Arsip

Archive for Oktober, 2012

Clattenberg vs Stamford Bridge

Oktober 30, 2012 Tinggalkan komentar

Tapi lucu juga memperhatikan bagaimana reaksi fans Chelsea menyoal kepemimpinan Clattenberg dalam laga Chelsea vs Man. United pada 28 Oktober 2012. MU unggul mudah dalam 15 menit awal babak pertama lewat gol bunuh diri David Luiz dan sebuah sontekan apik dari Robin van Persie. Tapi Chelsea dapat memperkecil kedudukan lewat tendangan bebas cantik dari Juan Matta.

Skor 1-2 bertahan hingga turun minum.

Pada awal babak kedua tensi pertandingan meningkat. Pelanggaran demi pelanggaran memaksa wasit Clattenberg mengeluarkan kartu kuning. Chelsea dapat menyamakan kedudukan lewat sundulan Ramires memanfaatkan tendangan sudut. Bola pun berpindah penguasaan. Chelsea ngotot untuk menang, sedangkan United semakin kelimpungan.

David de Gea tampil dalam performa ciamik. Lebih dari 5 kali penyelamatan berhasil dilakukan kiper muda Spanyol tersebut. Tapi ‘mati’-nya lini tengah United membikin kiper jangkung ini nyaris kewalahan. Untungnya, melalui skema serangan balik yang ciamik, Ivanovic terpaksa menjatuhkan Ashley Young.

Clattenberg mengeluarkan kartu merah. Ivanovic tak protes. Itu patut diapresiasi. Bagaimanapun, pelanggaran itu jelas, dan Clattenberg membuat keputusan yang tepat. Tapi ‘petaka’ bagi Clattenber datang ketika dia mengusir Torres dari lapangan ketika striker berpipi merah itu terjatuh saat berhadapan one on one dengan Jonny Evans. Wasit memvonis Torres diving, sedangkan rekaman ulang menunjukkan ada kontak (walaupun kecil) antara Jonny Evans dan Torres.

Seketika fans Chelsea meradang. Bahkan sang manajer, Di Matteo, yang terkenal kalem, terlibat ‘cekcok’ dengan Sir Alex Ferguson saat mengkonfrontir asisten wasit yang memegang board. Sementara Abramovich duduk lesu tanpa senyum.

Gloria pun membahana saat si super sub, Javier Chicarito Hernandez melesakkan gol ketiga MU ke gawang Chelsea. Skor berbalik menjadi 2-3. Rekor ‘tak pernah menang’ MU saat tandang ke Stamford Bridge terpecahkan. Comeback kesekian yang mengingatkan kita pada laga yang sama tahun lalu saat MU berhasil menahan imbang Chelsea 3-3 di Stamford Bridge.

Dengan catatan yang serupa.

Apa itu?

Laga Chelsea vs United pada musim 2011/2012 diwarnai keputusan kontroversial Howard Webb yang memberi MU dua penalti sehingga MU bisa mengejar ketertinggalan dan akhirnya berhasil menyamakan kedudukan. Tapi jangan lupa, pada babak pertama pertandingan tersebut, Howard Webb memberikan beberapa keputusan yang merugikan MU. Koran BOLA pada ulasannya menyebut “penalti yang diberikan Webb sebagai ‘hadiah’ atas keputusan kelirunya di babak pertama”.

Lalu bagaimana pada laga Chelsea vs United musim ini? Fans Chelsea marah karena dua hal, (1) kartu merah Torres, dan (2) gol Chicarito yang off side. Keduanya menuduh wasit menguntungkan United. Padahal, selama 2 x 45 menit tersebut, dua kali bek Chelsea handsball di kotak penalti, dan wasit tak menghadiahi United satupun penalti!

Jika boleh hitung-hitungan dengan asumsi sepak bola adalah ranah matematika, maka apalah artinya gol chicarito yang offside dibandingkan dua penalti yang digagalkan.

Fanatisme adalah hak asasi setiap dari kita, itu benar. Ketidakpuasan pada official itu manusiawi. Tapi jikalau hendak menghakimi wasit, tolong, jangan hanya didasarkan pada keputusan sang wasit yang “dianggap” merugikan tim kita.

Karena seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Kita harus berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

Kategori:United We Stand

Pagi Setelah Senja

Oktober 30, 2012 Tinggalkan komentar

Pagi Setelah Senja

Spasi
Aku hanya sebatas lautan pengasingan,
tertumbuk pasir.
Meniduri khayal sepi, membatasi.
Rintih.
Memaknai pergi,
tetap di sini.
Ambruk! Runtuh! Remuk!

Menunggu!
Masa lambat berganti,
kau pula bertanya…
Aku menunggu,
sepi tak akan menjemputku,
Karena sepi tak perlu menjemput,
dia tak tahu…
Hanya aku yang tahu, hanya aku….

Lepas
Seandainya kubungkam kau,
tertembaklah aku
Bayatmu rencanamu,
senja menutupimu
Tapi risau, hanya itu…
Kaulah risau itu,
narsisisme autentik!
Seandainya dalam bilik–bilik itu, kau pun tahu
kendorkan sedikit emosimu,
longgarkan dasi, rangkul mimpi,
jangan sepi.

Spasi
Spasi
Spasi ganda
Tamat!

2006–2007

Kategori:Siklus Tag:, , , ,

Ihwal Nulis Buku Club Cianjur

Oktober 26, 2012 Tinggalkan komentar

Jadi, apa sebetulnya Nulis Buku Club Cianjur?

Tak lebih dari sebuah itikad baik. Begini, salah satu faktor yang mempersulit seorang penulis hebat dalam menerbitkan karya mereka adalah karena mereka bekerja sendiri-sendiri, mereka tidak membangun sebentuk jejaring sesama penulis. Akibatnya, tidak ada pertukaran informasi, pengalaman, dan lain sebagainya, yang mampu mendorong percepatan proses.

Maksud Anda seperti serikat pekerja?

Bukan. Pernah dengar soal Indie Publishing?

Pernah.

Nah, tahu apa persoalan klasik dari Indie Publishing?

Teruskan…

Pertama, menyoal modal. Karena untuk mencetak buku itu minimal 2500 eksemplar (kalau ingin dapat harga murah). Tanpa sistem distribusi dan promosi yang baik, buku sebanyak itu akan sulit terjual. Akibatnya apa? Penulis tersebut menderita rugi yang amat banyak. Kedua, menyoal distribusi, karena tidak semua penulis paham bagaimana cara mendistribusikan buku Indie–atau dalam konteks yang sederhana, “bagaimana mendistribusikan buku kita ke toko-toko Gramedia”.

Dan kaitannya dengan Nulis Buku Club Cianjur?

Akan lebih baik kalau saya menjelaskannya terlebih dahulu dari perusahaan penerbitan on demand pertama di Indonesia, yakni NulisBuku. Perusahaan ini menjawab tantangan di dunia Indie Publishing dengan memungkinkan si penulis bisa mencetak buku walau hanya satu eksemplar. Kau mengerti?

Jelaskan lebih lanjut!

Kalau begitu mampirlah ke website-nya di http://www.nulisbuku.com.

(Setelah beberapa lama)

Jadi NulisBuku menerbitkan karya kita tanpa kita harus keluar modal banyak karena mesti mencetak 2500 eksemplar?

Iya, benar. Mereka hanya mencetak sesuai dengan permintaan pasar. Lebih dari itu, kita juga diberi kebebasan dalam menentukan nilai royalti yang kita inginkan. Royalti tersebut akan dibagi 2, 60% persen untuk kita, sisanya untuk NulisBuku.

Dan soal Nulis Buku Club Cianjur?

Kekaguman saya pada NulisBuku, salah satunya, adalah kemampuan perusahaan ini membangun jejaring di seluruh Indonesia. Salah satunya, dengan membikin Nulis Buku Club di berbagai kota. Mereka biasa berkumpul pada waktu-waktu tertentu, berdiskusi dan sharing soal dunia buku, dan kadang-kadang membikin antologi bersama.

Dan Anda ingin membikin yang serupa itu di Cianjur?

Tepat sekali. Saya ingat ketika Kang Yusuf Gigan bilang bahwa di tahun-tahun sekarang, satu-satunya novelis di Cianjur hanyalah saya. Setelah saya pikir-pikir, ini ada benarnya. Tapi tak lantas membikin saya jumawa. Kenapa? Karena saya selalu yakin Cianjur memiliki potensi-potensi yang tak kalah dari jakarta dan Bandung. Masalahnya hanya satu: akses informasi yang masih, dalam beberapa hal, terhambat.

Contohnya?

Seperti koneksi dengan penerbit. Kebanyakan penerbit mangkal di kota besar. Memang bisa berkorespondensi via email, tapi apalah artinya email dibandingkan dengan tatap muka?

Memangnya Nulis Buku Club Cianjur bisa menjaminkan koneksi yang lebih baik?

Begini, tujuan saya menjadi folunteer klub menulis ini adalah karena saya ingin, pertama, sharing soal kesempatan besar dalam merintis karier sebagai penulis profesional. Dan kedua, dalam rangka mendukung mimpi perusahaan tersebut untuk membikin “setiap satu orang di Indonesia minimal bisa menerbitkan satu buah buku setiap tahun”.

Tapi sebentar, di Indonesia penerbit sudah banyak. Apa itu belum cukup? Memangnya NulisBuku Club ini mampu bertahan lama?

Penerbit harus berorientasi pada keuntungan. Hal yang kadang-kadang membikin beberapa karya bagus justru tak terterbitkan. Bisa kita lihat bagaimana dunia buku kita hari ini dipenuhi roman picisan korea-sentris. Homogenitas yang menjengahkan. NulisBuku (dan NulisBuku Club) berusaha menjadi antitesis, menjadi anamnesis dari kondisi ini.

Apa program Anda soal Nulis Buku Club ini?

Saya ingin mengadakan pelatihan menulis selama 99 hari: mulai dari menulis naskah fiksi, non fiksi, puisi, dan lain sebagainya. Untuk narasumber? Kita punya banyak penulis senior yang handal. Tapi proses pelatihan ini tak sekedar mempelajari teknik. Lebih dari itu, di akhir pelatihan, semua peserta berhasil menerbitkan buku mereka, via Nulis Buku, silakan. Via penerbit, boleh. Mau murni Indie Publishing, silakan. Yang jelas, dalam 33 hari tersebut, kami akan memberi gambaran sejelas mungkin mengenai dunia menulis, dan dunia penerbitan.

Untuk daftar, apakah ada syarat?

Yang pasti gemar menulis, ingin belajar menulis. Ketertarikan ini penting demi optimalnya proses “belajar”.

Oke, informasi diterima. Jadi kapan akan launching?

Setelah bisa menemukan beberapa anggota untuk bersedia jadi folunteer, saya akan mem-follow up segala bentuk perkembangan dari NulisBuku. Setelah itu, mari kita lihat. Semoga bisa resmi launching paling telat bulan November.

Baiklah, terima kasih Mas Irfan.

Terima kasih kembali, Mas.

Hela

Oktober 26, 2012 Tinggalkan komentar

Engkau mungkin akan berkata ini semua baik-baik saja.
tapi memanglah begitu.
hanya gigil yang melirih ke dalam getir.

Lalu kesenyapan mendedah hujan deras sejak sore.

“Aduhai, celaka,” ujarmu memintal benang yang penghabisan. “Apa kau melihat itu?”

Tak kulihat apapun sejak sore. Hanya jarak yang mengambang di pesisir. Dan kau seturut gelombang laut–tidakkah pernah kubilang segala ide mengenai Neptunus hanya semata omong-kosong?

Engkau mungkin mengira semua ini baik-baik saja, tapi biarlah tetap begitu.
biar aku terjaga. Biar kita bisa tetap berpura-pura.

“Hanya dinding,” ujarku, “Dan langit-langit sedemikian tinggi.”

Engkau mungkin mengira semua ini keliru, tapi memanglah begitu.
biar kita terbangun, biar kita sama saling menarik selimut.

Kategori:Siklus Tag:,

Tanpa Judul

Oktober 25, 2012 Tinggalkan komentar

Well, nampaknya saya aan mulai atif ngeblog lagi. Banyak hal terjadi. Kesibukan menumpuk. Pengetahuan bary menunggu untuk diverap dan disarikan ulang. Melalui tulisan.

Mohon dimengerti karena sejauh ini saya kadang-kadang masih merasa kurang nyaman ngeblog via tablet. Tapi bagaimnapun harus dibiasakan. Teknologi haruslah mempermudah. Namun jangan kuatir karena kemarin saya baru saja ngefix-in kartu Tri untuk modem saya. Tidak lagi harus repot ke warnrt aau nebeng di komputer kakak untuk internetan.

Baiklah, baiklah. Tidak banyak untuk sekarang. Besok-besok beberapa essai, quotes, dan kawan-kawannya akan mulai rajin sy posting lagi yak. 🙂

Kategori:PandoRandom