Nun

Tiba-tiba 24 tahun menjadi waktu yang terlalu sia-sia.

 

Sekali lagi saya memandangi kerumunan orang yang berjibaku, berdiri menunggu sejak pukul 10 atau 11 malam, hanya demi menonton atraksi Jeblag yang baru digelar pukul 1 dini hari, dan sepenuh-penuhnya merindukan kakek dan ayah saya.

 

Betapa dekatnya saya ini, ujar saya, sejak kecil terhadap jeblag, tapi menjadi terlalu mudah melewatkan segala kesempatan untuk terlibat, untuk mencoba, untuk belajar lebih banyak.

 

Adalah mereka, orang-orang itu, para santri dan keluarga pesantren, yang haqqul yaqiin untuk mencoba, haqqul yaqiin untuk melibatkan diri di dalamnya, dan saya masih di sini, masih menjaga jarak, untuk alasan yang tidak jelas.

 

Kenapa?

 

Dulu sekali, ketika saya masih berumur 7 atau 8, di rumah kakek, saya selalu menonton para tetamu “diisi” dan diberi azimah, lantas Mang Embul atau santri dipanggil untuk “ngamat”. Atraksi jeblag itupun terjadilah. Para tetamu menahan nafas sembari menggerakkan tangan sedikit demi mendorong mereka yang ngamat agar terjengkang ke belakang tanpa mampu menyentuh si tetamu.

 

Jeblag bagi kami seumpama debus bagi Banten.

 

Dulu sekali, ketika saya masih berumur 9 atau 10 tahun, saya mengoleksi begitu banyak azimah. Satu ditaruh di lemari, satu dimasukkan ke dompet atau saku, satu lagi ditaruh di kamar. Adalah saya juga, yang kepada kakeknya meminta untuk diisi, lantas saya berwudlu dan prosesi itupun terjadilah.

 

Tapi saya masih tak jua berani terlibat.

 

Hanya tahu, sebatas tahu. Hanya melihat, sebatas melihat. Hanya terkesima, sebatas terkesima. Lantas selepas itu saya kehabisan kata-kata jikalau orang bertanya lebih dalam, jikalau orang meminta kabar yang lebih detail.

 

Tikus yang mati perlahan di lumbung padi. Fulan yang mati konyol di tanah Yunani.

 

Hari ini, bertahun-tahun selepas ayah meninggal, saya kembali menduga-duga: barangkali benarlah, ketidakterlibatan saya pada Jeblag semata-mata karena ayah saya juga tidak terlibat. Tapi benarkah hanya itu? Gugat saya dalam hati. Bukankah, selama 24 tahun ini, saya tidak pernah terlibat secara penuh dalam setiap acara perayaan Maulid Nabi di kampung kami? Bahwa setiap acara shalawat saya tidak pernah tidak ketiduran atau tertidur sambil memegang tasbih? Bahwa jangankan ikut mempersiapkan Jeblag, menontonnya pun kadang saya malas karena merasa sudah terlalu banyak tahu?

 

Lantas saya mau ke mana? Lantas saya masih mencari apa?

 

Hidup saya menjelma hasrat para astronom: keterlaluterpakuan pada segala gemintang di langit jauh sembari abai pada minyak di dasar Bumi.

 

Inilah saya, pergi begitu jauh dalam pengembaraan alam pikiran, mencari sekian lama pada manuskrip yang berlainan, hanya demi sadar bahwa 24 tahun menjadi waktu yang terlalu lama untuk saya menyadari bahwa: sudah nyaris terlambat bagi saya meneruskan jejak tradisi, mempertahankan budaya dan dakwah kakek dan leluhur saya.

 

Lantas saya mau ke mana? Lantas saya mau menjadi apa?

 

Pada Jambudipa yang serawan rumah laba-laba, pada Darul Falah yang bertahan nafas di usia 1 abadnya: inilah saya, biarlah mencoba mencari jalan lain untuk mencintai tanah lahir ini, untuk memuliakan jejak kaki mereka yang merintis semua ini, hanya demi menyadari bahwa sejauh apapun saya pergi, setinggi apapun saya meloncat, sehebat apapun pencapaian saya, sedramatis apapun kegagalan saya, saya tetap anak kecil yang dulu menunggui kakeknya mengajar kitab kuning sembari menepuki nyamuk di dalam masjid.

 

Sama sekali tidak lebih.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: