Uh?

Rasanya selalu menyenangkan ketika memulai sebuah tulisan dengan frasa “terlalu banyak hal harus ditulis” karena dengan demikian saya merasa (1) memiliki banyak ide tapi (2) tidak punya cukup waktu untuk menuliskannya. Itu berarti saya seorang yang sibuk. Dan kadang, menyenangkan menjadi seorang yang sibuk, karena menganggur adalah pembunuh berdarah dingin.

Saya ingin bilang padamu: selalu menenangkan bisa membagi pagi di antara hiruk-pikuk pekerjaan, dalam temaram sunyi dan kesendirian. Makam orang tua adalah epitaf sendu paling romantis. Kadang-kadang memang melantur, jiwa saya melamun, tapi ketika tekanan menjadi demikian berat, menyendiri di sana dan mengaji selalu menentramkan: adalah alamiah ketika kita butuh sandaran.

Seperti pagi tadi.

Apa yang disampaikan I tadi malam agak bikin sakit hati: dia mengkonfirmasi kepada I dan tidak kepada saya?

Mula-mula kemarahan mencapai puncaknya. Adalah gumul gemunung masalah yang dibiarkan tak mengalir ke solusi, hanya didiamkan saja untuk kemudian tak terasa bisa-nya. Yang demikian amat rentan dan temporal. Kemarahan saya belakangan ini dipicu oleh serangkaian kekecewaan pada detail-detail kecil: teledor, ceroboh, seenaknya, ingkar, terlalu banyak alibi, bossy, tak arif berkomunikasi, dan lain-lain, dan lain-lain.

Perasaan dijadikan tumbal, diperalat dan diperas, sering menghantui ego saya. Membikin kesal dan marah. Saya tahu sebuah jalan pintas yang bisa saya ambil dan berkali-kali saya menceritakan kemungkinan itu pada PENA, sebuah alternatif malah membikin dia terkejut.

“Mungkin sebuah tempat yang jauh. Untuk sekalian pencarian.”

Penenang selalu hadir. Pada doa-doa saya, harapan untuk “hati ini dilapangkan, dizuhudkan, di-ghina aninnas-kan” berpadu dengan harapan agar dia “ditotalkan, dibertanggungjawabkan”. Berkali-kali doa ini menenangkan. Setidak-tidaknya saya berusaha untuk juga melihat salah-salah saya: kendati kabut kemarahan membuatnya tak terlihat.

Tapi biarlah, saya berusaha untuk itu.

Beberapa kali saya bercerita tentang satu dua masalah, impuls yang membikin kesal ini, kepada PENA dan menutupnya dengan kalimat, “Aku terlalu kanak-kanak yak?” Dia jawab, “Tidak.” Saya berusaha percaya bahwa sudut pandang saya tidak terlalu disesaki prasangka buruk kendati keadaannya memang demikian. Adalah benar kata orang, sekali kau berbohong, sulit untuk orang percaya.

Hari ini, saya berusaha menetralisir rasa kesal saya dengan memikirkan solusi paling ekstrim, yaitu mundur. Tapi saya bilang, biarlah sebelum itu kita cek dan saya lebih baik berziarah. Dia merespon, meluluhkan setidaknya sedikit amarah saya. Mengkonfirmasi. Barangkali dia juga kesal kepada saya. Entah karena tersindir dengan beberapa tweet saya atau apapun. Yang jelas, hubungan ini mengarah kepada saling kecewa satu sama lain.

Saya harus bagaimana?

Setidak-tidaknya, seperti selalu saya katakan pada diri sendiri, (1) jadilah ghina aninnaas, (2) fokuslah pada tugas sendiri, (3) ayo rambah jalur baru, (4) menulis bloglah lagi. Menentramkan.

Menyenangkan bisa kembali menulis. Mungkin akan jadi yang pertama setelah sekian lama. Semoga esok lusa bisa memposting lagi.

Salam.

 

 

 

Iklan
Kategori:PandoRandom
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: