Beranda > Siklus > Q and A Tetralogi Sirruhart (Oleh-oleh Jogja)

Q and A Tetralogi Sirruhart (Oleh-oleh Jogja)

Halo, Mas Irfan?

Halo

Kabar, baik?

Alhamdulillah, baik.

Boleh diceritakan sedikit soal Meander?

Ini novel keempat sekaligus penutup dari tetralogi Sirruhart. Kalau di tiga novel awal saya bermain di, terutama, ranah romansa dan psikologi (serta filsafat di novel ketiga), di novel ini saya bermain di ranah fantasi dan cerita detektif.

Jadi, nafasnya berbeda?

Saya berusaha bermain dengan soul yang baru di tiap seri tetralogi ini. Di Hubby, saya menuturkan cerita yang sederhana, ringan. Dibangun atas premis, “Cinta menyembuhkan semua luka”. Bercerita tentang 4 orang tokoh utama yang harus berdamai dengan luka di masa lalu. Masuk di novel kedua, Apologia Latte, saya mengekplorasi emosi dan rasa bersalah. Perpaduan antara roman dan thriller. Akan ada adegan pembunuhan dan akan ada cerita mengenai alam selepas kubur. Tapi lebih dari itu segalanya bermuara pada satu premis, “Cinta yang terlalu berlebihan akan membunuhmu”. Lagunya Queen.

Ya, saya tahu itu. Dan novel ketiga?

Itu inti dari tetralogi ini. Setidaknya menurut saya. Saya menghabiskan banyak tenaga dan riset untuk ini.

Bercerita tentang apa?

Rahasia hati. Di Hubby, Rafli seperti terlahir kembali. Ia akhirnya hidup di “masa kini”. Di Apologia Latte, dia mendewasa oleh segala bentuk masalah dan rintangan dan mati-surinya. Di Sirruhart, dia berada di lorong-kontemplasi. Keberusahaan dia untuk memahami dirinya sendiri. Demi apa? Demi bisa memahami hidup. Dan bagaimana dia bisa memahami dirinya? Dia harus memahami rahasia hatinya. Dan bagaimana dia harus memahami rahasia hatinya? Dia menelusuri makna mimpi-mimpinya.

Makna mimpi-mimpi?

Benar. Karena sebetulnya mimpi kita ketika tidur, salah satunya, adalah cerita dari alam bawah sadar kita. Tapi diceritakan dalam bahasa mereka. Bahasa simbol. Karena itulah mimpi perlu penafsiran, perlu interpretasi. Jika kita mampu memahami mimpi yang datang kepada kita, kita akan mampu memahami apa yang hendak disampaikan oleh alam bawah sadar kita. Dan untuk menulis ini saya melakukan riset panjang tentang fenomena mimpi mulai dari sudut pandang Socrates, Eropa, Freud, Carl Jung, sampai sudut pandang Sheikh Muhammad Ibnu Sirrin.

Dan kesemuanya itu membawa Rafli memahami rahasia hatinya. Begitu?

Kira-kira seperti itu. Dia membikin rumus rahasia hati berdasarkan konsep trigonometri. Pembaca akan melihat di bagian akhir buku tersebut.

Terdengar cukup berat.

Saya berprinsip bahwa jika saya menulis buku, saya tidak hanya ingin sekedar menulis kisah roman yang tidak ada saripati yang bisa diserap oleh pembaca. Karena itu saya menciptakan tokoh yang kontemplatif seperti, Rafli. Memang terdengar cukup berat. Tapi kalau sudah baca. Tidak akan seberat itu.

Dan semua cerita itu berakhir di Meander?

Iya. Berakhir di novel ini.

Bercerita tentang apa Meander?

Tentang Rafli selepas selamat dari kebakaran di pasar. Bagaimana dia, tidak hanya, harus bersitegang dengan Cepi karena masalah pembangunan pasar baru, tetapi juga harus mencari tahu tentang misteri Ainun Mala.

Meander terdengar agak asing. Apa artinya itu?

Meander berarti kelokan sungai yang panjang. Memang tidak familiar dalam bahasa Indonesia, tapi kata itu dapat ditemukan dengan mudah di kamus besar bahasa Indonesia.

Kenapa memilih judul itu?

Ini sekaligus menutup keempat seri. Kira-kira filosofinya begini: alur hidup, alur takdir, kan kadang seperti kelokan sungai juga. Dan kita ibarat daun atau apapun yang mengalir di kelokan sungai itu. Pertama, ke manapun kita mengalir, laut pula akhir pertemuan semua arus. Kedua, kadang-kadang dalam hidup ada momen, atau orang, atau apapun, yang membikin kita berbelok ke sebuah kelokan, yang pada akhirnya mengubah jalan hidup kita selamanya.

Anda tadi bilang novel keempat berbau fantasi dan detektif?

Betul. Benang merah novel ini, sungai. Semua cerita berporos di sana. Dan tahukah Anda bahwa banyak peradaban di dunia bermula dari sungai? Lihat bagaimana Nil dan Gangga mengawali peradaban Mesir dan India. Pengaruh sungai bagi hidup manusia tak terbantahkan. Bahkan berkali-kali Tuhan menyebut di surga nanti ada sungai. Lalu di mana letak kisah fantasi dan detektif? Di sungai Cisokan tempat cerita ini berporos, ada sebuah gua yang disebut gua Belanda. Legenda gua ini menyambung sampai ke Kerajaan jin di Gunung Gede yang konon dipimpin Seh Jubaedi Satoto, penguasa Samudra Hindia yang juga khadam nabi Khidir. Dari sana kisah berlanjut sampai ke fenomena Segitiga Bermuda, alien, kehidupan makhluk bawah tanah, sampai delusi yang dialami Rafli.

Mas, ini ada pertanyaan: berapa lama Mas menulis novel ini?

Untuk riset saya menghabiskan waktu antara 2-3 tahun. Untuk penulisan sampai 100%, kira-kira selama 3-4 bulan.

Pertanyaan berikutnya: momen apa yang paling membahagiakan dari penulisan novel ini?

Saya pikir momen paling membahagiakan dari melahirkan tetralogi Sirruhart adalah ketika tiba-tiba mendapat telepon dan mendapat kabar kalau Apologia Latte terpilih sebagai Karya Fiksi Terbaik III Nugra Jasa Dharma Pustaloka Perpusnas 2011. Kenapa tak terlupakan? Karena itu penghargaan pertama saya, karena itu hanya 2 bulan setelah Apologia Latte turun di pasaran, karena itu tanpa pemberitahuan sebelumnya sehingga saya dipenuhi kekhawatiran kalau-kalau semua itu cuma hoax.

Wah, luar biasa ya Mas. Salut untuk itu. Oke, kira-kira apa pesan dari novel ini?

Ada satu bab yang disitu saya menulis “Karena Hidup Seperti Gelas”. Jadi jika memang harus ada kesimpulan dari semua rangkaian kehidupan Rafli, adalah barangkali momen ketika Rafli sadar bahwa hidup sebetulnya bukan untuk ditaklukkan. Hidup itu, seperti gelas, untuk diisi. Diisi dengan apa? Dengan hal-hal yang baik, tentu saja. Dengan hal-hal yang bermakna. Karena tidak semua hal sesederhana kelihatannya. Itu sebabnya ada yang dinamakan “kompromi”. Karena tidak semua pertanyaan bisa menemukan jawaban. Terkadang, perjalanan mencari jawaban itu akan menjadi jawaban yang lebih dari sepadan. Dan itulah hidup. Ada ironinya, ada paradoksnya, ada misterinya, ada banyak hal yang semuanya, saya pikir, tidak sederhana.

Oke, Mas, terima kasih atas obrolannya. Sampai berjumpa lagi. Sukses terus untuk novelnya.

Oke, Mas. Sama-sama. Terima kasih Eltira, terima kasih, Jogja…..

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: