Arsip

Archive for Juli, 2012

Telepon Salah Sambung

Karena OSPEK itu ibarat telepon.
Ia hanya sekedar ‘alat’ yang punya tujuan dasar serta fungsi, tapi bisa difungsikan untuk tujuan yang sepenuhnya hak preogratif manusia. Misalkan, telepon itu kan dibikin untuk tujuan connecting people, menghubungkan manusia dengan manusia, tapi toh bisa difungsikan juga untuk connecting manusia dengan internet. Salah? Tidak juga, karena telepon hanya alat dan manusia punya kuasa penuh.
Begitu juga dengan OSPEK. Dia punya 8 tujuan dasar dan fungsi yang mahaluhur, tapi toh dalam implementasi bisa melenceng jauh dari mistar kesemestian. OSPEK bertujuan antara lain agar:
(1) mahasiswa baru memahami setting sosial serta kondisi objektif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(2) mahasiswa baru memahami peran dan fungsinya sebagai bagian dari suatu masyarakat;
(3) mahasiswa baru menyadari tanggung jawab sosialnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(4) mahasiswa sebagai insan akademik;
(5) mahasiswa sebagai agent of social change;
(6) memahami kampus sebagai garda ilmiah atau lingkungan akademik;
(7) memahami kejurusan atau keprodian serta tugas dan fungsinya;
(8) mengetahui lembaga-lembaga kemahasiswaan di tingkat universitas maupun fakultas serta sejarah perkembangannya;
dan berfungsi untuk menatar, melatih, dan menggembleng (maha)siswa untuk menjadi pribadi yang tangguh, bermental baja, serta cerdas tapi tidak sok tahu. Apa dalam pelaksanaan semua itu terpenuhi? Tidak juga. Karena OSPEK hanyalah alat, sedangkan senior punya kuasa penuh.
Kuasa penuh?
Iya.
Dalam hal apa?
Implementasi.

Implementasi
Karena tujuan boleh sama berdelapan, fungsi boleh sama untuk menatar, tapi implementasi bisa jauh saling berbeda—bahkan terkadang, bertolak belakang.
Lho, kok bisa?
Karena interpretasi. Pemaknaan. Penafsiran. Pada hal-hal yang normatif dan umum, penjabaran pada detail bisa beraneka rupa seperti jalan menuju Roma. Seperti perintah untuk shalat saja bisa menghasilkan penafsiran yang berbeda-beda—dalam konteks tata cara pelaksanaannya.
Seperti telepon.
Telepon tetaplah telepon. Tapi untuk dapat berfungsi sesuai fungsi dasar dan tujuan ia dikreasikan oleh manusia, ia punya berbagai jalan. Untuk berfungsi sebagai penyambung seseorang dengan rumah sakit, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka. Untuk berfungsi menyambungkan saluran ke si pacar, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka yang khusus.
Kesemuanya bersifat korespondensial.
14017 misalnya, hanya akan menjadi jalan yang benar, jika yang Anda tuju adalah BRI. Sebaliknya, 14017 akan menjadi jalan yang sesat jika yang Anda tuju adalah layanan siap-antar Mc Donald.
Padahal bedanya sedikit saja. Hanya pada dua angka terakhir. Layanan call center BRI pada jalur 14017, sedangkan layanan siap-antar Mc Donald pada 14045. Nah, kalau beda dua angka saja bisa melahirkan tujuan yang jauh berbeda, apalagi kalau beda seluruhnya yak?
Tapi sekali lagi, telepon tetaplah telepon. Ia hanya sebatas alat.
OSPEK juga tetaplah sebatas alat.
Alat untuk menyampaikan tujuan dan fungsi ia dikreasikan oleh manusia: dalam rangka menjadikan calon mahasiswa bermental baja sehingga mampu menjadi agen perubahan. Siswa yang berstatus maha. Kelas terpelajar. Pelopor dan pembangun. Pencerdas kehidupan bangsa. Pengontrol sosial politik. Penyambung lidah aspirasi masyarakat awam. Oposan tulen.
Tapi dalam mencapai tujuan tersebut, toh implementasinya juga mewujud dalam berbagai cara, dalam berbagai jalan—walaupun secara keseluruhan masih memiliki sederet kesamaan. Misalnya: keharusan mengenakan kostum yang aneh dan konyol, memakai atribut yang dibuat-buat, bullying, tugas yang menumpuk, hukuman dan bentakan, dan lain-lain, dan lain-lain.
Apa itu salah?
Bergantung. Mana sebetulnya yang dituju oleh panitia OSPEK selaku ‘Pemilik Telepon’, apakah kantor polisi ataukah rumah sakit jiwa, apakah sang kekasih ataukah mantan yang terlanjur menikah dengan orang lain? Detail-detail teknis itu ibarat nomor-nomor. Ketika dia dikonfigurasikan, dikombinasikan, maka jadilah ‘nomor telepon’. Perpaduan detail-teknis yang dipilih penyelenggara OSPEK akan menentukan ke arah mana sebetulnya OSPEK ini mengarah—menuju rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?
Oleh karena satu nomor saja yang salah bisa membawa saluran ke antah barantah, maka proses pengkonfigurasian angka-angka ini—atau dalam mudahnya: penafsiran dan pengimplementasian tujuan dasar dan fungsi luhur OSPEK—mestilah dilakukan dengan seksama, penuh pertimbangan, dan sepenuh-penuhnya demi penegakan keadilan.

Kostum
Tapi mari kita lupakan sejenak tujuan dan fungsi besar dari OSPEK. Kita mengarah terlebih dahulu pada hal kecil semisal: pengenalan civitas akademika dan kampus. Toh tujuan ini juga sering tak kesampaian karena penyelenggara OSPEK lebih berfokus pada ‘kedisiplinan’—atau mari sebut saja seperti itu. Akibatnya, yang jadi perhatian utama penyelenggara OSPEK hanya kostum dan tugas-makanan yang harus dibawa besok hari—karena itulah kiranya poin utama dari ‘kedisiplinan’ tersebut: kostum yang aneh dan makanan yang mesti ditafsirkan dari kode-kode yang diberikan panitia pada hari sebelumnya.
Kostumnya biasanya menganut mazhab Lady Gaga: kaos kaki musti dua warna, tali sepatu mesti diganti rapia, tas mesti dari karung goni, topi dari bola yang dipotong setengah, papan nama dari karton, pita warna-warni ngejreng. Kalau ada yang kurang, bolehlah mereka dibentak dan dihukum push up, disuruh lari, dipermalukan di hadapan mahasiswa baru yang lain. Asal jangan pulangkan saja aku pada ibuku. Atau kalau mereka salah membawa makanan karena salah menafsir kode yang dikasih kakak senior, maka terimalah nasib jadi bulan-bulanan. Ditertawakan dan dipermalukan.
Berfokus pada prioritas itu saja yang utama.
Tak jadi soal apakah mahasiswa baru sebetulnya betul-betul tahu ataukah tidak letak kantor rektorat atau nama dosen mata kuliah. Toh itu nanti bisa menyusul. Yang penting mereka dibekali olok-olok sebagai inagurasi. Biar kerasa naik tingkatnya. Biar kerasa menjadi mahasiswanya.
“Karena dulu kami juga digituin, kok!”
Nah, karena detail teknis adalah konfigurasi angka-angka pada telepon bernama OSPEK, maka kiranya muncul pertanyaan: jika detail teknisnya semisal di atas, ke manakah kira-kira saluran telepon ini akan menuju? Tempat sampah ataukah parit? Rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?

Cara, Bukan Niat
Tapi kan yang penting niatnya?
Itu dalih. Anies Baswedan saja bilang, “Niat itu urusan dia dengan Tuhan. Urusan dia dengan kita ya perbuatannya.” Manusia tidak bisa menghukum manusia lain karena niat, karena urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun soal rasa lidah tak pernah bohong.
Pada perbuatannyalah kita bereaksi, kita merespon.
Boleh jadi niat penyelenggara OSPEK adalah baik, demi tujuan dan fungsi yang diamanatkan, tapi jika dalam penyelenggaraannya, malah memicu hal yang kontradiktif, apakah kita tak boleh menentang hanya karena niat mereka baik?
Pada cara kita merespon. Pada perbuatan. Terlepas dari niat mereka baik ataukah buruk. Karena seseorang yang berniat menelepon Mawar toh bisa saja jadi salah sambung andaikan nomor yang dia pijit malah nomor Afika. Mau dia ikhlas mau dia nggak, mau dia sengaja ataupun tidak sengaja, mau dia iseng ataupun emang niat ganggu, toh kita tak pernah tahu. Karena sekali lagi, urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun dalamnya Lautan Hindia dapat diselami. Aiiish kok jadi ke dangdut?
Pada perbuatannyalah kita merespon. Pada kenyataan bahwa dia salah sambung. Itu saja. Itu poinnya. Mudah kan?
Nah, pada OSPEK, pemfokusan pada kostum dan kekerasan verbal non verbal adalah perbuatan, adalah cara yang dipilih. Terlepas dari apakah niatnya baik atau bukan, cara ini mesti diretrospeksi ulang. Apakah memang tepat dalam menunjang ketercapaian fungsi dan tujuan luhur OSPEK ataukah justru sebaliknya. Apakah dengan berkostum gila, seseorang sudah pasti akan mampu menjadi agent of change yang tangguh? Apakah dengan harus menerjemahkan kode makanan, si mahasiswa baru akan mampu menebak di mana WC kampus? Apakah dengan diolok-olok dipermalukan seseorang malah akan bertransformasi menjadi insan akademik?
Sampah melahirkan sampah. Kecuali ditransformasi menjadi pupuk atau kerajinan daur ulang. Artinya, kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Berkat duplikasi dan pewarisan kebiasaan buruk yang menahun—dari tahun ke tahun. Tagline untuk peristiwa semacam ini khas sekali, “Dulu juga saya digituin sama senior, jadi sekarang giliran saya.”
Inilah, sekali lagi, inilah kasus “salah sambung” itu.

Tiga Sebab
Ada tiga sebab kenapa seseorang bisa salah sambung. Pertama, karena dia tidak tahu nomor yang hendak dituju. Orang jenis ini terbagi ke dalam tiga kategori:
(1) orang yang tidak tahu dan tidak (mau) mencari tahu,
(2) orang yang tidak tahu tapi malas (mencari) tahu, dan
(3) orang yang tidak tahu tapi mau (mencari) tahu.
Poin pertama. Pada konteks OSPEK, orang-orang semacam ini adalah kakak senior yang jangankan mampu menjabarkan fungsi dan tujuan OSPEK dengan baik, kenal kedua makhluk itu saja tidak. Masih mending kalau dia mau mencari tahu agar tidak salah sambung, lha kalau malah main gowes saja tanpa hirau, bagaimana? Parahnya, orang-orang jenis ini seringkali sok tahu dan merasa paling benar. Masih mending kalau mau mendengarkan masukan dan kritik, lha kalau malah dilawan dengan kontak fisik kan gawat!
Kedua, karena dia tidak sengaja memencet nomor yang salah. Ketidaksengajaan ini bisa diakibatkan oleh:
(1) keteledoran—sikap tidak hati-hati—dan
(2) kekhilafan.
Penafsiran adalah murni kebebasan individual. Pada proses ini human error adalah niscaya. Itu sebabnya apa yang kita percayai sebagai benar pada hari ini, bisa jadi terasa meragukan esok lusa—seiring bertambahnya pengetahuan dan sudut pandang kita. Kakak senior pada tipe ini adalah orang yang tahu betul apa fungsi dan tujuan OSPEK, harus seperti apa sebetulnya jalan yang dia tempuh, tapi sekali dua kali atas dasar human error dia melakukan kesalahan sehingga OSPEK tercederai kredibilitasnya. Atas dasar apa dia bersalah? Atas dasar, misalnya, ketidakmampuan melawan mainstream.
Ketiga, karena dia sengaja memencet nomor yang salah. Entah karena motif iseng-iseng berhadiah gebetan ataupun sekedar ingin mengganggu orang lain. Dalam konteks OSPEK, orang-orang jenis ini mengusung misi balas dendam. Misi pemasti maba tahun ini merasakan sesuatu yang dia rasakan saat menjadi maba—di tahun-tahun sebelumnya.

Penutup
Kalau sudah begitu kan jadi lingkaran setan. Semua orang saling mewariskan kekerasan. Pada akhirnya yang termaknai dari OSPEK hanya kostum aneh, bullying, dan kode untuk makanan dan tugas lain yang harus dikumpul keesokan harinya. Sisanya tidak ada.
Mereka yang pro OSPEK menilai fenomena ini sebagai:
(1) pertanda bahwa OSPEK sejatinya memang harus dikondisikan untuk membuat maba tidak nyaman sehingga bisa menggembleng mental dan karakter mereka. Seperti keris yang hanya akan menjadi keris jika digembleng di dalam bara api. Dan,
(2) karena hanya dengan pengondisian ketidaknyamanan itulah semua mahasiswa baru lintas kota lintas provinsi bisa lebih cepat saling kenal, bisa lebih cepat bersatu. Ibarat Indonesia yang (kembali) dipersatukan karena sama-sama terdesak oleh penjajahan.
Tapi yang kontra punya dalih: sampah hanya akan menghasilkan sampah. Kekerasan yang dipelihara hanya akan melestarikan pewarisan budaya kekerasan. Sekali lagi lingkaran setan. Seperti kasus beberapa tahun lalu di IPDN. Tentu kematian adalah harga yang terlalu mahal.
Apakah kita masih mau hal demikian terulang?
Telepon Salah Sambung

Karena OSPEK itu ibarat telepon.
Ia hanya sekedar ‘alat’ yang punya tujuan dasar serta fungsi, tapi bisa difungsikan untuk tujuan yang sepenuhnya hak preogratif manusia. Misalkan, telepon itu kan dibikin untuk tujuan connecting people, menghubungkan manusia dengan manusia, tapi toh bisa difungsikan juga untuk connecting manusia dengan internet. Salah? Tidak juga, karena telepon hanya alat dan manusia punya kuasa penuh.
Begitu juga dengan OSPEK. Dia punya 8 tujuan dasar dan fungsi yang mahaluhur, tapi toh dalam implementasi bisa melenceng jauh dari mistar kesemestian. OSPEK bertujuan antara lain agar:
(1) mahasiswa baru memahami setting sosial serta kondisi objektif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(2) mahasiswa baru memahami peran dan fungsinya sebagai bagian dari suatu masyarakat;
(3) mahasiswa baru menyadari tanggung jawab sosialnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(4) mahasiswa sebagai insan akademik;
(5) mahasiswa sebagai agent of social change;
(6) memahami kampus sebagai garda ilmiah atau lingkungan akademik;
(7) memahami kejurusan atau keprodian serta tugas dan fungsinya;
(8) mengetahui lembaga-lembaga kemahasiswaan di tingkat universitas maupun fakultas serta sejarah perkembangannya;
dan berfungsi untuk menatar, melatih, dan menggembleng (maha)siswa untuk menjadi pribadi yang tangguh, bermental baja, serta cerdas tapi tidak sok tahu. Apa dalam pelaksanaan semua itu terpenuhi? Tidak juga. Karena OSPEK hanyalah alat, sedangkan senior punya kuasa penuh.
Kuasa penuh?
Iya.
Dalam hal apa?
Implementasi.

Implementasi
Karena tujuan boleh sama berdelapan, fungsi boleh sama untuk menatar, tapi implementasi bisa jauh saling berbeda—bahkan terkadang, bertolak belakang.
Lho, kok bisa?
Karena interpretasi. Pemaknaan. Penafsiran. Pada hal-hal yang normatif dan umum, penjabaran pada detail bisa beraneka rupa seperti jalan menuju Roma. Seperti perintah untuk shalat saja bisa menghasilkan penafsiran yang berbeda-beda—dalam konteks tata cara pelaksanaannya.
Seperti telepon.
Telepon tetaplah telepon. Tapi untuk dapat berfungsi sesuai fungsi dasar dan tujuan ia dikreasikan oleh manusia, ia punya berbagai jalan. Untuk berfungsi sebagai penyambung seseorang dengan rumah sakit, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka. Untuk berfungsi menyambungkan saluran ke si pacar, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka yang khusus.
Kesemuanya bersifat korespondensial.
14017 misalnya, hanya akan menjadi jalan yang benar, jika yang Anda tuju adalah BRI. Sebaliknya, 14017 akan menjadi jalan yang sesat jika yang Anda tuju adalah layanan siap-antar Mc Donald.
Padahal bedanya sedikit saja. Hanya pada dua angka terakhir. Layanan call center BRI pada jalur 14017, sedangkan layanan siap-antar Mc Donald pada 14045. Nah, kalau beda dua angka saja bisa melahirkan tujuan yang jauh berbeda, apalagi kalau beda seluruhnya yak?
Tapi sekali lagi, telepon tetaplah telepon. Ia hanya sebatas alat.
OSPEK juga tetaplah sebatas alat.
Alat untuk menyampaikan tujuan dan fungsi ia dikreasikan oleh manusia: dalam rangka menjadikan calon mahasiswa bermental baja sehingga mampu menjadi agen perubahan. Siswa yang berstatus maha. Kelas terpelajar. Pelopor dan pembangun. Pencerdas kehidupan bangsa. Pengontrol sosial politik. Penyambung lidah aspirasi masyarakat awam. Oposan tulen.
Tapi dalam mencapai tujuan tersebut, toh implementasinya juga mewujud dalam berbagai cara, dalam berbagai jalan—walaupun secara keseluruhan masih memiliki sederet kesamaan. Misalnya: keharusan mengenakan kostum yang aneh dan konyol, memakai atribut yang dibuat-buat, bullying, tugas yang menumpuk, hukuman dan bentakan, dan lain-lain, dan lain-lain.
Apa itu salah?
Bergantung. Mana sebetulnya yang dituju oleh panitia OSPEK selaku ‘Pemilik Telepon’, apakah kantor polisi ataukah rumah sakit jiwa, apakah sang kekasih ataukah mantan yang terlanjur menikah dengan orang lain? Detail-detail teknis itu ibarat nomor-nomor. Ketika dia dikonfigurasikan, dikombinasikan, maka jadilah ‘nomor telepon’. Perpaduan detail-teknis yang dipilih penyelenggara OSPEK akan menentukan ke arah mana sebetulnya OSPEK ini mengarah—menuju rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?
Oleh karena satu nomor saja yang salah bisa membawa saluran ke antah barantah, maka proses pengkonfigurasian angka-angka ini—atau dalam mudahnya: penafsiran dan pengimplementasian tujuan dasar dan fungsi luhur OSPEK—mestilah dilakukan dengan seksama, penuh pertimbangan, dan sepenuh-penuhnya demi penegakan keadilan.

Kostum
Tapi mari kita lupakan sejenak tujuan dan fungsi besar dari OSPEK. Kita mengarah terlebih dahulu pada hal kecil semisal: pengenalan civitas akademika dan kampus. Toh tujuan ini juga sering tak kesampaian karena penyelenggara OSPEK lebih berfokus pada ‘kedisiplinan’—atau mari sebut saja seperti itu. Akibatnya, yang jadi perhatian utama penyelenggara OSPEK hanya kostum dan tugas-makanan yang harus dibawa besok hari—karena itulah kiranya poin utama dari ‘kedisiplinan’ tersebut: kostum yang aneh dan makanan yang mesti ditafsirkan dari kode-kode yang diberikan panitia pada hari sebelumnya.
Kostumnya biasanya menganut mazhab Lady Gaga: kaos kaki musti dua warna, tali sepatu mesti diganti rapia, tas mesti dari karung goni, topi dari bola yang dipotong setengah, papan nama dari karton, pita warna-warni ngejreng. Kalau ada yang kurang, bolehlah mereka dibentak dan dihukum push up, disuruh lari, dipermalukan di hadapan mahasiswa baru yang lain. Asal jangan pulangkan saja aku pada ibuku. Atau kalau mereka salah membawa makanan karena salah menafsir kode yang dikasih kakak senior, maka terimalah nasib jadi bulan-bulanan. Ditertawakan dan dipermalukan.
Berfokus pada prioritas itu saja yang utama.
Tak jadi soal apakah mahasiswa baru sebetulnya betul-betul tahu ataukah tidak letak kantor rektorat atau nama dosen mata kuliah. Toh itu nanti bisa menyusul. Yang penting mereka dibekali olok-olok sebagai inagurasi. Biar kerasa naik tingkatnya. Biar kerasa menjadi mahasiswanya.
“Karena dulu kami juga digituin, kok!”
Nah, karena detail teknis adalah konfigurasi angka-angka pada telepon bernama OSPEK, maka kiranya muncul pertanyaan: jika detail teknisnya semisal di atas, ke manakah kira-kira saluran telepon ini akan menuju? Tempat sampah ataukah parit? Rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?

Cara, Bukan Niat
Tapi kan yang penting niatnya?
Itu dalih. Anies Baswedan saja bilang, “Niat itu urusan dia dengan Tuhan. Urusan dia dengan kita ya perbuatannya.” Manusia tidak bisa menghukum manusia lain karena niat, karena urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun soal rasa lidah tak pernah bohong.
Pada perbuatannyalah kita bereaksi, kita merespon.
Boleh jadi niat penyelenggara OSPEK adalah baik, demi tujuan dan fungsi yang diamanatkan, tapi jika dalam penyelenggaraannya, malah memicu hal yang kontradiktif, apakah kita tak boleh menentang hanya karena niat mereka baik?
Pada cara kita merespon. Pada perbuatan. Terlepas dari niat mereka baik ataukah buruk. Karena seseorang yang berniat menelepon Mawar toh bisa saja jadi salah sambung andaikan nomor yang dia pijit malah nomor Afika. Mau dia ikhlas mau dia nggak, mau dia sengaja ataupun tidak sengaja, mau dia iseng ataupun emang niat ganggu, toh kita tak pernah tahu. Karena sekali lagi, urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun dalamnya Lautan Hindia dapat diselami. Aiiish kok jadi ke dangdut?
Pada perbuatannyalah kita merespon. Pada kenyataan bahwa dia salah sambung. Itu saja. Itu poinnya. Mudah kan?
Nah, pada OSPEK, pemfokusan pada kostum dan kekerasan verbal non verbal adalah perbuatan, adalah cara yang dipilih. Terlepas dari apakah niatnya baik atau bukan, cara ini mesti diretrospeksi ulang. Apakah memang tepat dalam menunjang ketercapaian fungsi dan tujuan luhur OSPEK ataukah justru sebaliknya. Apakah dengan berkostum gila, seseorang sudah pasti akan mampu menjadi agent of change yang tangguh? Apakah dengan harus menerjemahkan kode makanan, si mahasiswa baru akan mampu menebak di mana WC kampus? Apakah dengan diolok-olok dipermalukan seseorang malah akan bertransformasi menjadi insan akademik?
Sampah melahirkan sampah. Kecuali ditransformasi menjadi pupuk atau kerajinan daur ulang. Artinya, kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Berkat duplikasi dan pewarisan kebiasaan buruk yang menahun—dari tahun ke tahun. Tagline untuk peristiwa semacam ini khas sekali, “Dulu juga saya digituin sama senior, jadi sekarang giliran saya.”
Inilah, sekali lagi, inilah kasus “salah sambung” itu.

Tiga Sebab
Ada tiga sebab kenapa seseorang bisa salah sambung. Pertama, karena dia tidak tahu nomor yang hendak dituju. Orang jenis ini terbagi ke dalam tiga kategori:
(1) orang yang tidak tahu dan tidak (mau) mencari tahu,
(2) orang yang tidak tahu tapi malas (mencari) tahu, dan
(3) orang yang tidak tahu tapi mau (mencari) tahu.
Poin pertama. Pada konteks OSPEK, orang-orang semacam ini adalah kakak senior yang jangankan mampu menjabarkan fungsi dan tujuan OSPEK dengan baik, kenal kedua makhluk itu saja tidak. Masih mending kalau dia mau mencari tahu agar tidak salah sambung, lha kalau malah main gowes saja tanpa hirau, bagaimana? Parahnya, orang-orang jenis ini seringkali sok tahu dan merasa paling benar. Masih mending kalau mau mendengarkan masukan dan kritik, lha kalau malah dilawan dengan kontak fisik kan gawat!
Kedua, karena dia tidak sengaja memencet nomor yang salah. Ketidaksengajaan ini bisa diakibatkan oleh:
(1) keteledoran—sikap tidak hati-hati—dan
(2) kekhilafan.
Penafsiran adalah murni kebebasan individual. Pada proses ini human error adalah niscaya. Itu sebabnya apa yang kita percayai sebagai benar pada hari ini, bisa jadi terasa meragukan esok lusa—seiring bertambahnya pengetahuan dan sudut pandang kita. Kakak senior pada tipe ini adalah orang yang tahu betul apa fungsi dan tujuan OSPEK, harus seperti apa sebetulnya jalan yang dia tempuh, tapi sekali dua kali atas dasar human error dia melakukan kesalahan sehingga OSPEK tercederai kredibilitasnya. Atas dasar apa dia bersalah? Atas dasar, misalnya, ketidakmampuan melawan mainstream.
Ketiga, karena dia sengaja memencet nomor yang salah. Entah karena motif iseng-iseng berhadiah gebetan ataupun sekedar ingin mengganggu orang lain. Dalam konteks OSPEK, orang-orang jenis ini mengusung misi balas dendam. Misi pemasti maba tahun ini merasakan sesuatu yang dia rasakan saat menjadi maba—di tahun-tahun sebelumnya.

Penutup
Kalau sudah begitu kan jadi lingkaran setan. Semua orang saling mewariskan kekerasan. Pada akhirnya yang termaknai dari OSPEK hanya kostum aneh, bullying, dan kode untuk makanan dan tugas lain yang harus dikumpul keesokan harinya. Sisanya tidak ada.
Mereka yang pro OSPEK menilai fenomena ini sebagai:
(1) pertanda bahwa OSPEK sejatinya memang harus dikondisikan untuk membuat maba tidak nyaman sehingga bisa menggembleng mental dan karakter mereka. Seperti keris yang hanya akan menjadi keris jika digembleng di dalam bara api. Dan,
(2) karena hanya dengan pengondisian ketidaknyamanan itulah semua mahasiswa baru lintas kota lintas provinsi bisa lebih cepat saling kenal, bisa lebih cepat bersatu. Ibarat Indonesia yang (kembali) dipersatukan karena sama-sama terdesak oleh penjajahan.
Tapi yang kontra punya dalih: sampah hanya akan menghasilkan sampah. Kekerasan yang dipelihara hanya akan melestarikan pewarisan budaya kekerasan. Sekali lagi lingkaran setan. Seperti kasus beberapa tahun lalu di IPDN. Tentu kematian adalah harga yang terlalu mahal.
Apakah kita masih mau hal demikian terulang?
Telepon Salah Sambung

Karena OSPEK itu ibarat telepon.
Ia hanya sekedar ‘alat’ yang punya tujuan dasar serta fungsi, tapi bisa difungsikan untuk tujuan yang sepenuhnya hak preogratif manusia. Misalkan, telepon itu kan dibikin untuk tujuan connecting people, menghubungkan manusia dengan manusia, tapi toh bisa difungsikan juga untuk connecting manusia dengan internet. Salah? Tidak juga, karena telepon hanya alat dan manusia punya kuasa penuh.
Begitu juga dengan OSPEK. Dia punya 8 tujuan dasar dan fungsi yang mahaluhur, tapi toh dalam implementasi bisa melenceng jauh dari mistar kesemestian. OSPEK bertujuan antara lain agar:
(1) mahasiswa baru memahami setting sosial serta kondisi objektif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(2) mahasiswa baru memahami peran dan fungsinya sebagai bagian dari suatu masyarakat;
(3) mahasiswa baru menyadari tanggung jawab sosialnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
(4) mahasiswa sebagai insan akademik;
(5) mahasiswa sebagai agent of social change;
(6) memahami kampus sebagai garda ilmiah atau lingkungan akademik;
(7) memahami kejurusan atau keprodian serta tugas dan fungsinya;
(8) mengetahui lembaga-lembaga kemahasiswaan di tingkat universitas maupun fakultas serta sejarah perkembangannya;
dan berfungsi untuk menatar, melatih, dan menggembleng (maha)siswa untuk menjadi pribadi yang tangguh, bermental baja, serta cerdas tapi tidak sok tahu. Apa dalam pelaksanaan semua itu terpenuhi? Tidak juga. Karena OSPEK hanyalah alat, sedangkan senior punya kuasa penuh.
Kuasa penuh?
Iya.
Dalam hal apa?
Implementasi.

Implementasi
Karena tujuan boleh sama berdelapan, fungsi boleh sama untuk menatar, tapi implementasi bisa jauh saling berbeda—bahkan terkadang, bertolak belakang.
Lho, kok bisa?
Karena interpretasi. Pemaknaan. Penafsiran. Pada hal-hal yang normatif dan umum, penjabaran pada detail bisa beraneka rupa seperti jalan menuju Roma. Seperti perintah untuk shalat saja bisa menghasilkan penafsiran yang berbeda-beda—dalam konteks tata cara pelaksanaannya.
Seperti telepon.
Telepon tetaplah telepon. Tapi untuk dapat berfungsi sesuai fungsi dasar dan tujuan ia dikreasikan oleh manusia, ia punya berbagai jalan. Untuk berfungsi sebagai penyambung seseorang dengan rumah sakit, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka. Untuk berfungsi menyambungkan saluran ke si pacar, ia punya jalan berupa konfigurasi beberapa satuan angka yang khusus.
Kesemuanya bersifat korespondensial.
14017 misalnya, hanya akan menjadi jalan yang benar, jika yang Anda tuju adalah BRI. Sebaliknya, 14017 akan menjadi jalan yang sesat jika yang Anda tuju adalah layanan siap-antar Mc Donald.
Padahal bedanya sedikit saja. Hanya pada dua angka terakhir. Layanan call center BRI pada jalur 14017, sedangkan layanan siap-antar Mc Donald pada 14045. Nah, kalau beda dua angka saja bisa melahirkan tujuan yang jauh berbeda, apalagi kalau beda seluruhnya yak?
Tapi sekali lagi, telepon tetaplah telepon. Ia hanya sebatas alat.
OSPEK juga tetaplah sebatas alat.
Alat untuk menyampaikan tujuan dan fungsi ia dikreasikan oleh manusia: dalam rangka menjadikan calon mahasiswa bermental baja sehingga mampu menjadi agen perubahan. Siswa yang berstatus maha. Kelas terpelajar. Pelopor dan pembangun. Pencerdas kehidupan bangsa. Pengontrol sosial politik. Penyambung lidah aspirasi masyarakat awam. Oposan tulen.
Tapi dalam mencapai tujuan tersebut, toh implementasinya juga mewujud dalam berbagai cara, dalam berbagai jalan—walaupun secara keseluruhan masih memiliki sederet kesamaan. Misalnya: keharusan mengenakan kostum yang aneh dan konyol, memakai atribut yang dibuat-buat, bullying, tugas yang menumpuk, hukuman dan bentakan, dan lain-lain, dan lain-lain.
Apa itu salah?
Bergantung. Mana sebetulnya yang dituju oleh panitia OSPEK selaku ‘Pemilik Telepon’, apakah kantor polisi ataukah rumah sakit jiwa, apakah sang kekasih ataukah mantan yang terlanjur menikah dengan orang lain? Detail-detail teknis itu ibarat nomor-nomor. Ketika dia dikonfigurasikan, dikombinasikan, maka jadilah ‘nomor telepon’. Perpaduan detail-teknis yang dipilih penyelenggara OSPEK akan menentukan ke arah mana sebetulnya OSPEK ini mengarah—menuju rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?
Oleh karena satu nomor saja yang salah bisa membawa saluran ke antah barantah, maka proses pengkonfigurasian angka-angka ini—atau dalam mudahnya: penafsiran dan pengimplementasian tujuan dasar dan fungsi luhur OSPEK—mestilah dilakukan dengan seksama, penuh pertimbangan, dan sepenuh-penuhnya demi penegakan keadilan.

Kostum
Tapi mari kita lupakan sejenak tujuan dan fungsi besar dari OSPEK. Kita mengarah terlebih dahulu pada hal kecil semisal: pengenalan civitas akademika dan kampus. Toh tujuan ini juga sering tak kesampaian karena penyelenggara OSPEK lebih berfokus pada ‘kedisiplinan’—atau mari sebut saja seperti itu. Akibatnya, yang jadi perhatian utama penyelenggara OSPEK hanya kostum dan tugas-makanan yang harus dibawa besok hari—karena itulah kiranya poin utama dari ‘kedisiplinan’ tersebut: kostum yang aneh dan makanan yang mesti ditafsirkan dari kode-kode yang diberikan panitia pada hari sebelumnya.
Kostumnya biasanya menganut mazhab Lady Gaga: kaos kaki musti dua warna, tali sepatu mesti diganti rapia, tas mesti dari karung goni, topi dari bola yang dipotong setengah, papan nama dari karton, pita warna-warni ngejreng. Kalau ada yang kurang, bolehlah mereka dibentak dan dihukum push up, disuruh lari, dipermalukan di hadapan mahasiswa baru yang lain. Asal jangan pulangkan saja aku pada ibuku. Atau kalau mereka salah membawa makanan karena salah menafsir kode yang dikasih kakak senior, maka terimalah nasib jadi bulan-bulanan. Ditertawakan dan dipermalukan.
Berfokus pada prioritas itu saja yang utama.
Tak jadi soal apakah mahasiswa baru sebetulnya betul-betul tahu ataukah tidak letak kantor rektorat atau nama dosen mata kuliah. Toh itu nanti bisa menyusul. Yang penting mereka dibekali olok-olok sebagai inagurasi. Biar kerasa naik tingkatnya. Biar kerasa menjadi mahasiswanya.
“Karena dulu kami juga digituin, kok!”
Nah, karena detail teknis adalah konfigurasi angka-angka pada telepon bernama OSPEK, maka kiranya muncul pertanyaan: jika detail teknisnya semisal di atas, ke manakah kira-kira saluran telepon ini akan menuju? Tempat sampah ataukah parit? Rumah sakit jiwa ataukah Istana Negara?

Cara, Bukan Niat
Tapi kan yang penting niatnya?
Itu dalih. Anies Baswedan saja bilang, “Niat itu urusan dia dengan Tuhan. Urusan dia dengan kita ya perbuatannya.” Manusia tidak bisa menghukum manusia lain karena niat, karena urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun soal rasa lidah tak pernah bohong.
Pada perbuatannyalah kita bereaksi, kita merespon.
Boleh jadi niat penyelenggara OSPEK adalah baik, demi tujuan dan fungsi yang diamanatkan, tapi jika dalam penyelenggaraannya, malah memicu hal yang kontradiktif, apakah kita tak boleh menentang hanya karena niat mereka baik?
Pada cara kita merespon. Pada perbuatan. Terlepas dari niat mereka baik ataukah buruk. Karena seseorang yang berniat menelepon Mawar toh bisa saja jadi salah sambung andaikan nomor yang dia pijit malah nomor Afika. Mau dia ikhlas mau dia nggak, mau dia sengaja ataupun tidak sengaja, mau dia iseng ataupun emang niat ganggu, toh kita tak pernah tahu. Karena sekali lagi, urusan hati hanya Tuhan yang benar-benar Tahu, walaupun dalamnya Lautan Hindia dapat diselami. Aiiish kok jadi ke dangdut?
Pada perbuatannyalah kita merespon. Pada kenyataan bahwa dia salah sambung. Itu saja. Itu poinnya. Mudah kan?
Nah, pada OSPEK, pemfokusan pada kostum dan kekerasan verbal non verbal adalah perbuatan, adalah cara yang dipilih. Terlepas dari apakah niatnya baik atau bukan, cara ini mesti diretrospeksi ulang. Apakah memang tepat dalam menunjang ketercapaian fungsi dan tujuan luhur OSPEK ataukah justru sebaliknya. Apakah dengan berkostum gila, seseorang sudah pasti akan mampu menjadi agent of change yang tangguh? Apakah dengan harus menerjemahkan kode makanan, si mahasiswa baru akan mampu menebak di mana WC kampus? Apakah dengan diolok-olok dipermalukan seseorang malah akan bertransformasi menjadi insan akademik?
Sampah melahirkan sampah. Kecuali ditransformasi menjadi pupuk atau kerajinan daur ulang. Artinya, kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Berkat duplikasi dan pewarisan kebiasaan buruk yang menahun—dari tahun ke tahun. Tagline untuk peristiwa semacam ini khas sekali, “Dulu juga saya digituin sama senior, jadi sekarang giliran saya.”
Inilah, sekali lagi, inilah kasus “salah sambung” itu.

Tiga Sebab
Ada tiga sebab kenapa seseorang bisa salah sambung. Pertama, karena dia tidak tahu nomor yang hendak dituju. Orang jenis ini terbagi ke dalam tiga kategori:
(1) orang yang tidak tahu dan tidak (mau) mencari tahu,
(2) orang yang tidak tahu tapi malas (mencari) tahu, dan
(3) orang yang tidak tahu tapi mau (mencari) tahu.
Poin pertama. Pada konteks OSPEK, orang-orang semacam ini adalah kakak senior yang jangankan mampu menjabarkan fungsi dan tujuan OSPEK dengan baik, kenal kedua makhluk itu saja tidak. Masih mending kalau dia mau mencari tahu agar tidak salah sambung, lha kalau malah main gowes saja tanpa hirau, bagaimana? Parahnya, orang-orang jenis ini seringkali sok tahu dan merasa paling benar. Masih mending kalau mau mendengarkan masukan dan kritik, lha kalau malah dilawan dengan kontak fisik kan gawat!
Kedua, karena dia tidak sengaja memencet nomor yang salah. Ketidaksengajaan ini bisa diakibatkan oleh:
(1) keteledoran—sikap tidak hati-hati—dan
(2) kekhilafan.
Penafsiran adalah murni kebebasan individual. Pada proses ini human error adalah niscaya. Itu sebabnya apa yang kita percayai sebagai benar pada hari ini, bisa jadi terasa meragukan esok lusa—seiring bertambahnya pengetahuan dan sudut pandang kita. Kakak senior pada tipe ini adalah orang yang tahu betul apa fungsi dan tujuan OSPEK, harus seperti apa sebetulnya jalan yang dia tempuh, tapi sekali dua kali atas dasar human error dia melakukan kesalahan sehingga OSPEK tercederai kredibilitasnya. Atas dasar apa dia bersalah? Atas dasar, misalnya, ketidakmampuan melawan mainstream.
Ketiga, karena dia sengaja memencet nomor yang salah. Entah karena motif iseng-iseng berhadiah gebetan ataupun sekedar ingin mengganggu orang lain. Dalam konteks OSPEK, orang-orang jenis ini mengusung misi balas dendam. Misi pemasti maba tahun ini merasakan sesuatu yang dia rasakan saat menjadi maba—di tahun-tahun sebelumnya.

Penutup
Kalau sudah begitu kan jadi lingkaran setan. Semua orang saling mewariskan kekerasan. Pada akhirnya yang termaknai dari OSPEK hanya kostum aneh, bullying, dan kode untuk makanan dan tugas lain yang harus dikumpul keesokan harinya. Sisanya tidak ada.
Mereka yang pro OSPEK menilai fenomena ini sebagai:
(1) pertanda bahwa OSPEK sejatinya memang harus dikondisikan untuk membuat maba tidak nyaman sehingga bisa menggembleng mental dan karakter mereka. Seperti keris yang hanya akan menjadi keris jika digembleng di dalam bara api. Dan,
(2) karena hanya dengan pengondisian ketidaknyamanan itulah semua mahasiswa baru lintas kota lintas provinsi bisa lebih cepat saling kenal, bisa lebih cepat bersatu. Ibarat Indonesia yang (kembali) dipersatukan karena sama-sama terdesak oleh penjajahan.
Tapi yang kontra punya dalih: sampah hanya akan menghasilkan sampah. Kekerasan yang dipelihara hanya akan melestarikan pewarisan budaya kekerasan. Sekali lagi lingkaran setan. Seperti kasus beberapa tahun lalu di IPDN. Tentu kematian adalah harga yang terlalu mahal.
Apakah kita masih mau hal demikian terulang?

Iklan

Nenek Penjual Buah dan Doa yang Terlupakan

Setelah sepagian mengistirahatkan badan selepas lelah naik kereta, kami berkeliling Jogja dengan becak. Mula-mula kami yang menentukan hendak ke mana, tapi toh becak di depan hotel lebih tahu ke mana kami harus menuju. Empat puluh ribu untuk berkeliling sesuka hati kami: ke Keraton, Alun-alun Jogja, beli oleh-oleh dan batik dan kaos Jogja. Pokoknya, ke manapun!
Akhirnya, kami setuju. Becak membawa kami masuk ke lingkungan Keraton. Karena siang itu sudah lewat pukul 1, maka kami hanya bisa berbelok ke Museum Keraton dan menikmati kereta kencana yang dipajang di seluruh sisi ruangan. Plus seribu rupiah tambahan untuk berfoto tanpa naik atau menyentuh benda-benda itu. Tak ada guide yang kami sewa, jadi kami hanya berkeliling seadanya.
Karena belum makan siang, sehabis dari Museum, becak berbalik arah, mengelilingi lapangan parkir kunjungan ke Keraton, dan berhenti di salah satu rumah makan Gudeg. Mengambil tempat duduk di ujung, nomor 14 kalau tidak salah, kami menunggu katalog pesanan datang.
Arifa menuliskan pesanan itu sementara saya menyerahkan pesanan kami ke pramusaji. Duduk kembali di lesehan ujung, kami berbincang beberapa hal. Ivi bertanya kepada saya bagaimana tadi interview di radio, dan saya bilang semuanya berjalan lancar. Gudeg yang kami pesan datang tak lama kemudian.
Kecuali saya, semua orang di meja ini memesan Gudeg sayap ayam. Saya sendiri tidak tahu apa Gudeg Orak-Arik, tapi saya pikir akan seru menikmati makanan yang kita tahu namanya tapi belum tahu seperti apa rasanya. Dan benar saja. Gudeg didominasi oleh rasa manis sampai-sampai teh manis pun terasa hambar.
Kendati terlihat sedikit saat pertama kali disajikan, toh kami kekenyangan. Ivi menjelaskan kepada kami bahwa makanan di Jawa Timur memang rata-rata manis. Saya mengamini dengan ingat teh manis yang disajikan selama saya dalam perjalanan darat menuju Bali.
Baru selesai kami makan, dengan masih ditemani pengamen yang menyanyikan beberapa lagu di pintu masuk rumah makan, datanglah seorang sepuh mengais beberapa kantong buah. Dari keriput kulit dan giginya yang ompong, saya menaksir usianya sudah masuk kepala 8. Tapi bagaimana bisa perempuan setua itu masih harus berjualan buah berkeliling?
Setelah satu demi satu ‘rombongan’ yang sedang makan dia datangi, dia tawari, buah-buahan yang dia jual, dan tak satupun yang mau beli, datanglah dia ke meja kami. Sepanjang itu, saya nyaris hanya bisa menunduk karena melihat pemandangan ‘ini’ sedekat ‘ini’ selalu membuat saya merasa tersudut: di satu sisi kasihan, tapi di sisi lain saya tidak mau membeli buah-buahan ini. Di saat yang sama, saya merasa bersalah karena hanya bisa merasa kasihan tanpa mau membantu mengubah keadaan.
Saya bernazar bahwa jika saya hanya menunduk saya akan menyesal. Tapi saya harus bagaimana? Perempuan tua beringsut meninggalkan meja kami dengan sendu. Dia menelan ludah dengan getir. Ludah yang kering. Entah kapan dia terakhir bisa makan (enak).
Sembari cuci tangan di wastafel, saya melihat sekilas anak kecil memberi sedekah kepada perempuan tua itu, dan terdorong oleh kemurnian hati si anak kecil, saya juga mengambil inisiatif yang sama, dengan sepenuhnya yakin bahwa yang saya tolong sebetulnya bukan perempuan tua itu, melainkan… benar, tak lain dan tak bukan, diri saya sendiri.
Pada perjalanan menuju toko kaos Jogja dan batik dan oleh-oleh, kami mengitari Alun-alun Jogja. Si Penarik Becak menjelaskan kepada saya betapa orang tidak pernah ada yang bisa berjalan lurus tepat ke Beringin Kembar sembari ditutup matanya. Padahal sudah ribuan kali orang mencoba. Saya jelaskan padanya bahwa saya termasuk orang yang setuju bahwa tidak segala sesuatu bisa dijelaskan dengan logika, dan bahwa misteri Tuhan melingkupi segala sesuatu.
Tapi selepas itu, bayangan si nenek tua kembali menghunjam hati saya. Kemana anak-anaknya? Kenapa dia masih harus berjualan? Tiba-tiba ‘rasa syukur’ saya karena orang tua saya sudah meninggal kembali menemukan alasan yang menguatkan. Agar kau tidak salah sangka, saya selalu bersyukur atas kepergian kedua orang tua saya di saat masih muda, karena saya tahu mereka akan merasa amat tersiksa dengan pahit getir hidup yang harus saya jalani. Terlebih bagi ibu. Dia selalu menarik rasa sakit semua anaknya ke dalam dirinya sendiri, dan oleh karena itu dia divonis menderita berbagai macam penyakit selama bertahun-tahun.
Saya bersyukur Allah memanggilnya lebih cepat karena itu berarti beliau tidak harus merasakan rasa sakit saya dan beliau bisa mendoakan saya lebih hebat.
Alasan itu kini menguat berkat kehadiran si nenek penjual buah. Alasan prihal apa? Prihal janji Tuhan bahwa “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan kepadamu” adalah benar. Bahwa doa, adalah senjata orang-orang muslim.
Dan kehadiran si nenek mengingatkan saya pada doa orang tua saya yang terlupakan—barangkali tidak hanya oleh saya dan kakak-kakak saya, tetapi bahkan oleh kedua orangtua saya sendiri. Doa yang dikabulkan oleh Allah dengan memanggil kedua orang tua saya di saat keduanya belum sampai 80 tahun. Ayah meninggal di usia 75 tahun-an, ibu di usia 63 tahun-an.
Doa apa itu?
Ketika saya berumur 8 atau 9 tahun, dan masih tinggal bersama kakek dari pihak ibu, nenek dari pihak Ayah dirawat di rumah Ayah. Waktu itu, beliau sakit menahun sampai kencing dan buang air besar di tempat tidur. Ayah dan Ibu dan kakak-kakak saya merawat telaten, kendati saya, sebagai seorang pengamat sejak kecil, selalu terganggu oleh pikiran tentang “Apakah mereka semua ikhlas merawat nenek” dan “Jika ayah dan ibu saya nanti tua dan sakit-sakitan seperti ini, apakah saya mampu merawat mereka seperti ayah saya merawat nenek?”
Pada hari-hari yang terasa panjang itu, suatu kali, entah ayah entah ibu, pernah berkata kepada saya bahwa dia tidak ingin hidup sampai setua itu karena dia tidak mau menyusahkan kami, anak-anaknya.
Dan nyatanya memang demikian.
Selama sakit, ayah tidak pernah sampai kencing dan buang air besar di tempat tidur, sehingga kami tidak direpotkan. Ayah bahkan meninggal dengan masih memendam rencana berangkat berhaji lagi. Ibu saya lebih luar biasa. Terbiasa sakit bertahun-tahun, ibu saya meninggal sekira 10 jam setelah masuk rumah sakit Hermina. Tanpa membuat kami cemas menahun karena ibu harus menanggung sakit berlama-lama sebelum meninggal. Ibu hanya koma dan lanjut meninggal. Dalam senyum yang selalu membikin saya terduduk haru karena satu jam sebelumnya dokter bilang kondisi ibu membaik.
Bertahun-tahun saya percaya bahwa orang tua saya meninggal tepat ketika mimpi terakhir mereka tercapai. Tapi berkat nenek penjual buah itu, Tuhan menolong saya untuk lebih memahami bahwa Dia memberi kesempatan kedua orang tua saya untuk menggenapkan mimpi-mimpi mereka sebelum Dia mengabulkan doa mereka dahulu kala: ingin meninggal sebelum menjadi terlalu tua sehingga terlalu merepotkan anak-anaknya.
Kendati bagi kami, bagi saya, itu berarti kehilangan kesempatan membaktikan dan mensucikan tangan dan kaki dan keringat dan hati dari segenap dosa, dari semua khilaf, serta membuka lebih banyak pintu menuju surga.
Karena ridha Tuhan ada pada ridha orang tua.

Q and A Tetralogi Sirruhart (Oleh-oleh Jogja)

Halo, Mas Irfan?

Halo

Kabar, baik?

Alhamdulillah, baik.

Boleh diceritakan sedikit soal Meander?

Ini novel keempat sekaligus penutup dari tetralogi Sirruhart. Kalau di tiga novel awal saya bermain di, terutama, ranah romansa dan psikologi (serta filsafat di novel ketiga), di novel ini saya bermain di ranah fantasi dan cerita detektif.

Jadi, nafasnya berbeda?

Saya berusaha bermain dengan soul yang baru di tiap seri tetralogi ini. Di Hubby, saya menuturkan cerita yang sederhana, ringan. Dibangun atas premis, “Cinta menyembuhkan semua luka”. Bercerita tentang 4 orang tokoh utama yang harus berdamai dengan luka di masa lalu. Masuk di novel kedua, Apologia Latte, saya mengekplorasi emosi dan rasa bersalah. Perpaduan antara roman dan thriller. Akan ada adegan pembunuhan dan akan ada cerita mengenai alam selepas kubur. Tapi lebih dari itu segalanya bermuara pada satu premis, “Cinta yang terlalu berlebihan akan membunuhmu”. Lagunya Queen.

Ya, saya tahu itu. Dan novel ketiga?

Itu inti dari tetralogi ini. Setidaknya menurut saya. Saya menghabiskan banyak tenaga dan riset untuk ini.

Bercerita tentang apa?

Rahasia hati. Di Hubby, Rafli seperti terlahir kembali. Ia akhirnya hidup di “masa kini”. Di Apologia Latte, dia mendewasa oleh segala bentuk masalah dan rintangan dan mati-surinya. Di Sirruhart, dia berada di lorong-kontemplasi. Keberusahaan dia untuk memahami dirinya sendiri. Demi apa? Demi bisa memahami hidup. Dan bagaimana dia bisa memahami dirinya? Dia harus memahami rahasia hatinya. Dan bagaimana dia harus memahami rahasia hatinya? Dia menelusuri makna mimpi-mimpinya.

Makna mimpi-mimpi?

Benar. Karena sebetulnya mimpi kita ketika tidur, salah satunya, adalah cerita dari alam bawah sadar kita. Tapi diceritakan dalam bahasa mereka. Bahasa simbol. Karena itulah mimpi perlu penafsiran, perlu interpretasi. Jika kita mampu memahami mimpi yang datang kepada kita, kita akan mampu memahami apa yang hendak disampaikan oleh alam bawah sadar kita. Dan untuk menulis ini saya melakukan riset panjang tentang fenomena mimpi mulai dari sudut pandang Socrates, Eropa, Freud, Carl Jung, sampai sudut pandang Sheikh Muhammad Ibnu Sirrin.

Dan kesemuanya itu membawa Rafli memahami rahasia hatinya. Begitu?

Kira-kira seperti itu. Dia membikin rumus rahasia hati berdasarkan konsep trigonometri. Pembaca akan melihat di bagian akhir buku tersebut.

Terdengar cukup berat.

Saya berprinsip bahwa jika saya menulis buku, saya tidak hanya ingin sekedar menulis kisah roman yang tidak ada saripati yang bisa diserap oleh pembaca. Karena itu saya menciptakan tokoh yang kontemplatif seperti, Rafli. Memang terdengar cukup berat. Tapi kalau sudah baca. Tidak akan seberat itu.

Dan semua cerita itu berakhir di Meander?

Iya. Berakhir di novel ini.

Bercerita tentang apa Meander?

Tentang Rafli selepas selamat dari kebakaran di pasar. Bagaimana dia, tidak hanya, harus bersitegang dengan Cepi karena masalah pembangunan pasar baru, tetapi juga harus mencari tahu tentang misteri Ainun Mala.

Meander terdengar agak asing. Apa artinya itu?

Meander berarti kelokan sungai yang panjang. Memang tidak familiar dalam bahasa Indonesia, tapi kata itu dapat ditemukan dengan mudah di kamus besar bahasa Indonesia.

Kenapa memilih judul itu?

Ini sekaligus menutup keempat seri. Kira-kira filosofinya begini: alur hidup, alur takdir, kan kadang seperti kelokan sungai juga. Dan kita ibarat daun atau apapun yang mengalir di kelokan sungai itu. Pertama, ke manapun kita mengalir, laut pula akhir pertemuan semua arus. Kedua, kadang-kadang dalam hidup ada momen, atau orang, atau apapun, yang membikin kita berbelok ke sebuah kelokan, yang pada akhirnya mengubah jalan hidup kita selamanya.

Anda tadi bilang novel keempat berbau fantasi dan detektif?

Betul. Benang merah novel ini, sungai. Semua cerita berporos di sana. Dan tahukah Anda bahwa banyak peradaban di dunia bermula dari sungai? Lihat bagaimana Nil dan Gangga mengawali peradaban Mesir dan India. Pengaruh sungai bagi hidup manusia tak terbantahkan. Bahkan berkali-kali Tuhan menyebut di surga nanti ada sungai. Lalu di mana letak kisah fantasi dan detektif? Di sungai Cisokan tempat cerita ini berporos, ada sebuah gua yang disebut gua Belanda. Legenda gua ini menyambung sampai ke Kerajaan jin di Gunung Gede yang konon dipimpin Seh Jubaedi Satoto, penguasa Samudra Hindia yang juga khadam nabi Khidir. Dari sana kisah berlanjut sampai ke fenomena Segitiga Bermuda, alien, kehidupan makhluk bawah tanah, sampai delusi yang dialami Rafli.

Mas, ini ada pertanyaan: berapa lama Mas menulis novel ini?

Untuk riset saya menghabiskan waktu antara 2-3 tahun. Untuk penulisan sampai 100%, kira-kira selama 3-4 bulan.

Pertanyaan berikutnya: momen apa yang paling membahagiakan dari penulisan novel ini?

Saya pikir momen paling membahagiakan dari melahirkan tetralogi Sirruhart adalah ketika tiba-tiba mendapat telepon dan mendapat kabar kalau Apologia Latte terpilih sebagai Karya Fiksi Terbaik III Nugra Jasa Dharma Pustaloka Perpusnas 2011. Kenapa tak terlupakan? Karena itu penghargaan pertama saya, karena itu hanya 2 bulan setelah Apologia Latte turun di pasaran, karena itu tanpa pemberitahuan sebelumnya sehingga saya dipenuhi kekhawatiran kalau-kalau semua itu cuma hoax.

Wah, luar biasa ya Mas. Salut untuk itu. Oke, kira-kira apa pesan dari novel ini?

Ada satu bab yang disitu saya menulis “Karena Hidup Seperti Gelas”. Jadi jika memang harus ada kesimpulan dari semua rangkaian kehidupan Rafli, adalah barangkali momen ketika Rafli sadar bahwa hidup sebetulnya bukan untuk ditaklukkan. Hidup itu, seperti gelas, untuk diisi. Diisi dengan apa? Dengan hal-hal yang baik, tentu saja. Dengan hal-hal yang bermakna. Karena tidak semua hal sesederhana kelihatannya. Itu sebabnya ada yang dinamakan “kompromi”. Karena tidak semua pertanyaan bisa menemukan jawaban. Terkadang, perjalanan mencari jawaban itu akan menjadi jawaban yang lebih dari sepadan. Dan itulah hidup. Ada ironinya, ada paradoksnya, ada misterinya, ada banyak hal yang semuanya, saya pikir, tidak sederhana.

Oke, Mas, terima kasih atas obrolannya. Sampai berjumpa lagi. Sukses terus untuk novelnya.

Oke, Mas. Sama-sama. Terima kasih Eltira, terima kasih, Jogja…..

BCA Cepat, BCA Dapat

Juli 1, 2012 2 komentar

Balik lagi ke soal kecepatan sih.
Akselerasi dalam berbagai dimensi kehidupan kan belakangan ini luar biasa meningkat—berkali lipat malah. Ambil contoh, ‘berita’. Dulu berita bisa awet selama satu minggu, sekarang up date-nya saja nggak bersifat daily tapi lebih dari itu, perjam. Itu sebabnya media yang dulu menyandarkan hidup pada penjualan oplah koran kini harus memutar otak menyiasati kemahiran internet dalam perkembangan laju teknologi informasi.
Di dunia perbankan juga gitu. Tuntutan untuk harus selalu serba cepat telah melahirkan berbagai macam fitur yang mempermudah hal yang dahulu sulit. Seperti, pengambilan uang. Dahulu kalau mau ngambil uang harus pas jadwal kerja bank tersebut, nggak bisa lewat jam kerja atau pada hari libur. Sekarang? Mau jam 12 malem pas takbiran juga bisa. Semuanya jadi serba mudah karena teknologi perbankan semakin meningkat kualitasnya.
Tapi kecepatan model begini memang tidak merata ada di semua bank. Mirip-mirip mesin mobil. Beda perusahaan, beda jenis mobil, beda kekuatan dan kecepatannya. Oke, oke, memang pada akhirnya bergantung siapa yang mengendari kendaraan itu, tapi ayolah, sehebat apapun Michael Schummacher, kalau mobil yang dia pake itu mobil-kompor jadul, mana bisa dia juara 1?
Dalam dunia perbankan, BCA selalu hadir dengan terobosan yang mengagumkan. Ia tidak hanya menawarkan kemudahan bertransaksi, tapi lebih dari itu, selalu mampu menyajikan solusi dari semua permasalahan perbankan.
Mesin ATM-nya misalkan, berjumlah 7000 buah dan tersebar di seluruh Indonesia. Kita mau pergi ke manapun mesin ATM BCA pasti ada. Itu yang khusus BCA, kalaupun tidak ada, kartu ATM BCA masih bisa juga digunakan di mesin ATM Bersama. Hal yang harus diwaspadai dari kemudahan ini hanyalah memastikan rekening Anda ada uangnya. Karena apalah artinya kartu ATM dan mesin ATM yang banyak bila uang yang mau diambil tidak ada. He he he.
Dan soal keamanan apabila kartu Anda hilang atau ketinggalan, BCA memiliki fitur sederhana yang sekilas tampak biasa padahal luar baisa. Apa itu? Begini, biasanya orang pas ngambil uang di mesin ATM itu kalau uangnya sudah keterima, suka lupa sama kartunya! Tapi kalau ngambil pake kartu ATM BCA, mereka tidak akan ‘ngeluarin’ dulu uangnya sebelum kartunya dikeluarin. Jadi, risiko ketinggalan kartu di mesin ATM lebih kecil.
Tapi bagaimana kalau ketinggalan?
Tenang saja, karena ketika ada instruksi baru, secara otomatis kartu itu akan meminta pin. Karena pinnya berkonfigurasi 6 angka, maka probabilitas pemalsuan data semakin kecil. Kartu ATM Anda kalau motor ibarat dipasangi kunci ganda! BCA merespon persoalan ini dengan solusi perbankan yang sederhana, kecil, tapi brilian.
Tapi kan fitur mesin ATM untuk mengambil uang, sudah biasa? Memang. Dan nyaris semua bank punya walaupun jumlah mesin yang tersebar berbeda-beda. Tapi ingat, selain mesin ATM yang ‘biasa’, BCA juga punya mesin ATM yang bisa digunakan untuk menyetor uang. Kita hanya perlu mengikuti instruksi dan memasukkan uang itu ke dalam mesin sesuai prosedur, maka transaksi Anda akan tercatat masuk di rekening. Terjamin!
Selain itu, kalau ngambil atau setor di bank, kita tak perlu takut disalip antrian oleh nasabah-nasabah tertentu. Kenapa? Karena BCA tak menganut sistem nomor antrian tetapi nasabah dibiarkan berbaris. Kalau begini kan ketahuan siapa yang mau nyalip. Ya nggak? Dan seolah belum cukup, antarian ini juga dibagi 2. Yang satu yang setorannya banyak, yang satu lagi yang seteronnya sedang dan sedikit. Biar apa? Biar yang setor sedikit nggak mesti kelamaan nunggu gara-gara nasabah yang setornya setas-gede-banget.
Lagi-lagi solusi untuk masalah yang terkesan sepele padahal mendasar dan krusial. BCA selalu cepat memberi solusi perbankan.
Tapi kan kadang kita harus mentransfer atau bayar pulsa atau bayar listrik tapi males keluar apalagi harus ke mesin ATM terdekat . Nah itu bagaimana, hayoo? Itu saja? Tenang. BCA mampu memberikan kemudahan transaksi. Pakai saja layanan m-Banking, masalah Anda selesai sudah. Mau bayar listrik? Bisa. Mau bayar pulsa? Bisa. Mau transfer? Bisa banget. Mau bayar cicilan? Bisa. Yang nggak bisa itu kalau rekening kitanya nol rupiah. (Tuh kan, ke situ lagi!) Oke, oke. Maaf. 🙂
Karena bisnis perbankan adalah bisnis kepercayaan dan pelayanan, dimana kecepatan menjadi faktor pengali yang krusial, maka kecepatan menjawab persoalan perbankan dan kendala dalam bertransaksi akan menjadi pembeda brand ekuitas bank tersebut. BCA telah menjawab tantangan itu dengan berbagai fitur yang mempermudah transaksi dan menjawab banyak persoalan perbankan. Tak heran kalau BCA selalu mampu Nou in nasabahnya.
BCA Cepat, BCA Dapat!

Kategori:PandoRandom