Beranda > PandoRandom, Sarjana Copas > Telepon Salah Sambung

Telepon Salah Sambung

Karena OSPEK itu ibarat telepon.
Ia hanya sekedar ‘alat’ yang punya tujuan dasar serta fungsi, tapi bisa difungsikan untuk tujuan yang sepenuhnya hak preogratif manusia. Misalkan, telepon itu kan dibikin untuk tujuan connecting people, menghubungkan manusia dengan manusia, tapi toh bisa difungsikan juga untuk connecting manusia dengan internet. Salah? Tidak juga, karena telepon hanya alat dan manusia punya kuasa penuh.
Begitu juga dengan OSPEK. Dia punya 8 tujuan dasar dan fungsi yang mahaluhur, tapi toh dalam implementasi bisa melenceng jauh dari mistar kesemestian. OSPEK bertujuan antara lain agar:
(1) mahasiswa baru memahami setting sosial serta kondisi objektif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(2) mahasiswa baru memahami peran dan fungsinya sebagai bagian dari suatu masyarakat;
(3) mahasiswa baru menyadari tanggung jawab sosialnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(4) mahasiswa sebagai insan akademik;
(5) mahasiswa sebagai agent of social change;
(6) memahami kampus sebagai garda ilmiah atau lingkungan akademik;
(7) memahami kejurusan atau keprodian serta tugas dan fungsinya;
(8) mengetahui lembaga-lembaga kemahasiswaan di tingkat universitas maupun fakultas serta sejarah perkembangannya;
dan berfungsi untuk menatar, melatih, dan menggembleng (maha)siswa untuk menjadi pribadi yang tangguh, bermental baja, serta cerdas tapi tidak sok tahu. Apa dalam pelaksanaan semua itu terpenuhi? Tidak juga. Karena OSPEK hanyalah alat, sedangkan senior punya kuasa penuh.
Kuasa penuh?
Iya.
Dalam hal apa?
Implementasi.

Implementasi
Karena tujuan boleh sama berdelapan, fungsi boleh sama untuk menatar, tapi implementasi bisa jauh saling berbeda—bahkan terkadang, bertolak belakang.
Lho, kok bisa?
Karena interpretasi. Pemaknaan. Penafsiran. Pada hal-hal yang normatif dan umum, penjabaran pada detail bisa beraneka rupa seperti jalan menuju Roma. Seperti perintah untuk shalat saja bisa menghasilkan penafsiran yang berbeda-beda—dalam konteks tata cara pelaksanaannya.
Seperti telepon.
Telepon tetaplah telepon. Tapi untuk dapat berfungsi sesuai fungsi dasar dan tujuan ia dikreasikan oleh manusia, ia punya berbagai jalan. Untuk berfungsi sebagai penyambung seseorang dengan rumah sakit, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka. Untuk berfungsi menyambungkan saluran ke si pacar, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka yang khusus.
Kesemuanya bersifat korespondensial.
14017 misalnya, hanya akan menjadi jalan yang benar, jika yang Anda tuju adalah BRI. Sebaliknya, 14017 akan menjadi jalan yang sesat jika yang Anda tuju adalah layanan siap-antar Mc Donald.
Padahal bedanya sedikit saja. Hanya pada dua angka terakhir. Layanan call center BRI pada jalur 14017, sedangkan layanan siap-antar Mc Donald pada 14045. Nah, kalau beda dua angka saja bisa melahirkan tujuan yang jauh berbeda, apalagi kalau beda seluruhnya yak?
Tapi sekali lagi, telepon tetaplah telepon. Ia hanya sebatas alat.
OSPEK juga tetaplah sebatas alat.
Alat untuk menyampaikan tujuan dan fungsi ia dikreasikan oleh manusia: dalam rangka menjadikan calon mahasiswa bermental baja sehingga mampu menjadi agen perubahan. Siswa yang berstatus maha. Kelas terpelajar. Pelopor dan pembangun. Pencerdas kehidupan bangsa. Pengontrol sosial politik. Penyambung lidah aspirasi masyarakat awam. Oposan tulen.
Tapi dalam mencapai tujuan tersebut, toh implementasinya juga mewujud dalam berbagai cara, dalam berbagai jalan—walaupun secara keseluruhan masih memiliki sederet kesamaan. Misalnya: keharusan mengenakan kostum yang aneh dan konyol, memakai atribut yang dibuat-buat, bullying, tugas yang menumpuk, hukuman dan bentakan, dan lain-lain, dan lain-lain.
Apa itu salah?
Bergantung. Mana sebetulnya yang dituju oleh panitia OSPEK selaku ‘Pemilik Telepon’, apakah kantor polisi ataukah rumah sakit jiwa, apakah sang kekasih ataukah mantan yang terlanjur menikah dengan orang lain? Detail-detail teknis itu ibarat nomor-nomor. Ketika dia dikonfigurasikan, dikombinasikan, maka jadilah ‘nomor telepon’. Perpaduan detail-teknis yang dipilih penyelenggara OSPEK akan menentukan ke arah mana sebetulnya OSPEK ini mengarah—menuju rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?
Oleh karena satu nomor saja yang salah bisa membawa saluran ke antah barantah, maka proses pengkonfigurasian angka-angka ini—atau dalam mudahnya: penafsiran dan pengimplementasian tujuan dasar dan fungsi luhur OSPEK—mestilah dilakukan dengan seksama, penuh pertimbangan, dan sepenuh-penuhnya demi penegakan keadilan.

Kostum
Tapi mari kita lupakan sejenak tujuan dan fungsi besar dari OSPEK. Kita mengarah terlebih dahulu pada hal kecil semisal: pengenalan civitas akademika dan kampus. Toh tujuan ini juga sering tak kesampaian karena penyelenggara OSPEK lebih berfokus pada ‘kedisiplinan’—atau mari sebut saja seperti itu. Akibatnya, yang jadi perhatian utama penyelenggara OSPEK hanya kostum dan tugas-makanan yang harus dibawa besok hari—karena itulah kiranya poin utama dari ‘kedisiplinan’ tersebut: kostum yang aneh dan makanan yang mesti ditafsirkan dari kode-kode yang diberikan panitia pada hari sebelumnya.
Kostumnya biasanya menganut mazhab Lady Gaga: kaos kaki musti dua warna, tali sepatu mesti diganti rapia, tas mesti dari karung goni, topi dari bola yang dipotong setengah, papan nama dari karton, pita warna-warni ngejreng. Kalau ada yang kurang, bolehlah mereka dibentak dan dihukum push up, disuruh lari, dipermalukan di hadapan mahasiswa baru yang lain. Asal jangan pulangkan saja aku pada ibuku. Atau kalau mereka salah membawa makanan karena salah menafsir kode yang dikasih kakak senior, maka terimalah nasib jadi bulan-bulanan. Ditertawakan dan dipermalukan.
Berfokus pada prioritas itu saja yang utama.
Tak jadi soal apakah mahasiswa baru sebetulnya betul-betul tahu ataukah tidak letak kantor rektorat atau nama dosen mata kuliah. Toh itu nanti bisa menyusul. Yang penting mereka dibekali olok-olok sebagai inagurasi. Biar kerasa naik tingkatnya. Biar kerasa menjadi mahasiswanya.
“Karena dulu kami juga digituin, kok!”
Nah, karena detail teknis adalah konfigurasi angka-angka pada telepon bernama OSPEK, maka kiranya muncul pertanyaan: jika detail teknisnya semisal di atas, ke manakah kira-kira saluran telepon ini akan menuju? Tempat sampah ataukah parit? Rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?

Cara, Bukan Niat
Tapi kan yang penting niatnya?
Itu dalih. Anies Baswedan saja bilang, “Niat itu urusan dia dengan Tuhan. Urusan dia dengan kita ya perbuatannya.” Manusia tidak bisa menghukum manusia lain karena niat, karena urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun soal rasa lidah tak pernah bohong.
Pada perbuatannyalah kita bereaksi, kita merespon.
Boleh jadi niat penyelenggara OSPEK adalah baik, demi tujuan dan fungsi yang diamanatkan, tapi jika dalam penyelenggaraannya, malah memicu hal yang kontradiktif, apakah kita tak boleh menentang hanya karena niat mereka baik?
Pada cara kita merespon. Pada perbuatan. Terlepas dari niat mereka baik ataukah buruk. Karena seseorang yang berniat menelepon Mawar toh bisa saja jadi salah sambung andaikan nomor yang dia pijit malah nomor Afika. Mau dia ikhlas mau dia nggak, mau dia sengaja ataupun tidak sengaja, mau dia iseng ataupun emang niat ganggu, toh kita tak pernah tahu. Karena sekali lagi, urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun dalamnya Lautan Hindia dapat diselami. Aiiish kok jadi ke dangdut?
Pada perbuatannyalah kita merespon. Pada kenyataan bahwa dia salah sambung. Itu saja. Itu poinnya. Mudah kan?
Nah, pada OSPEK, pemfokusan pada kostum dan kekerasan verbal non verbal adalah perbuatan, adalah cara yang dipilih. Terlepas dari apakah niatnya baik atau bukan, cara ini mesti diretrospeksi ulang. Apakah memang tepat dalam menunjang ketercapaian fungsi dan tujuan luhur OSPEK ataukah justru sebaliknya. Apakah dengan berkostum gila, seseorang sudah pasti akan mampu menjadi agent of change yang tangguh? Apakah dengan harus menerjemahkan kode makanan, si mahasiswa baru akan mampu menebak di mana WC kampus? Apakah dengan diolok-olok dipermalukan seseorang malah akan bertransformasi menjadi insan akademik?
Sampah melahirkan sampah. Kecuali ditransformasi menjadi pupuk atau kerajinan daur ulang. Artinya, kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Berkat duplikasi dan pewarisan kebiasaan buruk yang menahun—dari tahun ke tahun. Tagline untuk peristiwa semacam ini khas sekali, “Dulu juga saya digituin sama senior, jadi sekarang giliran saya.”
Inilah, sekali lagi, inilah kasus “salah sambung” itu.

Tiga Sebab
Ada tiga sebab kenapa seseorang bisa salah sambung. Pertama, karena dia tidak tahu nomor yang hendak dituju. Orang jenis ini terbagi ke dalam tiga kategori:
(1) orang yang tidak tahu dan tidak (mau) mencari tahu,
(2) orang yang tidak tahu tapi malas (mencari) tahu, dan
(3) orang yang tidak tahu tapi mau (mencari) tahu.
Poin pertama. Pada konteks OSPEK, orang-orang semacam ini adalah kakak senior yang jangankan mampu menjabarkan fungsi dan tujuan OSPEK dengan baik, kenal kedua makhluk itu saja tidak. Masih mending kalau dia mau mencari tahu agar tidak salah sambung, lha kalau malah main gowes saja tanpa hirau, bagaimana? Parahnya, orang-orang jenis ini seringkali sok tahu dan merasa paling benar. Masih mending kalau mau mendengarkan masukan dan kritik, lha kalau malah dilawan dengan kontak fisik kan gawat!
Kedua, karena dia tidak sengaja memencet nomor yang salah. Ketidaksengajaan ini bisa diakibatkan oleh:
(1) keteledoran—sikap tidak hati-hati—dan
(2) kekhilafan.
Penafsiran adalah murni kebebasan individual. Pada proses ini human error adalah niscaya. Itu sebabnya apa yang kita percayai sebagai benar pada hari ini, bisa jadi terasa meragukan esok lusa—seiring bertambahnya pengetahuan dan sudut pandang kita. Kakak senior pada tipe ini adalah orang yang tahu betul apa fungsi dan tujuan OSPEK, harus seperti apa sebetulnya jalan yang dia tempuh, tapi sekali dua kali atas dasar human error dia melakukan kesalahan sehingga OSPEK tercederai kredibilitasnya. Atas dasar apa dia bersalah? Atas dasar, misalnya, ketidakmampuan melawan mainstream.
Ketiga, karena dia sengaja memencet nomor yang salah. Entah karena motif iseng-iseng berhadiah gebetan ataupun sekedar ingin mengganggu orang lain. Dalam konteks OSPEK, orang-orang jenis ini mengusung misi balas dendam. Misi pemasti maba tahun ini merasakan sesuatu yang dia rasakan saat menjadi maba—di tahun-tahun sebelumnya.

Penutup
Kalau sudah begitu kan jadi lingkaran setan. Semua orang saling mewariskan kekerasan. Pada akhirnya yang termaknai dari OSPEK hanya kostum aneh, bullying, dan kode untuk makanan dan tugas lain yang harus dikumpul keesokan harinya. Sisanya tidak ada.
Mereka yang pro OSPEK menilai fenomena ini sebagai:
(1) pertanda bahwa OSPEK sejatinya memang harus dikondisikan untuk membuat maba tidak nyaman sehingga bisa menggembleng mental dan karakter mereka. Seperti keris yang hanya akan menjadi keris jika digembleng di dalam bara api. Dan,
(2) karena hanya dengan pengondisian ketidaknyamanan itulah semua mahasiswa baru lintas kota lintas provinsi bisa lebih cepat saling kenal, bisa lebih cepat bersatu. Ibarat Indonesia yang (kembali) dipersatukan karena sama-sama terdesak oleh penjajahan.
Tapi yang kontra punya dalih: sampah hanya akan menghasilkan sampah. Kekerasan yang dipelihara hanya akan melestarikan pewarisan budaya kekerasan. Sekali lagi lingkaran setan. Seperti kasus beberapa tahun lalu di IPDN. Tentu kematian adalah harga yang terlalu mahal.
Apakah kita masih mau hal demikian terulang?
Telepon Salah Sambung

Karena OSPEK itu ibarat telepon.
Ia hanya sekedar ‘alat’ yang punya tujuan dasar serta fungsi, tapi bisa difungsikan untuk tujuan yang sepenuhnya hak preogratif manusia. Misalkan, telepon itu kan dibikin untuk tujuan connecting people, menghubungkan manusia dengan manusia, tapi toh bisa difungsikan juga untuk connecting manusia dengan internet. Salah? Tidak juga, karena telepon hanya alat dan manusia punya kuasa penuh.
Begitu juga dengan OSPEK. Dia punya 8 tujuan dasar dan fungsi yang mahaluhur, tapi toh dalam implementasi bisa melenceng jauh dari mistar kesemestian. OSPEK bertujuan antara lain agar:
(1) mahasiswa baru memahami setting sosial serta kondisi objektif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(2) mahasiswa baru memahami peran dan fungsinya sebagai bagian dari suatu masyarakat;
(3) mahasiswa baru menyadari tanggung jawab sosialnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(4) mahasiswa sebagai insan akademik;
(5) mahasiswa sebagai agent of social change;
(6) memahami kampus sebagai garda ilmiah atau lingkungan akademik;
(7) memahami kejurusan atau keprodian serta tugas dan fungsinya;
(8) mengetahui lembaga-lembaga kemahasiswaan di tingkat universitas maupun fakultas serta sejarah perkembangannya;
dan berfungsi untuk menatar, melatih, dan menggembleng (maha)siswa untuk menjadi pribadi yang tangguh, bermental baja, serta cerdas tapi tidak sok tahu. Apa dalam pelaksanaan semua itu terpenuhi? Tidak juga. Karena OSPEK hanyalah alat, sedangkan senior punya kuasa penuh.
Kuasa penuh?
Iya.
Dalam hal apa?
Implementasi.

Implementasi
Karena tujuan boleh sama berdelapan, fungsi boleh sama untuk menatar, tapi implementasi bisa jauh saling berbeda—bahkan terkadang, bertolak belakang.
Lho, kok bisa?
Karena interpretasi. Pemaknaan. Penafsiran. Pada hal-hal yang normatif dan umum, penjabaran pada detail bisa beraneka rupa seperti jalan menuju Roma. Seperti perintah untuk shalat saja bisa menghasilkan penafsiran yang berbeda-beda—dalam konteks tata cara pelaksanaannya.
Seperti telepon.
Telepon tetaplah telepon. Tapi untuk dapat berfungsi sesuai fungsi dasar dan tujuan ia dikreasikan oleh manusia, ia punya berbagai jalan. Untuk berfungsi sebagai penyambung seseorang dengan rumah sakit, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka. Untuk berfungsi menyambungkan saluran ke si pacar, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka yang khusus.
Kesemuanya bersifat korespondensial.
14017 misalnya, hanya akan menjadi jalan yang benar, jika yang Anda tuju adalah BRI. Sebaliknya, 14017 akan menjadi jalan yang sesat jika yang Anda tuju adalah layanan siap-antar Mc Donald.
Padahal bedanya sedikit saja. Hanya pada dua angka terakhir. Layanan call center BRI pada jalur 14017, sedangkan layanan siap-antar Mc Donald pada 14045. Nah, kalau beda dua angka saja bisa melahirkan tujuan yang jauh berbeda, apalagi kalau beda seluruhnya yak?
Tapi sekali lagi, telepon tetaplah telepon. Ia hanya sebatas alat.
OSPEK juga tetaplah sebatas alat.
Alat untuk menyampaikan tujuan dan fungsi ia dikreasikan oleh manusia: dalam rangka menjadikan calon mahasiswa bermental baja sehingga mampu menjadi agen perubahan. Siswa yang berstatus maha. Kelas terpelajar. Pelopor dan pembangun. Pencerdas kehidupan bangsa. Pengontrol sosial politik. Penyambung lidah aspirasi masyarakat awam. Oposan tulen.
Tapi dalam mencapai tujuan tersebut, toh implementasinya juga mewujud dalam berbagai cara, dalam berbagai jalan—walaupun secara keseluruhan masih memiliki sederet kesamaan. Misalnya: keharusan mengenakan kostum yang aneh dan konyol, memakai atribut yang dibuat-buat, bullying, tugas yang menumpuk, hukuman dan bentakan, dan lain-lain, dan lain-lain.
Apa itu salah?
Bergantung. Mana sebetulnya yang dituju oleh panitia OSPEK selaku ‘Pemilik Telepon’, apakah kantor polisi ataukah rumah sakit jiwa, apakah sang kekasih ataukah mantan yang terlanjur menikah dengan orang lain? Detail-detail teknis itu ibarat nomor-nomor. Ketika dia dikonfigurasikan, dikombinasikan, maka jadilah ‘nomor telepon’. Perpaduan detail-teknis yang dipilih penyelenggara OSPEK akan menentukan ke arah mana sebetulnya OSPEK ini mengarah—menuju rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?
Oleh karena satu nomor saja yang salah bisa membawa saluran ke antah barantah, maka proses pengkonfigurasian angka-angka ini—atau dalam mudahnya: penafsiran dan pengimplementasian tujuan dasar dan fungsi luhur OSPEK—mestilah dilakukan dengan seksama, penuh pertimbangan, dan sepenuh-penuhnya demi penegakan keadilan.

Kostum
Tapi mari kita lupakan sejenak tujuan dan fungsi besar dari OSPEK. Kita mengarah terlebih dahulu pada hal kecil semisal: pengenalan civitas akademika dan kampus. Toh tujuan ini juga sering tak kesampaian karena penyelenggara OSPEK lebih berfokus pada ‘kedisiplinan’—atau mari sebut saja seperti itu. Akibatnya, yang jadi perhatian utama penyelenggara OSPEK hanya kostum dan tugas-makanan yang harus dibawa besok hari—karena itulah kiranya poin utama dari ‘kedisiplinan’ tersebut: kostum yang aneh dan makanan yang mesti ditafsirkan dari kode-kode yang diberikan panitia pada hari sebelumnya.
Kostumnya biasanya menganut mazhab Lady Gaga: kaos kaki musti dua warna, tali sepatu mesti diganti rapia, tas mesti dari karung goni, topi dari bola yang dipotong setengah, papan nama dari karton, pita warna-warni ngejreng. Kalau ada yang kurang, bolehlah mereka dibentak dan dihukum push up, disuruh lari, dipermalukan di hadapan mahasiswa baru yang lain. Asal jangan pulangkan saja aku pada ibuku. Atau kalau mereka salah membawa makanan karena salah menafsir kode yang dikasih kakak senior, maka terimalah nasib jadi bulan-bulanan. Ditertawakan dan dipermalukan.
Berfokus pada prioritas itu saja yang utama.
Tak jadi soal apakah mahasiswa baru sebetulnya betul-betul tahu ataukah tidak letak kantor rektorat atau nama dosen mata kuliah. Toh itu nanti bisa menyusul. Yang penting mereka dibekali olok-olok sebagai inagurasi. Biar kerasa naik tingkatnya. Biar kerasa menjadi mahasiswanya.
“Karena dulu kami juga digituin, kok!”
Nah, karena detail teknis adalah konfigurasi angka-angka pada telepon bernama OSPEK, maka kiranya muncul pertanyaan: jika detail teknisnya semisal di atas, ke manakah kira-kira saluran telepon ini akan menuju? Tempat sampah ataukah parit? Rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?

Cara, Bukan Niat
Tapi kan yang penting niatnya?
Itu dalih. Anies Baswedan saja bilang, “Niat itu urusan dia dengan Tuhan. Urusan dia dengan kita ya perbuatannya.” Manusia tidak bisa menghukum manusia lain karena niat, karena urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun soal rasa lidah tak pernah bohong.
Pada perbuatannyalah kita bereaksi, kita merespon.
Boleh jadi niat penyelenggara OSPEK adalah baik, demi tujuan dan fungsi yang diamanatkan, tapi jika dalam penyelenggaraannya, malah memicu hal yang kontradiktif, apakah kita tak boleh menentang hanya karena niat mereka baik?
Pada cara kita merespon. Pada perbuatan. Terlepas dari niat mereka baik ataukah buruk. Karena seseorang yang berniat menelepon Mawar toh bisa saja jadi salah sambung andaikan nomor yang dia pijit malah nomor Afika. Mau dia ikhlas mau dia nggak, mau dia sengaja ataupun tidak sengaja, mau dia iseng ataupun emang niat ganggu, toh kita tak pernah tahu. Karena sekali lagi, urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun dalamnya Lautan Hindia dapat diselami. Aiiish kok jadi ke dangdut?
Pada perbuatannyalah kita merespon. Pada kenyataan bahwa dia salah sambung. Itu saja. Itu poinnya. Mudah kan?
Nah, pada OSPEK, pemfokusan pada kostum dan kekerasan verbal non verbal adalah perbuatan, adalah cara yang dipilih. Terlepas dari apakah niatnya baik atau bukan, cara ini mesti diretrospeksi ulang. Apakah memang tepat dalam menunjang ketercapaian fungsi dan tujuan luhur OSPEK ataukah justru sebaliknya. Apakah dengan berkostum gila, seseorang sudah pasti akan mampu menjadi agent of change yang tangguh? Apakah dengan harus menerjemahkan kode makanan, si mahasiswa baru akan mampu menebak di mana WC kampus? Apakah dengan diolok-olok dipermalukan seseorang malah akan bertransformasi menjadi insan akademik?
Sampah melahirkan sampah. Kecuali ditransformasi menjadi pupuk atau kerajinan daur ulang. Artinya, kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Berkat duplikasi dan pewarisan kebiasaan buruk yang menahun—dari tahun ke tahun. Tagline untuk peristiwa semacam ini khas sekali, “Dulu juga saya digituin sama senior, jadi sekarang giliran saya.”
Inilah, sekali lagi, inilah kasus “salah sambung” itu.

Tiga Sebab
Ada tiga sebab kenapa seseorang bisa salah sambung. Pertama, karena dia tidak tahu nomor yang hendak dituju. Orang jenis ini terbagi ke dalam tiga kategori:
(1) orang yang tidak tahu dan tidak (mau) mencari tahu,
(2) orang yang tidak tahu tapi malas (mencari) tahu, dan
(3) orang yang tidak tahu tapi mau (mencari) tahu.
Poin pertama. Pada konteks OSPEK, orang-orang semacam ini adalah kakak senior yang jangankan mampu menjabarkan fungsi dan tujuan OSPEK dengan baik, kenal kedua makhluk itu saja tidak. Masih mending kalau dia mau mencari tahu agar tidak salah sambung, lha kalau malah main gowes saja tanpa hirau, bagaimana? Parahnya, orang-orang jenis ini seringkali sok tahu dan merasa paling benar. Masih mending kalau mau mendengarkan masukan dan kritik, lha kalau malah dilawan dengan kontak fisik kan gawat!
Kedua, karena dia tidak sengaja memencet nomor yang salah. Ketidaksengajaan ini bisa diakibatkan oleh:
(1) keteledoran—sikap tidak hati-hati—dan
(2) kekhilafan.
Penafsiran adalah murni kebebasan individual. Pada proses ini human error adalah niscaya. Itu sebabnya apa yang kita percayai sebagai benar pada hari ini, bisa jadi terasa meragukan esok lusa—seiring bertambahnya pengetahuan dan sudut pandang kita. Kakak senior pada tipe ini adalah orang yang tahu betul apa fungsi dan tujuan OSPEK, harus seperti apa sebetulnya jalan yang dia tempuh, tapi sekali dua kali atas dasar human error dia melakukan kesalahan sehingga OSPEK tercederai kredibilitasnya. Atas dasar apa dia bersalah? Atas dasar, misalnya, ketidakmampuan melawan mainstream.
Ketiga, karena dia sengaja memencet nomor yang salah. Entah karena motif iseng-iseng berhadiah gebetan ataupun sekedar ingin mengganggu orang lain. Dalam konteks OSPEK, orang-orang jenis ini mengusung misi balas dendam. Misi pemasti maba tahun ini merasakan sesuatu yang dia rasakan saat menjadi maba—di tahun-tahun sebelumnya.

Penutup
Kalau sudah begitu kan jadi lingkaran setan. Semua orang saling mewariskan kekerasan. Pada akhirnya yang termaknai dari OSPEK hanya kostum aneh, bullying, dan kode untuk makanan dan tugas lain yang harus dikumpul keesokan harinya. Sisanya tidak ada.
Mereka yang pro OSPEK menilai fenomena ini sebagai:
(1) pertanda bahwa OSPEK sejatinya memang harus dikondisikan untuk membuat maba tidak nyaman sehingga bisa menggembleng mental dan karakter mereka. Seperti keris yang hanya akan menjadi keris jika digembleng di dalam bara api. Dan,
(2) karena hanya dengan pengondisian ketidaknyamanan itulah semua mahasiswa baru lintas kota lintas provinsi bisa lebih cepat saling kenal, bisa lebih cepat bersatu. Ibarat Indonesia yang (kembali) dipersatukan karena sama-sama terdesak oleh penjajahan.
Tapi yang kontra punya dalih: sampah hanya akan menghasilkan sampah. Kekerasan yang dipelihara hanya akan melestarikan pewarisan budaya kekerasan. Sekali lagi lingkaran setan. Seperti kasus beberapa tahun lalu di IPDN. Tentu kematian adalah harga yang terlalu mahal.
Apakah kita masih mau hal demikian terulang?
Telepon Salah Sambung

Karena OSPEK itu ibarat telepon.
Ia hanya sekedar ‘alat’ yang punya tujuan dasar serta fungsi, tapi bisa difungsikan untuk tujuan yang sepenuhnya hak preogratif manusia. Misalkan, telepon itu kan dibikin untuk tujuan connecting people, menghubungkan manusia dengan manusia, tapi toh bisa difungsikan juga untuk connecting manusia dengan internet. Salah? Tidak juga, karena telepon hanya alat dan manusia punya kuasa penuh.
Begitu juga dengan OSPEK. Dia punya 8 tujuan dasar dan fungsi yang mahaluhur, tapi toh dalam implementasi bisa melenceng jauh dari mistar kesemestian. OSPEK bertujuan antara lain agar:
(1) mahasiswa baru memahami setting sosial serta kondisi objektif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(2) mahasiswa baru memahami peran dan fungsinya sebagai bagian dari suatu masyarakat;
(3) mahasiswa baru menyadari tanggung jawab sosialnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(4) mahasiswa sebagai insan akademik;
(5) mahasiswa sebagai agent of social change;
(6) memahami kampus sebagai garda ilmiah atau lingkungan akademik;
(7) memahami kejurusan atau keprodian serta tugas dan fungsinya;
(8) mengetahui lembaga-lembaga kemahasiswaan di tingkat universitas maupun fakultas serta sejarah perkembangannya;
dan berfungsi untuk menatar, melatih, dan menggembleng (maha)siswa untuk menjadi pribadi yang tangguh, bermental baja, serta cerdas tapi tidak sok tahu. Apa dalam pelaksanaan semua itu terpenuhi? Tidak juga. Karena OSPEK hanyalah alat, sedangkan senior punya kuasa penuh.
Kuasa penuh?
Iya.
Dalam hal apa?
Implementasi.

Implementasi
Karena tujuan boleh sama berdelapan, fungsi boleh sama untuk menatar, tapi implementasi bisa jauh saling berbeda—bahkan terkadang, bertolak belakang.
Lho, kok bisa?
Karena interpretasi. Pemaknaan. Penafsiran. Pada hal-hal yang normatif dan umum, penjabaran pada detail bisa beraneka rupa seperti jalan menuju Roma. Seperti perintah untuk shalat saja bisa menghasilkan penafsiran yang berbeda-beda—dalam konteks tata cara pelaksanaannya.
Seperti telepon.
Telepon tetaplah telepon. Tapi untuk dapat berfungsi sesuai fungsi dasar dan tujuan ia dikreasikan oleh manusia, ia punya berbagai jalan. Untuk berfungsi sebagai penyambung seseorang dengan rumah sakit, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka. Untuk berfungsi menyambungkan saluran ke si pacar, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka yang khusus.
Kesemuanya bersifat korespondensial.
14017 misalnya, hanya akan menjadi jalan yang benar, jika yang Anda tuju adalah BRI. Sebaliknya, 14017 akan menjadi jalan yang sesat jika yang Anda tuju adalah layanan siap-antar Mc Donald.
Padahal bedanya sedikit saja. Hanya pada dua angka terakhir. Layanan call center BRI pada jalur 14017, sedangkan layanan siap-antar Mc Donald pada 14045. Nah, kalau beda dua angka saja bisa melahirkan tujuan yang jauh berbeda, apalagi kalau beda seluruhnya yak?
Tapi sekali lagi, telepon tetaplah telepon. Ia hanya sebatas alat.
OSPEK juga tetaplah sebatas alat.
Alat untuk menyampaikan tujuan dan fungsi ia dikreasikan oleh manusia: dalam rangka menjadikan calon mahasiswa bermental baja sehingga mampu menjadi agen perubahan. Siswa yang berstatus maha. Kelas terpelajar. Pelopor dan pembangun. Pencerdas kehidupan bangsa. Pengontrol sosial politik. Penyambung lidah aspirasi masyarakat awam. Oposan tulen.
Tapi dalam mencapai tujuan tersebut, toh implementasinya juga mewujud dalam berbagai cara, dalam berbagai jalan—walaupun secara keseluruhan masih memiliki sederet kesamaan. Misalnya: keharusan mengenakan kostum yang aneh dan konyol, memakai atribut yang dibuat-buat, bullying, tugas yang menumpuk, hukuman dan bentakan, dan lain-lain, dan lain-lain.
Apa itu salah?
Bergantung. Mana sebetulnya yang dituju oleh panitia OSPEK selaku ‘Pemilik Telepon’, apakah kantor polisi ataukah rumah sakit jiwa, apakah sang kekasih ataukah mantan yang terlanjur menikah dengan orang lain? Detail-detail teknis itu ibarat nomor-nomor. Ketika dia dikonfigurasikan, dikombinasikan, maka jadilah ‘nomor telepon’. Perpaduan detail-teknis yang dipilih penyelenggara OSPEK akan menentukan ke arah mana sebetulnya OSPEK ini mengarah—menuju rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?
Oleh karena satu nomor saja yang salah bisa membawa saluran ke antah barantah, maka proses pengkonfigurasian angka-angka ini—atau dalam mudahnya: penafsiran dan pengimplementasian tujuan dasar dan fungsi luhur OSPEK—mestilah dilakukan dengan seksama, penuh pertimbangan, dan sepenuh-penuhnya demi penegakan keadilan.

Kostum
Tapi mari kita lupakan sejenak tujuan dan fungsi besar dari OSPEK. Kita mengarah terlebih dahulu pada hal kecil semisal: pengenalan civitas akademika dan kampus. Toh tujuan ini juga sering tak kesampaian karena penyelenggara OSPEK lebih berfokus pada ‘kedisiplinan’—atau mari sebut saja seperti itu. Akibatnya, yang jadi perhatian utama penyelenggara OSPEK hanya kostum dan tugas-makanan yang harus dibawa besok hari—karena itulah kiranya poin utama dari ‘kedisiplinan’ tersebut: kostum yang aneh dan makanan yang mesti ditafsirkan dari kode-kode yang diberikan panitia pada hari sebelumnya.
Kostumnya biasanya menganut mazhab Lady Gaga: kaos kaki musti dua warna, tali sepatu mesti diganti rapia, tas mesti dari karung goni, topi dari bola yang dipotong setengah, papan nama dari karton, pita warna-warni ngejreng. Kalau ada yang kurang, bolehlah mereka dibentak dan dihukum push up, disuruh lari, dipermalukan di hadapan mahasiswa baru yang lain. Asal jangan pulangkan saja aku pada ibuku. Atau kalau mereka salah membawa makanan karena salah menafsir kode yang dikasih kakak senior, maka terimalah nasib jadi bulan-bulanan. Ditertawakan dan dipermalukan.
Berfokus pada prioritas itu saja yang utama.
Tak jadi soal apakah mahasiswa baru sebetulnya betul-betul tahu ataukah tidak letak kantor rektorat atau nama dosen mata kuliah. Toh itu nanti bisa menyusul. Yang penting mereka dibekali olok-olok sebagai inagurasi. Biar kerasa naik tingkatnya. Biar kerasa menjadi mahasiswanya.
“Karena dulu kami juga digituin, kok!”
Nah, karena detail teknis adalah konfigurasi angka-angka pada telepon bernama OSPEK, maka kiranya muncul pertanyaan: jika detail teknisnya semisal di atas, ke manakah kira-kira saluran telepon ini akan menuju? Tempat sampah ataukah parit? Rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?

Cara, Bukan Niat
Tapi kan yang penting niatnya?
Itu dalih. Anies Baswedan saja bilang, “Niat itu urusan dia dengan Tuhan. Urusan dia dengan kita ya perbuatannya.” Manusia tidak bisa menghukum manusia lain karena niat, karena urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun soal rasa lidah tak pernah bohong.
Pada perbuatannyalah kita bereaksi, kita merespon.
Boleh jadi niat penyelenggara OSPEK adalah baik, demi tujuan dan fungsi yang diamanatkan, tapi jika dalam penyelenggaraannya, malah memicu hal yang kontradiktif, apakah kita tak boleh menentang hanya karena niat mereka baik?
Pada cara kita merespon. Pada perbuatan. Terlepas dari niat mereka baik ataukah buruk. Karena seseorang yang berniat menelepon Mawar toh bisa saja jadi salah sambung andaikan nomor yang dia pijit malah nomor Afika. Mau dia ikhlas mau dia nggak, mau dia sengaja ataupun tidak sengaja, mau dia iseng ataupun emang niat ganggu, toh kita tak pernah tahu. Karena sekali lagi, urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun dalamnya Lautan Hindia dapat diselami. Aiiish kok jadi ke dangdut?
Pada perbuatannyalah kita merespon. Pada kenyataan bahwa dia salah sambung. Itu saja. Itu poinnya. Mudah kan?
Nah, pada OSPEK, pemfokusan pada kostum dan kekerasan verbal non verbal adalah perbuatan, adalah cara yang dipilih. Terlepas dari apakah niatnya baik atau bukan, cara ini mesti diretrospeksi ulang. Apakah memang tepat dalam menunjang ketercapaian fungsi dan tujuan luhur OSPEK ataukah justru sebaliknya. Apakah dengan berkostum gila, seseorang sudah pasti akan mampu menjadi agent of change yang tangguh? Apakah dengan harus menerjemahkan kode makanan, si mahasiswa baru akan mampu menebak di mana WC kampus? Apakah dengan diolok-olok dipermalukan seseorang malah akan bertransformasi menjadi insan akademik?
Sampah melahirkan sampah. Kecuali ditransformasi menjadi pupuk atau kerajinan daur ulang. Artinya, kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Berkat duplikasi dan pewarisan kebiasaan buruk yang menahun—dari tahun ke tahun. Tagline untuk peristiwa semacam ini khas sekali, “Dulu juga saya digituin sama senior, jadi sekarang giliran saya.”
Inilah, sekali lagi, inilah kasus “salah sambung” itu.

Tiga Sebab
Ada tiga sebab kenapa seseorang bisa salah sambung. Pertama, karena dia tidak tahu nomor yang hendak dituju. Orang jenis ini terbagi ke dalam tiga kategori:
(1) orang yang tidak tahu dan tidak (mau) mencari tahu,
(2) orang yang tidak tahu tapi malas (mencari) tahu, dan
(3) orang yang tidak tahu tapi mau (mencari) tahu.
Poin pertama. Pada konteks OSPEK, orang-orang semacam ini adalah kakak senior yang jangankan mampu menjabarkan fungsi dan tujuan OSPEK dengan baik, kenal kedua makhluk itu saja tidak. Masih mending kalau dia mau mencari tahu agar tidak salah sambung, lha kalau malah main gowes saja tanpa hirau, bagaimana? Parahnya, orang-orang jenis ini seringkali sok tahu dan merasa paling benar. Masih mending kalau mau mendengarkan masukan dan kritik, lha kalau malah dilawan dengan kontak fisik kan gawat!
Kedua, karena dia tidak sengaja memencet nomor yang salah. Ketidaksengajaan ini bisa diakibatkan oleh:
(1) keteledoran—sikap tidak hati-hati—dan
(2) kekhilafan.
Penafsiran adalah murni kebebasan individual. Pada proses ini human error adalah niscaya. Itu sebabnya apa yang kita percayai sebagai benar pada hari ini, bisa jadi terasa meragukan esok lusa—seiring bertambahnya pengetahuan dan sudut pandang kita. Kakak senior pada tipe ini adalah orang yang tahu betul apa fungsi dan tujuan OSPEK, harus seperti apa sebetulnya jalan yang dia tempuh, tapi sekali dua kali atas dasar human error dia melakukan kesalahan sehingga OSPEK tercederai kredibilitasnya. Atas dasar apa dia bersalah? Atas dasar, misalnya, ketidakmampuan melawan mainstream.
Ketiga, karena dia sengaja memencet nomor yang salah. Entah karena motif iseng-iseng berhadiah gebetan ataupun sekedar ingin mengganggu orang lain. Dalam konteks OSPEK, orang-orang jenis ini mengusung misi balas dendam. Misi pemasti maba tahun ini merasakan sesuatu yang dia rasakan saat menjadi maba—di tahun-tahun sebelumnya.

Penutup
Kalau sudah begitu kan jadi lingkaran setan. Semua orang saling mewariskan kekerasan. Pada akhirnya yang termaknai dari OSPEK hanya kostum aneh, bullying, dan kode untuk makanan dan tugas lain yang harus dikumpul keesokan harinya. Sisanya tidak ada.
Mereka yang pro OSPEK menilai fenomena ini sebagai:
(1) pertanda bahwa OSPEK sejatinya memang harus dikondisikan untuk membuat maba tidak nyaman sehingga bisa menggembleng mental dan karakter mereka. Seperti keris yang hanya akan menjadi keris jika digembleng di dalam bara api. Dan,
(2) karena hanya dengan pengondisian ketidaknyamanan itulah semua mahasiswa baru lintas kota lintas provinsi bisa lebih cepat saling kenal, bisa lebih cepat bersatu. Ibarat Indonesia yang (kembali) dipersatukan karena sama-sama terdesak oleh penjajahan.
Tapi yang kontra punya dalih: sampah hanya akan menghasilkan sampah. Kekerasan yang dipelihara hanya akan melestarikan pewarisan budaya kekerasan. Sekali lagi lingkaran setan. Seperti kasus beberapa tahun lalu di IPDN. Tentu kematian adalah harga yang terlalu mahal.
Apakah kita masih mau hal demikian terulang?

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: