Beranda > Siklus > Hymne Angkat Kaki

Hymne Angkat Kaki

13.09
Limousin, labirin, dalam gelantugan sayap malam.
Sepi menekan mimpi.
Tak kukibuli hari, tapi ia pergi
tinggalkan puing–puing strawberry.

15.07
Ini tentang relung malam yang terbungkam,
buih yang padam, dan
mentari di tengah jeritan kursi tua,
yang bernada di kala senja… tanpa nama!

17.13
Selepas rakit terikat,
rerumput dan belukar menari di batu–batu empedu.
Kemana jalan pergi? Gundukan pasir terlalu tinggi,
semak–semak menikam duri…
mana patah?

00.18
Biarkan aku bicara,
tatkala seorang tua mati karena peyangga, jadi bahan tawa.
Sulam kalut jadi bendera putih, tanpa sayap dan harap.
Bergeming di sela–sela intuisi,
butiran ralat, mencoret carut–marut…
Izinkan aku menyapa,
tatkala malam begitu pekat mengundang penat.
Sahabat, aku kalut… hanyut oleh laut.

Ditulis di villa Hanjawar, saat MABASA
Juli 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan
Kategori:Siklus
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: