Setiap datang Ramadhan, saya sering diam-diam berdoa semoga kesibukan saya bisa berkurang, sehingga dalam sebulan puasa, saya bisa men-shut down sejenak diri saya demi bisa dengan tenang di-charge.

Tapi rupa-rupanya, setidaknya dalam 3-4 tahun belakangan, Ramadhan selalu jd moment yang lebih sibuk, sehingga saya harus tetap turn on selagi di-charge.

Kendati beberapa kesibukan itu, dalam konteks mahdah-ghair mahdah adalah bersifat ukhrowi, toh bisa jadi niatnya demi kompensasi yang disegerakan. Dan barangkali itu sebabnya, kendati sudah 20 kali lebih ber-puasa Ramadhan, fitri dan menangnya masih belum juga kesampaian.

View on Path

Iklan
Kategori:Siklus
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: