Beranda > Sarjana Copas > Dari Madun Ke Djohar Arifin

Dari Madun Ke Djohar Arifin

Sebuah peradaban tidak akan hancur, kecuali ia hancur dari dalam. PSSI juga tidak akan hancur, kecuali ia hancur dari dalam.

Terdapat ironi yang menggelikan. Ketika Madun membangkitkan semangat anak-anak untuk bermain sepak bola lewat tendangan sosis ayam dan tendangan sosis sapinya, Okto Maniani malah masih terjebak di Yordania karena belum mendapat visa untuk masuk ke Palestina. Di saat Garuda di Dadaku mulai bertumbuh menjadi national anthem di Gelora Bung Karno, uang di sakuku malah jadi pemicu konflik berkepanjangan di PSSI—ketaktersentuhannya oleh KPK dan BPK membikin lapang untuk korup.

Ketika Bayu (diperankan Emir Mahira dalam film Garuda di Dadaku) berjuang keras demi mimpinya menjadi Patriot Garuda Muda, organisasi yang mengurusi malah sibuk saling sikut saling serang. Kita mulai jatuh hati pada pemain blesteran yang dinaturalisasi, atau pemain asing yang kadung lama di Indonesia seperti Cristian El Loco Gonzales, atau mutiara Timur yang eksplosif, tapi potensi-potensi besar itu dibiarkan tercecer tak terurus.

Tapi sebagai orang yang selalu berpikiran positif, saya berusaha mencari sisi-sisi positif dari fenomena ini. Setelah mandi kembang tengah malam selama 7 hari 7 malam, akhirnya saya mendapat wangsit dari tukang mie ayam di dekat pasar induk. Menurut wangsit tersebut, setidak-tidaknya ada 12 alasan kenapa kita harus mencintai PSSI.

Pertama, Indonesia adalah satu-satunya negeri di mana liganya saja ada dua! Coba tengok di Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, Prancis, Malaysia, Ukraina, semua-muanya hanya punya satu liga. Sekali lagi saya tegaskan: hanya punya satu liga! Inggris mengklaim sebagai negara dengan liga terbaik di dunia, tapi mereka cuma punya satu! Kita? (Muncul Ayu Tingting bawa kecrekan): Du-aaaaa.

Tapi kan di Inggris ada Piala FA dan Carling? Nah, itu kan sifatnya liga tambahan. Diatur tidak dengan skema poin seperti liga utama mereka: Barclays Premier League. Di Spanyol, Italia, Jerman, Prancis, liga-liga tambahan semacam itu juga ada kok—Copa del Rey, Copa Italia, dan lain-lain. Di Indonesia juga ada kan? Piala Soeratin, misalnya. Yang saya maksudkan adalah dua liga yang menggunakan skema poin dengan pertandingan home-away dan kedua-duanya menyatakan diri sebagai satu-satunya liga yang legal!

Saking legalnya kedua liga tersebut, beberapa klub malah sampai memecah diri menjadi dua seperti amuba: Persija IPL dan Persija ISL, Arema ISL dan Arema IPL. Di Inggris mana ada MU memecah diri menjadi dua, yang satu MU BPL, yang satu lagi MU The Real. Ditambah lagi penyaringan pemain ke timnas menjadi macet karena pemain hebat yang berada di lingkup ISL tak dilibatkan dalam timnas oleh Djohar Arifin—konon, inilah salah satunya penyebab kekalahan kita dari Bahrain 10-0. Hebat kan?

Kedua, saking hebatnya liga di Indonesia, namanya saja pakai bahasa internasional alias bahasa Inggris. Padahal, liga Spanyol yang diisi dua klub paling kesohor di dunia saja, nama liganya pakai bahasa Spanyol: La Liga. Atau Liga Italia: Lega Calcio. Atau Jerman: Bundesliga. Atau Prancis: Ligue 1. Atau Belanda: Eredevise. Semua-muanya menggunakan bahasa lokal, bahasa nasional mereka! Tapi lihatlah kita: ISL, Indonesia Super League. IPL, Indonesia Premier League. Dua-duanya berbahasa Inggris. Bahkan soundtrack ISL yang sering muncul di ANTV pun tagline-nya berbahasa Inggris: hey you, you’d rather believe, you’d rather believe! Liga kita berwawasan global, bertaraf internasional! Tinggal tunggu waktu saja sampai orang-orang sadar. Tapi kapan ya?

Tapi sudahlah. Masuk ke alasan ketiga: kursi ketua PSSI yang benar-benar nyaman. Saking nyamannya, Nurdin Halid saja ngamuk-ngamuk nggak mau diturunin. Sekalinya Nurdin Halid berhasil diturunin, rebutan kursi itu malah sampai bikin ‘oknum berkepala cepak’ turun tangan untuk ‘mengamankan’. Agenda Palembang sampai gagal gara-gara kejadian itu.

Keempat, kader-kader yang terlibat juga sangat rajin. Ini saja Djohar Arifin baru naik sudah mau diturunkan lagi. Saking rajin dan kritisnya. Tapi karena Djohar Arifin menanggapi dingin kritikan—termasuk soal kenapa 6 klub ujug-ujug masuk divisi utama—mereka akhirnya membikin KPSI—Komisi Penyelematan Sepak Bola Indonesia—yang akhirnya membikin PSSI Tandingan. PSSI La Nyalla Mattalitti. Persaingan semakin ketat. Yiiiha!

Kelima, saking hebatnya pengaturan liga—yang dualis ini—di Indonesia, sampai-sampai para pemain banyak yang tak terbayarkan gajinya selama berbulan-bulan. Tapi toh para pemain itu tetap mau bermain dan nggak mogok makan. Menurut koran Bola edisi 12-13 Mei 2012, kehebatan yang satu ini tidak lain dan tidak bukan diakibatkan oleh krisis keuangan dari klub yang secara finansial memang tidak sehat tapi dipaksakan ikut kompetisi oleh PSSI. Konon, hal ini jugalah yang membikin need of achievement para pemain semakin tinggi. Apa?

Iya. Dan kita masuk ke poin keenam: para pemain sepak bola Indonesia punya need of achievement yang tinggi. Kebutuhan untuk berpretasi yang luhur. Saking tingginya kebutuhan ini, mereka tak mau gitu aja nyerah kalau kalah. Jadi sekalinya kalah dan tetap susah bikin gol, ya bikin saja pemain lawan cedera hamstring. Kalau itu dirasa belum cukup, ya berantem sajalah di lapangan seperti pertandingan Persib vs Gresik United pada April 2012. Atau kalau wasit dirasa guoblok, maka serbu saja wasitnya, seperti dialami wasit Syarifudin—yang sampai harus dievakuasi dengan mobil polisi dengan pengawalan yang ketat saat memimpin partai Persiba Bantul vs Semen Padang di stadion Sultan Agung, Bantul, Sabtu (19/5)—dan Suharto, yang jadi bulan-bulanan pemain Persela saat duel vs PSMS (20/5)[1].

Ketujuh, untungnya Komdisnya baik hati. Jadi sejahat apapun pelanggaran seperti yang disebutkan di atas, toh belum kedengaran tuh tanda-tanda akan jatuhnya sanksi. Padahal di Inggris, saking kejamnya, Suarez karena nyebut ‘negrito’ ke Patrice Evra sampai dihukum nggak boleh main 8 laga plus sejumlah denda. Kebayang kan kalau satu tim ngeroyok wasit, terus semuanya dihukum 8 laga, terus yang mau main bola nanti siapa? Ternyata bukan hanya Axis yang baik, Komdis juga. Tak heran kalau yusuf Bachtiar, saja memuji, “Penegakkan hukum nyaris tidak ada. Komdis sekedar nama, tapi tak ada kerjanya.[2]

Kedelapan, kita sudah lazim mendengar isu soal wasit yang disogok. Padahal itu keliru. Yang benar adalah—jika memang kejadian semacam itu terjadi—mereka sebenarnya tidak sedang disogok, tetapi mereka hanya tidak mau dicap anak sombong karena menampik rezeki. Padahal Tuhan kan nggak suka orang yang sombong. Jadi kalau misal memang ada manajer klub atau official yang ngasih amplop, mereka cuma nggak tega kalau nggak nerima. Akibatnya, kita masuk ke poin kesembilan.

Yakni, mereka merasa harus membalas budi karena ciri-ciri orang yang baik adalah selalu tidak melupakan kebaikan orang lain. Jadi wajar dong kalau Manajer Tim Ayam Kampung FC memberi amplop, tiba-tiba wasitnya ngasih dua penalti yang rada aneh. Kan itu juga dalam rangka membalas kebaikan. Karena seperti kata pepatah, “Air susu nggak boleh dibalas dengan air comberan.”

Kesepuluh, hakim garis juga luar biasa baik. Mereka sangat berhati-hati. Dalam islam, sikap berhati-hati ini sangat dianjurkan agar kita terjaga dari perbuatan dosa. Misal kalau berwudlu disunnahkan setiap anggota wudlu dibasuh 3x demi tujuan menjaga kalau-kalau basuhan pertama belum sempurna. Nah, dalam konteks hakim garis agak lain. Saking berhati-hatinya mereka, striker yang nggak offside pun dibikin offside. Semata-mata karena pergerakan sang striker kurang sempurna di mata sang hakim garis. Jadi demi kehati-hatian, lebih baik di off side-kan saja!

Kesebelas, dan ini baik bagi perempuan, sepak bola Indonesia punya basis penonton yang cocok jadi tipe pacar idaman. Mau tahu? Coba lihat di Barclays Premier League. Terkadang, ketika tim kesayangan mereka kalah, mereka malah memilih pulang sebelum pertandingan benar-benar selesai. Tapi di Indonesia, fansnya setia. Kalau timnya kalah, mereka serempak membela, berkor berteriak, “Wasit goblog, wasit goblog.” Kalau dirasa belum cukup, mereka melemparkan botol minuman ringan, bom molotov, menyalakan petasan, memancarkan sinar laser, memukul pemain lawan, atau kalau perlu berantem sama supporter tim lawan, semata-mata karena mereka sayang banget sama tim favorit mereka.

Sekarang Anda bayangkan. Ketika Anda disakiti oleh orang lain, pacar seperti apa yang Anda inginkan: (1) yang malah pergi meninggalkan Anda seperti tipikal fans sepak bola BPL, ataukah yang (2) membela seperti supporter sepakbola tanah air?

Tapi masih ada kehebatan nomor dua belas. Yakni, saking hebatnya PSSI, timnasnya saja konon mau dibikin dua. Satu versi Djohar, satu lagi versi La Nyalla Mattalitti. Argentina boleh punya Messi, Higuain, Di Maria, Sergio Aguero, tapi mereka cuma punya satu timnas. Inggris boleh berbangga punya Wayne Rooney, tapi timnas mereka juga cuma satu. Spanyol, juara piala dunia 2010 saja, timnasnya juga cuma satu. Tapi kita, lagi-lagi, punya du-aaaa.

Kurang hebat apa lagi coba?

Sederet pujian pun dihaturkan kepada dualisme PSSI ini. Jimmy Napitupulu misalkan, wasit berlisensi FIFA ini memuji, “Kompetisi kita diambang kehancuran.” Hal yang diamini oleh Robby Darwis, “Pemain terbaik Indonesia tidak berkumpul menjadi satu. Hal itu membuat mutu pertandingan menurun.” Eddy Raharto, mantan wakil GM PSIS menimpali, “Banyak klub akhirnya sekadar ikut kompetisi tanpa target dan perencanaan yang jelas.” Bahkan saking hebatnya berkah dari dualisme ini, Alfred Riedl yang ‘meyakini’ bahwa Indonesia tidak akan masuk ke Piala Dunia setidaknya dalam 20 tahun ini[3], berkata, “Mutu kompetisi menurun karena pemain terbelah… sebagian besar kualitas pemain tidak mengalami perkembangan signifikan.[4]” Dan puncak dari segala puncak barangkali adalah insiden kematian suporter di GBK saat Persija menjamu Persib, serta seorang bonek ketika Persebaya menjamu Persija.

Dengan sederet hal positif di atas, satu-satunya hal yang bisa dilakukan Madun dan kawan-kawan sembari menunggu keputusan FIFA dan AFC, adalah tetap bermain bola, sebagaimana Moh. Hatta.


[1] BOLA, OLE NASIONAL. Hlm 2. (12-13 Mei 2012)

[2] Ibid.

[3] Dalam wawancara eksklusifnya dengan Alfito Deannova, TVOne.

[4] BOLA, OLE NASIONAL. Hlm 2-3. (12-13 Mei 2012)

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: