Beranda > Trekking. > Dan Sendirian, Di Pantai Pulau Impian

Dan Sendirian, Di Pantai Pulau Impian

Bali selalu mengesankan. Bukan hanya soal kulturnya, tetapi juga deret pantai di sejauh mata memandang. Bali adalah mahakarya dewata. Tak heran jika, jauh sebelum orang asing ngeh dengan Indonesia, mereka lebih dulu jatuh cinta pada pulau mungil yang satu ini. Tapi kecuali udara teriknya yang gerah, tak ada komplain apapun soal kompleksitas kecantikan pulau ini.
Pada hari pertama tiba di Bali, kami berburu sunset di Pantai Kuta. Duduk dan berfoto dan hanya memandang jauh ke laut lepas. Ribuan orang tumpah-ruah memenuhi setiap sudut pantai: sebagian berlari, sebagian berenang, satu-dua orang berselancar, tiga-lima orang lari-lari kecil, tujuh-delapan orang berjemur. Tapi matahari yang dinanti sejak tadi malah tertutup awan tepat ketika dia mulai terbenam. Alhasil, perburuan pun gagal. Tapi tak masalah, kami masih bisa ke sini lagi esok hari, bukan?
Butuh 37 jam untuk tiba di Bali. Kami berangkat naik kereta api jurusan Bandung-Malang yang berangkat pukul setengah 4 hari rabu dan tiba dini hari pada Jumat. Main kartu di depan Circle K menunggu pukul 6 untuk check in hotel yang disediakan panitia, setelah menyantap soto Madura di pelataran Wisma Cottage 2. Selepas itu tidur demi mengembalikan kondisi tubuh yang kelelahan, dan baru sore hari sempat ke pantai setelah berhasil menyewa motor demi kebutuhan jalan-jalan.
Tapi jadwal hari kedua meleset. Kami tak penasaran lagi pada sunset di Pantai Kuta, alih-alih itu rombongan terbagi ke dalam dua bagian. Satu, memilih berangkat ke Uluwatu demi menikmati Dreamland Beach dan Uluwatu Beach. Satu lagi, yakni kami, memilih ke Pantai Legian. Kenapa kami memilih ke pantai Legian?
Selepas selesai acara, saya terlambat sampai ke asrama. Karena memilih untuk mampir dulu ke Joger, akhirnya saya melepaskan kesempatan untuk berangkat sama-sama ke Uluwatu. Begitu selesai belanja oleh-oleh, saya mendapati tiga kawan saya yang tidak keburu ikut ke Uluwatu sedang santai makan sore di salah satu tempat makan. Kenapa belum berangkat? Percuma, Ak, jawab salah seorang dari mereka, udah kesorean, nggak akan keburu kalau ke Uluwatu. Mending ke Legian aja yuk? Deket dari sini.
Akhirnya, kami berenang di Legian. Hanya bertiga. Yang seorang sudah merasa cukup dengan duduk menunggui pakaian dan sandal kami. Langit menggelap dan ombak terdengar lebih nyaring bergemuruh. Selepas berenang, kami duduk di kursi berpayung sembari menyeruput sebotol cola dingin. Berbincang dengan Penjaga Pantai. Seorang bule paruh baya masih berenang bermeter ke kedalaman. Anaknya yang balita, berdiri berjinjit di mulut pantai, melepas pandang berharap ayahnya akan muncul ke permukaan.
Tapi ayahnya masih masyuk berenang dan si ibu memilih membawa anaknya ke tepi pantai. Tak lama kemudian ayahnya muncul di mulut pantai dan keluarga itu pun bergegas pulang. Pada saat itu saya tersadar. Saya berumur 20 tahunan dan masih takut-takut kalau harus berenang ‘agak jauh’ ke kedalaman. Orang bule itu, pendatang dan tamu di bumi Indonesia ini, berenang jauh ke tengah seolah ini adalah pantai mereka sendiri. Pertanyaan selanjutnya agak menohok, siapa sebetulnya yang menjadi tuan rumah di Indonesia kita ini?
Barangkali memang tak sevital itu. Barangkali karena saya saja yang terlalu penakut. Namun begitu, hasrat untuk mendatangi pantai-pantai lain di Bali semakin menggebu-gebu. Sejak dalam perjalanan, pantai-pantai di Uluwatu memang menjadi perbincangan hangat. Kunjungan ke sana akan menjadi titik krusial dalam liburan kali ini. Tapi bagaimana mungkin? Besok harus sudah check out dari hotel pukul 9 pagi, sedangkan sekarang sudah malam. Saya menyimpan mimpi itu dalam-dalam sembari berharap suatu saat bisa kembali ke Bali demi mengunjungi kompleks pantai Uluwatu.
Pada perjalanan pulang, kami mampir ke Ground Zero demi melihat monumen peringatan tragedi Bom Bali yang fenomenal itu. Tragedi yang tidak hanya meyorot Bali, pulau yang damai ini, ke dalam pemberitaan yang menyudutkan Indonesia, tetapi juga menyorot Islam dan terorisme. Butuh bertahun-tahun bagi kita untuk meyakinkan bangsa asing bahwa kita adalah masyarakat yang toleran, yang ramah, yang easy welcoming.
Setibanya di hotel, kawan saya yang ke Uluwatu bercerita tentang keindahan pantai di sana, dan bagaimana mereka harus menyiasati untuk memilih hanya satu dari sekian banyak pantai untuk dikunjungi. Kenapa hanya satu? Karena mereka nyasar di perjalanan sehingga sudah mau petang setibanya di sana.
Tapi hati saya kok tak rela. Saya merasa harus ke sana apapun caranya karena kapan lagi bisa main ke Bali? Belum tentu. Kesempatan tak selalu datang dua kali. Saya berpikir dan berpikir dan kemudian… Aha! Saya mendapat ide. Saya membuka daftar kontak blackberry massanger saya dan kemudian mengirim pesan….
Sudah sejak subuh saya keluar kamar. Saya shalat di mesjid di kompleks tentara sembari harap-harap cemas. Tadi malam saya meminta tolong pada teman kuliah yang kebetulan sedang mengunjungi pamannya di Bali. Saya meminta diantarkan ke Uluwatu sejak subuh karena saya harus sudah di hotel pukul 8. Dia menyanggupi.
Tapi di mana dia?
Belum selesai saya berdoa, bbm saya berbunyi. Dia menunggu di luar kompleks. Kami berkendara menuju Uluwatu. Melewati bandara Ngurah Rai dan Universitas Udayana. Saya berusaha menghafal jalan, demi Tuhan, tapi karena gelap, akhirnya saya nyerah. Kami naik ke pebukitan, tempat dia beberapa kali bertanya kepada warga, di mana pantai Dream Land itu berada. Akhirnya, setelah beberapa kali bertanya, kami menemukan sebuah gerbang berpatung garuda raksasa lengkap dengan lambang freemasonry-nya.
Melewati gerbang itu, saya merasa mencium bau pantai. Bau kebebasan. Rasanya seperti mimpi! Baru sore kemarin saya putus asa dan berpikir tidak akan bisa ke sini, tapi pagi ini keajaiban membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia sama sekali tak mustahil. Ia niscaya. Tapi di mana gerangan pantai yang kesohor itu?
Setelah dua kali berputar karena malah masuk ke kompleks golf milik Tommy Soeharto, akhirnya kami berhasil menemukan belokan menuju pantai Dream Land. Setelah teman saya memarkir motor, saya berlari ke bawah, ke arah pantai. Melewati susuran jalan yang diapit pertokoan di sisi kanan dan rawa-rawa di sisi kiri. Kabel sebesar paha menyembul dari dasar rawa seumpama ular phyton. Dan gagasan itu mengangguku.
Ke mana orang-orang?
Tak ada siapapun di sana kecuali saya. Teman saya pun memilih menunggu di pelataran parkir. Tapi pantai apakah ini? Benarkah ini Dream Land Beach? Saya mulai ragu. Langkah saya melambat. Kendati pantai dan ombak dan pasir yang tampak di depan mata begitu indah, keyakinan saya mulai meluruh. Apakah benar ini Dream Land Beach? Kenapa bisa sebegini sepi?
Untungnya, selepas beberapa langkah, saya mendapatkan kepastian. Tepat di tembok di salah satu cafe, terdapat sebuah tulisan seperti ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

Sisa 10 menit di sana dihabiskan untuk berfoto. Teman saya kemudian datang untuk ikut menikmati kesunyian, keindahan, kecantikan, kebersahajaan, ketiadaan, keberjarakan. Sesuatu yang membuat kabut dan biru laut dan gemuruh ombak dan batu karang dan pasir kelabu dan cafe dan tangga kayu seperti not-not pembangun simfoni Mozart. Agung dan melenakan!
Ya Tuhan, saya sendirian, di Pantai Pulau Impian!

 

 

 

 

 

 

 

Kami melanjutkan perjalanan ke arah Pantai Uluwatu. Tapi karena waktu sudah semakin siang, saya harus memutuskan satu diantara dua pilihan: Uluwatu ataukah Padang Bay. Saya memilih yang kedua. Berbelok ke kanan, kami menyusuri jalanan selebar dua mobil diantara pebukitan dan hutan.
Kawan saya menjelaskan, Uluwatu memang kompleks pantai-pantai indah di Bali. Selain dua yang saya kunjungi hari ini, sebetulnya masih banyak lagi. Sebagian tersembunyi dan belum banyak terjamah turis. Saya semakin takjub.
Setibanya di Padang Bay, kami memarkir motor di tempat parkir yang kosong. Berjalan melewati gapura hindu, seorang bule paruh baya sedang bersiap untuk berselancar. Kami memasuki terowongan kecil selepas penunjuk arah, dan kemudian terkesima oleh pantai yang berbatu karang.
Tak banyak orang di sini kecuali beberapa penjaga pantai dan beberapa papan luncur. Sekawanan orang utan berlari-lari kecil dari rumahnya ke mulut pantai, demi kembali lagi sembari meloncat-loncat ke rumahnya. Ombaknya bergemuruh. Birunya jernih hingga ke tapal batas perspektif dua dimensi.

 

 

 

 

 

 

 

Saya yakin, di sinilah Elizabeth Gilberth memutuskan untuk menikah dengan pria pujaannya. Saya yakin, tempat inilah salah satu alasan kenapa Elizabeth Gilbert kembali ke Bali untuk kedua kalinya. Eat Pray Love memang luar biasa.
Tapi Indonesia lebih dari segalanya.

Iklan
  1. Juli 9, 2012 pukul 3:27 pm

    coba mampir ke pantai balangan, cakep tuh pantai, better than dream land 😀

    • Juli 16, 2012 pukul 5:32 pm

      oyah? waah belum dpt info nih soal itu 🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: