Beranda > Siklus > Sulap

Sulap

 

Yang paling disukai anak kecil adalah sulap. Aku bertanya, “Hei Nak, kenapa kau suka sulap?” Dia menatapku dan berkata riang, “Karena aku lahir di sirkus sulap, dari seorang pesulap, senang bermain sulap, dan semua orang di rumah biasa menyulap. Apa kau juga suka sulap?”

 (13 Mei 2007)

Dua hari yang lalu Kang Sandi, temannya Arif, seoarang trainer hypnoteraphy mampir ke counter Takoyakikuu. Berseragam khas kantor, dia bercerita: ter-pending kaya raya oleh sebab investasi yang merugi, walaraba.com sebagai benih mimpi besar merajai ranah franchise, perkembangan terbaru dari dunia sekolah bisnis binaan dan para alumnus serta pengajar, serta selepas bakda maghrib, beberapa trik sulap.

Arief menguasai beberapa trik sulap, seperti beberapa kali dia perlihatkan kepada saya. Cara dia menebak kartu yang saya pilih tanpa melihat si kartu, menunjukkan betapa kemampuannya membaca ekspresi wajah amatlah kuat. Vera dulu pernah berseloroh, “Hati-hati lho Kang, Arief bisa membaca pikiran.”

Tapi malam itu, kemampuan Arief nampak biasa-biasa saja ketika saya melihat Kang Sandi memainkan beberapa trik. Salah satunya bagaimana dia memanipulasi kartu As. Oh, rupanya semuanya menyoal ekspresi wajah, pengalihan fokus penonton, dan kecepatan tangan.

Betapa pesulap harus punya kepercayaan diri tinggi.

“Tapi sekarang banyak kok alat-alat pendukung sulap yang dijual murah. Via online juga bisa.”

Sewaktu kecil, saya mengidentifikasi sulap sebagai sihir. Menggunakan kekuatan ghaib yang disponsori oleh sebangsa jin dan setan. Identifikasi ini membawa saya pada justifikasi bahwa pesulap alias tukang sihir pastilah bersekutu dengan dedemit dan jin.

Tapi malam itu sudut pandang saya berubah. Sulap tak lagi sekonvensional dahulu: menggunakan menyan dan bersekutu dengan sebangsa dedemit dan jin, tapi alih-alih itu merupakan sebuah keterampilan yang melibatkan begitu banyak ranah psikologi dan neurologi.

Lima belas menit sebelum pulang, saya mempertontonkan pada Arief trik memanipulasi kartu As, tapi tangan saya rupanya tak terlampau cepat sehingga Arief tertawa terbahak dan berkata, “Oh, Kang, jempol Akang bergerak terlalu lambat!”

Benarlah. Mungkin sekali lagi harus saya bertanya, “Hei, Nak, kenapa engkau suka sulap? Dia menatapku dan berkata riang, “Karena aku lahir di sirkus sulap, dari seorang pesulap, senang bermain sulap, dan semua orang di rumah biasa menyulap. Apa kau juga suka sulap?”

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: