Beranda > PandoRandom > Bhineka Tunggal Islam

Bhineka Tunggal Islam

Saya bersyukur berada di tengah keluarga, yang dalam urusan sepakbola, katakanlah, berbeda-beda “mazhab”.

Kakak yang ini bermazhab Barcelona dengan “syeikh” utama si mungil dari Argentina. Kakak yang itu memutuskan beralih mazhab dari MU ke Chelsea karena alasan-alasan personal. Lalu keponakan yang ini nyaman menjadi Liverpudian, keponakan yang satu Madridista. Yang menarik, karena salah seorang kakak saya tinggal di Tangerang, maka anak-anaknya secara otomatis terlahir sebagai The Jack. Namun begitu, setiap kali kami berkumpul bersama di Tatar Sunda—wabil khusus Cianjur—tak pernah sekalipun terjadi gontok-gontokan. Bahkan jika yang satu mengenakan seragam orange kebanggaan Persija, dan yang satu lagi mengenakan seragam biru bernomor punggung 7 milik Atep dari Cikalong.

Namun demikian, mazhab mu’tabar di keluarga kami, tetaplah, hanya Manchester United. Bukan karena semua pihak telah sepakat atau karena jumlah penganut mazhab MU di keluarga kami memenuhi lebih dari 50% suara, tetapi semata-mata karena saya senang berfatwa demikian. Keponakan-keponakan saya tahu mereka tak harus setuju sebagaimana kakak-kakak saya bisa dengan mudah mengabaikan. Selesai. Ha ha!

Hal ini—hidup rukun dalam perbedaan mazhab klub—terwujud semata-mata karena (1) kadar kecintaan kami terhadap klub tidak pernah melebihi kadar kecintaan kami terhadap satu sama lain. (2) karena kecintaan kami terhadap klub tidak melebihi kecintaan kami terhadap permainan sepakbola. Hal yang kemudian melahirkan dua sifat agung dalam dunia sepakbola: respect dan fairplay. Dan (3) karena kami semua sadar pada akhirnya itu semua hanya permainan.

Yang terpenting ruh, demikian selalu saya berfatwa kepada diri sendiri. Ruh dari sebuah kompetisi, ruh dari semangat juang tim, ruh dari kerjasama tim, ruh dari profesionalitas—tanpa mesti “kuatir” pada hasil akhir. Persis sebagaimana kita mestinya menjalani hidup.

Selalu ingat bagaimana Jepang kalah 3-4 dari Italia dalam Piala Konfederensi 2013, namun mendapatkan lebih banyak respect dari penonton oleh sebab semangat-juang mereka yang tak mudah pudar. Semangat kamikaze attack. Semangat “merdeka atau mati”. Semangat Isy kariman au mut syahidan—hidup mulia atau mati syahid.

Berdasar analogi ini, dalam konteks yang lebih besar, kita bisa melihat bahwa fanatisme terhadap mazhab, kadang-kadang berlebihan—membabi-buta. Hal yang kemudian menyulut sikap saling ledek, saling menjatuhkan, saling menertawakan. Masih mending kalau diakomodir oleh diskusi yang sehat dan harmonis, lha kalau jatuhnya malah saling debat kusir, bagaimana? Atau malah adu jotos? Waduh! Jangan-jangan nanti kita bertanya-tanya: ini Islam atau pertandingan tinju?

Selain itu, fanatisme yang berlebihan terhadap mazhab juga pada akhirnya memunculkan orang-orang yang lebih nyaman bergaul dengan mereka yang berbeda agama ketimbang dengan mereka yang berbeda mazhab. Anda tahu kenapa? Sederhana: karena kepada mereka yang berbeda agama mereka bisa berkata, “Untukku agamaku, untukmu agamamu.” Lalu berinteraksi dengan damai sebagaimana Rasulullah mencontohkan.

Tetapi kepada yang berbeda mazhab, kefanatikan—kemerasadiri sebagai yang paling benar—membuat mereka tak bisa melewatkan satu detikpun dalam kehidupan mereka kecuali menganggap orang-orang yang berbeda mazhab itu sebagai sesat, sebagai orang yang melecehkan menodai agama Islam.  

Yang pada akhirnya—jika tidak dilandasi kearifan—akan mendorong sikap untuk saling melecehkan, mencaci-maki, yang bukan sekali dua kali berujung pertikaian berdarah-darah.

Jadi, barangkali 3 alasan kerukunan dalam kehidupan keluarga saya—dalam hal perbedaan mazhab klub ini—perlu diadaptasi menjadi alternatif dalam konteks yang lebih besar. Seperti, misalnya, agar kita bisa hidup berdampingan dengan damai dalam perbedaan yang rahmat, kita harus, (1) menjadikan kadar kecintaan terhadap sesama-muslim-sebagai-satu-tubuh lebih besar ketimbang kadar kecintaan terhadap pilihan-mazhab, (2) kecintaan kepada mazhab juga tidak boleh melebihi kecintaan kita kepada islam, hal yang pada akhirnya akan menumbuhkan sikap respect dan fairplay, serta, (3) karena pada akhirnya hidup ini juga kan hanya padang permainan, di mana Allah menjadi Maha Wasit.

Kalau kita—alih-alih bermain dengan fokus dan fair play—malah sibuk berkelahi dan men-tackling dan mencerca dan melanggar aturan main, jangan-jangan Allah lebih cepat mengeluarkan kartu merah. Syukur-syukur kalau ruang ganti yang dituju adalah surga, lha kalau neraka, bagaimana?

Iklan
Kategori:PandoRandom Tag:, ,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: