Beranda > PandoRandom > Nenek Penjual Buah dan Doa yang Terlupakan

Nenek Penjual Buah dan Doa yang Terlupakan

Setelah sepagian mengistirahatkan badan selepas lelah naik kereta, kami berkeliling Jogja dengan becak. Mula-mula kami yang menentukan hendak ke mana, tapi toh becak di depan hotel lebih tahu ke mana kami harus menuju. Empat puluh ribu untuk berkeliling sesuka hati kami: ke Keraton, Alun-alun Jogja, beli oleh-oleh dan batik dan kaos Jogja. Pokoknya, ke manapun!
Akhirnya, kami setuju. Becak membawa kami masuk ke lingkungan Keraton. Karena siang itu sudah lewat pukul 1, maka kami hanya bisa berbelok ke Museum Keraton dan menikmati kereta kencana yang dipajang di seluruh sisi ruangan. Plus seribu rupiah tambahan untuk berfoto tanpa naik atau menyentuh benda-benda itu. Tak ada guide yang kami sewa, jadi kami hanya berkeliling seadanya.
Karena belum makan siang, sehabis dari Museum, becak berbalik arah, mengelilingi lapangan parkir kunjungan ke Keraton, dan berhenti di salah satu rumah makan Gudeg. Mengambil tempat duduk di ujung, nomor 14 kalau tidak salah, kami menunggu katalog pesanan datang.
Arifa menuliskan pesanan itu sementara saya menyerahkan pesanan kami ke pramusaji. Duduk kembali di lesehan ujung, kami berbincang beberapa hal. Ivi bertanya kepada saya bagaimana tadi interview di radio, dan saya bilang semuanya berjalan lancar. Gudeg yang kami pesan datang tak lama kemudian.
Kecuali saya, semua orang di meja ini memesan Gudeg sayap ayam. Saya sendiri tidak tahu apa Gudeg Orak-Arik, tapi saya pikir akan seru menikmati makanan yang kita tahu namanya tapi belum tahu seperti apa rasanya. Dan benar saja. Gudeg didominasi oleh rasa manis sampai-sampai teh manis pun terasa hambar.
Kendati terlihat sedikit saat pertama kali disajikan, toh kami kekenyangan. Ivi menjelaskan kepada kami bahwa makanan di Jawa Timur memang rata-rata manis. Saya mengamini dengan ingat teh manis yang disajikan selama saya dalam perjalanan darat menuju Bali.
Baru selesai kami makan, dengan masih ditemani pengamen yang menyanyikan beberapa lagu di pintu masuk rumah makan, datanglah seorang sepuh mengais beberapa kantong buah. Dari keriput kulit dan giginya yang ompong, saya menaksir usianya sudah masuk kepala 8. Tapi bagaimana bisa perempuan setua itu masih harus berjualan buah berkeliling?
Setelah satu demi satu ‘rombongan’ yang sedang makan dia datangi, dia tawari, buah-buahan yang dia jual, dan tak satupun yang mau beli, datanglah dia ke meja kami. Sepanjang itu, saya nyaris hanya bisa menunduk karena melihat pemandangan ‘ini’ sedekat ‘ini’ selalu membuat saya merasa tersudut: di satu sisi kasihan, tapi di sisi lain saya tidak mau membeli buah-buahan ini. Di saat yang sama, saya merasa bersalah karena hanya bisa merasa kasihan tanpa mau membantu mengubah keadaan.
Saya bernazar bahwa jika saya hanya menunduk saya akan menyesal. Tapi saya harus bagaimana? Perempuan tua beringsut meninggalkan meja kami dengan sendu. Dia menelan ludah dengan getir. Ludah yang kering. Entah kapan dia terakhir bisa makan (enak).
Sembari cuci tangan di wastafel, saya melihat sekilas anak kecil memberi sedekah kepada perempuan tua itu, dan terdorong oleh kemurnian hati si anak kecil, saya juga mengambil inisiatif yang sama, dengan sepenuhnya yakin bahwa yang saya tolong sebetulnya bukan perempuan tua itu, melainkan… benar, tak lain dan tak bukan, diri saya sendiri.
Pada perjalanan menuju toko kaos Jogja dan batik dan oleh-oleh, kami mengitari Alun-alun Jogja. Si Penarik Becak menjelaskan kepada saya betapa orang tidak pernah ada yang bisa berjalan lurus tepat ke Beringin Kembar sembari ditutup matanya. Padahal sudah ribuan kali orang mencoba. Saya jelaskan padanya bahwa saya termasuk orang yang setuju bahwa tidak segala sesuatu bisa dijelaskan dengan logika, dan bahwa misteri Tuhan melingkupi segala sesuatu.
Tapi selepas itu, bayangan si nenek tua kembali menghunjam hati saya. Kemana anak-anaknya? Kenapa dia masih harus berjualan? Tiba-tiba ‘rasa syukur’ saya karena orang tua saya sudah meninggal kembali menemukan alasan yang menguatkan. Agar kau tidak salah sangka, saya selalu bersyukur atas kepergian kedua orang tua saya di saat masih muda, karena saya tahu mereka akan merasa amat tersiksa dengan pahit getir hidup yang harus saya jalani. Terlebih bagi ibu. Dia selalu menarik rasa sakit semua anaknya ke dalam dirinya sendiri, dan oleh karena itu dia divonis menderita berbagai macam penyakit selama bertahun-tahun.
Saya bersyukur Allah memanggilnya lebih cepat karena itu berarti beliau tidak harus merasakan rasa sakit saya dan beliau bisa mendoakan saya lebih hebat.
Alasan itu kini menguat berkat kehadiran si nenek penjual buah. Alasan prihal apa? Prihal janji Tuhan bahwa “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan kepadamu” adalah benar. Bahwa doa, adalah senjata orang-orang muslim.
Dan kehadiran si nenek mengingatkan saya pada doa orang tua saya yang terlupakan—barangkali tidak hanya oleh saya dan kakak-kakak saya, tetapi bahkan oleh kedua orangtua saya sendiri. Doa yang dikabulkan oleh Allah dengan memanggil kedua orang tua saya di saat keduanya belum sampai 80 tahun. Ayah meninggal di usia 75 tahun-an, ibu di usia 63 tahun-an.
Doa apa itu?
Ketika saya berumur 8 atau 9 tahun, dan masih tinggal bersama kakek dari pihak ibu, nenek dari pihak Ayah dirawat di rumah Ayah. Waktu itu, beliau sakit menahun sampai kencing dan buang air besar di tempat tidur. Ayah dan Ibu dan kakak-kakak saya merawat telaten, kendati saya, sebagai seorang pengamat sejak kecil, selalu terganggu oleh pikiran tentang “Apakah mereka semua ikhlas merawat nenek” dan “Jika ayah dan ibu saya nanti tua dan sakit-sakitan seperti ini, apakah saya mampu merawat mereka seperti ayah saya merawat nenek?”
Pada hari-hari yang terasa panjang itu, suatu kali, entah ayah entah ibu, pernah berkata kepada saya bahwa dia tidak ingin hidup sampai setua itu karena dia tidak mau menyusahkan kami, anak-anaknya.
Dan nyatanya memang demikian.
Selama sakit, ayah tidak pernah sampai kencing dan buang air besar di tempat tidur, sehingga kami tidak direpotkan. Ayah bahkan meninggal dengan masih memendam rencana berangkat berhaji lagi. Ibu saya lebih luar biasa. Terbiasa sakit bertahun-tahun, ibu saya meninggal sekira 10 jam setelah masuk rumah sakit Hermina. Tanpa membuat kami cemas menahun karena ibu harus menanggung sakit berlama-lama sebelum meninggal. Ibu hanya koma dan lanjut meninggal. Dalam senyum yang selalu membikin saya terduduk haru karena satu jam sebelumnya dokter bilang kondisi ibu membaik.
Bertahun-tahun saya percaya bahwa orang tua saya meninggal tepat ketika mimpi terakhir mereka tercapai. Tapi berkat nenek penjual buah itu, Tuhan menolong saya untuk lebih memahami bahwa Dia memberi kesempatan kedua orang tua saya untuk menggenapkan mimpi-mimpi mereka sebelum Dia mengabulkan doa mereka dahulu kala: ingin meninggal sebelum menjadi terlalu tua sehingga terlalu merepotkan anak-anaknya.
Kendati bagi kami, bagi saya, itu berarti kehilangan kesempatan membaktikan dan mensucikan tangan dan kaki dan keringat dan hati dari segenap dosa, dari semua khilaf, serta membuka lebih banyak pintu menuju surga.
Karena ridha Tuhan ada pada ridha orang tua.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: