Tuanku Nabi, lihatlah, tiba-tiba sebagian dari kami merasa lebih nabi ketimbang para nabi, sehingga mereka dengan mudah men-judge seseorang (yang berbeda pendapat dengannya) sebagai munafik, sebagai kafir.

Dijadikanlah dirinya patokan suci, patokan kesalihan, dan dipandanglah orang-orang yang terlambat mendapat hidayah sebagai lebih buruk ketimbang keledai dungu. Padahal di Mata-Nya, siapa yang tahu? Padahal akhir kehidupan, siapa yang bisa menebak? Bukankah merasa lebih salih ketimbang Firaun pun sudah termasuk bagian dari takabbur? Dari merasa “akbar”?

Sedang engkau, hai Tuan, bahkan kepada Ibnu Salul, memilih untuk bertutur lembut dan ketika lelaki pembelot itu meninggal, engkau memilih untuk memohonkan ampunan. Betapa mulia akhlakmu, hai Tuan, Nabi sekalian alam.

View on Path

Iklan
Kategori:Siklus
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: