Beranda > Trekking. > Situ Gunung, Folklor dan Daya Tarik Magis

Situ Gunung, Folklor dan Daya Tarik Magis

Kendati lokasinya berada di pinggiran Sukabumi, toh saya pertama kali tahu keberadaan Situ Gunung dari Buku Sejarah Cianjur. Menurut buku tersebut, danau di kaki Gunung Gede Pangrango tersebut dibuat oleh Mbah Jalun demi merayakan kelahiran putra pertamanya. Tapi siapa sebetulnya Mbah Jalun itu?

Dia adalah pangeran Mataram yang sangat anti-Belanda. Alih-alih hidup di istana dengan segala kemewahan dan fasilitasnya, Mbah Jalun malah memilih hidup berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung yang lain sembari mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda. Naik pitam, Belanda mengerahkan pasukannya demi menangkap sang pangeran, tapi pangeran tersebut selalu mampu meloloskan diri dengan cara yang supranatural.

Suatu ketika, dalam pengejaran Belanda, Mbah Jalun berlari menelurusi hutan Gunung Gede Pangrango. Betapapun hebat tentara-tentara Belanda, toh mereka tak akan mengenal kontur hutan lebih baik daripada Mbah Jalun. Setelah sekian lama dalam pelarian, Mbah Jalun menetap di sebuah daerah yang kelak akan dikenal dengan nama: Cianjur.

Di titik itulah pertemuan antara Situ Gunung dengan Sejarah Cianjur. Di titik ketika Mbah Jalun memutuskan menetap di lereng selatan Gunung Gede yang kini terkenal dengan nama Gunung Masigit. Kenapa Gunung Masigit? Karena berdasarkan folklor yang beredar, di sinilah Mbah Jalun mendirikan masigit—masjid.

Pertanyaan menarik berikutnya adalah: Situs Megalithikum Gunung Padang yang dipercaya telah ada sekira 5000 tahun SM, memiliki batu berbentuk sujud di pintu gerbangnya yang mengarah tepat ke Gunung Masigit. Padahal, Gunung Masigit dibangun justru pada abad ke-19 Masehi. Kenapa bisa ‘sekebetulan’ itu?

Sejarah memang selalu memiliki sisi misteri yang lebih besar. Sama saja seperti alam semesta.

Tapi baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan.

Saya memutuskan untuk melakukan one day trip ke sana, tanpa menginap. Kenapa? Karena jarak dari rumah ke sana tak lebih dari 2 jam. Lagipula, kebutuhan saya ke sana hanya demi menyempurnakan riset untuk novel Meander yang saat itu sedang saya tulis. Saya mengajak serta Arifa, yang butuh relaksasi ditengah tekanan persiapan acara Gempas.

Pada hari jumat, setelah menjemput Arifa, kami berangkat ke Sukabumi. Shalat jumat di mesjid besar Sukabumi kemudian melanjutkan perjalanan tanpa makan siang. Begitu tiba di kantor Polsek Cisaat, kami berbelok ke kanan menuju Kecamatan Kadu Dampit. Ke kaki Gunung Gede Pangrango, ke ketinggian 850 Mdpl.

Setelah berkali-kali bertanya karena takut salah jalan, akhirnya kami tiba di pintu gerbang Situ Gunung. Ada dua tempat parkir. Satu dekat pintu gerbang, satu agak ke bawah. Saya memutuskan parkir di tempat yang kedua. Selepas itu jalan kaki menuruni bebukit. Diapit pepohon tinggi menjulang. Udara semilir sejuk. Beburung bersahut-sahutan.

Ada dua lokasi wisata di sini, sebetulnya. Satu, Curug Sawer. Yakni air terjun. Dan kedua, Situ Gunung. Yakni danau yang diapit oleh beberapa gunung. Oleh karena tujuan utama kami ke Situ Gunung, maka kami mengabaikan sepenuhnya keinginan berangkat ke Curug Sawer.

Dan inilah dia, Situ Gunung. Danau persembahan Mbah Jalun untuk putra pertamanya. Danau di kaki Gunung Gede-Pangrango yang diapit gegunung di delapan penjuru mata angin. Hamparan rerumput rata dengan beberapa pohon besar tersebar di beberapa titik. Mushalla kayu dekat toilet yang tak terurus. Beberapa pedagang yang tidur-tiduran karena sepi pengunjung. Sebuah perahu kayu yang diparkir dekat mulut danau. Sebauh ‘daratan’ mungil di tengah danau seumpama Samosir.

Selebihnya keheningan yang diselingi sahut burung-burung.

Situ Gunung

 

 

 

 

 

 

 

 

Di atas sebuah akar besar yang menyembul, kami duduk menikmati semilir angin sembari memakan roti isi cokelat. Hanya duduk beberapa lama tanpa bicara sepatah katapun. Apa yang ditawarkan Situ Gunung melebihi ekspektasi saya. Airnya memang tidaklah jernih atau biru atau hijau seperti Telaga Biru di dekat Curug Cibeureum. Alih-alih itu, airnya justru keruh kecokelatan. Tapi keheningan dan kesejukan yang dibawanya memberi kedamaian tak terdefinisikan.

Berjalan ke mulut danau, kami duduk sembari mendekatkan kaki kami pada air yang bergerak lirih, pelan. Mengikut ke mana angin berhembus. Dari ‘kebun’ di sisi kanan kami, menyeruak bapak dan anak yang tengah memancing ikan menggunakan jala. Keduanya berjalanan bersisian menyisir pinggiran danau.

 

 

 

 

 

 

 

Kami beralih duduk di teras mushalla, sekali lagi menikmati keheningan dan kesejukan dan kedamaian tak terdefinisikan. Tapi baru saja saya membuka perbincangan soal “apakah boleh berenang di danau itu ataukah tidak” sekumpulan anak kecil serempak membuka baju mereka di mulut danau dan melompat akrobatik ke dekat perahu. Byuuuuuur! Satu di antara mereka naik ke atas perahu sementara yang lain mendorong dari belakang.

Menuju “Samosir mungil” di tengah danau.

Pandangan saya tiba-tiba menjauh. Jauh melewati sekumpulan anak itu. Jauh menyebrangi danau besar kecokelatan itu. Pada jalan setapak kecil di bebukit di seberang danau. Benar, pada jalan setapak kecil di bebukit di seberang danau. Karena jika saya mampu melewati danau dan tiba di tepian sana untuk kemudian naik ke atas bukit, pemandangan yang tersaji pasti akan jauh lebih ajaib.

Tapi sekali lagi saya harus kembali ke realitas, sekali lagi harus menikmati pemandangan pemancing yang berjalan melewati sisi danau tempat kami duduk 10 menit yang lalu. Dan tiba-tiba saja saya merasa tak ada yang lebih ajaib daripada pemandangan itu. Karena inilah wajah Indonesia sejatinya: kesederhanaan dalam eksotisme dan keanggunan mistik, keceriaan komikal yang tak tergerus arus zaman. Hanya tinggal menunggu waktu bagi kita, Indonesia, untuk kembali menemukan jati diri sejatinya.

Pasti. Tak terelakkan.

Hanya tinggal menunggu momentum.

Dan tiga jam di sana serasa baru satu menit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Opera Travel Blog Competition

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: