Beranda > Siklus > Tarian Kleptonesia

Tarian Kleptonesia

karena malam itu tiba-tiba saja dia datang.

Harus kuakui bahwa, ya,
dia datang tanpa ketuk, dan masuk setelah kantuk.
Lalu bait-bait itu menjadi baju usang, yang dengan senyum
legam menghasilkan miliyaran.
Semua bangga saat pencuri itu berbisik,
“…aku seorang kleptonesia.”
Hei?!
tapi dia malah tertawa.
melangkah ke depan, di tengah sorotan cahaya, dengan lantang dia bernyanyi,
TANAH AIRKU KLEPTONESIA… NEGERI ELOK KEHILANGAN PUSAKA… PENUH EPISODE BUTA… HAMA LIRIK DAN DRAMA… PENUH SANDIRAWA.”

semua cerulit terangkat, semua langkah terhentak, dan semua orang
—yang datang begitu saja dari alam imajinasi—
menari-nari di atas duri.

aku menatap risau sekaligus takjub
“alangkah indahnya Nusa Kleptonesia, negeri dimana lirik-lirik menjadi naif. episode menjadi epilepsi. dan semua orang tertimpa agitasi.”

aduhai jiwa yang trenyuh oleh tarian senja,
yang menunjukkan bahwa melodrama semakin tak berharga
bahwa tiada guna itu semua.

 

bruk!
hentakan keras menghentikan laju kataku.
mereka berhenti menari dan menatapku tajam.
tidak.
mereka semakin mendekat,
dan terkesiap, aku terkesima dan berdiri diam tak berdaya…

“Diam atau kubunuh!”
tapi bukan kepadaku,
melainkan kepadanya,

bayi dalam rahim ilusi
bayi yang kuberi nama kreasi
kreasi menjerit membumikan realita
tapi tawa mereka mengalahkan itu semua,
mereka datangkan hujan meteor ke halaman
sampai sang kodok berubah jadi pangeran

semua warga tersenyum bahagia,
“sampai kapan kau akan singgah di tanahku, hai kleptonesia?”
Dan aku, dan dia, juga engkau semua, jatuh tersungkur.

 

25 November 2006 – 20 Agustus 2009

Iklan
Kategori:Siklus
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: