Arsip

Archive for Juni, 2013

Ghina ‘aninnaas

Menjadi tidak tergantung-bergantung kepada orang lain itu penting. Karena semakin engkau tergantung-bergantung kepada seseorang, rasa-hatimu suasana-mentalmu akan dengan mudah goyah, rapuh, tak terkendalikan. Engkau akan mudah kecewa, mudah sedih, mudah merasa ditinggalkan. Sendirian.

Tapi menjadi tidak tergantung-bergantung kepada orang lain tak berarti kita harus mengerjakan seorang diri. Ini bukanlah larang prihal kerjasama, alih-alih itu sebuah hukum agar kerjasama yang dibangun berpondasikan kesiapan jikalau kemungkinan terburuk terjadi.

Ghina ‘aninnaas adalah kaya dari butuh kepada manusia. Artinya, sikap orang lain tak mempengaruhi suasana hati kita, atmosfer hidup kita. Mau orang lain berlaku buruk atau berlaku baik, jika kita sudah mampu ber-ghina ‘aninnaas, kita akan merasa bahagia, karena kebahagiaan kita disandarkan pada Yang Maha Kekal–Allah.

Bersandar.

Jika engkau bersandar pada yang fana, yang rusak, yang berubah, yang rapuh, yakni segala makhluk, maka apa yang engkau sandarkanpun akan menjadi fana dan mudah goyah–semudah goyahnya sandaranmu. Tapi jikalau pada Allah, seberat apapun cobaan hidup, rasa-hatimu atmosfer-hidupmu akan tetap melangit.

Sebagaimana pada diri Rasulullah.

Barangkali aku melantur, atau tulisanku melompat-lompat. Tapi biarlah. Aku ingin bilang padamu bahwa doamu kadang mewujud tak seindah bayanganmu. Jika engkau berdoa ingin sabar, barangkali Allah mewujudkannya melalui serangkaian cobaan-pedih demi engkau bisa tertatih dan bertumbuh jiwa besar dalam dadamu. Atau jika engkau berdoa agar pintar, barangkali Allah mewujudkan doamu melalui serangkaian tes di sekolah, tes tanya-dalam-hati sebagaimana dialami Ibrahim, sehingga engkau melangitkan kemampuan otakmu.

Seperti juga aku, kadang kala, berpikir bahwa apa yang menimpaku, hari demi hari, adalah jawaban atas doaku demi menjadi ghina ‘aninnaas. Bahwa bagiku, tanda telah paripurnanya ke-ghina ‘aninnaas-an itu adalah ketika: kita bisa menyerahkan pipi kanan selepas ditampar pipi kiri, kita tidak terpuruk saat dikecewakan, kita tidak marah ketika dicela, kita tidak merasa hancur ketika dicurangi.

Karena kita tahu semua kecurangan orang terhadap kita hanya merugikan diri mereka sendiri.

Dan kebahagiaan kita dijamin-Nya.

Saya masih jauh dari tingkatan itu. Tapi saya selalu senang menjadikan ghina ‘aninnaas sebagai nafas batin saya.

Demikian.

Solitudian

Seperti terapi-kejut, bagaimanapun. Segalanya terlihat indah, dalam pemersepsian dan perencanaan saya, jadi menghadapi dua realita itu bikin terengah-engah: oh, betapa merasa gagal. Betapa takut partner saya memilih mundur. Lalu bagaimana dengan investasi yang saya keluarkan?

Tapi apa benar saya lebih takut dia mundur ketimbang saya merasa dipecundangi? Seperti merasa jawara tapi kalah 0-3 dari tim papan bawah. Atau merasa sudah sebesar United padahal masih berlaga di divisi 3. Harus mawas diri, bagaimanapun.

Menyenangkan mendapati hari ini mengaduk-aduk suasana hati: tentram ketika ziarah, separuh-semangat saat packaging, bersemangat saat ngampas, dan turun-bahu saat pulang. Tapi terima kasih Pak Haji Komar telah sudi menerima kendati berkerut-kening, “Wah tarik ning.” Tapi engkau menandatangi juga.

Ke Cianjur dengan lebih tenang. Tapi BCNY berulah lagi. Okelah, oknum. Harus mengerti bahwa “meningkatnya jumlah delivery order” ke Takoyakikuu membuat mereka harus mengubah kebiasaan: kondisi yang semula mereka bisa berleha di seputaran counter memaksa mereka keluar kandang. Alibi mereka bisa dimengerti dari kacamata kelas pekerja, kendati sebagai pebisnis saya merasa amat dirugikan.

Terutama kredibilitas.

Dan menyendiri dapat mengutuhkan rasa sedih. Bahwa Engkau sedang memainkan skenario pengkabulan. Barangkali saya terlampau terburu-buru, tergesa-gesa. Bahwa segala yang terjadi hari ini tentu karena sebuah alasan. Bukankah dahulu dalam menulis pun penolakan serupa ini pernah saya temui? Kenapa harus sekarang saya menyerah?

Oh cicilan-cicilan, rencana-rencana, tebusan-tebusan, pada Dia yang Mahakaya.

Kategori:Siklus

Zona Kapur

Mengganti tampilan blog, pada akhirnya. Menyenangkan. Ada 2 atau 3 atau 7 rencana judul yang ingin dibagi, di sini, kebanyakan curhatan, tapi tidak keburu karena jadi terlampau sibuk. Tiga tahun terakhir selalu begitu: semakin dekat kepada Ramadhan semakin sibuk.

Hari-hari ini terbagi dalam 7 kategori: Nulis, Takoyakindo Group, Alindas_ID, BIMTEK INBIS dan Koperasi MNS-nya, United Indonesia Cianjur, Akademi Berbagi Cianjur, dan Salamul Falah.

Kategori pertama: merampungkan naskah tentang Ka’bah sembari menyiapkan smartcard bareng Arifa Novianty Effendi Putri. Memutuskan untuk rehat hingga lebaran nanti sembari nulis beberapa cerpen. Ah, tidak sabar memulai nulis novel tapi diri ini perlu fresh dan riset. Baiklah.

Takoyakindo Group: ada beberapa kendala yg pada akhirnya harus diselesaikan. Omzet naik akhir-akhir ini, alhamdulillah. Delivery order jalan terus. Dan 50 porsi okonomiyaki di momen pernikahan. Untuk yang kedua kalinya.

Alindas_ID: ini ide Usman, dan produksinya sudah mulai jalan. Harus support pemasaran bagaimanapun. Ah, sengaja bikin halaman khusus untuk membantu penjualan ini. Atau sila follow @Alindas_ID atau add facebook Keripik Aceh Alindas.

BIMTEK INBIS: setelah BIMTEK yang ke-4 kemarin, saya terpilih jadi sekretaris Koperasi. Tugas menumpuk menanti. Bertambah lagi. Semoga memang ini adalah jalan itu. Wujud makbulnya doa. InsyaAllah.

UnitedIndonesia Cianjur: menjadi koord baksos untuk 2nd Anniversary tahun ini. Konsep sudah disampaikan pada rapat tadi malam. Tinggal penguatan dalam tataran lebih detail bersama tim. Kang Chobet, kita harus bertemu.

Salamul Falah: ah sanlat ini, kebagian jadi sekretaris, seperti biasa. Selalu bersemangat kalau menyangkut acara ini. Sudah rapat untuk menyusun kurikulum dan tugas pembuatan buku panduan pun sudah dibagi. Memposisikan diri jadi editor. Senang rasanya punya tim dan bisa melakukan sesuatu yang mudah-mudahan memberi dampak.

Dua minggu ini akan sibuk, dan nampaknya akan begitu seterusnya. Harus meng-handle perusahaan si kakak karena dia dan suaminya pergi umrah. Setidak-tidaknya selama 10 hari. Harus sehat. Nanti sore ke Jambudipa untuk membantu Usman mengurus packaging Alindas_ID, besok jemput Arifa ke Bandung, besoknya mengurus packaging lagi, Jumat dan Sabtu Takoyakindo Group. Minggu mungkin bisa rehat selepas kerja.

Bagaimanapun, menyenangkan bisa berbagi sampah ini di beranda yang temanya berbentuk papan tulis. Seperti di zona kapur. Film kartun itu. Bagaimanapun, menyenangkan!

Kategori:Siklus

Yaampun!

Karena kadang menjadi sulit bagi kita untuk menjadi si rajin, jikalau lingkungan kita adalah si santai. Menjadi sulit bagi kita untuk mengalah, jika yang satu lagi tak mau ambil pusing.

Kita bertaruh, ketika menjalin sebuah kerjasama, akan diri dan hidup kita. Kita memberikan yang terbaik dan terdorong hasrat mengharapkan hal serupa juga dari partner kita. Nyatanya, ada beberapa orang yang bisa jadi lebih baik ketika menjadi solois, seperti halnya sebagian lagi tak bisa bergerak tanpa partner.

Saya lebih cenderung pada yang pertama, kendati dengan begitu kadang membikin saya sering kecewa. Atau mungkin terlalu penuntut, sehingga kesalahan besar sendiri menjadi tak tampak. Saya selalu kecewa, dan kekecewaan itu mengurangi tingkat totalitas partner, bisa jadi. Bagaimanapun, selalu menyenangkan bisa mengobrol dengan diri sendiri, memarahinya.

Dan menjadi lucu ketika saya beralih merasa harus berbaikan kepada orang yang saya sedang kesal, hanya karena cemas ia akan berbalik kesal. Rapuhnya saya atau memang manusia tidak nyaman untuk dimusuhi? Saya tidak tahu. Yang jelas, masing-masing dari kita tidak nyaman untuk merasa atau dituduh sebagai yang jahat, yang buruk.

Sialnya, percakapan soal ini belum saja bisa dimulai. Masing-masing merasa kagok, cemas akan berbuntut buruk. Lebih baik berpura-pura tidak ada masalah. Tapi sampai kapan? Entahlah.

Selalu aman jika ada pelarian, misalnya, menulis, tapi saya tidak selalu dapat menulis tiap saat. Bagaimana kalau kekesalan itu membelenggu saya sementara saya sedang tak mood menulis? Oh! Yaampun!

Kategori:PandoRandom

Uh?

Rasanya selalu menyenangkan ketika memulai sebuah tulisan dengan frasa “terlalu banyak hal harus ditulis” karena dengan demikian saya merasa (1) memiliki banyak ide tapi (2) tidak punya cukup waktu untuk menuliskannya. Itu berarti saya seorang yang sibuk. Dan kadang, menyenangkan menjadi seorang yang sibuk, karena menganggur adalah pembunuh berdarah dingin.

Saya ingin bilang padamu: selalu menenangkan bisa membagi pagi di antara hiruk-pikuk pekerjaan, dalam temaram sunyi dan kesendirian. Makam orang tua adalah epitaf sendu paling romantis. Kadang-kadang memang melantur, jiwa saya melamun, tapi ketika tekanan menjadi demikian berat, menyendiri di sana dan mengaji selalu menentramkan: adalah alamiah ketika kita butuh sandaran.

Seperti pagi tadi.

Apa yang disampaikan I tadi malam agak bikin sakit hati: dia mengkonfirmasi kepada I dan tidak kepada saya?

Mula-mula kemarahan mencapai puncaknya. Adalah gumul gemunung masalah yang dibiarkan tak mengalir ke solusi, hanya didiamkan saja untuk kemudian tak terasa bisa-nya. Yang demikian amat rentan dan temporal. Kemarahan saya belakangan ini dipicu oleh serangkaian kekecewaan pada detail-detail kecil: teledor, ceroboh, seenaknya, ingkar, terlalu banyak alibi, bossy, tak arif berkomunikasi, dan lain-lain, dan lain-lain.

Perasaan dijadikan tumbal, diperalat dan diperas, sering menghantui ego saya. Membikin kesal dan marah. Saya tahu sebuah jalan pintas yang bisa saya ambil dan berkali-kali saya menceritakan kemungkinan itu pada PENA, sebuah alternatif malah membikin dia terkejut.

“Mungkin sebuah tempat yang jauh. Untuk sekalian pencarian.”

Penenang selalu hadir. Pada doa-doa saya, harapan untuk “hati ini dilapangkan, dizuhudkan, di-ghina aninnas-kan” berpadu dengan harapan agar dia “ditotalkan, dibertanggungjawabkan”. Berkali-kali doa ini menenangkan. Setidak-tidaknya saya berusaha untuk juga melihat salah-salah saya: kendati kabut kemarahan membuatnya tak terlihat.

Tapi biarlah, saya berusaha untuk itu.

Beberapa kali saya bercerita tentang satu dua masalah, impuls yang membikin kesal ini, kepada PENA dan menutupnya dengan kalimat, “Aku terlalu kanak-kanak yak?” Dia jawab, “Tidak.” Saya berusaha percaya bahwa sudut pandang saya tidak terlalu disesaki prasangka buruk kendati keadaannya memang demikian. Adalah benar kata orang, sekali kau berbohong, sulit untuk orang percaya.

Hari ini, saya berusaha menetralisir rasa kesal saya dengan memikirkan solusi paling ekstrim, yaitu mundur. Tapi saya bilang, biarlah sebelum itu kita cek dan saya lebih baik berziarah. Dia merespon, meluluhkan setidaknya sedikit amarah saya. Mengkonfirmasi. Barangkali dia juga kesal kepada saya. Entah karena tersindir dengan beberapa tweet saya atau apapun. Yang jelas, hubungan ini mengarah kepada saling kecewa satu sama lain.

Saya harus bagaimana?

Setidak-tidaknya, seperti selalu saya katakan pada diri sendiri, (1) jadilah ghina aninnaas, (2) fokuslah pada tugas sendiri, (3) ayo rambah jalur baru, (4) menulis bloglah lagi. Menentramkan.

Menyenangkan bisa kembali menulis. Mungkin akan jadi yang pertama setelah sekian lama. Semoga esok lusa bisa memposting lagi.

Salam.

 

 

 

Kategori:PandoRandom