Beranda > Siklus > Paradoks

Paradoks

Walau uap itu tertikam dalam senyap,
langkah permaisuri tetap di atas karpet di tengah sahara
Saat terik tak lagi bersenda gurau
Ilalang yang hilang berebut kaktus yang redup.

Tapi sepanjang Tigris hingga Bangladesh,
ada cermin–cermin retak yang maya…
Jika aurora hendak memicingkan mata,
keindahan kelebat misk tertunda hingga ujung dunia.
Paruh waktu little boy barangkali belum lenyap,
karena derita jelaslah sudah.

Tapi matahari tak tertimbun gelembung.
Langit mekar.
Bunga mawar yang luput.
Titian kesatria sejati.

Bilapun senja menanti, aku akan pergi!

13 September 2006
Qobla Ashar

 

Iklan
Kategori:Siklus
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: