Beranda > Siklus > Lombok dan Penghuni Surga yang Jatuh Bosan

Lombok dan Penghuni Surga yang Jatuh Bosan

Jika dan hanya jika, penduduk surga, oleh suatu sebab, tiba-tiba merasa bosan, akan ke mana mereka “berpesiar”?

Ide dari pertanyaan ini sebetulnya sederhana. (1) Keteraturan dan kepastian akan “keserbaadaan” sebagai sifat surga, akankah menumbuhkan sejenis perasaan bosan? Suatu tantangan untuk mencoba “hal-hal baru”, sesuatu yang memacu adrenalin, yang membangkitkan gairah dan semangat dan kepuasan? (2) Akankah keserbamelimpahan anugerah tanpa “selingan” duka-lara haru-biru itu akan membikin hidup di sana menjadi “tidak menarik”? Padahal usia tiada akhir, padahal kita hidup selamanya?

Barangkali “tidak”, “tidak akan”, karena (1) kita, dengan segala kefanaan dan keterbatasan sudut pandang dan pemahaman, bukankah tidak bisa secara serampangan menyamaratakan pemaknaan kehidupan dunia dan akhirat? Karena barangkali, (2) para penduduk surga, secara “alamiah”, telah kehilangan “selera-manusiawi”-nya, sehingga hal-hal semisal bosan dan jenuh ibarat kerbau bernafas dengan insang.

Tetapi jika dan hanya jika, penduduk surga, oleh suatu sebab, tiba-tiba merasa bosan, tempat seperti apa yang akan mereka minta?

Demi memuaskan pencarian konyol ini, saya mempelajari-ulang pendeskripsian surga, dan menemukan fakta-fakta sederhana, bahwa surga, mencakup ‘item-item” semisal: (1) istana megah, (2) taman yang indah, (3) telaga yang setetes airnya mampu menuntaskan dahaga tanpa akhir, dan (4) sungai madu dan susu. Tidak pernah, sekalipun, sejauh yang saya tahu, kitab suci me-mention laut dan/atau pantai sebagai item keindahan surga!

Jika kebodohan saya ini bisa kita, secara serampangan dan tidak tahu malu, anggap sebagai “benar”, maka mungkin, jika dan hanya jika penduduk surga merasa bosan, mereka akan meminta pesiar menuju laut, menengok pantai. “Kebetulan”—biarlah saya menggunakan kata ini, lengkap dengan tanda kutip biar terkesan filmis—saya berasal dari Tanah Priangan. Kendati kata ini berasal dari kata Pa-Ra-Hyang yang berarti “Tempat Pemimpin Agung Bersinar”, sebagian orang mengartikan priangan sebagai bentukan kata dari kahyangan, tempat bersemayam para hyang. Surga.

Lucunya, sebagai ‘surga’, Tanah Priangan juga disesaki oleh (1) istana-istana megah dalam wujud gedung-gedung pencakar langit, (2) taman-taman yang indah mulai dari yang berbayar sampai hutan hujan tropis, (3) telaga yang riak airnya menentramkan, baik itu alami di bebukit dan kaki gunung—lengkap dengan air terjun—atau buatan manusia yang dinamai waduk: yang menuntaskan dahaga listrik yang tak berkesudahan, serta (4) sungai, walau kini bukan dialiri madu dan susu, tetapi sampah rumah tangga.

Jadi, jika dan hanya jika para penduduk ‘surga’ yang ini merasa bosan, saya, sejauh ini, haqqul yaqiin bahwa tempat yang akan dipilih adalah tempat yang berpantai indah, berlaut rupawan. Dan, untuk lebih spesifik, sebagai penduduk ‘surga’ yang tidak-pernah-mau-rugi, saya harus selalu memastikan destinasi mana yang dengan budget sebesar X mampu menghasilkan kegembiraan dan panorama pantai sebesar sekian kali Y kuadrat.

Destinasi itu tidak bisa tidak pastilah Lombok.

Kenapa? Karena, (1) tingkat kemacetan yang jauh lebih rendah daripada umumnya di daerah Priangan atau Bali, (2) harga makanan masih reasonable, bahkan di beberapa tempat, berdasarkan pendapat teman yang native Lombok, terbilang murah, (3) tingkat keasrian pantai yang jauh lebih perawan, lebih alami, serta (4) kita bisa menikmati, katakanlah, lebih dari tiga puluh pantai, hanya dalam satu minggu, jika kita mau. Akan menjadi sebuah rekor tentu saja, kendati berlibur lebih lama akan jauh lebih asyik. Tentu saja. Bukan begitu?

Kita bisa memulai pesiar itu dari Mataram. Jika berangkat sejak dini hari, kita barangkali masih bisa mengejar sunrise di Tanjung Ringgit: pantai dengan tebing-tebing eksotis, gradasi warna laut biru toska, pohon surga yang ditinggalkan Adam dan Hawa, meriam Jepang yang tertinggal, Goa Raksasa yang sepi dan berbelukar, mercusuar Belanda yang menakwil sejuta cerita; surga fotografi. Kita bisa menikmati sisa hari dengan menjelajahi pantai-gemantai di sepanjang Jerowaru, Lombok Timur. Di (1) Pantai Sungkun, engkau bisa menemukan pulau kecil serupa kura-kura yang menghadap ke laut lepas; di (2) Pantai Surga, pasir putih selepas vegetasi hijau segar bertaut dengan garis pantai biru-tenang; kendati sama-sama bernama depan “tanjung”, (3) Tanjung Bloam lebih curam dengan dua bukit yang mengapit, sedangkan (4) Tanjung Kaliantan, merupakan (salah satu) tuan rumah tradisi Bau Nyale. Demi alasan romantisme dan dramaturgi, (5) Pantai Pink disisakan untuk dikunjungi pada jam menuju sore demi menikmati lembayung senja yang bertubrukan dengan gradasi pasir merah jambu. Menulis puisilah di sana, atau nikmati kesenyapan yang menjadi intim, personal. Seolah hatimu ditelanjangi. Jika sudah begitu, menyebranglah ke (6) Gili Kondo demi menikmati sunset di mana matahari jatuh ke balik punggung Rinjani; menyesapkan rindu yang akan terasa semakin berdarah-darah. Dan setelah berkemah semalam, engkau bisa ber-island hopping sepagian, lanjut snorkeling selagi matahari belum merangkak ke puncak ubun.

Sungkun

Keesokan harinya, bermodal sepeda motor sewaan—atas nama efektivitas dan semangat backpacking—melalui jalur jalan yang secukup satu mobil tetapi rapi dan mulus, kita bisa menengok Lombok Tengah demi menuju: (1) Pantai Kuta—yang lebih personal ketimbang Kuta milik Bali—dengan bebukit hijau yang menjorok ke badan laut demi merupawankan batas pasir sewarna merica, (2) Pantai Mawun yang melandai berbatas gemunung kecokelatan, (3) Tanjung Aan, yang berhias bebukit kecil, (4) Pantai Seger yang juga adalah tuan rumah Bau Nyale, (5) Pantai Mawi, dan (6) Semeti yang debur ombaknya menampar-nampar bebatu karang angkuh, (7) Pantai Tlawas yang mulut pantainya berhias bebatu karang membukit, (8) Pantai Batu Payung yang ber-landmark batu karang menjulang, (9) Pantai Gerupuk yang senyap dan hening di balik punggung bukit, serta (10) Pantai Tuna.

Lombok Tengah

Jika engkau terlampau kepayang oleh pesona gemantai yang cantiknya keterlaluan ini, engkau bisa (1) mengatur perjalanan ini menjadi dua hari, bolak-balik ke Mataram, sebagai spot point, melepas lelah dan pegal sembari makan ayam goreng taliwang di waktu malam, dan menyisipi di antara trip ini, (2) kunjungan ke Desa Sade demi melihat pembuatan tenun khas Suku Sasak.

Di Lombok Barat, deret pantai yang masyuk jauh lebih banyak—cenderung membikin kalap, kalau boleh jujur. Dari (1) Pantai Elak-elak—dengan laut biru pudar dan batu karang dan gili penyu di kejauhan—kita bisa lanjut ke (2) Pantai Nambung, yang mesti engkau kunjungi berjalan kaki selepas tempat parkir, demi melihat sisa debur ombak yang menampar tebing curam, jatuh kembali seumpama air terjun; seperti di negeri dongeng! (3) Pantai Sekotong, di mana engkau bisa menyelam dan menemukan aneka terumbu karang yang masih alami dan utuh serta ikan-ikan bawah laut. Belum cukup? Tenang. Perjalanan masih panjang. Kita bisa menyeberang ke (4) Gili Tangkong, (5) Gili Sudak, (6) Gili Nanggu, dan (7) Gili Kedis, demi menuntaskan dahaga snorkelling! Melihat keseluruhan panorama Sekotong yang menawan.

Masih di Lombok Barat, melalui jalur Senggigi, engkau bisa menemukan, selain (8) Pantai Senggigi itu sendiri, yang indah oleh lanskap pasir putih dan Gunung Agung nun di seberang, engkau juga bisa menemukan (9) Pantai Kerandangan—yang nggak cuma satu, tetapi tiga: Kerandangan Satu, Kerandangan Dua, Kerandangan Tiga—lalu (10) Pantai Malimbu Satu dan Dua, (11) Pantai Setanggi yang berpermukaan laut tenang, (12) Pantai Nipah, sang primadona baru, serta (13) Pantai Pandanan yang gradasi biru tua ke biru toskanya lembut tak masuk akal.

Lombok2

Demi menuju tiga gili kenamaan itu, engkau bisa menggunakan jalur Senggigi, atau melewati Pusuk, suatu rangkaian hutan. Mulailah dari Trawangan, demi menyewa jasa island hopping berkeliling tiga Gili yang kesohor—Air, Meno, Trawangan. Snorkelling atau sekedar berjemur, silakan saja. Berkenalan dan berfoto dengan bule lalu di-upload di social media? Hmm… boleh saja deh. Tetapi jika pada sore engkau pulang melalui jalur Senggigi, engkau bisa berhenti pada suatu titik dan menikmati sunset, merenungi-ulang keseluruhan penjelajahan pantai-gemantai. Engkau bisa jadi akan rindu pulang, tentu saja, tetapi keseluruhan perjalanan ini pada akhirnya akan meninggalkan kesan yang kian lama kian membenam: senyap dan pelan, sebagaimana senja.

Tetapi Lombok bukan hanya menyoal pantai. (1) Di Narmada, engkau bisa main ke Taman Narmada, menyaksikan bekas istana Kerajaan Hindu Budha, dan barangkali, jika engkau mau kendati sia-sia bagi penduduk ‘surga’: air awet muda. (2) Engkau bisa pula mendaki Gunung Rinjani demi menikmati penaklukkan dan lanskap Danau Segara Anak yang tak kalah eloknya dengan telagamu di ‘surga’, atau (3) menjelajahi air terjun di tengah vegetasi hijau yang menentramkan mata, menyejukkan hati, semisal pada Sendang Gile dan Benang Kelambu.

Sendang Kelambu

Tetapi jika engkau mau pulang dan khawatir tetanggamu di ‘surga’ akan memperdebatkan keabsahanmu berjalan-jalan, selain dengan foto—jika dan hanya jika kehidupan di surga sekonyol pemikiran ini—engkau bisa pergi berkunjung ke Kampung Sekarbela dan membeli mutiara Lombok sebagai oleh-oleh. Dan jika mereka bertanya kepadamu dari mana engkau pergi selama ini, engkau bisa menjawab bahwa engkau baru saja menengok suatu surga, karena dalam Kitab Suci, surga itu ada dua[1].

NB:

Semua foto, kecuali foto Sendang Kelambu, adalah koleksi pribadi kawan saya yang asli Lombok: Mariyha Q. Foto Sendang Kelambu diambil dari http://blog.mailasail.com/lousill/275.

[1] Yang dimaksud adalah ar-Rahman. Pada ayat yang memuat kalimat “jannatain”. Tafsir mendasar dari ayat ini sebetulnya adalah surga untuk manusia dan surga untuk jin. Tetapi saya menggunakan kata ini sebagai alegori bagi “surga yang lain”. Bahwa keindahan Lombok adalah manifestasi dari “surga yang lain” selain keindahan surga di alam akhirat.

Iklan
Kategori:Siklus
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: