Tahun 2003, jemaah haji dilarang membawa kamera ke Masjidil Haram. Beberapa berhasil lolos pemeriksaan lalu diam-diam memotret Ka’bah. Tetapi mereka yang ketahuan, harus menerima hukuman: roll filmnya akan dirusakkan.

Hari ini, seiring dengan kemajuan teknologi gadget, jemaah bisa dengan mudah membawa kamera dan ponsel dan handycam ke dalam masjid, lantas menyempatkan diri ketika thawaf ber-selfie ria. Seolah kekudusan Ka’bah bukan perkara, seolah kemasyukan thawaf adalah senda gurau semata. Dan puncak eksistensi kita menjadi, hanya, pamer foto ‘kesalehan’ di ruang social media.

View on Path

Iklan
Kategori:Siklus
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: