Beranda > Sarjana Copas > Kodakenik Fotogenik

Kodakenik Fotogenik

Sehari setelah kabar kematian Kodak merebak, saya menyampaikan pidato bela sungkawa di hadapan ribuan alayers di Indonesia yang tengah berduka. Kita harus berterima kasih kepada Kodak, ujar saya, karena Kodak telah menjadi satu titik tolak evolusi kaum alay. Setengah berseloroh, saya melanjutkan: dahulu sebelum kamera digital lahir, Saudara-saudara, untuk satu kali berfoto saja sulitnya minta ampun. Kenapa bisa sampai sulit?

Pertama, tidak semua orang punya kamera. Baik itu yang Kodak asli maupun Kodak kw 7. Kamera menjadi salah satu barang mewah di bawah motor dan mobil. Setara dengan televisi dan kulkas dan telepon rumah. Kedua, jikapun punya, tidak semua orang bisa membeli roll film Kodak 35 mm setiap saat—lagipula buat apa? Terasa menghambur-hamburkan uang. Oleh karena itu, roll film Kodak 35 mm itu hanya dibeli ketika kami menghadapi momen-momen spesial: pernikahan, piknik ke Pelabuhan Ratu, samen atau prosesi kenaikan kelas, dan lain-lain.

Ketiga, jikapun kameranya ada—entah itu dapet beli ataukah minjam—dan roll film Kodak 35 mm atas berkat rahmat Tuhan berhasil terbeli, kami masih dihadapkan pada tiga masalah: pertama, tidak semua orang mahir memasangkan roll film Kodak 35 mm, dan kedua, karena satu roll hanya berisi maksimum 36 slide, maka kami harus pandai berhemat dan memilih momen agar tidak ada momen yang terlewat gara-gara roll film Kodak 35 mm-nya keburu habis. Masalah ketiga, kami harus berhati-hati saat memotret karena bisa saja hasilnya jelek, atau terbakar, atau menyisakan sebagian jari yang menutupi lensa, karena foto itu tidak bisa dihapus secara manual apalagi otomatis!

Keempat, okelah kita anggap tidak ada masalah: kamera ada, roll film Kodak 55 mm terbeli, bisa dipasangkan, difoto sudah pada momen-momen yang istimewa, sudah yakin seyakin-yakinnya tidak ada yang terbakar, tapi kami masih tetap saja menghadapi masalah: yakni afdruk. Foto itu belum bisa dilihat jika belum dicuci dan diafdruk. Karena untuk ‘mencuci’ dan meng-afdruk memerlukan biaya tambahan yang tak kalah besar, ada kalanya foto pernikahan yang digelar bulan Juli baru bisa dinikmati di penghujung Desember, atau foto menjelang idul fitri baru bisa dilihat pada idul adha. Kadang-kadang bikin penasaran, tapi di saat lain bikin geregetnya hilang, seperti makanan yang terlanjur basi: percayalah, menunggu itu tidak menyenangkan!

Akibat dari keempat faktor di atas adalah buruknya tingkat kefotogenikan kaum Alay Tempo Doeloe. Hal tersebut dapat dibuktikan dari minimnya gaya berfoto. Jika sendiri maka gayanya pasti tidak akan lepas dari gaya ini: jari membentuk tanda v perlambang damai, jari membentuk metal, kedua tangan masuk saku sembari memakai kacamata, duduk menyangga dagu dekat pohon, memandang nanar memegang daun pisang, melotot dengan pipi tegang seperti kebelet, senyum canggung seperti orang sariawan. Jika berdua, hanya berdiri berdekatan sambil memandang kamera, atau paling banter, merangkul pundak. Jika berfoto ramai-ramai, semua orang heboh berebutan takut nggak kebagian foto. Atau jika suasana sedang aman, saling merangkul pundak seperti pemain sepakbola sebelum bertanding, dan masih saja ada yang jarinya membentuk tanda metal.

Tapi tak selalu seburuk itu. Jika kami sedang tajir dan ingin foto yang ‘agak mendingan’, maka kami akan pergi ke studio foto dan berdiri kaku dan tegang berlatar gambar pemandangan, atau kain-kain polos warna merah dan biru. Kami akan terkesan oleh lampu blitz yang mengkilap, kami akan bersabar menunggu satu atau dua minggu sampai fotonya selesai, dan perlu satu bulan untuk bosan mengomentari-membicarakan satu foto itu.

Rasanya seperti punya harta keramat! Inilah citarasa alay berkemasan jadul. Alay Tempo Doeloe.

Era Digital

Mungkin yang saya ceritakan tadi terdengar ribet bagi Saudara-saudara generasi Alay Millenium. Tapi sebetulnya tidak. Kodak pada masa itu merupakan terobosan hebat dalam dunia fotografi. Berfoto yang asalnya super-duper-ribet disederhanakan prosesnya berkat penemuan George Eastman, seorang drop out SMA, mantan pegawai bank, penemu kamera genggam di tahun 1870-1880an, yang mengubah sejarah fotografi untuk selamanya.

Kamera Kodak terasa ribet karena Saudara-saudara melihatnya dari kacamata kamera digital yang super-duper-hi tech—perkembangan yang memungkinkan Anda melihat foto sebelum dicetak, yang tidak mengharuskan Anda membeli roll film Kodak 35 mm. Perkembangan berlanjut pada fitur kamera pada ponsel. Pada masa itu, ponsel juga mulai turun tahta dari barang mewah yang hanya dimiliki orang-orang kaya, menjadi barang setengah-mewah yang dimiliki kalangan atas dan menengah[1].

Efek langsungnya adalah: akses yang mulai tak terbatas terhadap dunia fotografi. Kami tidak harus bingung memikirkan uang untuk membeli roll film Kodak 35 mm, kami tidak harus bingung memikirkan biaya cetak, kami tidak harus takut kemungkinan hasil foto jelek, atau terbakar, atau menyisakan jari yang terpotret, kami juga tak perlu menunggu lama hanya untuk melihat hasil foto, dan tak perlu menunggu momen-momen spesial untuk berfoto. Karena semuanya bisa dilihat saat itu juga, bisa dihapus kalau benar-benar jelek, bisa diedit untuk diperbagus.

Alhasil, hobi berfoto semakin menjalar di mana-mana. Orang tak lagi berfoto hanya pada acara-acara nikahan, tapi ketika mau tidur, mau makan, saat marahan sama pacar, saat belajar, saat duduk menunggu guru, saat main kartu sembari begadang, saat makan baso, saat duduk melamun, saat ingin berfoto, saat upacara, saat berenang, saat mencangkul, dan semua aktivitas lainnya.

Akibatnya, tingkat kefotogenikan[2] mengalami lonjakan drastis. Hal ini ditenggarai oleh semakin variatifnya pose-pose saat berfoto: gaya nutup muka dengan kedua tangan, gaya memandang kamera ke atas, gaya menunduk dengan rambut tergerai, gaya memalingkan muka, gaya ngaduk-ngaduk rambut ketombean, gaya nyilangin jari di dekat bibir nyuruh diam, gaya merentang kedua tangan ke udara, gaya manyun, gaya tembem, gaya menekuk leher, gaya pura-pura tidur, gaya pura-pura baca, gaya pura-pura berantem, gaya lumba-lumba, gaya punggung, gaya galau, gaya centil, gaya sariawan (bibir mangap setengah senti), gaya bercermin, gaya menjulurkan lidah, dan masih banyak lagi.

Ketidakterbatasan ini—kemungkinan untuk bisa berfoto 1000 kali dalam setahun—membuat Alay Millenium menjadi Alay Paling Terlatih sepanjang sejarah. Setingkat di bawah kualitas foto model. Saking hebatnya kualitas Alay jenis ini, yang wajahnya berjerawat seabreg-abreg saja bisa disulap seperti Emma Watson. Yang kulitnya sawo matang saja bisa bikin seterang Nicole Kidman.

Kemudian, datanglah friendster, datanglah facebook.

Dan segalanya menjadi lengkap.

Koleksi foto yang awalnya hanya disimpan di komputer, untuk sebagian dicetak, sebagian dibikin slide-show dilengkapi musik dengan menggunakan aplikasi movie maker atau ulead, pada akhirnya mulai di-upload ke situs pertemanan tersebut: entah dijadikan sebagai foto profil atau foto-foto di album yang di-share atau di-tag-kan ke sebanyak mungkin teman. Lalu, habis foto, terbitlah ‘perndekatan’. Saling komen-komenan.

Kebiasaannya berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Yang perempuan biasanya lebih hobi memasang fotonya—tentu saja setelah diedit overmaksimal menggunakan adobe photosop—lalu akan malu-malu kucing ketika ada cowok yang ngasih jempol. Ketika ada komentar, “Foto kamu cantik banget.” Dia akan buru-buru membalas, “Ih itu waktu aku lagi jelek tauuuuuk!” Tiada lain tiada bukan ingin semakin dikagumi dan dipuja-puji. Jika perempuan itu single, maka ia akan menjadi rebutan para pria malang yang menggantungkan nasibnya di bawah tangan Mark Zuckerberg. Tapi jika dia perempuan yang sudah punya pacar atau bahkan suami, biasanya sampai membuat pertengkaran yang mengharuskan lahirnya satu profesi baru: polisi facebook[3].

Tapi jika lelaki, biasanya, lebih hobi untuk nge-add facebook wanita-wanita yang foto profilnya terlihat cantik. Apalagi jika ditambahi detail-profil seperti: hai, aku cewek bispak lho[4]. Setelah nge-add biasanya mereka melihat-lihat album foto si perempuan tersebut, dan mengcopy-paste sebagian ke ponsel atau PC-nya. Fungsinya untuk apa? Jika dia lelaki yang punya pacar, maka fungsi foto itu adalah untuk pelampiasan ketika dia berantem dengan pacarnya. Seolah-olah dengan memiliki foto-foto itu, dia juga memiliki akses yang baik terhadap perempuan-perempuan itu, maka dia tidak merasa galau dan kesepian. Tapi jika dia laki-laki jomblo, apalagi akut, maka foto-foto itu bisa dipamerkan sebagai foto pacar atau mantan-mantannya. Dan jika sedang sendirian sedang kejombloannya sedang menyublimkan rasa sakit, dia akan mengurung diri bersemedi di kamar mandi—dengan satu tangan memegang sabun dan tangan lain memandangi foto-foto itu—dan sembari merintih menangis dia akan meratap, “Kenapa oh kenapa!”

Sejarah Kamera

Adalah Robert Boyle—seorang peneliti asal Inggris—dan pembantunya, Robert Hooke, yang mula-mula menemukan kamera portable obscura pada tahun 1660-an, yang kemudian disempurnakan oleh Johann Zahn pada tahun 1685. Dengan ciri khasnya—selalu memakai lampu kilat dan mengeluarkan asap—kita akan dengan mudah menemukan kamera ini pada film-film ber-setting masa lampau.

Nyaris 2 abad kemudian—atau tepatnya pada tahun 1826—Joseph Niecephore Niepce membikin terobosan dengan membuat kamera yang mengharuskan objek fotonya bergaya selama 8 jam hanya demi satu buah foto yang masih buram. Saya ulangi, 8 jam hanya untuk satu foto! Berbekal pengalaman tersebut, sang ilmuwan bekerjasama dengan seorang seniman asal Prancis bernama Jacques Daguerre, dan mengembangkan teknologi daguerreotype. Yakni proses pembuatan foto yang menggunakan lempengan tembaga (copper) dalam proses cetak. Untuk teknologi ini, keduanya mendapat pensiun seumur hidup dari Pemerintah Prancis[5].

Dan berterima kasihlah Saudara-saudara Alayers sekalian kepada Frederick Scott Archer, karena dialah yang berhasil mengembangkan teknologi ‘foto-cepat’. Dari asalnya harus 8 jam hanya demi satu foto, kini hanya perlu lima detik saja! Tak kurang tak lebih! Beneran! Pada 1852 tercatat! Hanya 26 tahun setelah Joseph Niecephore Niepce menciptakan teknologi foto-delapan-jam-nya. Frederick Scott Archer menggunakan teknik collodion, yang memungkinkan gambar sudah dicetak ketika plat masih basah.

Penggunaan bahan gelatin menjadi rangkaian evolusi berikutnya, pada 1871. Richard Maddox menjadi aktor protagonis di balik penemuan tersebut. Bukan hanya menyempurnakan teknologi yang sudah diciptakan sebelum-sebelumnya, Richard Maddox juga membikin terobosan dengan membuat satu foto bisa dicetak lebih banyak dengan kualitas yang lebih baik. Jadi bergembiralah, Saudara-saudara, bergembiralah!

Evolusi kamera dan dunia fotografi semakin tak terbendung ketika memasuki abad ke-20. Setelah film berwarna ditemukan pada 1901, giliran film berwarna berlapis (kodachrome) meraja sebelum akhirnya ditutup oleh roll Kodak 35 mm. Itulah awal dari ‘akhir’ sebuah era. Kamera digital dan menyingkirkan yang tak mampu menyesuaikan.

Alay Syndrome

Sidang Alayers yang cemungudh eeaa.

Bergembiralah karena berkat inovasi invasi kamera digital dan social media, kaum kita akan menjadi 3 kali bahkan 4 kali lebih banyak. Tersebar tidak hanya pada kalangan ABG labil atau orang tua yang terlambat dewasa, tetapi juga kepada para politisi kelas kakap. Saya tidak mengada-ngada, sesungguhnya bersungguh-sungguh.

Baiklah, biar saya beri gambaran. Sepanjang 2003 sampai pertengahan 2006, setiap kali melewati gedung salah satu parpol besar di Indonesia, tak sekalipun saya menemukan baligo yang isinya foto-foto kader mereka, foto-foto ‘tokoh’ yang akan diusung partai ke kursi pemerintahan. Hari ini, ke manapun saya bepergian, saya selalu disambut dengan baligo, spanduk, stiker, dan/atau apapun yang berisi foto-foto para politisi.

Memang, pada pemilu langsung yang pertama, di tahun 2004, terdapat banyak foto para calon wakil rakyat dan presiden-wakil presiden, tapi kesemuanya tak pernah lepas dari gaya berfoto untuk KTP. Sebagian bahkan berwajah tegang seperti maling ketahuan warga. Tapi sekarang, lihatlah, gayanyapun bervariasi: ada yang menunjuk sembari mengubar janji akan membela rakyat, ada yang mengangkat tinju sembari tersenyum, ada yang duduk menyulam tangan sembari tersenyum tipis sekali, ada yang duduk di kursi warung nasi sembari bercanda dengan rakyat jelata, ada yang memakai baju adat lengkap dengan tagline dalam bahasa daerah, ada yang tiba-tiba menjadi alim dan mengucapkan selamat idul fitri padahal ia tak pernah puasa, ada yang saling berpegangan tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi, ada yang—karena tidak pede—memasang wajah tokoh negara sebagai latar belakang—entah Soekarno entah SBY.

Tapi yang paling unforgetable bagi saya adalah foto salah satu pimpinan parpol besar sekaligus taipan yang berhutang hidup kepada warga Porong Sidoarjo. Di beberapa pasar tradisional yang saya lewati, selalu saya menemukan baligo bergambar wajah sang taipan yang tersenyum senang disertai testimoni mengharukan dari rakyat yang telah ia bela. Testimoni itu kira-kira berbunyi: cemungudh eeaa kakaks (^_^)9


[1] Seperti kita tahu, hari ini ponsel turun tahta lagi, seperti banyak barang elektronik lainnya menjadi barang standar kebutuhan yang dimiliki mulai dari Presiden Bank Dunia sampai tukang mie ayam di Pasar Induk.

[2] Yang setara dengan frasa: tingkat kealayan.

[3] Akan dibahas di buku Makan Nggak Makan Asal Twitteran.

[4] Dan hal semacam ini biasanya sering dijadikan media untuk menipu teman yang katakanlah ‘mata keranjang’.

[5] Khusus untuk Niepce, karena dia sudah keburu meninggal sebelum Pemerintah Perancis memberinya pensiun seumur hidup, maka uang pensiunnya diserahkan kepada ahli waris.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: