Arsip

Archive for Februari, 2014

Sarjana Konspirasi, Spongebob, dan Tawanan Kebaikan

Februari 28, 2014 Tinggalkan komentar

Ada masa ketika saya menghabiskan 10-15 menit tiap pagi untuk menonton film Spongebob.

Tujuannya sederhana: meriset. Membuktikan bahwa film ini memang benar-benar memiliki banyak kampanye terselubung—semacam konspirasi, yah kau tahu lah. Dan temuan pertama berkaitan dengan simbol-slogan Freemasonry. Silakan tengok episode “Good Neighbour” dimana Spongebob dan Patrick mengenakan topi berlogo “mata-satu” dan meminta Squidward Si Pengeluh untuk menjadi Presiden “Kelompok Persaudaraan Tetangga yang Baik”. Atau coba perhatikan anatomi tubuh Plankton di mana ia hanya memiliki satu mata.

Tapi sebagai seorang Sarjana Ekonomi—dan bukan Sarjana Konspirasi—temuan yang lebih mengejutkan—dan membikin miris—justru datang dari kampanye terselubung yang sialnya, luar biasa jenius. Seperti pembunuhan-tanpa-jejak oleh seorang komedian di atas panggung.

Lihat ini.

Pertama, nama “Bikini Bottom” sebagai nama set lokasi cerita. Kata “bikini” pada mulanya merujuk pada batu karang, sedangkan “bottom” berarti “di bawah”, sehingga secara harfiah, kedua kata itu berarti: di bawah batu karang. Ini bisa dimengerti karena kehidupan Spongebob dan teman-temannya memang berada di bawah laut. Namun begitu, kata “bikini” hari-hari ini bukankah lebih identik dengan celana dalam? Dan apa sebetulnya yang ada di bawah celana dalam?

Padahal ini film anak-anak.

Kedua, menyoal penyandigan Spongebob—sang koki yang tulus, baik, polos, dan naif—dengan kratty patty—menu andalan Krusty Krabb—yang membuat kita secara a-sadar menyifati kratty patty sebagaimana sifat Spongebob yang baik. Pada akhirnya membuat kita merasa kratty patty sebagai makanan yang aman dan sehat—padahal ilmu kedokteran membuktikan hal yang sebaliknya.

Apalagi status kratty patty sebagai “makanan favorit” warga Bikini Bottom, pada akhirnya akan semakin mendorong anak-anak—wabil khusus penggemar Spongebob—untuk mengkonsumsi makanan cepat saji sesering dan sebanyak mungkin. Karena bukankah anak-anak gemar meniru apa yang ia tonton?

Jamie King, dalam 101 Konspirasi Dunia, mengatakan: film Donald Bebek yang berkisah tentang ketaatan sang Donald membayar pajak—yang ditayangkan gratis di bioskop seluruh Amerika dan ditonton tak kurang dari 60 juta orang—berhasil, menurut polling Gallup, meningkatkan pemasukan pajak penghasilan sebesar 26%![1]

Atau jangan jauh-jauh deh, berapa juta orang kiranya di seluruh dunia yang gara-gara “menonton” Gangam Style terdorong untuk berdandan ala Psy atau berkumpul bersama teman demi joget-kuda-kudaan? Atau bagaimana masyarakat Indonesia tiba-tiba jatuh hati pada Buka Sikit Joss dan Kereta Malam dan Simalakama dan Oplosan dan Pokoke Joget dan menghabiskan semalaman bermakmum kepada Ceasar?  

Jadi, ketika pada suatu pagi—sembari sarapan—saya menyempatkan diri, seperti biasa, menonton Spongebob, keponakan saya mampir ke kamar demi minta dirapikan dasi, dan ketika mendapati saya menonton Spongebob, salah seorang di antara mereka mengerutkan kening, berkata, “Amang udah gede nonton Spongebob!”

Mendeham seperti seorang dosen, saya menerangkan, “Riset.” Dan melanjutkan petuah seperti seorang ustad, tapi kedua keponakan saya hanya terkekeh, dan yang seorang menjawab, “Ah, alasan.” Lalu melengos pergi bekejar-kejaran. Saya merenungkan ulang kejadian itu dan mendapati bahwa keponakan saya benar.

Saya tidak sedang meriset. Saya kecanduan. Dan semakin dipikir, semakin 2 kesimpulan susul-menyusul. Pertama, tentang kita yang kadang jatuh hati pada perkara yang kita benci—yang kita tahu itu keliru. Bukankah kita semua sepakat bahwa gosip adalah perkara yang buruk? Bahwa ghibah hanyalah “memakan daging-mentah orang yang di-ghibahi”? Bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan? Bahwa hasud adalah seburuk-buruk sifat? Bahwa bohong adalah satu dari 3 tanda kemunafikan? Tapi kita masih menemukan diri kita mengeset TV di acara gosip, pergi ke warung demi membicarakan tetangga sebelah, mengisi waktu luang di pengajian dengan saling mempergunjingkan, menambah-nambahi cerita demi terdengar dramatis, merasa kesal ketika tetangga membeli kulkas 7 pintu.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah: 216)

Membenci sesuatu yang baik atau menyukai sesuatu yang buruk, setidaknya bisa disebabkan dua kondisi. Pertama, ketidaktahuan kita pada kebaikan/keburukan hal yang kita benci/sukai. Untuk yang begini, Allah memberi janji, “…Sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertobat setelah itu dan memperbaiki (dirinya)….” (QS an-Nahl: 119)

Dan yang kedua, ketidakmampuan kita untuk mengontrol hawa nafsu. Padahal kita tahu sesuatu itu baik—seperti bangun subuh—tapi kita malah benci. Padahal kita tahu sesuatu itu buruk—seperti begadang yang tiada artinya—tapi kita malah membiasakannya.

Tapi, seperti Khaled Hosseini menulis dalam And The Mountain Echoes, manusia tetaplah seorang tawanan kebaikan. Tak satupun dari kita nyaman merasa (atau dicap) jahat dan buruk. Oleh karena itu, sampailah kita pada kesimpulan kedua, bahwa kita acapkali melakukan pembenaran setiap kali melakukan kesalahan.

Bahwa kita tidak sedang bergosip melainkan menyampaikan fakta seputar selebriti. Bahwa kita tidak sedang hasud hanya sedang terkejut. Bahwa kita tidak sedang berbohong hanya sedang merangkai cerita. Bahwa kita tidak sedang memfitnah hanya sedang menegakkan keadilan. Bahwa kita tidak sedang berhura-hura berjoget semalaman melainkan sedang menyebarkan energi positif.

Tapi coba bayangkan jika kita punya teman yang setiap hari selalu saja menutupi kesalahannya dengan berbagai alasan dan pembenaran. Sekali dua kali kita mungkin memaklumi—memaafkan. Tapi semakin sering, kita mungkin akan justru merasa ilfeel—dan memilih menjauhi. Nah, jika begitu, bagaimana Allah menyikapi kita, jika setiap hari yang kita lakukan hanya melakukan berbagai pembenaran?   

Sayangnya, semakin dipikirkan, semakin dua kesimpulan ini terasa sebagai (hanya sebatas) pembenaran. Ya ampun!


[1] King, Jamie (2010: 129)

Zona Bebas Bunuh Diri

Februari 21, 2014 Tinggalkan komentar

Gara-gara berita artis Korea bunuh diri, saya jadi riset soal kausalitas kisah-dalam-film dengan akhir tragis para artis.

Maklum, film Korea kan, kalau istilah Fahd Djibran, “tahu cara membuat kita menangis bahkan ketika kita tidak mengerti bahasa mereka”. Tadinya, saya berharap mendapat informasi yang bombastis hiperbolis, semisal, “Korea Selatan, Negara dengan Angka Bunuh Diri Tertinggi”. Tetapi yang saya temui nyaris antiklimaks—Korea Selatan “hanya” menempati posisi ke-11 dengan rataan 21 orang per 100.000 jiwa[1]. Atau dalam bahasa iklannya: 21 dari 100.000 orang Korea Selatan, meninggal dengan bunuh diri!

Walaupun begitu—biar riset saya sedikit beraroma drama—posisi ke-11 ini terbilang mengejutkan, karena 20 tahun lalu, Korea Selatan adalah negara dengan angka bunuh diri paling rendah. Kok bisa? Begitulah, pembahasannya akan panjang[2]—dan buku ini menjadi kurang tepat.

Namun begitu, ketika saya memperlebar range pengamatan, info-info baru semakin memerindingkan bulu kuduk. Pertama, menurut Ketua Lembaga Kajian Pencegahan Bunuh Diri (LKBD), Kunang-kunang Al Qadir Cangkringan, bunuh diri adalah satu dari tiga penyebab utama kematian pada kelompok umur 15-44 tahun dan nomor dua untuk kelompok umur 10 hingga 24 tahun[3]. Kedua, berdasarkan perhitungan World Health Organization (WHO) angka kematian di Indonesia mencapai 1,6 s.d 1,8 per 100.000 jiwa. Dan diperkirakan bisa lebih besar mengingat fenomena bunuh diri ibarat gunung es: yang kelihatan, yang terekspos, seringkali hanya puncaknya saja. Ketiga, WHO bahkan memperkirakan tahun 2020 angka bunuh diri ini akan meningkat hingga 2,4 per 100.000 jiwa.

Tapi informasi di atas belumlah seberapa jika dibanding informasi keempat ini: adanya Wisata Bunuh Diri di Zurich, Swiss! Masya Allah! Dalih mereka: bunuh diri adalah bagian dari hak azasi manusia, karena itu mereka yang ingin bunuh diri—tapi kesulitan melakukan itu karena satu dan lain hal—berhak diberi fasilitas guna mempercepat terwujudnya cita-cita itu. Tak tanggung-tanggung, klinik yang beroperasi sejak 1941 itu telah sukses menewaskan tak kurang dari 2000 orang setiap tahun [4]!

Kebayang kalau klinik ini beriklan di televisi: Anda bosan hidup? Hidup berlaku tidak adil kepad Anda? Jangan khawatir! Kini hadir, Klinik Euthanasia Terpercaya! Berdiri lebih lama daripada Nyonya Meneer! Telah membunuh lebih dari 140.000 orang! Pemakaman tersebar di seluruh dunia! Buruan, diskon 10% untuk 1000 pendaftar pertama!

Namun begitu, untunglah—seandainya layak disebut “untunglah”—turis asing telah dilarang numpang mati di sana, seiring banyaknya protes yang dilontarkan masyarakat, walaupun tetap ada pengecualian: yaitu bagi mereka yang sakit menahun tak bisa diobati lagi dan ingin “beristirahat” tak jauh dari arena ski di Swiss.

Apa poinnya?

Sederhana. Hari-hari ini kok rasa-rasanya kita makin kebablasan dalam mengindukan segala sesuatu—tingkah polah, sikap, dan lain-lain—pada apa yang diagungkan sebagai Hak Azasi Manusia. Perempuan mau telanjang, jangan dilarang, HAM! Lelaki mau berzina dengan istri tetangga, silakan asal saling suka, HAM! Koruptor mau nyaleg, silakan, HAM!

Padahal, jika hak dianggap sebagai “kebebasan”—bahkan kebebasan yang paling azasi sekalipun—tentu kebebasan itu tidak bersifat bebas sebebas-bebasnya bebas. Seperti analogi batasan-jalur di jalan raya yang memungkinkan hak kita berkendara lebih terjamin keamanan dan kenyamanannya. Dan sekali kita melanggar batas, kemungkinan tabrakan lebih besar.

“Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas.” (QS al-Maidah: 87)

Mungkin, jika memang HAM memiliki sisi positif—dan saya mengakui itu—pengimplementasiannya tentu tidak boleh melewati Hak Azasi Allah—itupun jika istilah itu “pantas” dan “boleh”. Yaitu hak-Nya sebagai Tuhan, sebagai Perbendaharaan Tersembunyi yang menunggu untuk ditemukan, hak-Nya sebagai Raja Semesta Raya, hak-Nya sebagai Yang Tiada Berawal dan Berakhir.

Yaitu hak untuk disembah dan ditaati, hak untuk mendapati kita mengerjakan peran sebagai khalifah yang Ia pilih, hak untuk melihat kita mengerjakan apa yang Ia perintah menjauhi segala yang Ia larang.

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali beribadah (mengesakan ibadahnya) kepada-Ku….” (QS adz-Dzariat: 56)

Walaupun kita semua tahu, segala keagungan dan kerajaan-Nya, takkan merugi sedikitpun seandainya semua makhluk bersekongkol untuk berpaling dan melawan-Nya—sebagaimana khayalan hikayat dewa-dewi Yunani. Karena bagaimanapun, sangat mudah bagi-Nya untuk melumatkan kita tanpa sisa—sebagaimana pernah Ia timpakan pada bangsa-bangsa pembangkang—dan mengganti kita dengan makhluk yang sepenuhnya  baru.

Dan kita akan menyesal.

Pagi Setelah Senja

Februari 17, 2014 Tinggalkan komentar

 

Spasi

Aku hanya sebatas lautan pengasingan,

tertumbuk pasir.

Meniduri khayal sepi, membatasi.

Rintih.

Memaknai pergi,

tetap di sini.

Ambruk! Runtuh! Remuk!

 

Menunggu!

Masa lambat berganti,

kau pula bertanya…

Aku menunggu,

sepi tak akan menjemputku,

Karena sepi tak perlu menjemput,

dia tak tahu…

Hanya aku yang tahu, hanya aku….

 

Lepas

Seandainya kubungkam kau,

tertembaklah aku

Bayatmu rencanamu,

senja menutupimu

Tapi risau, hanya itu…

Kaulah risau itu,

  narsisisme autentik!

Seandainya dalam bilik–bilik itu, kau pun tahu

kendorkan sedikit emosimu,

longgarkan dasi, rangkul mimpi,

jangan sepi.

 

Spasi

Spasi

Spasi ganda

Tamat!

 

2006–2007

Jika Galau Adalah Sebuah Agama

Februari 14, 2014 Tinggalkan komentar

Untunglah facebook datang setelah masa alay saya—nyaris—usai.

Karena kalau tidak, bisa gawat. Namun begitu, sisa-sisa jejak kealayan itu masih dapat ditemukan dalam sejumlah status dan foto lama, persis sebagaimana fosil dan prasasti purba. Tapi ngomong-ngomong soal alay, tak sahih kiranya kalau kita tak menyinggung pula soal galau. Ya, galau! O, galau! Terlalu! Ha ha!

Tidak ada yang salah, sebetulnya, dengan galau, karena orang-orang besar dan hebat dalam sejarah dunia pun pernah galau—Rasulullah, Abu Bakar, Mahatma Gandhi, Soekarno, Albert Einstein, atau bahkan… Adolf Hittler. Hanya barangkali, objek penggalauan mereka berbeda dengan objek penggalauan remaja zaman sekarang yang disuruh makan pagi, galau. Nggak diajak belajar bareng, galau. Telat disms, galau. Seharian hujan terus, galau. Youtube rentan buffering, galau. Status nggak dikomen, galau. Akun di-unfollow, galau. Annisa keluar dari Cherrybelle, galau. Dan hal-hal lain yang serupa dengan itu, yang dapat Anda ingat dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Masih mending kalau galaunya hanya menjajah ranah hati dan laman socmed, hanya menjajah tissue dan bantal yang basah oleh tangis, lha kalau sampai melibatkan obat nyamuk dan oplosan dan silet dan tali gantungan, gimana? Seolah hidup ini tak lebih kompleks ketimbang drama Korea. Seolah mati bunuh diri akan sedramatis dalam film.

Saya juga sering sih galau. Tapi dari sekian banyak objek penggalauan yang saya alami, sebagian di antaranya—untunglah—merupakan objek penggalauan eksistensialis. Seperti kegalauan akibat pertanyaan-pertanyaan sederhana yang bagi saya, berjawaban sulit: siapa sebenarnya saya? Untuk apa saya hidup? Harus ke mana saya menuju? Kenapa Tuhan menciptakan planet berjuta-juta tetapi yang “dihamparkan” untuk dihuni hanya Bumi?

Dan jikalau galau adalah sebuah agama, salah satu mazhab yang saya sukai—yang fatwanya akan saya “amalkan” atau taqlidi—sudah pasti adalah mazhab galau Soe Hok Gie-an. Terutama pada dua fatwa hebatnya. (1) Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Dan (2) nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

Pernah suatu kali—ketika masih dalam fase alay—saya mengirimi fatwa nomor 2 di atas kepada beberapa kakak dan seorang guru BK SMA yang sudah saya anggap ibu sendiri dan semuanya membalas dengan nada seirama—seperti koor paduan suara 17 Agustusan—“SABAR IRFAN, SABAAAAAAR!!!!”  

Karena sepintas-lalu, barangkali juga bagi Anda, fatwa nomor 2 di atas tidak menyiratkan apapun kecuali kemarahan membabibuta kepada Allah, peludahan terhadap nasib, pemersepsian hidup sebagai—sebagaimana Milan Kundera beranggapan—hanya sebuah perangkap takdir. Padahal, saya memahami fatwa nomor 2 sebagai kegalauan eksistensialis yang senada dengan kegalauan Umar bin Khattab al-Faruq, salah satu khalifah Islam terbesar, yang berkata, “Duhai! Andai Allah menjadikanku ubin! Andai Allah tak menjadikanku apapun! Andai ibuku tak melahirkanku! Andai aku tak menjadi sesuatu, andai aku dilupakan!”

Silakan perhatikan.

Sekali lagi perhatikan.

Bukankah kalimat sang khalifah di atas sepintas-lalu terdengar seperti rapalan kutukan dan kemarahan pada anugerah besar bernama kehidupan? Amukan membabibuta pada berkah umur dan nyawa? Padahal, Umar bin Khattab adalah seorang zahid yang takut pada Allah. Kisahnya memanggul beras untuk rakyat yang kelaparan menjadi teladan kepemimpinan yang terkenal. Jawaban yang beliau berikan kepada orang yang mengajukan diri membantu memanggul beras amat menohok kesadaran, “Siapa yang berani menanggung dosa Umar di hari kiamat?” Dan beliau melanjutkan langkah menuju rumah si rakyat miskin, merasa bahagia melihat mereka bisa makan dengan lahap.

Dengan segala fakta sejarah itu, bagaimana bisa kita menyebut Umar bin Khattab sebagai seorang “tak tahu diri”? Seorang “pengutuk” kehidupan? Tidak mungkin kan?

Karena itu, satu-satunya cara bagi kita, menurut saya, adalah dengan mengubah sudut pandang. Melihat kalimat yang dilontarkan Umar bin Khattab itu—dan juga fatwa nomor 2 Soe Hok Gie, mau tidak mau—sebagai bukan penolakan atas karunia besar bernama kehidupan, melainkan semata-mata sebagai wujud kesadaran mendasar pada konsekuensi besar dari kesempatan mengalami kehidupan, kesempatan memilih jalan nasib.

Bahwa hidup memanglah betul adalah anugerah, tetapi ia tidak segratis air hujan. Kita dilahirkan untuk suatu misi, sebuah tugas, sebuah tanggung jawab, yang ketika kita pulang nanti, rincian pelaksanaan itu akan dimintai pertanggungjawaban.

Benarlah kata monyet dalam sebuah iklan rokok bertahun-tahun yang lalu, “Memang sudah jadi manusia.” Lalu sambil duduk terpaku di jendela menatap rembulan dan gemintang diriingi hujan dan musik keroncong di seberang, saya berpaling kepada si monyet dalam tatap sendu sembari berkata, “Iya, Nyet, asli!” Lalu kami berpelukan bagai saudara yang lama terpisah, larut dalam tangis, dan angin menderu bersemilir.

Lalu bagai seorang kakak yang bijak, si monyet menepuk pelan bahu saya dan berbisik di telinga, “Sabar, Fan, sabar!”

 Lalu kami menangis sesenggukan.

Bhineka Tunggal Islam

Februari 7, 2014 Tinggalkan komentar

Saya bersyukur berada di tengah keluarga, yang dalam urusan sepakbola, katakanlah, berbeda-beda “mazhab”.

Kakak yang ini bermazhab Barcelona dengan “syeikh” utama si mungil dari Argentina. Kakak yang itu memutuskan beralih mazhab dari MU ke Chelsea karena alasan-alasan personal. Lalu keponakan yang ini nyaman menjadi Liverpudian, keponakan yang satu Madridista. Yang menarik, karena salah seorang kakak saya tinggal di Tangerang, maka anak-anaknya secara otomatis terlahir sebagai The Jack. Namun begitu, setiap kali kami berkumpul bersama di Tatar Sunda—wabil khusus Cianjur—tak pernah sekalipun terjadi gontok-gontokan. Bahkan jika yang satu mengenakan seragam orange kebanggaan Persija, dan yang satu lagi mengenakan seragam biru bernomor punggung 7 milik Atep dari Cikalong.

Namun demikian, mazhab mu’tabar di keluarga kami, tetaplah, hanya Manchester United. Bukan karena semua pihak telah sepakat atau karena jumlah penganut mazhab MU di keluarga kami memenuhi lebih dari 50% suara, tetapi semata-mata karena saya senang berfatwa demikian. Keponakan-keponakan saya tahu mereka tak harus setuju sebagaimana kakak-kakak saya bisa dengan mudah mengabaikan. Selesai. Ha ha!

Hal ini—hidup rukun dalam perbedaan mazhab klub—terwujud semata-mata karena (1) kadar kecintaan kami terhadap klub tidak pernah melebihi kadar kecintaan kami terhadap satu sama lain. (2) karena kecintaan kami terhadap klub tidak melebihi kecintaan kami terhadap permainan sepakbola. Hal yang kemudian melahirkan dua sifat agung dalam dunia sepakbola: respect dan fairplay. Dan (3) karena kami semua sadar pada akhirnya itu semua hanya permainan.

Yang terpenting ruh, demikian selalu saya berfatwa kepada diri sendiri. Ruh dari sebuah kompetisi, ruh dari semangat juang tim, ruh dari kerjasama tim, ruh dari profesionalitas—tanpa mesti “kuatir” pada hasil akhir. Persis sebagaimana kita mestinya menjalani hidup.

Selalu ingat bagaimana Jepang kalah 3-4 dari Italia dalam Piala Konfederensi 2013, namun mendapatkan lebih banyak respect dari penonton oleh sebab semangat-juang mereka yang tak mudah pudar. Semangat kamikaze attack. Semangat “merdeka atau mati”. Semangat Isy kariman au mut syahidan—hidup mulia atau mati syahid.

Berdasar analogi ini, dalam konteks yang lebih besar, kita bisa melihat bahwa fanatisme terhadap mazhab, kadang-kadang berlebihan—membabi-buta. Hal yang kemudian menyulut sikap saling ledek, saling menjatuhkan, saling menertawakan. Masih mending kalau diakomodir oleh diskusi yang sehat dan harmonis, lha kalau jatuhnya malah saling debat kusir, bagaimana? Atau malah adu jotos? Waduh! Jangan-jangan nanti kita bertanya-tanya: ini Islam atau pertandingan tinju?

Selain itu, fanatisme yang berlebihan terhadap mazhab juga pada akhirnya memunculkan orang-orang yang lebih nyaman bergaul dengan mereka yang berbeda agama ketimbang dengan mereka yang berbeda mazhab. Anda tahu kenapa? Sederhana: karena kepada mereka yang berbeda agama mereka bisa berkata, “Untukku agamaku, untukmu agamamu.” Lalu berinteraksi dengan damai sebagaimana Rasulullah mencontohkan.

Tetapi kepada yang berbeda mazhab, kefanatikan—kemerasadiri sebagai yang paling benar—membuat mereka tak bisa melewatkan satu detikpun dalam kehidupan mereka kecuali menganggap orang-orang yang berbeda mazhab itu sebagai sesat, sebagai orang yang melecehkan menodai agama Islam.  

Yang pada akhirnya—jika tidak dilandasi kearifan—akan mendorong sikap untuk saling melecehkan, mencaci-maki, yang bukan sekali dua kali berujung pertikaian berdarah-darah.

Jadi, barangkali 3 alasan kerukunan dalam kehidupan keluarga saya—dalam hal perbedaan mazhab klub ini—perlu diadaptasi menjadi alternatif dalam konteks yang lebih besar. Seperti, misalnya, agar kita bisa hidup berdampingan dengan damai dalam perbedaan yang rahmat, kita harus, (1) menjadikan kadar kecintaan terhadap sesama-muslim-sebagai-satu-tubuh lebih besar ketimbang kadar kecintaan terhadap pilihan-mazhab, (2) kecintaan kepada mazhab juga tidak boleh melebihi kecintaan kita kepada islam, hal yang pada akhirnya akan menumbuhkan sikap respect dan fairplay, serta, (3) karena pada akhirnya hidup ini juga kan hanya padang permainan, di mana Allah menjadi Maha Wasit.

Kalau kita—alih-alih bermain dengan fokus dan fair play—malah sibuk berkelahi dan men-tackling dan mencerca dan melanggar aturan main, jangan-jangan Allah lebih cepat mengeluarkan kartu merah. Syukur-syukur kalau ruang ganti yang dituju adalah surga, lha kalau neraka, bagaimana?

Kategori:PandoRandom Tag:, ,