang berbeda agama ketimbang dengan mereka yang berbeda mazhab. Anda tahu kenapa? Sederhana: karena kepada mereka yang berbeda agama mereka bisa berkata, “Untukku agamaku, untukmu agamamu.” Lalu berinteraksi dengan damai sebagaimana Rasulullah mencontohkan.

Tetapi kepada yang berbeda mazhab, kefanatikan—kemerasadiri sebagai yang paling benar—membuat mereka tak bisa melewatkan satu detikpun dalam kehidupan mereka kecuali menganggap orang-orang yang berbeda mazhab itu sebagai sesat, sebagai orang yang melecehkan menodai agama Islam.  

Yang pada akhirnya—jika tidak dilandasi kearifan—akan mendorong sikap untuk saling melecehkan, mencaci-maki, yang bukan sekali dua kali berujung pertikaian berdarah-darah.

Jadi, barangkali 3 alasan kerukunan dalam kehidupan keluarga saya—dalam hal perbedaan mazhab klub ini—perlu diadaptasi menjadi alternatif dalam konteks yang lebih besar. Seperti, misalnya, agar kita bisa hidup berdampingan dengan damai dalam perbedaan yang rahmat, kita harus, (1) menjadikan kadar kecintaan terhadap sesama-muslim-sebagai-satu-tubuh lebih besar ketimbang kadar kecintaan terhadap pilihan-mazhab, (2) kecintaan kepada mazhab juga tidak boleh melebihi kecintaan kita kepada islam, hal yang pada akhirnya akan menumbuhkan sikap respect dan fairplay, serta, (3) karena pada akhirnya hidup ini juga kan hanya padang permainan, di mana Allah menjadi Maha Wasit.

Kalau kita—alih-alih bermain dengan fokus dan fair play—malah sibuk berkelahi dan men-tackling dan mencerca dan melanggar aturan main, jangan-jangan Allah lebih cepat mengeluarkan kartu merah. Syukur-syukur kalau ruang ganti yang dituju adalah surga, lha kalau neraka, bagaimana?

Kategori:PandoRandom Tag:, ,

Ghina ‘aninnaas

Menjadi tidak tergantung-bergantung kepada orang lain itu penting. Karena semakin engkau tergantung-bergantung kepada seseorang, rasa-hatimu suasana-mentalmu akan dengan mudah goyah, rapuh, tak terkendalikan. Engkau akan mudah kecewa, mudah sedih, mudah merasa ditinggalkan. Sendirian.

Tapi menjadi tidak tergantung-bergantung kepada orang lain tak berarti kita harus mengerjakan seorang diri. Ini bukanlah larang prihal kerjasama, alih-alih itu sebuah hukum agar kerjasama yang dibangun berpondasikan kesiapan jikalau kemungkinan terburuk terjadi.

Ghina ‘aninnaas adalah kaya dari butuh kepada manusia. Artinya, sikap orang lain tak mempengaruhi suasana hati kita, atmosfer hidup kita. Mau orang lain berlaku buruk atau berlaku baik, jika kita sudah mampu ber-ghina ‘aninnaas, kita akan merasa bahagia, karena kebahagiaan kita disandarkan pada Yang Maha Kekal–Allah.

Bersandar.

Jika engkau bersandar pada yang fana, yang rusak, yang berubah, yang rapuh, yakni segala makhluk, maka apa yang engkau sandarkanpun akan menjadi fana dan mudah goyah–semudah goyahnya sandaranmu. Tapi jikalau pada Allah, seberat apapun cobaan hidup, rasa-hatimu atmosfer-hidupmu akan tetap melangit.

Sebagaimana pada diri Rasulullah.

Barangkali aku melantur, atau tulisanku melompat-lompat. Tapi biarlah. Aku ingin bilang padamu bahwa doamu kadang mewujud tak seindah bayanganmu. Jika engkau berdoa ingin sabar, barangkali Allah mewujudkannya melalui serangkaian cobaan-pedih demi engkau bisa tertatih dan bertumbuh jiwa besar dalam dadamu. Atau jika engkau berdoa agar pintar, barangkali Allah mewujudkan doamu melalui serangkaian tes di sekolah, tes tanya-dalam-hati sebagaimana dialami Ibrahim, sehingga engkau melangitkan kemampuan otakmu.

Seperti juga aku, kadang kala, berpikir bahwa apa yang menimpaku, hari demi hari, adalah jawaban atas doaku demi menjadi ghina ‘aninnaas. Bahwa bagiku, tanda telah paripurnanya ke-ghina ‘aninnaas-an itu adalah ketika: kita bisa menyerahkan pipi kanan selepas ditampar pipi kiri, kita tidak terpuruk saat dikecewakan, kita tidak marah ketika dicela, kita tidak merasa hancur ketika dicurangi.

Karena kita tahu semua kecurangan orang terhadap kita hanya merugikan diri mereka sendiri.

Dan kebahagiaan kita dijamin-Nya.

Saya masih jauh dari tingkatan itu. Tapi saya selalu senang menjadikan ghina ‘aninnaas sebagai nafas batin saya.

Demikian.

Yaampun!

Karena kadang menjadi sulit bagi kita untuk menjadi si rajin, jikalau lingkungan kita adalah si santai. Menjadi sulit bagi kita untuk mengalah, jika yang satu lagi tak mau ambil pusing.

Kita bertaruh, ketika menjalin sebuah kerjasama, akan diri dan hidup kita. Kita memberikan yang terbaik dan terdorong hasrat mengharapkan hal serupa juga dari partner kita. Nyatanya, ada beberapa orang yang bisa jadi lebih baik ketika menjadi solois, seperti halnya sebagian lagi tak bisa bergerak tanpa partner.

Saya lebih cenderung pada yang pertama, kendati dengan begitu kadang membikin saya sering kecewa. Atau mungkin terlalu penuntut, sehingga kesalahan besar sendiri menjadi tak tampak. Saya selalu kecewa, dan kekecewaan itu mengurangi tingkat totalitas partner, bisa jadi. Bagaimanapun, selalu menyenangkan bisa mengobrol dengan diri sendiri, memarahinya.

Dan menjadi lucu ketika saya beralih merasa harus berbaikan kepada orang yang saya sedang kesal, hanya karena cemas ia akan berbalik kesal. Rapuhnya saya atau memang manusia tidak nyaman untuk dimusuhi? Saya tidak tahu. Yang jelas, masing-masing dari kita tidak nyaman untuk merasa atau dituduh sebagai yang jahat, yang buruk.

Sialnya, percakapan soal ini belum saja bisa dimulai. Masing-masing merasa kagok, cemas akan berbuntut buruk. Lebih baik berpura-pura tidak ada masalah. Tapi sampai kapan? Entahlah.

Selalu aman jika ada pelarian, misalnya, menulis, tapi saya tidak selalu dapat menulis tiap saat. Bagaimana kalau kekesalan itu membelenggu saya sementara saya sedang tak mood menulis? Oh! Yaampun!

Kategori:PandoRandom