Beranda > Siklus > Batas Bias Kebebasan Berekspresi dan Menghasut Kebencian

Batas Bias Kebebasan Berekspresi dan Menghasut Kebencian

Jauh sebelum facebook lahir, friendster telah lebih dulu menjajal karir di dunia social media. Membludak? Iya. Alexa.com saja, si pencatat arus kunjungan ke berbagai situs, beberapa kali menasbihkan friendster sebagai yang nomor wahid. Tapi nothing last forever. Kejeniusan kontroversial Mark Zuckerberg meruntuhkan hegemoni friendster sekaligus mengubah sejarah situs pertemanan untuk selamanya.
Berawal dari ketertarikannya yang luar biasa pada IT, mahasiswa drop out Harvard itu merancang situs pertemanan yang kemudian diberi nama facebook. Rekam jejak karir facebook di dunia situs pertemanan luar biasa mengkilap. Hanya dalam tempo 1 tahun saja jangkauannya sudah sampai ke seluruh dunia. Mengubah perusahaan rintisan Zuckerberg itu dari senilai beberapa ribu dollar menjadi milliaran! Dan diperkirakan akan terus bertambah.
Lantas, apa yang menjadikannya ‘lebih hebat’ ketimbang friendster?
Banyak. Tapi mari mengerucutkannya pada satu hal sederhana saja: facebook diangkat ke layar lebar, sedangkan friendster tidak. Dalam film berjudul The Social Network, pola kemajuan facebook diberi tagline menggelitik: you can’t make a thousand friends without making any enemies.
Dari sanalah kita akan memulai bahasan.
Sebagai situs social media, facebook memiliki satu sifat asasi: yakni kemungkinannya untuk dijadikan wadah bagi segala bentuk jenis ekspresi. Ia tanpa sensor, ia tak memihak, ia tak menghukum. Ia hanya menyalurkan segala bentuk ekspresi, opini, kicauan, sumpah serapah. Apapun itu! Facebook tak akan marah jika status yang Anda tulis selalu hanya berupa sumpah serapah. Facebook juga tak akan melarang jika link yang Anda share membawa Anda ke situs-situs dewasa. Syahdan, jikapun foto yang Anda posting adalah foto telanjang, facebook tidak akan mengadukan Anda ke polisi.
Saking melekatnya facebook dengan kita, sampai-sampai karakter kita pun dapat dipersepsikan melalui biodata dan aktivitas kita di dalam faceb0ok. Kita adalah kita di dalam facebook. Jadi jika Anda sering menulis status yang bernada keluhan, maka Anda akan dipersepsikan sebagai pengeluh. Tak peduli apakah Anda sejatinya pengeluh ataupun bukan.
Contoh paling nyata terjadi pada Alexander Aan, warga Muaro Sijunjung, Sumatera Barat. Lelaki paruh baya ini dijatuhi hukuman penjara 2,5 tahun ditambah denda Rp 100 juta, karena ‘menyatakan’ diri atheis sekaligus memposting beberapa kartun yang dianggap menghina nabi Muhammad di dalam akun facebooknya. Berita selengkapnya dapat Anda simak di http://www.voaindonesia.com/content/mengakui-atheis-di-facebook-seorang-pria-di-sumatera-dipenjara/1211772.html Alexander Aan didakwa atas tuduhan menghina, menghasut kebencian, serta mendorong atheisme—yang tidak dibenarkan di negara berketuhanan Yang Maha Esa ini. Dalam proses persidangan, tuduhan menghina dan mendorong atheisme dibatalkan dan diganti dengan satu dakwaan: yakni menyebarkan kebencian bernuansa agama.
Lebih jauh, artikel tersebut juga mengkomparasikan kasus tersebut dengan beberapa kasus lain semisal: pembakaran buku Five Cities that Ruled the world, penutupan 20 gereja di Aceh, sampai gagalnya konser Lady Gaga. Kesemuanya mengerucut pada satu kesimpulan: (umat) islam telah mendicerai kebebasan berekspresi.
Apakah selesai sampai di sana? Tidak. Bagi saya, masalah ini lebih kompleks ketimbang ‘hanya sekedar’ pengakuan atheis seorang warga negara Indonesia dan pelecehannya yang berbau SARA. Kenapa bisa demikian?
Kita kembali ke bahasan di awal bahwa ‘kita akan dinilai dan dipersepsikan atas aktivitas kita di akun facebook’. Apa yang menimpa Alexander Aan membuktikan hal tersebut. Dia dianggap atheis karena menulis status bahwa dia atheis. Dia dianggap menghina nabi Muhammad karena memposting kartun yang provokatif. Akibat aktivitasnya tersebut, dia dijatuhi hukuman 2,5 tahun penjara.
Kendati kuasa hukumnya telah mengajukan pembelaan bahwa “maksud Aan menulis status bahwa di atheis adalah karena dia tidak punya teman untuk berbagi kegamangan batinnya menyoal Tuhan dan agama” toh yang dinilai dan dipersepsikan oleh masyarakat adalah apa yang dia tulis di akun facebooknya, bukan maksud di balik penulisan itu. Jadi ketika Aan menulis kalau dia atehis, vonis yang dijatuhkan adalah dia atheis. Adil atau tidak, inilah konsekuensi dari sifat alami dan efek kelekatannya dengan kita.
Kedua, menyoal analisis komparasi yang berkesimpulan bahwa (umat) islam telah menciderai kebebasan berekspresi, semestinya ditinjau ulang. Pertama, umat islam yang mana? Karena tidak semua penganut islam berpaham puritan dan radikal. Kedua, apa sejatinya kebebasan berekspresi itu? Di mana sebetulnya batas pemisah antara kebebasan berekspresi dan upaya menghasut kebencian?
Titik temu di antara batas bias kebebasan berekspresi dan upaya menghasut kebencian ternyata ada pada sikap moral sederhana: toleransi. Ketika kita saling menghormati perbedaan. Ketika kita saling menghargai keberagamaan.
Efeknya adalah, kebebasan menjadi tidak bebas secara mutlak akan tetapi bebas dengan tetap bertanggung jawab. Apa itu bebas tapi bertanggung jawab? Bebas dengan tetap menghormati kebebasan orang lain.
Jadi, jika Human Right Watch menilai hukuman terhadap Alexander Aan keliru karena telah menciderai kebebasan berekspresi, sebetulnya kurang tepat. Kenapa? Karena memposting kartun yang dianggap menghina nabi Muhammad adalah bentuk kebebasan yang intoleran. Yang oleh karenanya masuk ke dalam kategori: pelecehan. Tak heran jika umat islam bereaksi, karena isu soal SARA adalah selalu isu yang sensitif.
Dan ini bukan soal umat islamnya yang keras. Karena jika pelecehan serupa terjadi pada Yesus atau dewa-dewa milik umat Budha dan Hindu, toh mereka juga akan bereaksi serupa. Karena ini menyangkut kepercayaan mereka, ini menyangkut hak asasi mereka dalam memeluk agama. Itu saja.
Jadi, jika di dunia maya saja berlaku ‘aturan tak kasat mata’ yang harus dipatuhi para peselancar dunia maya, apalagi di dunia nyata. Karena bebas yang sebebas-bebasnya tidak akan membebaskan manusia. Alih-alih itu, justru menimbulkan chaos dan barbarianisme. Selamat bertoleransi, selamat berekspresi tanpa mesti melecehkan kebebasan orang lain. Terima kasih.

Iklan
Kategori:Siklus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: