Archive

Archive for Januari, 2013

Nun

Januari 24, 2013 Tinggalkan komentar

Tiba-tiba 24 tahun menjadi waktu yang terlalu sia-sia.

 

Sekali lagi saya memandangi kerumunan orang yang berjibaku, berdiri menunggu sejak pukul 10 atau 11 malam, hanya demi menonton atraksi Jeblag yang baru digelar pukul 1 dini hari, dan sepenuh-penuhnya merindukan kakek dan ayah saya.

 

Betapa dekatnya saya ini, ujar saya, sejak kecil terhadap jeblag, tapi menjadi terlalu mudah melewatkan segala kesempatan untuk terlibat, untuk mencoba, untuk belajar lebih banyak.

 

Adalah mereka, orang-orang itu, para santri dan keluarga pesantren, yang haqqul yaqiin untuk mencoba, haqqul yaqiin untuk melibatkan diri di dalamnya, dan saya masih di sini, masih menjaga jarak, untuk alasan yang tidak jelas.

 

Kenapa?

 

Dulu sekali, ketika saya masih berumur 7 atau 8, di rumah kakek, saya selalu menonton para tetamu “diisi” dan diberi azimah, lantas Mang Embul atau santri dipanggil untuk “ngamat”. Atraksi jeblag itupun terjadilah. Para tetamu menahan nafas sembari menggerakkan tangan sedikit demi mendorong mereka yang ngamat agar terjengkang ke belakang tanpa mampu menyentuh si tetamu.

 

Jeblag bagi kami seumpama debus bagi Banten.

 

Dulu sekali, ketika saya masih berumur 9 atau 10 tahun, saya mengoleksi begitu banyak azimah. Satu ditaruh di lemari, satu dimasukkan ke dompet atau saku, satu lagi ditaruh di kamar. Adalah saya juga, yang kepada kakeknya meminta untuk diisi, lantas saya berwudlu dan prosesi itupun terjadilah.

 

Tapi saya masih tak jua berani terlibat.

 

Hanya tahu, sebatas tahu. Hanya melihat, sebatas melihat. Hanya terkesima, sebatas terkesima. Lantas selepas itu saya kehabisan kata-kata jikalau orang bertanya lebih dalam, jikalau orang meminta kabar yang lebih detail.

 

Tikus yang mati perlahan di lumbung padi. Fulan yang mati konyol di tanah Yunani.

 

Hari ini, bertahun-tahun selepas ayah meninggal, saya kembali menduga-duga: barangkali benarlah, ketidakterlibatan saya pada Jeblag semata-mata karena ayah saya juga tidak terlibat. Tapi benarkah hanya itu? Gugat saya dalam hati. Bukankah, selama 24 tahun ini, saya tidak pernah terlibat secara penuh dalam setiap acara perayaan Maulid Nabi di kampung kami? Bahwa setiap acara shalawat saya tidak pernah tidak ketiduran atau tertidur sambil memegang tasbih? Bahwa jangankan ikut mempersiapkan Jeblag, menontonnya pun kadang saya malas karena merasa sudah terlalu banyak tahu?

 

Lantas saya mau ke mana? Lantas saya masih mencari apa?

 

Hidup saya menjelma hasrat para astronom: keterlaluterpakuan pada segala gemintang di langit jauh sembari abai pada minyak di dasar Bumi.

 

Inilah saya, pergi begitu jauh dalam pengembaraan alam pikiran, mencari sekian lama pada manuskrip yang berlainan, hanya demi sadar bahwa 24 tahun menjadi waktu yang terlalu lama untuk saya menyadari bahwa: sudah nyaris terlambat bagi saya meneruskan jejak tradisi, mempertahankan budaya dan dakwah kakek dan leluhur saya.

 

Lantas saya mau ke mana? Lantas saya mau menjadi apa?

 

Pada Jambudipa yang serawan rumah laba-laba, pada Darul Falah yang bertahan nafas di usia 1 abadnya: inilah saya, biarlah mencoba mencari jalan lain untuk mencintai tanah lahir ini, untuk memuliakan jejak kaki mereka yang merintis semua ini, hanya demi menyadari bahwa sejauh apapun saya pergi, setinggi apapun saya meloncat, sehebat apapun pencapaian saya, sedramatis apapun kegagalan saya, saya tetap anak kecil yang dulu menunggui kakeknya mengajar kitab kuning sembari menepuki nyamuk di dalam masjid.

 

Sama sekali tidak lebih.

Tafsir Quanta Ikhlas pada riak Curug Sawer

Januari 24, 2013 1 komentar
"Freedom!" Pose favorit kalau berfoto di depan air terjun hehe

“Freedom!” Pose favorit kalau berfoto di depan air terjun hehe

Jika dan hanya jika saya harus memilih destinasi favorit antara hutan, laut, dan air terjun, saya akan memilih yang paling akhir. Ini tidak jelas kenapa, pada mulanya, tapi kemudian saya mengerti bahwa air terjun selalu menakwilkan “kebebasan”, persis seperti pendakian gunung menakwilkan mikraj kehadirat Allah.

Saya jatuh cinta pada laut, saya menikmati pendakian gunung, tapi mendengar riak air terjun selalu membuat saya sumringah, seperti beban ini terlepas, seperti masalah itu tak pernah ada, seperti semua se-happy ending roman-roman picisan.

Setelah 3 kali ke Curug Cibeureum, sekali ke Curug di Baros—yang tidak touristy—akhirnya saya kesampaian juga berkunjung ke Curug Sawer. Curug ini berlokasi dekat Situ Gunung, Kadudampit, Cisaat, Sukabumi.

Biaya masuknya terbilang murah: 2000 perorang, plus 3000 untuk setiap motor.

 

Setelah berdiskusi, akhirnya kami memilih ke Curug terlebih dahulu—nama curugnya apa, saat itu kami belum tahu. Kami berjalan ke arah kanan, kemudian lurus mengikuti jalan setapak. Kata orang tadi, jaraknya sekitar 45 menit jalan kaki.

Itu artinya, lebih dekat dari jarak Curug Cibeureum.

Takoyakindo Crew on Tour :))

Takoyakindo Crew on Tour :))

Dan memang benar, hanya saja, treknya naik turun, sehingga cepat membikin lelah.

Tapi, saya selalu percaya bahwa perjalanan ke Curug akan selalu terbayar dengan pemandangan air terjun yang membikin tenang, membikin bebas.

 

Dan benar saja. Selepas mengikuti trek menurun, kami mendapati sebuah lapangan luas dekat warung-warung yang tutup. Berbelok ke kiri melewati gerbang ke arah Curug Sawer—demikian kami mengetahui namanya—kami sudah dapat melihat gemuruh air terjun tersebut—membikin rasa lelah hilang seketika.

Pemandangan Curug Sawer

Pemandangan Curug Sawer

Tak ada penjaga di pos sehingga kami tak membayar lagi.

Tak seperti Curug Cibeureum, Curug Sawer memiliki sungai besar yang airnya jernih. Beberapa kali kami berfoto di sana, kemudian lanjut berfoto persis di depan Curug.

Bagi saya, mendengar gemuruh air terjun selalu mendatangkan ketenangan. Demikianlah quanta ikhlas. Inilah musik relaksasi alamiah.

Berdoa di sini membikin khusyuk. Saya memejamkan mata dan merasakan seolah semua mimpi saya terwujud dan feel yang saya rasakan amat mengena. Seolah target Omzet Takoyakindo Group memanglah sudah terwujud. Seolah target buku-buku saya sudahlah tercapai. Seolah saya sudah naik haji lagi, umrah lagi, punya mobil, dan lain-lain, dan lain-lain.

IMG-20130107-00284

Refresh!

 

Arief mengajak saya menikmati arung jeram di Probolinggo. Arus sungai yang dahsyat plus air terjun tersembunyi laksana air terjun di Amazon, menggoda saya. Februari kami jadwalkan. Tapi sebelum itu, saya penasaran dengan Curug pada DP Blackberry-nya Mas @Pelancongmalas, Curug Cikaso.

Air terjunnya lebih besar daripada Curug Sawer.

 

 

IMG-20130107-00273

Meditasi dulu

 

Suatu hari saya harus ke sana. Biar esok lusa bisa ke air terjun Niagara. Bagaimana kira-kira rasanya, yak?

Sekilas Pilgub Jabar 2013

Januari 3, 2013 Tinggalkan komentar

Bagi saya, keputusan Aher untuk menggaet Deddy Mizwar sebagai pasangannya dalam bursa pencalonan cagub dan cawagub jabar, hanya mencerminkan, setidak-tidaknya dual hal:
1) Kekuranyakinannya pada elektabilitas dirinya sebagai incumbent, dalam menghadapi elektabilitas Dede Yusuf dan Rieke Diah Pitaloka sebagai selebritis, sehingga harus mengggaet selebritis yang tak kalah kesohor.
2) Strategi dalam rangka membentuk imaji pemimpin yang bersih dan peduli. Seperti kita tahu, Deddy Mizwar belakangan ini terpersepsikan sebagai seorang yang alim, yang peduli pada nasib bangsa, melalui karya-karyanya yang luar biasa bagus, mulai dari Kiamat Sudah Dekat, Lorong Waktu, Nagabonar Jadi 2, sampai Para Pencari Tuhan. Dia adalah seorang sosok bersahaja yang amanah dan mengerti agama.

Imaji tersebut, ditambah dengan keputusan ‘seragam’ mereka yang berwarna putih berkancing merah, semata-mata menguatkan kepada kita bahwa merekalah pemimpin yang bersih, berjiwa berani, tegas, dan dapat dipercaya.

Sedangkan Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki, yang karena pertimbangan partai, tiba-tiba mengenakan seragam kemeja kotak-kotak, bagi saya, justru malah menurunkan citra dan kualitas kecerdasan seorang Rieke Diah Pitaloka. Kenapa? Sederhana saja, karena keputusan dia dan/atau partai menggunakan ‘seragam Jokowi style’ hanya membuat Rieke Diah Pitaloka tampak tidak yakin pada elektabilitas dan kualitas dirinya sendiri sehingga harus mendompleng popularitas Jokowi. Pada akhirnya, saya melihat Rieke justru menempatkan (kualitas) dirinya di bawah kualitas Jokowi. Seolah-olah menjadi Jokowi wannabe, dan bukan menjadi dirinya sendiri.

Bagaimana dengan Dede Yusuf dan Lex Lasmana? Perpaduan antara biru dan putih adalah perpaduan yang hangat. Dede Yusuf, melalui senyumnya dalam setiap foto, seolah-olah ingin menyampaikan kepada kita bahwa dialah sosok pemimpin yang hangat, yang mampu memeluk dan mengayomi masyarakat. Dia juga adalah golongan generasi muda yang punya jiwa perubahan. Itu poin kampanye-nya.

Lantas, Yance bagaimanakah? Terlepas dari kasus hukum yang tengah menjeratnya sewaktu masih menjabat Bupati Indramayu, keputusan Yance untuk menggaet Agung Hercules dalam menciptakan dan menyanyikan lagu untuk kampanyenya, bagis aya adalah sebuah blunder. Ketika pertama kali melihat lagu itu di salah satu stasiun televisi swasta, lengkap dengan video klip orang-orang dibagi sticker Yance, membikin Yance, terus terang, tampak seperti Pohon Plastik Palsu. Tipikal orde baru.

Sayangnya, jika geliat calon independent di Jakarta justru menuai banyak simpati dan dukungan dari kalangan selebritis, calon independent di Pilkada Jabar ini malah ditanggapi dingin. Kampanyenya melemepem, sampai banyak orang berpikir bahwa calon gubernur dan wakil gubernur itu hanya ada 4 calon. Jika sudah begini, saya pun bingung mengomentari.

Tapi ya sudahlah, siapapun pilihan Anda, rakyat Jawa Barat, pilihlah dengan cerdas. Lima detik Anda memilih, lima tahun Anda merasakan dampaknya. Inilah Calon Pemimpin Jawa Barat mendatang