Arsip

Archive for November, 2012

Romansa Roman-Di Matteo yang Seumur Jagung

November 23, 2012 Tinggalkan komentar

Piala Champions adalah hasrat terbesar Roman Abramovich. Tapi Di Matteo, sejak awal, bukanlah sosok pelatih ideal yang diharapkan Roman untuk memenuhi hasrat terbesarnya itu. Sayangnya, tanpa diduga, caretaker selepas Andres Villas Boaz dipecat ini, justru mampu membawa Chelsea tampil ke dalam penampilan terbaiknya musim kemarin. Dalam kurun waktu 262 hari, pelatih kalem asal Italia tersebut mampu membawa Chelsea menjuarai piala FA dan piala Champions!

Bahkan, Torres, yang ketika di bawah kepelatihan AVB, melempem, bisa kembali menemukan permainan terbaiknya di masa Roberto di Matteo.

Tapi siapa yang tidak kenal Roman Abramovich? Taipan minyak asal Rusia yang membeli Chelsea di tahun 2003 itu di satu sisi dipuja bak santo, tapi di sisi lain dibenci seperti Joker. Apa pasal? Sederhana saja: kehadiran Roman membuat kondisi ekonomi Chelsea membaik. Keterpurukan, yang pada awalnya, membuat Chelsea tak lebih dari sebatas klub-klub middle sekelas City, Everton, dan Tottenham, kini berubah menjadi keberlimpahan dollar yang membuat Chelsea bisa mendongkrak posisinya ke dalam top four Liga Inggris.

Tak tanggung-tanggung, sampai hari ini (belum termasuk dollar yang dikeluarkan untuk mendatangkan Rafael Benitez), Roman ditenggarai telah mengeluarkan tak kurang dari Rp 1,3 triliun hanya demi memuaskan hasratnya dalam “memecat pelatih secara tidak hormat” (solopos.com). Itu baru belanja pelatih, belum termasuk pemain. Menurut tribunnews.com, total belanja pemain yang dikeluarkan Roman Abramovich mencapai Rp 15,3 triliun!

Selama masa kepemilikannya, Roman Abramovich berhasil membawa Chelsea kembali menjadi kampiun BPL setelah 50 tahun! Itu di bawah asuhan Jose Mourinho di tahun 2005. Di tahun yang sama, Chelsea juga berhasil meraih Piala Carling setelah mengalahkan Liverpool di final. Tahun berikutnya, Chelsea kembali menjadi kampiun BPL di tangan The Special One ini. Pada 2007, Chelsea kalah dari perburuan juara BPL, tapi perkasa di Piala Carling dan FA. Arsenal dan United ditekuk oleh Si Biru ini demi menjadi kampiun di dua kompetisi.

Tapi bagi Abramovich itu tidaklah cukup. Beberapa penampilan buruk pada musim 2007/2008 tersebut ditambah kegagalan Chelsea meraih Piala Champions membuat Jose Mourinho didepak dari kursi kepelatihan! Mou adalah pelatih kedua yang dipecat selepas Claudio Ranieri.

Avam Grant mencoba peruntungannya di Stamford Bridge pasca Mou. Banyak yang memandang sebelah mata kepada mantan pelatih Israel tersebut, tapi di akhir musim, Avant Gram berhasil membawa Chelsea treble runner up. Runner up BPL dan Champions (dua-duanya kalah oleh Mancheseter United), dan runner up Piala Carling (kalah oleh tetangga London pemilik White Heart Lane).

Cukup? Tidak! Grant harus angkat kaki dari Stamford Bridge! Masuklah Felipe Scolari ke dalam skuad The Blues. Sayangnya, pelatih Brasil tersebut sama sekali tak mampu memberikan efek positif ke dalam tim. Tak satupun trofi mampu dia berikan, sehingga Roman memecatnya selepas jeda paruh musim!

Sebagai seorang manajer Rusia, Guus Hiddink kemudian diminta “kerja sambilan” di Chelsea. Statusnya sebagai caretaker sampai musim berakhir–persis seperti Di Matteo selepas AVB dipecat, persis seperti Benitez selepas Di Matteo dipecat. Dalam hitungan bulan, Hiddink berhasil membawa Chelsea meraih trofi FA-nya yang kelima. Satu-satunya kenangan manis karena Hiddink tak melanjutkan kontrak karena ingin berfokus pada Timnas Rusia.

Pada musim 2009/2010 Carlo Ancelotti didatangkan dengan kontrak selama 3 musim. Ancelotti yang konon akrab dengan para pemain ini berhasil mengawali musim perdananya dengan membawa Chelsea menjuarai Community Shield setelah mengalahkan Manchester United lewat adu penalti. Ini keberhasilan baik bagi Chelsea karena menjadi yang pertama (kemenangan lewat adu penalti) setelah 1998! Di akhir musim, Chelsea berhasil meraih mengawinkan Piala BPL dengan Piala FA. Pun mengantarkan Didier Drogba mendapatkan golden boot sebagai pencetak goal terbanyak–mengalahkan Wayne Rooney yang dibekap cedera di akhir musim. Di tahun yang sama, Chelsea juga mencatatkan 100% menang melawan The Big Four (Manchester United, Liverpool, Arsenal) baik itu di kandang, maupun tandang.

Ancelotti terlihat impresif. Banyak orang menaruh harap. Tapi ambisi Roman Abramovich tetaplah Piala Champions, dan ia paling tidak suka melihat timnya bermain buruk. Alhasil, Ancelotti pun dipecat secara tidak hormat, ketika Chelsea kalah 1-0 dari Everton! Menurut beberapa sumber, pemecatan tersebut dilakukan bahkan ketika Ancelotti dan skuat Chelsea masih dalam perjalanan pulang!

Secara presisif, nama Andres Villas Boaz terkenal di dunia sepakbola berkat kesuksesannya membawa Porto meraih Mini Treble Winner. Roman pun jatuh hati. Dibelilah AVB untuk menangani Chelsea. Sayangnya, nama besarnya di Porto tak bertuah di tanah Inggris. Chelsea tampil buruk. Konflik internal di ruang ganti jadi gosip hangat media bola seluruh dunia. AVB pun dipecat di tengah musim dengan Roberto Di Matteo naik sebagai pelatih ad interim.

Uniknya, di tangan Italian ini, Chelsea justru kembali menampilkan performa apiknya dan mencatatkan diri sebagai kampiun Piala FA dan Piala Champions.

Tapi memang benar. Sejak awal, Di Matteo bukanlah pilihan ideal Roman Abramovich untuk mendapatkan Piala Champions–sesuatu yang amat dirindukannya sejak lama. Karena itulah dia tampak ragu-ragu saat hendak mengangkat Roberto Di Matteo sebagai pelatih tetap musim berikutnya. Roberto Di Matteo pun sempat beberapa kali mengutarakan kegundahannya prihal status yang tak jelas. Barangkali karena dukungan dari beberapa pemain seniorlah, Roman Abramovich akhirnya memutuskan untuk mengangkat Roberto Di Matteo sebagai pelatih tetap.

Performanya? Mengagumkan. Setidak-tidaknya dalam laga-laga awal. Chelsea mencatatkan rekor tak pernah kalah sebelum akhirnya dilibas Mancheser United di Stamford Bridge. Setelah itu, rentetan hasil buruk menghantui skuad The Blues, dan puncaknya adalah kekalahan 0-3 dari Raja Italia, Juventus, di Piala Champions yang membuat Chelsea berpeluang besar untuk tidak lolos fase knocked out.

Pada pukul 3 dini hari selepas kekalahan, Di Matteo pun dipecat.

Iklan
Kategori:United We Stand

Jurnal: Esok Lusa Harus Dicoba

November 19, 2012 Tinggalkan komentar

Sering terjadi begini: ide menumpuk sekian banyak saat saya jauh dari laptop dan hilang saat saya bilang saya mau menuliskannya. Ini dilatarbelakangi oleh, salah satunya, kebingungan saya untuk menentukan mana dulu yang harus saya tulis.

Adalah betul saya mengerti soal konsep skala prioritas, tapi performa menulis saya seringkali lebih patuh pada intuisi. Yang mana dulu yang harus saya tulis? Pertanyaan itu harus agak keras saya tanyakan pada hati saya, pada intuisi saya.

Kadang-kadang jawaban itu mudah sekali untuk datang. Di saat lain, semuanya menjadi sulit. Tapi tidak apa-apa. Semua proses menulis selalu membahagiakan saya.

Dan coba tebak.

Saya punya list yang harus ditulis cukup banyak tapi lebih memilih menuliskan sesuuatu di luar list tersebut hanya demi mengikuti intuisi saya yang simultan. Tidak apa-apa. Semuanya akan terkerjakan dengan sendirinya.

Mula-mula saya harus memastikan Sarjana Copas bisa dilepas. Kemudian melanjutkan Islamku Bukan Islam Mereka sembari mengedit Topless Do More dan/atau Makan Nggak Makan Asal Twitteran. Soal Umrah? Semuanya sedang berproses. InsyaAllah terlaksana.

Hanya mungkin harus sedikit bersabar soal ide beberapa novel. Ah ya, selalu ingin sekali mencoba menulis cerpen, tapi nampaknya saya terlalu kritis terhadap hal tersebut.

Esok lusa harus dicoba.

Ya, betul, harus dicoba. :))

Plagiarisme: Tantangan Dunia Pendidikan di Era Teknologi Informasi

November 17, 2012 Tinggalkan komentar

Singa yang terbiasa disuapi takkan fasih berburu.

Itu hukum alam. Pun demikian pada konteks kita, manusia. Keterlalumudahan akses terhadap informasi, dalam beberapa hal, justru menimbulkan efek yang setara seperti ‘suapan makan’ pada seekor singa. Sederhananya begini: semakin mudah kita mendapatkan informasi, semakin kita terangsang untuk “tidak mau ambil pusing”. Karena “ambil pusing” = “membikin ribet” = “tidak praktis” = “tidak instan” = “tidak cepat” .

Akibatnya, apa? Tentu banyak. Tapi mari kita batasi pada lingkup dunia pendidikan.

Sekarang, mari kita lihat.

Perkembangan teknologi informasi yang sedemikian cepat seperti sekarang, pada satu sisi memang menawarkan akselerasi proses belajar-mengajar. Tapi di sisi lain, kita jadi terlampau keasyikan, sehingga apa yang awalnya diset sebagai bahan referensi, bahan masukan, lama-lama di-copas mentah-mentah atas dasar “efisiensi” waktu, tenaga, dan pikiran.

Sepintas lalu mungkin (terkesan) bukan masalah. Kita bisa mengajukan argumen seperti, “Toh ini cuma makalah.” “Toh ini bukan perkara serius. Dan aneka pembenaran lainnya, tapi keterbiasaan meng-copas tulisan orang untuk kita jadikan sebagai makalah kita, tugas kita, lama-lama akan melahirkan hasrat untuk melakukan hal serupa pada konteks yang lebih besar—skripsi, misalnya, atau desertasi, thesis, dan lain sebagainya.

Di sinilah dia tantangan serius pada teknologi informasi tersebut: plagiasi atau plagiarisme. Yakni penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri . Secara moral, plagiasi sama seperti pencurian. Secara hukum, seorang plagiator bisa dicabut gelar dan dipecat atau diturunkan jabatannya. Seperti dialami Prof Anak Agung Banyu Perwita atas plagiasi yang dia lakukan. Tokoh yang pernah dijuluki “Profesor termuda di Indonesia” ini kedapatan melakukan 4 kali tindakan plagiasi sehingga dicopot gelar dan diturunkan jabatannya .
Tapi kita tentu mengerti bahwa jumlah pelaku plagiasi yang mendapat hukuman jauh lebih sedikit dengan pelaku plagiasi yang bebas berkeliaran. Akibatnya apa? Tentu saja kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Plagiasi atau plagiarisme, setidak-tidaknya, memastikan, (1) kurang optimalnya proses belajar, karena mindset short-cut yang selalu ingin potong-kompas. Akibatnya, (2) daya nalar dan kemampuan analisis kita tak terasah, sehingga (3) menghambat proses brainstorming dalam rangka menemukan solusi yang paling baik untuk setiap persoalan (akademis) yang muncul. Akibatnya, (4) kualitas pendidikan mengalami penurunan oleh sebab kualitas pendidik dan kualitas anak-didik sama-sama anjlok.

Sialnya, persoalan plagiarisme ini ternyata tak sekedar persoalan jiplak-menjiplak. Alih-alih itu, memunculkan tingkat ‘kejahatan’ yang lebih ekstrim, seperti joki makalah, industri skripsi, sampai beli-gelar. Fenomena tersebut muncul seiring mindset perguruan tinggi yang beralih menjadi serba “bisnis”, serba “komersil”.

Ini tak mengejutkan, sebetulnya. Pasalnya, jumlah anak muda di Indonesia yang demikian banyak menjadi pangsa pasar potensial bagi perguruan tinggi. Jumlah dan jenis perguruan tinggi pun kian menjamur. Persaingan di industri ini semakin lama semakin sengit. Akibatnya apa? Beberapa perguruan tinggi bisa bertahan pada kompromi yang masih, katakanlah, idealis, dengan mempertahankan standar-baku-penerimaan, dan mengawasi secara ketat proses belajar-mengajar. Tapi beberapa perguruan tinggi lain harus banting setir jual harga demi bisa menarik minat calon mahasiswa. Caranya apa? Ya itu tadi, misalnya, daftar kuliah hari ini, besok sudah “sah” sebagai sarjana!

Jika sudah begitu, ruang untuk plagiarisme beranak-pian kian terbuka lebar. Kok bisa? Ya jelas. Karena kontrol dari pihak lembaga menjadi (terlalu) longgar. Tentu saja akibat dari keterlalufokusan mereka pada “bagaimana cara mengeruk laba sebesar-besarnya”. Hal-hal semacam, (1) remidial bisa diganti dengan uang, (2) makalah yang dikumpulkan mahasiswa tak dibaca secara seksama, dan (3) skripsi bisa dilelang, pada akhirnya menumbuhkan sikap tak acuh (dan tidak merasa bersalah) saat melakukan tindakan plagiasi, yang padahal, seperti diujarkan Prof. Didi Turmudzi, merupakan kejahatan kriminal, pemerkosaan intelektualitas.

Nah, persoalan ini akan semakin pelik, jika, anak-anak didik sudah dibiarkan melakukan tindakan plagasi sejak mereka masih duduk di bangku SMA, misalnya, atau bahkan SMP. Alasannya sederhana: karena keterbiasaan mereka dalam melakukan plagiasi (dan tidak ditegur oleh gurunya) akan menumbuhkan keyakinan bahwa plagiasi bukanlah kejahatan, bahwa plagiasi adalah hal yang wajar dan lumrah—yang pada akhirnya akan mempengaruhi karakter dan watak si anak tersebut.

Pada titik inilah guru memegang peranan penting, tentu saja, dan selalu begitu sejak dulu. Tapi konteks kali ini agak lain. Yakni terletak pada amanah untuk “memutus mata rantai” plagiarisme sejak dini. Penyadaran untuk menumbuhkan kesadaran diri, karakter jujur, sikap untuk mau berlaku fair play , dan menghormati proses alih-alih terjebak dalam mindset short-cut. Bukankah untuk mencapai usia sedewasa sekarang, kita juga tak men-skip sekian tahun dari saat kita lahir? Lalu apa susahnya mengaplikasin hal serupa pada konteks yang lebih luas?

Jurnal: Berburu Melon demi Es Kuwud

November 16, 2012 Tinggalkan komentar

Ceritanya kami mau ujicoba bikin es kuwud di counter Takoyakikuu. Arief sudah beli perasa lemon dan selasih, jadi saya ditugaskan beli kelapa muda dan melon.

Beli kelapa muda? okelah gampang. Di depan mesjid Baiturrahman, banyak. Nah beli melon seiris kecil harus di tukang buah. Tukang buah yang jualannya di gerobak dorong. Tapi ini sudah maghrib, sudah nggak ada yang jualan melon. Masa harus beli sebiji buled gitu?

Untungnya, tak habis akal. Pas mau masuk ke areal pasar, saya lihat ada yang jualan es buah. Saya hampiri.

Me : Boleh beli melonnya aja?
Tukang buah : Segimana?
Me : ah, sedikit aja.
Tukang buah : *ngahuleng* *bingung*
Me : melonnya aja kok. Sedikit.
Tukang buah : Oh melonnya aja. Atuh di pasar, A.
Me : Oh, di pasar ada yang dijual irisan kecil?
Tukang buah : Oh irisan kecil?
Me : *Ini tukang buah kenapa sih?* -____-*
Tukang buah : *menghitung-hitung, membagi irisan* Segini cukup?
Me : Berapa segitu, A?
Tukang buah: Tiga ribu aja.
Me : Oh, oke deh.
Tukang buah: *masukin melon ke plastik* buat istrinya yang lagi ngidam yak, Mas?
Me : *Kalau harus jujur, ceritanya akan panjang, si Tukang buah juga pasti bakal bosen. Akhirnya* Hehe yaa, gitu deh A, susah ning udah malem nyari melon.
Tukang buah : *ngasihin melon*
Me : *ngasihin duit*
Tukang buah : *ngasihin kembalian*
Me : Nuhun nyak Mang,
Tukang buah : *sumringah karena sudah menolong ‘suami yang istrinya lagi ngidam* Iya sama-sama A, hati-hati di jalan…..

Oh.

Kategori:Siklus

Jurnal: Krikness dengan Si Biduan

November 16, 2012 Tinggalkan komentar

Baru saja kami membicarakan si Biduan, gadis yang kami maksud berhenti tepat di depan counter Takoyakikuu milik kami.

si Biduan : Haloooo
Me + Arief : Hei
Arief : Mau nyanyi, Mbak?
si Biduan : Iya.
Arief : Kok bawa tas banyak, kayak habis ngajar.
si Biduan : Kok kamu tahu sih aku guru?
Me : Sebab kau telah menggurukan hatiku…

#krik #kemudian hening

Dalam hati –> *Tuhkan dibilangin gak usah ikutan ngomong* -____-*

Agak lama.

Arief : Eh… *ngetawain*
Me : Kalau ceuk OVJ eta ge…. *kemudian ingin masuk ke lubang perabot di bawah meja*
si Biduan : *tanpa mengindahkan saya, berkata pada Arief* do you have something to eat? Cause am so hungry tonight.
Arief : *ngahuleng* *buka google translate* Apa atuh yak, da kita mah cuma punya tiga menu. *ngeliat ke arah saya, minta persetujuan*
Me : *karena takut terjadi krikness yang berikutnya, saya hanya mengangguk dan bilang* iyah, apa atuh yaaaah.
si Biduan : Yaudah aku ke sana dulu yah, nanti kita (memandang penuh ke Arief) sms-smsan lagi yah.
Arief : *mengangguk sopan santun* iyaaa….
Me : *ngambang di jamban*

Jurnal: Lebih Terang, Seperti Subuh

November 7, 2012 Tinggalkan komentar

Selalu menyenangkan berhasil mengerjakan beberapa hal yang tak terselesaikan selama beberapa waktu. Benar. Power point untuk materi seminar sudah selesai dikerjakan. Oke, sudah 80% selesai. Tinggal menulis essai. Lalu nanti proposal Takoyakindo. Lalu 12 tweet materi promo Sarjana Copas.

Ketika satu demi satu selesai, pekerjaan berikutnya terasa lebih mudah. Beberapa hari lalu segalanya “macet” di proses uploading naskah Sarjana Copas ke nulisbuku.com. Kecuali satu buah error, setelah sukses di upload, beberapa agenda lain terlihat lebih mungkin dan masuk akal.

Seperti waktu subuh. Ketika satu pesatu kegelapan tersingkap, apa yang di tengah malam terasa musykil, menjadi niscaya.

Terima kasih, Tuhanku, untuk dua hari dimana saya bisa meluangkan jam-jam sore dan malam saya untuk menulis, untuk menyicil PR-PR yang menumpuk sejak lama. Bismillah, semoga segalanya sesuai rencana.

Baiklah, baiklah. Mungkin harus kembali dulu ke ms word untuk essai seminar. Sampai jumpa semua!

Kategori:PandoRandom

Jurnal: My oh My!

November 2, 2012 Tinggalkan komentar

Mulai agak keteteran dengan schedule: harus mempersiapkan launching Sarjana Copas (format, 12 tweet buat promosi, biaya-biaya, seminar-seminar, materi seminar, dan lain-lain), juga harus mempersiapkan proposal pengajuan pinjaman untuk Takoyakikuu sekaligus promosi Franchise dan rencana buka cabang di UNSUR dan di jalan raya. Selain itu, masih harus terlibat dalam HIPMI (walau tidak aktif), dikejar untuk dicalonkan jadi Ketua PPI periode 2012-2016, menulis naskah Islamku Bukan Islam Mereka, dan bekerja di perusahaan kakak.

Hari libur mana hari libur.

Harus menyiasati sebisa mungkin untuk selesai, satu per satu. Bagaimanapun, menjadi stuck dan membiarkan semuanya tetap menumpuk hanya akan menambah kesumpekan. Kadang-kadang merasa bekerja paling berat, dalam membangun Takoyakikuu, pada hari-hari ini. Tapi saya yakin semua itu hanya sebatas pembenaran atas keterteteran saya pada pekerjaan dan target-target saya, atas kesumpekan saya akibat kurang tidur dan high level pressure.

Tidak boleh berdoa untuk di-skip, bagaimanapun. Ini tentu salah satu bagian menarik dari perjuangan menjadi climber. Bagian dari keterwujudan doa untuk bisa menjadi penulis, pengusaha, dan pembicara. Dan sudah selesai satu buah essai untuk Islamku Bukan Islam Mereka kendati sadar betul belum lengkap seutuhnya. Hanya butuh satu kali lagi waktu me time untuk melengkapi dengan berbagai referensi agar bisa mewujud.

Dan harus lebih digeber, kendati editor bilang nikmati saja prosesnya. Kalau jumlah essai 17 dan saya hanya bisa menulis 1 dalam satu minggu, berapa lama ini akan selesai? Ayolah, lebih keras lagi berproses. Lebih giat lagi!

Tugas menanti yang lain tinggal:
1. Proposal Takoyakikuu
2. Materi untuk seminar.
3. Materi promosi Sarjana Copas.

Selain itu hanya kegiatan keliling-keliling: ke Barjah soal seminar, ke Kang Deden soal Akademi Berbagi, ke tukang Booth untuk memastikan booth, ke tukang stempel, ke bank untuk menyimpan uang Takoyakikuu, ke Reza Fahad untuk mengambil file cover dan advertise buku, cek nulis buku untuk uploading naskah dan beli Bosphorus, cek plotpoint untuk beli raksasa dari Jogja. Dan ke toko Idola mengambil wall sticker Eiffel.

My, oh my.

Kategori:PandoRandom