Beranda > Trekking. > Citarasa Dunia di Taman Bunga Nusantara

Citarasa Dunia di Taman Bunga Nusantara

Tapi memang, jika konteks “Nusantara” pada nama “Taman Bunga Nusantara” itu mengacu pada “Indonesia hari ini”, maka penamaan taman seluas 35 hektar ini agak keliru. Kenapa? Karena tipe taman yang menghuni taman ini lebih bercitarasa dunia ketimbang Nusantara semata.
Hanya bermodal 20 ribu sebagai tiket masuk, Anda akan disuguhi panorama taman berbunga yang luas dengan seekor burung merak raksasa menyambut dekat air terjun. Burung merak itu bukan sembarang burung merak karena merupakan patung yang ditumbuhi bunga di sekujur tubuhnya.
Dari air terjun jernih yang memanjang terdapat dua jalur jalan. Ke kiri ke Rumah Kaca, ke kanan ke Taman Amerika. Baiklah, seperti sudah saya bilang, mari kita ke taman Amerika. Melewati patung kerbau yang menarik gerobak penuh bunga, kami beralih ke jalan setapak berkrikil dimana dua patung dinaosaurus bersiaga. Tapi begitu tiba kembali di jalan beraspal, arah ke Taman Amerika tidak kami temukan. Alih-alih hanya patung barongsai di kejauhan, lesehan di dekat pintu masuk area piknik, serta taman berbunga di kejauhan.
Tapi Taman Apa? Ini penampakannya!

Arifa masih malu-malu diambil foto, jadi kami hanya berkeliling menikmati bunga mawar merah dan putih dan kuning. Di setiap blok mawar yang diapit dedaun yang dibikin berbentuk balok, terdapat tempat duduk melingkar yang berpayung pohon rindang. Membatasi dua blok bunga mawar tersebut, sebuah air mancur membikin sejuk.
Dan mari lihat di sebelah depan!
Taman Prancis!
Arifa menyukai Paris lebih dari kota manapun di dunia ini. Melihat miniatur tamannya adalah kesyahduan tersendiri bagi gadis ini. Okelah, mau berfoto? Tapi lagi-lagi malu-malu kucing. Kami berjalan-jalan saja melihat kotak-kotak bunga dengan pilar-pilar dari daun di setiap sudut, air mancur di kedua sisi, kursi memanjang di pinggiran jalan.
Lalu ke mana?
Karena bingung, sembari melihat peta, kami masih mencari dimana sebetulnya Taman Amerika. Tapi karena yang lebih mencolok justru Menara Pandang dan Taman Labirin, maka kami memutuskan mencicipi taman yang disebut belakangan.
Masuk melalui pintu belakang, tinggi daun di taman labirin ini sekepala saya. Bergerak mengikuti ke mana hati membawa kami, tiba-tiba saja kami sudah masuk lebih jauh dari pintu belakang. Tapi ketika kami hendak masuk lebih dalam, sekumpulan awan hitam terdorong cepat ke atas kepala.
Diteruskan atau berbalik arah dan cari tempat berteduh? Nampaknya tidak akan hujan. Tapi orang-orang di sana sudah berlarian kehujanan? Sebelum percakapan itu selesai, satu-dua butir hujan jatuh. Kami resmi mencari arah pintu keluar tapi yang pertama kami temukan justru jalan-buntu. Baiklah, kita balik arah!
Kembali mengikuti arah berlawanan sementara seorang lelaki malah berlari ke belakang kami, berharap menemukan pintu keluar. Nah lho! Hujan kian menderas ketika akhirnya kami menemukan pintu keluar. Berteduh sejenak bersama tiga orang remaja belasan tahun. Sebelum hujan semakin deras, kami berlari melewati Taman Paris dan berteduh di mushalla.
Hujan jatuh nyaris setengah jam. Dan sepanjang itu pula kami cemas kalau-kalau petualangan kami harus berakhir sampai di sana. Tapi karena segala sesuatu selalu mengandung hikmah, maka panorama Taman Mawar dan Taman Paris sewaktu hujan tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Dengan perpaduan antara kabut dan gunung di kejauhan, hujan yang ritmis dan udara yang menyegarkan, Garden Tram yang sesekali melewati Taman Paris membikin kami serasa berada di Eropa.
Baiklah, baiklah, tapi kalau tak percaya simak saja fotonya!
Baru setelah hujan mereda kami melanjutkan tur ke Air Mancur Musikal tempat Arifa beberapa kali difoto di depan patung bebek untuk kemudian melanjutkan tur ke Taman Bali. Taman Bali? Baiklah, ujar saya dalam hati, tidak boleh berekspektasi. Bali adalah Pulau Dewata disetiap jengkalnya. Pengalaman ke sana tak terlupakan. Menikmati miniatur taman dari Bali bisa-bisa membikin kecewa.
Taman Bali dibuka oleh gafura berwarna pastel. Membuka dua jalur di mana rerimbun pepohonan acak tersebar dimana-mana. Berbeda dari Taman Paris yang rapi dan teratur dan polos dan cantik dan menawan, Taman Bali lebih ekspresif, alami, memikat. Di dalamnya terdapat saung dan gapura dan danau dan jembatan kayu dan riak air memercik.
Inilah Nusantara yang sejati. Iklim tropisa dan spontanitas yang kaya dan tak tertebak.
Mau lanjut? Ke mana sekarang? Mari kita lihat peta!
Tak sulit menemukan pintu keluar dan mendapati Taman Palem. Tapi kelengangannya yang hanya sesekali diganggu Garden Tram yang melintas tak membikin saya tertarik. Kecuali untuk berfoto di kursi taman berdua dengan Arifa, tak ada lagi aktivitas yang bisa kami kerjakan jadi kami melanjutkan perjalanan ke Taman Mediterania.
Nah, inilah taman favorit saya. Dengan meja dan kursi dari batu, kerikil dan kaktus, dan rumah warna salem pink beratap rata tanpa pintu. Segalanya terlihat begitu komplit. Kami berfoto di dekat patung kura-kura dari batu kemudian menikmati rumah mediterania yang berisi jajaran pohon kaktus aneka spesis. Kaktus-kaktus tersebut diberi pagar dan di gang yang selebar pintu masuk, terdapat sebuah kursi taman.
Hujan kini telah benar-benar berhenti.
Dari Taman Mediterania, kami naik ke Menara Pandang dengan membayar seribu perak per orang sebagai tiket masuk. Dari sana sejauh mata memandang hanya taman, taman, dan taman. Hanya bunga, bunga, bunga, dalam gradasi yang berpresisi luar biasa. Tapi karena waktu sudah semakin sore, kami kembali turun dan kebingungan: nah, sekali lagi, sekarang ke mana hayoo?
Kami mengambil jalur di samping Taman Labirin sebelum sadar bahwa itu jalan itu hanya menyambungkan kami ke taman-taman yang sudah dijelajah. Sebaliknya, Taman Jepang dan Rumah Kaca belum kami singgahi. Jadi lantas harus ke mana?
Akhirnya, kami berbalik ke arah Taman Mediterania dan dari sana lurus melewati jembatan. Pada pertigaan terdapat papan penunjuk arah. Ke kiri ke Alam Imajinasi, ke kanan ke Taman Jepang dan Rumah Kaca. Kau mau naik Go-Kart atau Bom Bom Boat atau yang sebangsanya? Tanya saya pada Arifa. Karena yang ditanya menggeleng, jadilah kami masuk ke Taman Jepang!
Dengan gerbang kayu bercat hitam cantik di depan dan belakang!
Masuk ke sana seperti masuk ke dunia yang sepenuhnya lain. Taman-tamannya rapi-kaku dan dingin tetapi karismatik. Persis seperti Jepang. Setidak-tidaknya dalam penggambaran saya. Sebuah jembatan kayu di atas ‘danau’ kecil menghubungkan dataran ke rumah kayu yang diisi beberapa pengunjung. Tak jauh dari sana, melalui jalan setapak berbatu, terdapat tempat lesehan.
Setelah lelah berkeliling berjalan kaki selama sekitar 2 jam, kami menuju Rumah Kaca sebagai tempat kunjungan terakhir sebelum pulang. Tapi karena masuk ke sana harus bayar lagi dan kami sudah terlanjur terlalu lelah untuk santai menikmati, akhirnya kami berbelok kanan dan bersiap untuk pulang!
Jadi inilah Taman Bunga yang konon Nusantara padahal sebetulnya menawarkan berbagai jenis taman dari beberapa penjuru dunia. Arifa hanya menanggapi sekilas, cekikikan, sebelum kami berdua bertanya-tanya, “Jadi, di mana sebetulnya Taman Amerika?”

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: