Beranda > PandoRandom > Jika Galau Adalah Sebuah Agama

Jika Galau Adalah Sebuah Agama

Untunglah facebook datang setelah masa alay saya—nyaris—usai.

Karena kalau tidak, bisa gawat. Namun begitu, sisa-sisa jejak kealayan itu masih dapat ditemukan dalam sejumlah status dan foto lama, persis sebagaimana fosil dan prasasti purba. Tapi ngomong-ngomong soal alay, tak sahih kiranya kalau kita tak menyinggung pula soal galau. Ya, galau! O, galau! Terlalu! Ha ha!

Tidak ada yang salah, sebetulnya, dengan galau, karena orang-orang besar dan hebat dalam sejarah dunia pun pernah galau—Rasulullah, Abu Bakar, Mahatma Gandhi, Soekarno, Albert Einstein, atau bahkan… Adolf Hittler. Hanya barangkali, objek penggalauan mereka berbeda dengan objek penggalauan remaja zaman sekarang yang disuruh makan pagi, galau. Nggak diajak belajar bareng, galau. Telat disms, galau. Seharian hujan terus, galau. Youtube rentan buffering, galau. Status nggak dikomen, galau. Akun di-unfollow, galau. Annisa keluar dari Cherrybelle, galau. Dan hal-hal lain yang serupa dengan itu, yang dapat Anda ingat dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Masih mending kalau galaunya hanya menjajah ranah hati dan laman socmed, hanya menjajah tissue dan bantal yang basah oleh tangis, lha kalau sampai melibatkan obat nyamuk dan oplosan dan silet dan tali gantungan, gimana? Seolah hidup ini tak lebih kompleks ketimbang drama Korea. Seolah mati bunuh diri akan sedramatis dalam film.

Saya juga sering sih galau. Tapi dari sekian banyak objek penggalauan yang saya alami, sebagian di antaranya—untunglah—merupakan objek penggalauan eksistensialis. Seperti kegalauan akibat pertanyaan-pertanyaan sederhana yang bagi saya, berjawaban sulit: siapa sebenarnya saya? Untuk apa saya hidup? Harus ke mana saya menuju? Kenapa Tuhan menciptakan planet berjuta-juta tetapi yang “dihamparkan” untuk dihuni hanya Bumi?

Dan jikalau galau adalah sebuah agama, salah satu mazhab yang saya sukai—yang fatwanya akan saya “amalkan” atau taqlidi—sudah pasti adalah mazhab galau Soe Hok Gie-an. Terutama pada dua fatwa hebatnya. (1) Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Dan (2) nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

Pernah suatu kali—ketika masih dalam fase alay—saya mengirimi fatwa nomor 2 di atas kepada beberapa kakak dan seorang guru BK SMA yang sudah saya anggap ibu sendiri dan semuanya membalas dengan nada seirama—seperti koor paduan suara 17 Agustusan—“SABAR IRFAN, SABAAAAAAR!!!!”  

Karena sepintas-lalu, barangkali juga bagi Anda, fatwa nomor 2 di atas tidak menyiratkan apapun kecuali kemarahan membabibuta kepada Allah, peludahan terhadap nasib, pemersepsian hidup sebagai—sebagaimana Milan Kundera beranggapan—hanya sebuah perangkap takdir. Padahal, saya memahami fatwa nomor 2 sebagai kegalauan eksistensialis yang senada dengan kegalauan Umar bin Khattab al-Faruq, salah satu khalifah Islam terbesar, yang berkata, “Duhai! Andai Allah menjadikanku ubin! Andai Allah tak menjadikanku apapun! Andai ibuku tak melahirkanku! Andai aku tak menjadi sesuatu, andai aku dilupakan!”

Silakan perhatikan.

Sekali lagi perhatikan.

Bukankah kalimat sang khalifah di atas sepintas-lalu terdengar seperti rapalan kutukan dan kemarahan pada anugerah besar bernama kehidupan? Amukan membabibuta pada berkah umur dan nyawa? Padahal, Umar bin Khattab adalah seorang zahid yang takut pada Allah. Kisahnya memanggul beras untuk rakyat yang kelaparan menjadi teladan kepemimpinan yang terkenal. Jawaban yang beliau berikan kepada orang yang mengajukan diri membantu memanggul beras amat menohok kesadaran, “Siapa yang berani menanggung dosa Umar di hari kiamat?” Dan beliau melanjutkan langkah menuju rumah si rakyat miskin, merasa bahagia melihat mereka bisa makan dengan lahap.

Dengan segala fakta sejarah itu, bagaimana bisa kita menyebut Umar bin Khattab sebagai seorang “tak tahu diri”? Seorang “pengutuk” kehidupan? Tidak mungkin kan?

Karena itu, satu-satunya cara bagi kita, menurut saya, adalah dengan mengubah sudut pandang. Melihat kalimat yang dilontarkan Umar bin Khattab itu—dan juga fatwa nomor 2 Soe Hok Gie, mau tidak mau—sebagai bukan penolakan atas karunia besar bernama kehidupan, melainkan semata-mata sebagai wujud kesadaran mendasar pada konsekuensi besar dari kesempatan mengalami kehidupan, kesempatan memilih jalan nasib.

Bahwa hidup memanglah betul adalah anugerah, tetapi ia tidak segratis air hujan. Kita dilahirkan untuk suatu misi, sebuah tugas, sebuah tanggung jawab, yang ketika kita pulang nanti, rincian pelaksanaan itu akan dimintai pertanggungjawaban.

Benarlah kata monyet dalam sebuah iklan rokok bertahun-tahun yang lalu, “Memang sudah jadi manusia.” Lalu sambil duduk terpaku di jendela menatap rembulan dan gemintang diriingi hujan dan musik keroncong di seberang, saya berpaling kepada si monyet dalam tatap sendu sembari berkata, “Iya, Nyet, asli!” Lalu kami berpelukan bagai saudara yang lama terpisah, larut dalam tangis, dan angin menderu bersemilir.

Lalu bagai seorang kakak yang bijak, si monyet menepuk pelan bahu saya dan berbisik di telinga, “Sabar, Fan, sabar!”

 Lalu kami menangis sesenggukan.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: