Arsip

Archive for Desember, 2012

Deadlock

Desember 30, 2012 Tinggalkan komentar

Selesai menempelkan target-target dan writing list di stereofoam kamar. Demi memperjelas visualisasi. Rencana dibekam tampaknya belum bisa terlaksana. Badan sudah serasa remuk redam. Tapi mari kita lihat: saya sudah tidak sabar ingin menulis, melanjutkan naskah, tapi saya sepenuhnya sadar referensi saya belumlah matang. Mungkin besok saya akan pergi ke Perpustakaan dan memantapkan beberapa referensi tambahan.

Tiba-tiba saja merasa langkah saya melambat oleh sebab atmosfer Jambudipa yang pelan. Waktu di sini berjalan begitu lambat. Saya merasa harus bisa menyelesaikan ini dan itu dalam jangka waktu beberapa hari ini, tapi kenyataannya tak semua list dapat saya selesaikan. Penyebabnya bisa jadi dua:

1. Saya kurang disiplin
2. Disorientasi Realitas Lapangan.

Saya menganggap enteng apa yang membutuhkan kematangan untuk ditulis. Baiklah, baiklah. Tiga judul lagi harus selesai, sementara beberapa judul lain malah masuk dan menganggu list. Haruskah ada yang saya hilangkan dan saya ganti? Kedua-duanya menarik. Tapi yang belakangan hadir lebih beresonansi dengan suasana hati. baiklah, baiklah. Selesaikanlah dahulu risetnya, lanjut menulis lagi.

Harus main futsal pukul 12 siang nanti, padahal badan agak meriang. Mungkin besok mesti dijadwalkan, kalau tidak bekam, berarti dipijat.

Iklan
Kategori:Siklus

Konsisten

Desember 27, 2012 Tinggalkan komentar

Mestinya konsisten dg komitmen. Tanpa konsistensi, orang akan ragu untuk menaruh kepercayaan. Dan kuda yang mau berlari cepat akan surut dan memperlambat langkah, jika langkahmu juga lambat.

Kesepakatan terhadap rencana-rencana akan menjadi tidak efektif, jika tidak diimbangi totalitas dan perhitungan yang holistik. Terbiasa menggampangkan segala sesuatu itu bumerang. Memang benar, jika kita total dan disiplin terhadap komitmen, semuanya akan berjalan lancar. Tapi semua rencana akan molor, akan menjadi hanya tinggal rencana jika kita tak disiplin mewujudkannya. Jangan bilang mudah, disiplinlah saja dahulu. Kerjakan satu demi satu.

Hujan lagi, sepertinya sore ini, dan saya masih terjebak dalam ruang kontemplasi yang seratus persen masih sama. Saya masih harus bertanya-tanya, ini sudah benar ataukah saya terlalu kanak-kanak?

Setidak-tidaknya mengajari saya untuk tidak terlena. Harus pula saya total dalam dunia saya. Fokus pada cita-cita dan mimpi saya. Jika energi ini saya fokuskan pada hal yang lain, ruginya dua kali.

Saya ingin menulis soal beberapa pencerahan dan kegamangan yang saya rasakan. Terutama dalam riset buku terbaru saya. Tapi sisi lain saya bilang: saya harus menahannya dulu, biar dia sendiri mematang tanpa perlu karbit.

Baiklah-baiklah, ashar sudah datang. Mendung sejak tadi. Menyelesaikan beberapa bagian untuk mempertajam visualisasi mimpi. Sekali lagi, bismillah…

Kategori:Siklus

Referat

Desember 24, 2012 Tinggalkan komentar

Hari ini menyelesaikan satu tulisan untuk project essai buku islami pertama saya, sekaligus memperbarui beberapa catatan kaki yang belum rampung kemarin-kemarin.

Dan tadi pagi, bertemu dengan tukang bubur yang sejak saya masih 6 atau 7 tahun sudah berjualan bubur. Kali itu, saya ingat betul, dia berdagang bubur dengan menggunakan tanggungan. Ada barangkali enam bulan ke belakang, saya masih melihat dia menggunakan tanggungan. Tadi pagi, dia sudah menggunakan gerobak. Alhamdulillah.

Rasa buburnya juga masih seenak dahulu. Ingat bubur ini jadi ingat masa kecil di rumah kakek. Menikmati bubur ini saban pagi. Apalagi ketika keponakan-keponakan saya datang dan berkumpul. Menonton serial kartun di minggu pagi sambil memakan bubur ditemani bala-bala.

Harganya masih tiga ribuan. Demi apapunlah itu. Dikasih bala-bala satu. Satu ribu lebih mahal dari harga bubur yang ada di bekas rumah Ceu Geugeu. Betapa harga di sini masih serba murah. Betapa kondisi perekonomian di desa saya ini belum bertumbuh.

Harus selalu percaya bahwa saya akan bisa mencapai mimpi yang saya kejar, yang saya targetkan. Beberapa kendala akan ada, tapi Allah selalu beserta kita. Faiza ‘azzamta fatawakkal ‘alallaah.

Dan hari ini, sekali lagi belajar soal kenaifan diri. Masih begitu banyak sifat buruk yang harus dibenahi. Harus diperbaiki. Berhusnu dzanlah selalu, dan adillah dalam memandang segala sesuatu. Jangan merasa diri lebih berkontribusi dengan menafikan sumbangsih orang lain.

Baiklah, baiklah. Waktunya menulis 12 tweets untuk #SarjanaCopas.

Sehat selalu, Mang. Semoga panjang umurmu.

Dari yang suka sekali bubur,
Irfan L. Sar

Kategori:Siklus