Beranda > PandoRandom > Ghina ‘aninnaas

Ghina ‘aninnaas

Menjadi tidak tergantung-bergantung kepada orang lain itu penting. Karena semakin engkau tergantung-bergantung kepada seseorang, rasa-hatimu suasana-mentalmu akan dengan mudah goyah, rapuh, tak terkendalikan. Engkau akan mudah kecewa, mudah sedih, mudah merasa ditinggalkan. Sendirian.

Tapi menjadi tidak tergantung-bergantung kepada orang lain tak berarti kita harus mengerjakan seorang diri. Ini bukanlah larang prihal kerjasama, alih-alih itu sebuah hukum agar kerjasama yang dibangun berpondasikan kesiapan jikalau kemungkinan terburuk terjadi.

Ghina ‘aninnaas adalah kaya dari butuh kepada manusia. Artinya, sikap orang lain tak mempengaruhi suasana hati kita, atmosfer hidup kita. Mau orang lain berlaku buruk atau berlaku baik, jika kita sudah mampu ber-ghina ‘aninnaas, kita akan merasa bahagia, karena kebahagiaan kita disandarkan pada Yang Maha Kekal–Allah.

Bersandar.

Jika engkau bersandar pada yang fana, yang rusak, yang berubah, yang rapuh, yakni segala makhluk, maka apa yang engkau sandarkanpun akan menjadi fana dan mudah goyah–semudah goyahnya sandaranmu. Tapi jikalau pada Allah, seberat apapun cobaan hidup, rasa-hatimu atmosfer-hidupmu akan tetap melangit.

Sebagaimana pada diri Rasulullah.

Barangkali aku melantur, atau tulisanku melompat-lompat. Tapi biarlah. Aku ingin bilang padamu bahwa doamu kadang mewujud tak seindah bayanganmu. Jika engkau berdoa ingin sabar, barangkali Allah mewujudkannya melalui serangkaian cobaan-pedih demi engkau bisa tertatih dan bertumbuh jiwa besar dalam dadamu. Atau jika engkau berdoa agar pintar, barangkali Allah mewujudkan doamu melalui serangkaian tes di sekolah, tes tanya-dalam-hati sebagaimana dialami Ibrahim, sehingga engkau melangitkan kemampuan otakmu.

Seperti juga aku, kadang kala, berpikir bahwa apa yang menimpaku, hari demi hari, adalah jawaban atas doaku demi menjadi ghina ‘aninnaas. Bahwa bagiku, tanda telah paripurnanya ke-ghina ‘aninnaas-an itu adalah ketika: kita bisa menyerahkan pipi kanan selepas ditampar pipi kiri, kita tidak terpuruk saat dikecewakan, kita tidak marah ketika dicela, kita tidak merasa hancur ketika dicurangi.

Karena kita tahu semua kecurangan orang terhadap kita hanya merugikan diri mereka sendiri.

Dan kebahagiaan kita dijamin-Nya.

Saya masih jauh dari tingkatan itu. Tapi saya selalu senang menjadikan ghina ‘aninnaas sebagai nafas batin saya.

Demikian.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: