Arsip

Archive for Juni, 2012

Sehat Lahir Batin Dengan Susu Halal

Karena anak adalah aset kita di masa depan. Kenapa aset? Karena, pertama, dia adalah titipan yang Allah percayakan kepada kita. Karena dia adalah titipan, maka sudah selayaknya kita merawat dia sebaik mungkin agar si Pemberi Kepercayaan nggak marah, nggak kecewa terhadap kita. Lagipula, bukankah tidak semua orang diberikan kepercayaan yang luar biasa seperti itu? Jadi memastikan kita mampu merawat mereka dengan baik adalah juga sikap bersyukur. Dan Allah berjanji bahwa mereka yang bersyukur akan ditambah nikmatnya, sedangkan mereka yang kufur (nikmat) akan mendapat azab yang pedih.
Kedua, anak adalah aset karena anak dapat menjadi perpanjangan tangan kita dalam mendapatkan rezeki dari Allah. Bukankah Allah menjaminkan banyak anak banyak rezeki? Setiap anak membawa rezekinya sendiri-sendiri. Dan rezeki tak selalu, tak harus, tak melulu berupa uang. Nama baik, misalkan, adalah juga bentuk rezeki. Kemudian, kebanggaan. Apa yang dapat menggantikan rasa bangga seorang ayah terhadap anaknya yang berprestasi? Tak terbayar! Itu juga bentuk rezeki. Dan yang terpenting dari semua itu, adalah doa. Karena doa dari anak yang salih adalah pahala yang tidak akan pernah putus.
Karena itulah, menjaga dan merawat, memastikan anak tumbuh dengan baik adalah kewajiban kita selaku orang tua. Terlebih karena fase anak adalah fase pertumbuhan sekaligus pembentukan karakter. Pemastian kedua hal tersebut berada pada jalurnya yang benar adalah mutlak keharusan. Tapi bagaimana aplikasi dalam kesehariannya? Banyak. Salah satu yang paling sederhana namun fundamental adalah pemastian keterpenuhan kebutuhan gizi, terutama susu.
Kenapa susu?
Karena susu mengandung banyak manfaat bagi si anak. Ia tidak hanya akan mengenyangkan, tetapi juga, (1) menyehatkan tulang, (2) membuat gigi sehat, (3) mencegah obesitas, (4) mencegah diabetes, dan (5) menjaga anak dari dehidrasi. Hal tersebut dikarenakan susu megandung kalsium, fosfor, magnesium, protein, serta indeks glikemik rendah yang mampu mengontrol kadar gula darah .
Bahkan, saking fundamentalnya posisi susu dalam tumbuh-kembang anak, Imam Nawawi saja, dalam Kasyifah as-Saja, menyarankan agar anak diberi susu sampai usia 2 tahun. Tapi kemudian muncul pertanyaan: tapi apakah ASI eksklusif bisa selalu tersedia selama itu? Bisa saja sih. Tapi muncul pertanyaan lanjutan? Tapi kan banyak ibu yang merangkap jadi wanita karier. Bagaimana menyiasatinya?
Gampang. Dewasa ini, inovasi di bidang industri susu semakin gencar. Di satu sisi, ini baik demi terpenuhinya susu berkualitas. Tapi di sisi lain, ini mengkhawatirkan karena tak jarang produsen menambahkan zat-zat tertentu seperti pemanis buatan demi melariskan produknya. Karena itulah, dalam proses pemilihan susu bagi anak, setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi. Apa saja itu?
Pertama, sehat. Susu harus sehat, karena hanya susu yang sehatlah yang mampu memberikan manfaat optimal bagi tumbuh-kembang si anak. Lantas muncul pertanyaan: lalu, bagaimana caranya menentukan mana susu yang sehat dan mana yang tidak? Gampang, uji saja secara sederhana seperti ini. Susu yang sehat memiliki kriteria sebagai berikut: (1) warnanya putih kebiruan hingga kuning keemasan, (2) berasa gurih karena kandungan gula laktosa dan garam mineral, (3) berat jenis 1,028 kg/liter, (4) bertitik beku di -0,550 derajat celcius, serta, (5) bersifat amfoter, yakni berada diantara sifat asam dan basa, dengan pH alami berkisar 6,5-6,7 .
Kok ribet? Ada yang lebih sederhana?
Tenang, kita masuk dulu ke syarat yang kedua, yakni harus halal. Kenapa harus halal? Karena nabi saja menggaransikan bahwa kualitas akhlak manusia dipengaruhi oleh kualitas (baca: tingkat kehalalan) makanan dan minuman yang dikonsumsinya. Jika sejak kecil si anak sudah diberikan susu yang tidak halal, lantas mau jadi apa nantinya anak tersebut? Ke-halal-an makanan dan minuman dapat mempermudah masuknya petunjuk dari Allah, sedangkan keharaman malah mengunci mati hati kita dari petunjuk dan hidayah-Nya.
Jadi, jika kita ingin anak kita sehat lahir dan batin, berikanlah susu yang sehat lagi halal. Jika pengujian kriteria sehat di atas terasa ribet, lalukanlah yang mudah ini: susu yang sehat dan halal biasanya memiliki dua sifat, (1) keterpercayaan, (2) keterjaminan. Keterpercayaan adalah kualitas yang dijaga selama bertahun-tahun tanpa pernah mengecewakan pelanggan. Sedangkan keterjaminan adalah cap halal dari MUI yang menjadi penjamin bahwa susu tersebut diproduksi secara halal.
Jadi, jika kita berpangku pada dua sifat di atas, jelas susu Frisian Flag adalah pilihan yang layak diperhitungkan. Karena ia tidak hanya terpercaya bertahun-tahun, tetapi juga terjamin ke-halal-annya.

Iklan
Kategori:Siklus

Batas Bias Kebebasan Berekspresi dan Menghasut Kebencian

Juni 30, 2012 1 komentar

Jauh sebelum facebook lahir, friendster telah lebih dulu menjajal karir di dunia social media. Membludak? Iya. Alexa.com saja, si pencatat arus kunjungan ke berbagai situs, beberapa kali menasbihkan friendster sebagai yang nomor wahid. Tapi nothing last forever. Kejeniusan kontroversial Mark Zuckerberg meruntuhkan hegemoni friendster sekaligus mengubah sejarah situs pertemanan untuk selamanya.
Berawal dari ketertarikannya yang luar biasa pada IT, mahasiswa drop out Harvard itu merancang situs pertemanan yang kemudian diberi nama facebook. Rekam jejak karir facebook di dunia situs pertemanan luar biasa mengkilap. Hanya dalam tempo 1 tahun saja jangkauannya sudah sampai ke seluruh dunia. Mengubah perusahaan rintisan Zuckerberg itu dari senilai beberapa ribu dollar menjadi milliaran! Dan diperkirakan akan terus bertambah.
Lantas, apa yang menjadikannya ‘lebih hebat’ ketimbang friendster?
Banyak. Tapi mari mengerucutkannya pada satu hal sederhana saja: facebook diangkat ke layar lebar, sedangkan friendster tidak. Dalam film berjudul The Social Network, pola kemajuan facebook diberi tagline menggelitik: you can’t make a thousand friends without making any enemies.
Dari sanalah kita akan memulai bahasan.
Sebagai situs social media, facebook memiliki satu sifat asasi: yakni kemungkinannya untuk dijadikan wadah bagi segala bentuk jenis ekspresi. Ia tanpa sensor, ia tak memihak, ia tak menghukum. Ia hanya menyalurkan segala bentuk ekspresi, opini, kicauan, sumpah serapah. Apapun itu! Facebook tak akan marah jika status yang Anda tulis selalu hanya berupa sumpah serapah. Facebook juga tak akan melarang jika link yang Anda share membawa Anda ke situs-situs dewasa. Syahdan, jikapun foto yang Anda posting adalah foto telanjang, facebook tidak akan mengadukan Anda ke polisi.
Saking melekatnya facebook dengan kita, sampai-sampai karakter kita pun dapat dipersepsikan melalui biodata dan aktivitas kita di dalam faceb0ok. Kita adalah kita di dalam facebook. Jadi jika Anda sering menulis status yang bernada keluhan, maka Anda akan dipersepsikan sebagai pengeluh. Tak peduli apakah Anda sejatinya pengeluh ataupun bukan.
Contoh paling nyata terjadi pada Alexander Aan, warga Muaro Sijunjung, Sumatera Barat. Lelaki paruh baya ini dijatuhi hukuman penjara 2,5 tahun ditambah denda Rp 100 juta, karena ‘menyatakan’ diri atheis sekaligus memposting beberapa kartun yang dianggap menghina nabi Muhammad di dalam akun facebooknya. Berita selengkapnya dapat Anda simak di http://www.voaindonesia.com/content/mengakui-atheis-di-facebook-seorang-pria-di-sumatera-dipenjara/1211772.html Alexander Aan didakwa atas tuduhan menghina, menghasut kebencian, serta mendorong atheisme—yang tidak dibenarkan di negara berketuhanan Yang Maha Esa ini. Dalam proses persidangan, tuduhan menghina dan mendorong atheisme dibatalkan dan diganti dengan satu dakwaan: yakni menyebarkan kebencian bernuansa agama.
Lebih jauh, artikel tersebut juga mengkomparasikan kasus tersebut dengan beberapa kasus lain semisal: pembakaran buku Five Cities that Ruled the world, penutupan 20 gereja di Aceh, sampai gagalnya konser Lady Gaga. Kesemuanya mengerucut pada satu kesimpulan: (umat) islam telah mendicerai kebebasan berekspresi.
Apakah selesai sampai di sana? Tidak. Bagi saya, masalah ini lebih kompleks ketimbang ‘hanya sekedar’ pengakuan atheis seorang warga negara Indonesia dan pelecehannya yang berbau SARA. Kenapa bisa demikian?
Kita kembali ke bahasan di awal bahwa ‘kita akan dinilai dan dipersepsikan atas aktivitas kita di akun facebook’. Apa yang menimpa Alexander Aan membuktikan hal tersebut. Dia dianggap atheis karena menulis status bahwa dia atheis. Dia dianggap menghina nabi Muhammad karena memposting kartun yang provokatif. Akibat aktivitasnya tersebut, dia dijatuhi hukuman 2,5 tahun penjara.
Kendati kuasa hukumnya telah mengajukan pembelaan bahwa “maksud Aan menulis status bahwa di atheis adalah karena dia tidak punya teman untuk berbagi kegamangan batinnya menyoal Tuhan dan agama” toh yang dinilai dan dipersepsikan oleh masyarakat adalah apa yang dia tulis di akun facebooknya, bukan maksud di balik penulisan itu. Jadi ketika Aan menulis kalau dia atehis, vonis yang dijatuhkan adalah dia atheis. Adil atau tidak, inilah konsekuensi dari sifat alami dan efek kelekatannya dengan kita.
Kedua, menyoal analisis komparasi yang berkesimpulan bahwa (umat) islam telah menciderai kebebasan berekspresi, semestinya ditinjau ulang. Pertama, umat islam yang mana? Karena tidak semua penganut islam berpaham puritan dan radikal. Kedua, apa sejatinya kebebasan berekspresi itu? Di mana sebetulnya batas pemisah antara kebebasan berekspresi dan upaya menghasut kebencian?
Titik temu di antara batas bias kebebasan berekspresi dan upaya menghasut kebencian ternyata ada pada sikap moral sederhana: toleransi. Ketika kita saling menghormati perbedaan. Ketika kita saling menghargai keberagamaan.
Efeknya adalah, kebebasan menjadi tidak bebas secara mutlak akan tetapi bebas dengan tetap bertanggung jawab. Apa itu bebas tapi bertanggung jawab? Bebas dengan tetap menghormati kebebasan orang lain.
Jadi, jika Human Right Watch menilai hukuman terhadap Alexander Aan keliru karena telah menciderai kebebasan berekspresi, sebetulnya kurang tepat. Kenapa? Karena memposting kartun yang dianggap menghina nabi Muhammad adalah bentuk kebebasan yang intoleran. Yang oleh karenanya masuk ke dalam kategori: pelecehan. Tak heran jika umat islam bereaksi, karena isu soal SARA adalah selalu isu yang sensitif.
Dan ini bukan soal umat islamnya yang keras. Karena jika pelecehan serupa terjadi pada Yesus atau dewa-dewa milik umat Budha dan Hindu, toh mereka juga akan bereaksi serupa. Karena ini menyangkut kepercayaan mereka, ini menyangkut hak asasi mereka dalam memeluk agama. Itu saja.
Jadi, jika di dunia maya saja berlaku ‘aturan tak kasat mata’ yang harus dipatuhi para peselancar dunia maya, apalagi di dunia nyata. Karena bebas yang sebebas-bebasnya tidak akan membebaskan manusia. Alih-alih itu, justru menimbulkan chaos dan barbarianisme. Selamat bertoleransi, selamat berekspresi tanpa mesti melecehkan kebebasan orang lain. Terima kasih.

Kategori:Siklus

Citarasa Dunia di Taman Bunga Nusantara

Tapi memang, jika konteks “Nusantara” pada nama “Taman Bunga Nusantara” itu mengacu pada “Indonesia hari ini”, maka penamaan taman seluas 35 hektar ini agak keliru. Kenapa? Karena tipe taman yang menghuni taman ini lebih bercitarasa dunia ketimbang Nusantara semata.
Hanya bermodal 20 ribu sebagai tiket masuk, Anda akan disuguhi panorama taman berbunga yang luas dengan seekor burung merak raksasa menyambut dekat air terjun. Burung merak itu bukan sembarang burung merak karena merupakan patung yang ditumbuhi bunga di sekujur tubuhnya.
Dari air terjun jernih yang memanjang terdapat dua jalur jalan. Ke kiri ke Rumah Kaca, ke kanan ke Taman Amerika. Baiklah, seperti sudah saya bilang, mari kita ke taman Amerika. Melewati patung kerbau yang menarik gerobak penuh bunga, kami beralih ke jalan setapak berkrikil dimana dua patung dinaosaurus bersiaga. Tapi begitu tiba kembali di jalan beraspal, arah ke Taman Amerika tidak kami temukan. Alih-alih hanya patung barongsai di kejauhan, lesehan di dekat pintu masuk area piknik, serta taman berbunga di kejauhan.
Tapi Taman Apa? Ini penampakannya!

Arifa masih malu-malu diambil foto, jadi kami hanya berkeliling menikmati bunga mawar merah dan putih dan kuning. Di setiap blok mawar yang diapit dedaun yang dibikin berbentuk balok, terdapat tempat duduk melingkar yang berpayung pohon rindang. Membatasi dua blok bunga mawar tersebut, sebuah air mancur membikin sejuk.
Dan mari lihat di sebelah depan!
Taman Prancis!
Arifa menyukai Paris lebih dari kota manapun di dunia ini. Melihat miniatur tamannya adalah kesyahduan tersendiri bagi gadis ini. Okelah, mau berfoto? Tapi lagi-lagi malu-malu kucing. Kami berjalan-jalan saja melihat kotak-kotak bunga dengan pilar-pilar dari daun di setiap sudut, air mancur di kedua sisi, kursi memanjang di pinggiran jalan.
Lalu ke mana?
Karena bingung, sembari melihat peta, kami masih mencari dimana sebetulnya Taman Amerika. Tapi karena yang lebih mencolok justru Menara Pandang dan Taman Labirin, maka kami memutuskan mencicipi taman yang disebut belakangan.
Masuk melalui pintu belakang, tinggi daun di taman labirin ini sekepala saya. Bergerak mengikuti ke mana hati membawa kami, tiba-tiba saja kami sudah masuk lebih jauh dari pintu belakang. Tapi ketika kami hendak masuk lebih dalam, sekumpulan awan hitam terdorong cepat ke atas kepala.
Diteruskan atau berbalik arah dan cari tempat berteduh? Nampaknya tidak akan hujan. Tapi orang-orang di sana sudah berlarian kehujanan? Sebelum percakapan itu selesai, satu-dua butir hujan jatuh. Kami resmi mencari arah pintu keluar tapi yang pertama kami temukan justru jalan-buntu. Baiklah, kita balik arah!
Kembali mengikuti arah berlawanan sementara seorang lelaki malah berlari ke belakang kami, berharap menemukan pintu keluar. Nah lho! Hujan kian menderas ketika akhirnya kami menemukan pintu keluar. Berteduh sejenak bersama tiga orang remaja belasan tahun. Sebelum hujan semakin deras, kami berlari melewati Taman Paris dan berteduh di mushalla.
Hujan jatuh nyaris setengah jam. Dan sepanjang itu pula kami cemas kalau-kalau petualangan kami harus berakhir sampai di sana. Tapi karena segala sesuatu selalu mengandung hikmah, maka panorama Taman Mawar dan Taman Paris sewaktu hujan tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Dengan perpaduan antara kabut dan gunung di kejauhan, hujan yang ritmis dan udara yang menyegarkan, Garden Tram yang sesekali melewati Taman Paris membikin kami serasa berada di Eropa.
Baiklah, baiklah, tapi kalau tak percaya simak saja fotonya!
Baru setelah hujan mereda kami melanjutkan tur ke Air Mancur Musikal tempat Arifa beberapa kali difoto di depan patung bebek untuk kemudian melanjutkan tur ke Taman Bali. Taman Bali? Baiklah, ujar saya dalam hati, tidak boleh berekspektasi. Bali adalah Pulau Dewata disetiap jengkalnya. Pengalaman ke sana tak terlupakan. Menikmati miniatur taman dari Bali bisa-bisa membikin kecewa.
Taman Bali dibuka oleh gafura berwarna pastel. Membuka dua jalur di mana rerimbun pepohonan acak tersebar dimana-mana. Berbeda dari Taman Paris yang rapi dan teratur dan polos dan cantik dan menawan, Taman Bali lebih ekspresif, alami, memikat. Di dalamnya terdapat saung dan gapura dan danau dan jembatan kayu dan riak air memercik.
Inilah Nusantara yang sejati. Iklim tropisa dan spontanitas yang kaya dan tak tertebak.
Mau lanjut? Ke mana sekarang? Mari kita lihat peta!
Tak sulit menemukan pintu keluar dan mendapati Taman Palem. Tapi kelengangannya yang hanya sesekali diganggu Garden Tram yang melintas tak membikin saya tertarik. Kecuali untuk berfoto di kursi taman berdua dengan Arifa, tak ada lagi aktivitas yang bisa kami kerjakan jadi kami melanjutkan perjalanan ke Taman Mediterania.
Nah, inilah taman favorit saya. Dengan meja dan kursi dari batu, kerikil dan kaktus, dan rumah warna salem pink beratap rata tanpa pintu. Segalanya terlihat begitu komplit. Kami berfoto di dekat patung kura-kura dari batu kemudian menikmati rumah mediterania yang berisi jajaran pohon kaktus aneka spesis. Kaktus-kaktus tersebut diberi pagar dan di gang yang selebar pintu masuk, terdapat sebuah kursi taman.
Hujan kini telah benar-benar berhenti.
Dari Taman Mediterania, kami naik ke Menara Pandang dengan membayar seribu perak per orang sebagai tiket masuk. Dari sana sejauh mata memandang hanya taman, taman, dan taman. Hanya bunga, bunga, bunga, dalam gradasi yang berpresisi luar biasa. Tapi karena waktu sudah semakin sore, kami kembali turun dan kebingungan: nah, sekali lagi, sekarang ke mana hayoo?
Kami mengambil jalur di samping Taman Labirin sebelum sadar bahwa itu jalan itu hanya menyambungkan kami ke taman-taman yang sudah dijelajah. Sebaliknya, Taman Jepang dan Rumah Kaca belum kami singgahi. Jadi lantas harus ke mana?
Akhirnya, kami berbalik ke arah Taman Mediterania dan dari sana lurus melewati jembatan. Pada pertigaan terdapat papan penunjuk arah. Ke kiri ke Alam Imajinasi, ke kanan ke Taman Jepang dan Rumah Kaca. Kau mau naik Go-Kart atau Bom Bom Boat atau yang sebangsanya? Tanya saya pada Arifa. Karena yang ditanya menggeleng, jadilah kami masuk ke Taman Jepang!
Dengan gerbang kayu bercat hitam cantik di depan dan belakang!
Masuk ke sana seperti masuk ke dunia yang sepenuhnya lain. Taman-tamannya rapi-kaku dan dingin tetapi karismatik. Persis seperti Jepang. Setidak-tidaknya dalam penggambaran saya. Sebuah jembatan kayu di atas ‘danau’ kecil menghubungkan dataran ke rumah kayu yang diisi beberapa pengunjung. Tak jauh dari sana, melalui jalan setapak berbatu, terdapat tempat lesehan.
Setelah lelah berkeliling berjalan kaki selama sekitar 2 jam, kami menuju Rumah Kaca sebagai tempat kunjungan terakhir sebelum pulang. Tapi karena masuk ke sana harus bayar lagi dan kami sudah terlanjur terlalu lelah untuk santai menikmati, akhirnya kami berbelok kanan dan bersiap untuk pulang!
Jadi inilah Taman Bunga yang konon Nusantara padahal sebetulnya menawarkan berbagai jenis taman dari beberapa penjuru dunia. Arifa hanya menanggapi sekilas, cekikikan, sebelum kami berdua bertanya-tanya, “Jadi, di mana sebetulnya Taman Amerika?”

Dan Sendirian, Di Pantai Pulau Impian

Juni 30, 2012 2 komentar

Bali selalu mengesankan. Bukan hanya soal kulturnya, tetapi juga deret pantai di sejauh mata memandang. Bali adalah mahakarya dewata. Tak heran jika, jauh sebelum orang asing ngeh dengan Indonesia, mereka lebih dulu jatuh cinta pada pulau mungil yang satu ini. Tapi kecuali udara teriknya yang gerah, tak ada komplain apapun soal kompleksitas kecantikan pulau ini.
Pada hari pertama tiba di Bali, kami berburu sunset di Pantai Kuta. Duduk dan berfoto dan hanya memandang jauh ke laut lepas. Ribuan orang tumpah-ruah memenuhi setiap sudut pantai: sebagian berlari, sebagian berenang, satu-dua orang berselancar, tiga-lima orang lari-lari kecil, tujuh-delapan orang berjemur. Tapi matahari yang dinanti sejak tadi malah tertutup awan tepat ketika dia mulai terbenam. Alhasil, perburuan pun gagal. Tapi tak masalah, kami masih bisa ke sini lagi esok hari, bukan?
Butuh 37 jam untuk tiba di Bali. Kami berangkat naik kereta api jurusan Bandung-Malang yang berangkat pukul setengah 4 hari rabu dan tiba dini hari pada Jumat. Main kartu di depan Circle K menunggu pukul 6 untuk check in hotel yang disediakan panitia, setelah menyantap soto Madura di pelataran Wisma Cottage 2. Selepas itu tidur demi mengembalikan kondisi tubuh yang kelelahan, dan baru sore hari sempat ke pantai setelah berhasil menyewa motor demi kebutuhan jalan-jalan.
Tapi jadwal hari kedua meleset. Kami tak penasaran lagi pada sunset di Pantai Kuta, alih-alih itu rombongan terbagi ke dalam dua bagian. Satu, memilih berangkat ke Uluwatu demi menikmati Dreamland Beach dan Uluwatu Beach. Satu lagi, yakni kami, memilih ke Pantai Legian. Kenapa kami memilih ke pantai Legian?
Selepas selesai acara, saya terlambat sampai ke asrama. Karena memilih untuk mampir dulu ke Joger, akhirnya saya melepaskan kesempatan untuk berangkat sama-sama ke Uluwatu. Begitu selesai belanja oleh-oleh, saya mendapati tiga kawan saya yang tidak keburu ikut ke Uluwatu sedang santai makan sore di salah satu tempat makan. Kenapa belum berangkat? Percuma, Ak, jawab salah seorang dari mereka, udah kesorean, nggak akan keburu kalau ke Uluwatu. Mending ke Legian aja yuk? Deket dari sini.
Akhirnya, kami berenang di Legian. Hanya bertiga. Yang seorang sudah merasa cukup dengan duduk menunggui pakaian dan sandal kami. Langit menggelap dan ombak terdengar lebih nyaring bergemuruh. Selepas berenang, kami duduk di kursi berpayung sembari menyeruput sebotol cola dingin. Berbincang dengan Penjaga Pantai. Seorang bule paruh baya masih berenang bermeter ke kedalaman. Anaknya yang balita, berdiri berjinjit di mulut pantai, melepas pandang berharap ayahnya akan muncul ke permukaan.
Tapi ayahnya masih masyuk berenang dan si ibu memilih membawa anaknya ke tepi pantai. Tak lama kemudian ayahnya muncul di mulut pantai dan keluarga itu pun bergegas pulang. Pada saat itu saya tersadar. Saya berumur 20 tahunan dan masih takut-takut kalau harus berenang ‘agak jauh’ ke kedalaman. Orang bule itu, pendatang dan tamu di bumi Indonesia ini, berenang jauh ke tengah seolah ini adalah pantai mereka sendiri. Pertanyaan selanjutnya agak menohok, siapa sebetulnya yang menjadi tuan rumah di Indonesia kita ini?
Barangkali memang tak sevital itu. Barangkali karena saya saja yang terlalu penakut. Namun begitu, hasrat untuk mendatangi pantai-pantai lain di Bali semakin menggebu-gebu. Sejak dalam perjalanan, pantai-pantai di Uluwatu memang menjadi perbincangan hangat. Kunjungan ke sana akan menjadi titik krusial dalam liburan kali ini. Tapi bagaimana mungkin? Besok harus sudah check out dari hotel pukul 9 pagi, sedangkan sekarang sudah malam. Saya menyimpan mimpi itu dalam-dalam sembari berharap suatu saat bisa kembali ke Bali demi mengunjungi kompleks pantai Uluwatu.
Pada perjalanan pulang, kami mampir ke Ground Zero demi melihat monumen peringatan tragedi Bom Bali yang fenomenal itu. Tragedi yang tidak hanya meyorot Bali, pulau yang damai ini, ke dalam pemberitaan yang menyudutkan Indonesia, tetapi juga menyorot Islam dan terorisme. Butuh bertahun-tahun bagi kita untuk meyakinkan bangsa asing bahwa kita adalah masyarakat yang toleran, yang ramah, yang easy welcoming.
Setibanya di hotel, kawan saya yang ke Uluwatu bercerita tentang keindahan pantai di sana, dan bagaimana mereka harus menyiasati untuk memilih hanya satu dari sekian banyak pantai untuk dikunjungi. Kenapa hanya satu? Karena mereka nyasar di perjalanan sehingga sudah mau petang setibanya di sana.
Tapi hati saya kok tak rela. Saya merasa harus ke sana apapun caranya karena kapan lagi bisa main ke Bali? Belum tentu. Kesempatan tak selalu datang dua kali. Saya berpikir dan berpikir dan kemudian… Aha! Saya mendapat ide. Saya membuka daftar kontak blackberry massanger saya dan kemudian mengirim pesan….
Sudah sejak subuh saya keluar kamar. Saya shalat di mesjid di kompleks tentara sembari harap-harap cemas. Tadi malam saya meminta tolong pada teman kuliah yang kebetulan sedang mengunjungi pamannya di Bali. Saya meminta diantarkan ke Uluwatu sejak subuh karena saya harus sudah di hotel pukul 8. Dia menyanggupi.
Tapi di mana dia?
Belum selesai saya berdoa, bbm saya berbunyi. Dia menunggu di luar kompleks. Kami berkendara menuju Uluwatu. Melewati bandara Ngurah Rai dan Universitas Udayana. Saya berusaha menghafal jalan, demi Tuhan, tapi karena gelap, akhirnya saya nyerah. Kami naik ke pebukitan, tempat dia beberapa kali bertanya kepada warga, di mana pantai Dream Land itu berada. Akhirnya, setelah beberapa kali bertanya, kami menemukan sebuah gerbang berpatung garuda raksasa lengkap dengan lambang freemasonry-nya.
Melewati gerbang itu, saya merasa mencium bau pantai. Bau kebebasan. Rasanya seperti mimpi! Baru sore kemarin saya putus asa dan berpikir tidak akan bisa ke sini, tapi pagi ini keajaiban membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia sama sekali tak mustahil. Ia niscaya. Tapi di mana gerangan pantai yang kesohor itu?
Setelah dua kali berputar karena malah masuk ke kompleks golf milik Tommy Soeharto, akhirnya kami berhasil menemukan belokan menuju pantai Dream Land. Setelah teman saya memarkir motor, saya berlari ke bawah, ke arah pantai. Melewati susuran jalan yang diapit pertokoan di sisi kanan dan rawa-rawa di sisi kiri. Kabel sebesar paha menyembul dari dasar rawa seumpama ular phyton. Dan gagasan itu mengangguku.
Ke mana orang-orang?
Tak ada siapapun di sana kecuali saya. Teman saya pun memilih menunggu di pelataran parkir. Tapi pantai apakah ini? Benarkah ini Dream Land Beach? Saya mulai ragu. Langkah saya melambat. Kendati pantai dan ombak dan pasir yang tampak di depan mata begitu indah, keyakinan saya mulai meluruh. Apakah benar ini Dream Land Beach? Kenapa bisa sebegini sepi?
Untungnya, selepas beberapa langkah, saya mendapatkan kepastian. Tepat di tembok di salah satu cafe, terdapat sebuah tulisan seperti ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

Sisa 10 menit di sana dihabiskan untuk berfoto. Teman saya kemudian datang untuk ikut menikmati kesunyian, keindahan, kecantikan, kebersahajaan, ketiadaan, keberjarakan. Sesuatu yang membuat kabut dan biru laut dan gemuruh ombak dan batu karang dan pasir kelabu dan cafe dan tangga kayu seperti not-not pembangun simfoni Mozart. Agung dan melenakan!
Ya Tuhan, saya sendirian, di Pantai Pulau Impian!

 

 

 

 

 

 

 

Kami melanjutkan perjalanan ke arah Pantai Uluwatu. Tapi karena waktu sudah semakin siang, saya harus memutuskan satu diantara dua pilihan: Uluwatu ataukah Padang Bay. Saya memilih yang kedua. Berbelok ke kanan, kami menyusuri jalanan selebar dua mobil diantara pebukitan dan hutan.
Kawan saya menjelaskan, Uluwatu memang kompleks pantai-pantai indah di Bali. Selain dua yang saya kunjungi hari ini, sebetulnya masih banyak lagi. Sebagian tersembunyi dan belum banyak terjamah turis. Saya semakin takjub.
Setibanya di Padang Bay, kami memarkir motor di tempat parkir yang kosong. Berjalan melewati gapura hindu, seorang bule paruh baya sedang bersiap untuk berselancar. Kami memasuki terowongan kecil selepas penunjuk arah, dan kemudian terkesima oleh pantai yang berbatu karang.
Tak banyak orang di sini kecuali beberapa penjaga pantai dan beberapa papan luncur. Sekawanan orang utan berlari-lari kecil dari rumahnya ke mulut pantai, demi kembali lagi sembari meloncat-loncat ke rumahnya. Ombaknya bergemuruh. Birunya jernih hingga ke tapal batas perspektif dua dimensi.

 

 

 

 

 

 

 

Saya yakin, di sinilah Elizabeth Gilberth memutuskan untuk menikah dengan pria pujaannya. Saya yakin, tempat inilah salah satu alasan kenapa Elizabeth Gilbert kembali ke Bali untuk kedua kalinya. Eat Pray Love memang luar biasa.
Tapi Indonesia lebih dari segalanya.

Situ Gunung, Folklor dan Daya Tarik Magis

Kendati lokasinya berada di pinggiran Sukabumi, toh saya pertama kali tahu keberadaan Situ Gunung dari Buku Sejarah Cianjur. Menurut buku tersebut, danau di kaki Gunung Gede Pangrango tersebut dibuat oleh Mbah Jalun demi merayakan kelahiran putra pertamanya. Tapi siapa sebetulnya Mbah Jalun itu?

Dia adalah pangeran Mataram yang sangat anti-Belanda. Alih-alih hidup di istana dengan segala kemewahan dan fasilitasnya, Mbah Jalun malah memilih hidup berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung yang lain sembari mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda. Naik pitam, Belanda mengerahkan pasukannya demi menangkap sang pangeran, tapi pangeran tersebut selalu mampu meloloskan diri dengan cara yang supranatural.

Suatu ketika, dalam pengejaran Belanda, Mbah Jalun berlari menelurusi hutan Gunung Gede Pangrango. Betapapun hebat tentara-tentara Belanda, toh mereka tak akan mengenal kontur hutan lebih baik daripada Mbah Jalun. Setelah sekian lama dalam pelarian, Mbah Jalun menetap di sebuah daerah yang kelak akan dikenal dengan nama: Cianjur.

Di titik itulah pertemuan antara Situ Gunung dengan Sejarah Cianjur. Di titik ketika Mbah Jalun memutuskan menetap di lereng selatan Gunung Gede yang kini terkenal dengan nama Gunung Masigit. Kenapa Gunung Masigit? Karena berdasarkan folklor yang beredar, di sinilah Mbah Jalun mendirikan masigit—masjid.

Pertanyaan menarik berikutnya adalah: Situs Megalithikum Gunung Padang yang dipercaya telah ada sekira 5000 tahun SM, memiliki batu berbentuk sujud di pintu gerbangnya yang mengarah tepat ke Gunung Masigit. Padahal, Gunung Masigit dibangun justru pada abad ke-19 Masehi. Kenapa bisa ‘sekebetulan’ itu?

Sejarah memang selalu memiliki sisi misteri yang lebih besar. Sama saja seperti alam semesta.

Tapi baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan.

Saya memutuskan untuk melakukan one day trip ke sana, tanpa menginap. Kenapa? Karena jarak dari rumah ke sana tak lebih dari 2 jam. Lagipula, kebutuhan saya ke sana hanya demi menyempurnakan riset untuk novel Meander yang saat itu sedang saya tulis. Saya mengajak serta Arifa, yang butuh relaksasi ditengah tekanan persiapan acara Gempas.

Pada hari jumat, setelah menjemput Arifa, kami berangkat ke Sukabumi. Shalat jumat di mesjid besar Sukabumi kemudian melanjutkan perjalanan tanpa makan siang. Begitu tiba di kantor Polsek Cisaat, kami berbelok ke kanan menuju Kecamatan Kadu Dampit. Ke kaki Gunung Gede Pangrango, ke ketinggian 850 Mdpl.

Setelah berkali-kali bertanya karena takut salah jalan, akhirnya kami tiba di pintu gerbang Situ Gunung. Ada dua tempat parkir. Satu dekat pintu gerbang, satu agak ke bawah. Saya memutuskan parkir di tempat yang kedua. Selepas itu jalan kaki menuruni bebukit. Diapit pepohon tinggi menjulang. Udara semilir sejuk. Beburung bersahut-sahutan.

Ada dua lokasi wisata di sini, sebetulnya. Satu, Curug Sawer. Yakni air terjun. Dan kedua, Situ Gunung. Yakni danau yang diapit oleh beberapa gunung. Oleh karena tujuan utama kami ke Situ Gunung, maka kami mengabaikan sepenuhnya keinginan berangkat ke Curug Sawer.

Dan inilah dia, Situ Gunung. Danau persembahan Mbah Jalun untuk putra pertamanya. Danau di kaki Gunung Gede-Pangrango yang diapit gegunung di delapan penjuru mata angin. Hamparan rerumput rata dengan beberapa pohon besar tersebar di beberapa titik. Mushalla kayu dekat toilet yang tak terurus. Beberapa pedagang yang tidur-tiduran karena sepi pengunjung. Sebuah perahu kayu yang diparkir dekat mulut danau. Sebauh ‘daratan’ mungil di tengah danau seumpama Samosir.

Selebihnya keheningan yang diselingi sahut burung-burung.

Situ Gunung

 

 

 

 

 

 

 

 

Di atas sebuah akar besar yang menyembul, kami duduk menikmati semilir angin sembari memakan roti isi cokelat. Hanya duduk beberapa lama tanpa bicara sepatah katapun. Apa yang ditawarkan Situ Gunung melebihi ekspektasi saya. Airnya memang tidaklah jernih atau biru atau hijau seperti Telaga Biru di dekat Curug Cibeureum. Alih-alih itu, airnya justru keruh kecokelatan. Tapi keheningan dan kesejukan yang dibawanya memberi kedamaian tak terdefinisikan.

Berjalan ke mulut danau, kami duduk sembari mendekatkan kaki kami pada air yang bergerak lirih, pelan. Mengikut ke mana angin berhembus. Dari ‘kebun’ di sisi kanan kami, menyeruak bapak dan anak yang tengah memancing ikan menggunakan jala. Keduanya berjalanan bersisian menyisir pinggiran danau.

 

 

 

 

 

 

 

Kami beralih duduk di teras mushalla, sekali lagi menikmati keheningan dan kesejukan dan kedamaian tak terdefinisikan. Tapi baru saja saya membuka perbincangan soal “apakah boleh berenang di danau itu ataukah tidak” sekumpulan anak kecil serempak membuka baju mereka di mulut danau dan melompat akrobatik ke dekat perahu. Byuuuuuur! Satu di antara mereka naik ke atas perahu sementara yang lain mendorong dari belakang.

Menuju “Samosir mungil” di tengah danau.

Pandangan saya tiba-tiba menjauh. Jauh melewati sekumpulan anak itu. Jauh menyebrangi danau besar kecokelatan itu. Pada jalan setapak kecil di bebukit di seberang danau. Benar, pada jalan setapak kecil di bebukit di seberang danau. Karena jika saya mampu melewati danau dan tiba di tepian sana untuk kemudian naik ke atas bukit, pemandangan yang tersaji pasti akan jauh lebih ajaib.

Tapi sekali lagi saya harus kembali ke realitas, sekali lagi harus menikmati pemandangan pemancing yang berjalan melewati sisi danau tempat kami duduk 10 menit yang lalu. Dan tiba-tiba saja saya merasa tak ada yang lebih ajaib daripada pemandangan itu. Karena inilah wajah Indonesia sejatinya: kesederhanaan dalam eksotisme dan keanggunan mistik, keceriaan komikal yang tak tergerus arus zaman. Hanya tinggal menunggu waktu bagi kita, Indonesia, untuk kembali menemukan jati diri sejatinya.

Pasti. Tak terelakkan.

Hanya tinggal menunggu momentum.

Dan tiga jam di sana serasa baru satu menit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Opera Travel Blog Competition

Kodakenik Fotogenik

Sehari setelah kabar kematian Kodak merebak, saya menyampaikan pidato bela sungkawa di hadapan ribuan alayers di Indonesia yang tengah berduka. Kita harus berterima kasih kepada Kodak, ujar saya, karena Kodak telah menjadi satu titik tolak evolusi kaum alay. Setengah berseloroh, saya melanjutkan: dahulu sebelum kamera digital lahir, Saudara-saudara, untuk satu kali berfoto saja sulitnya minta ampun. Kenapa bisa sampai sulit?

Pertama, tidak semua orang punya kamera. Baik itu yang Kodak asli maupun Kodak kw 7. Kamera menjadi salah satu barang mewah di bawah motor dan mobil. Setara dengan televisi dan kulkas dan telepon rumah. Kedua, jikapun punya, tidak semua orang bisa membeli roll film Kodak 35 mm setiap saat—lagipula buat apa? Terasa menghambur-hamburkan uang. Oleh karena itu, roll film Kodak 35 mm itu hanya dibeli ketika kami menghadapi momen-momen spesial: pernikahan, piknik ke Pelabuhan Ratu, samen atau prosesi kenaikan kelas, dan lain-lain.

Ketiga, jikapun kameranya ada—entah itu dapet beli ataukah minjam—dan roll film Kodak 35 mm atas berkat rahmat Tuhan berhasil terbeli, kami masih dihadapkan pada tiga masalah: pertama, tidak semua orang mahir memasangkan roll film Kodak 35 mm, dan kedua, karena satu roll hanya berisi maksimum 36 slide, maka kami harus pandai berhemat dan memilih momen agar tidak ada momen yang terlewat gara-gara roll film Kodak 35 mm-nya keburu habis. Masalah ketiga, kami harus berhati-hati saat memotret karena bisa saja hasilnya jelek, atau terbakar, atau menyisakan sebagian jari yang menutupi lensa, karena foto itu tidak bisa dihapus secara manual apalagi otomatis!

Keempat, okelah kita anggap tidak ada masalah: kamera ada, roll film Kodak 55 mm terbeli, bisa dipasangkan, difoto sudah pada momen-momen yang istimewa, sudah yakin seyakin-yakinnya tidak ada yang terbakar, tapi kami masih tetap saja menghadapi masalah: yakni afdruk. Foto itu belum bisa dilihat jika belum dicuci dan diafdruk. Karena untuk ‘mencuci’ dan meng-afdruk memerlukan biaya tambahan yang tak kalah besar, ada kalanya foto pernikahan yang digelar bulan Juli baru bisa dinikmati di penghujung Desember, atau foto menjelang idul fitri baru bisa dilihat pada idul adha. Kadang-kadang bikin penasaran, tapi di saat lain bikin geregetnya hilang, seperti makanan yang terlanjur basi: percayalah, menunggu itu tidak menyenangkan!

Akibat dari keempat faktor di atas adalah buruknya tingkat kefotogenikan kaum Alay Tempo Doeloe. Hal tersebut dapat dibuktikan dari minimnya gaya berfoto. Jika sendiri maka gayanya pasti tidak akan lepas dari gaya ini: jari membentuk tanda v perlambang damai, jari membentuk metal, kedua tangan masuk saku sembari memakai kacamata, duduk menyangga dagu dekat pohon, memandang nanar memegang daun pisang, melotot dengan pipi tegang seperti kebelet, senyum canggung seperti orang sariawan. Jika berdua, hanya berdiri berdekatan sambil memandang kamera, atau paling banter, merangkul pundak. Jika berfoto ramai-ramai, semua orang heboh berebutan takut nggak kebagian foto. Atau jika suasana sedang aman, saling merangkul pundak seperti pemain sepakbola sebelum bertanding, dan masih saja ada yang jarinya membentuk tanda metal.

Tapi tak selalu seburuk itu. Jika kami sedang tajir dan ingin foto yang ‘agak mendingan’, maka kami akan pergi ke studio foto dan berdiri kaku dan tegang berlatar gambar pemandangan, atau kain-kain polos warna merah dan biru. Kami akan terkesan oleh lampu blitz yang mengkilap, kami akan bersabar menunggu satu atau dua minggu sampai fotonya selesai, dan perlu satu bulan untuk bosan mengomentari-membicarakan satu foto itu.

Rasanya seperti punya harta keramat! Inilah citarasa alay berkemasan jadul. Alay Tempo Doeloe.

Era Digital

Mungkin yang saya ceritakan tadi terdengar ribet bagi Saudara-saudara generasi Alay Millenium. Tapi sebetulnya tidak. Kodak pada masa itu merupakan terobosan hebat dalam dunia fotografi. Berfoto yang asalnya super-duper-ribet disederhanakan prosesnya berkat penemuan George Eastman, seorang drop out SMA, mantan pegawai bank, penemu kamera genggam di tahun 1870-1880an, yang mengubah sejarah fotografi untuk selamanya.

Kamera Kodak terasa ribet karena Saudara-saudara melihatnya dari kacamata kamera digital yang super-duper-hi tech—perkembangan yang memungkinkan Anda melihat foto sebelum dicetak, yang tidak mengharuskan Anda membeli roll film Kodak 35 mm. Perkembangan berlanjut pada fitur kamera pada ponsel. Pada masa itu, ponsel juga mulai turun tahta dari barang mewah yang hanya dimiliki orang-orang kaya, menjadi barang setengah-mewah yang dimiliki kalangan atas dan menengah[1].

Efek langsungnya adalah: akses yang mulai tak terbatas terhadap dunia fotografi. Kami tidak harus bingung memikirkan uang untuk membeli roll film Kodak 35 mm, kami tidak harus bingung memikirkan biaya cetak, kami tidak harus takut kemungkinan hasil foto jelek, atau terbakar, atau menyisakan jari yang terpotret, kami juga tak perlu menunggu lama hanya untuk melihat hasil foto, dan tak perlu menunggu momen-momen spesial untuk berfoto. Karena semuanya bisa dilihat saat itu juga, bisa dihapus kalau benar-benar jelek, bisa diedit untuk diperbagus.

Alhasil, hobi berfoto semakin menjalar di mana-mana. Orang tak lagi berfoto hanya pada acara-acara nikahan, tapi ketika mau tidur, mau makan, saat marahan sama pacar, saat belajar, saat duduk menunggu guru, saat main kartu sembari begadang, saat makan baso, saat duduk melamun, saat ingin berfoto, saat upacara, saat berenang, saat mencangkul, dan semua aktivitas lainnya.

Akibatnya, tingkat kefotogenikan[2] mengalami lonjakan drastis. Hal ini ditenggarai oleh semakin variatifnya pose-pose saat berfoto: gaya nutup muka dengan kedua tangan, gaya memandang kamera ke atas, gaya menunduk dengan rambut tergerai, gaya memalingkan muka, gaya ngaduk-ngaduk rambut ketombean, gaya nyilangin jari di dekat bibir nyuruh diam, gaya merentang kedua tangan ke udara, gaya manyun, gaya tembem, gaya menekuk leher, gaya pura-pura tidur, gaya pura-pura baca, gaya pura-pura berantem, gaya lumba-lumba, gaya punggung, gaya galau, gaya centil, gaya sariawan (bibir mangap setengah senti), gaya bercermin, gaya menjulurkan lidah, dan masih banyak lagi.

Ketidakterbatasan ini—kemungkinan untuk bisa berfoto 1000 kali dalam setahun—membuat Alay Millenium menjadi Alay Paling Terlatih sepanjang sejarah. Setingkat di bawah kualitas foto model. Saking hebatnya kualitas Alay jenis ini, yang wajahnya berjerawat seabreg-abreg saja bisa disulap seperti Emma Watson. Yang kulitnya sawo matang saja bisa bikin seterang Nicole Kidman.

Kemudian, datanglah friendster, datanglah facebook.

Dan segalanya menjadi lengkap.

Koleksi foto yang awalnya hanya disimpan di komputer, untuk sebagian dicetak, sebagian dibikin slide-show dilengkapi musik dengan menggunakan aplikasi movie maker atau ulead, pada akhirnya mulai di-upload ke situs pertemanan tersebut: entah dijadikan sebagai foto profil atau foto-foto di album yang di-share atau di-tag-kan ke sebanyak mungkin teman. Lalu, habis foto, terbitlah ‘perndekatan’. Saling komen-komenan.

Kebiasaannya berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Yang perempuan biasanya lebih hobi memasang fotonya—tentu saja setelah diedit overmaksimal menggunakan adobe photosop—lalu akan malu-malu kucing ketika ada cowok yang ngasih jempol. Ketika ada komentar, “Foto kamu cantik banget.” Dia akan buru-buru membalas, “Ih itu waktu aku lagi jelek tauuuuuk!” Tiada lain tiada bukan ingin semakin dikagumi dan dipuja-puji. Jika perempuan itu single, maka ia akan menjadi rebutan para pria malang yang menggantungkan nasibnya di bawah tangan Mark Zuckerberg. Tapi jika dia perempuan yang sudah punya pacar atau bahkan suami, biasanya sampai membuat pertengkaran yang mengharuskan lahirnya satu profesi baru: polisi facebook[3].

Tapi jika lelaki, biasanya, lebih hobi untuk nge-add facebook wanita-wanita yang foto profilnya terlihat cantik. Apalagi jika ditambahi detail-profil seperti: hai, aku cewek bispak lho[4]. Setelah nge-add biasanya mereka melihat-lihat album foto si perempuan tersebut, dan mengcopy-paste sebagian ke ponsel atau PC-nya. Fungsinya untuk apa? Jika dia lelaki yang punya pacar, maka fungsi foto itu adalah untuk pelampiasan ketika dia berantem dengan pacarnya. Seolah-olah dengan memiliki foto-foto itu, dia juga memiliki akses yang baik terhadap perempuan-perempuan itu, maka dia tidak merasa galau dan kesepian. Tapi jika dia laki-laki jomblo, apalagi akut, maka foto-foto itu bisa dipamerkan sebagai foto pacar atau mantan-mantannya. Dan jika sedang sendirian sedang kejombloannya sedang menyublimkan rasa sakit, dia akan mengurung diri bersemedi di kamar mandi—dengan satu tangan memegang sabun dan tangan lain memandangi foto-foto itu—dan sembari merintih menangis dia akan meratap, “Kenapa oh kenapa!”

Sejarah Kamera

Adalah Robert Boyle—seorang peneliti asal Inggris—dan pembantunya, Robert Hooke, yang mula-mula menemukan kamera portable obscura pada tahun 1660-an, yang kemudian disempurnakan oleh Johann Zahn pada tahun 1685. Dengan ciri khasnya—selalu memakai lampu kilat dan mengeluarkan asap—kita akan dengan mudah menemukan kamera ini pada film-film ber-setting masa lampau.

Nyaris 2 abad kemudian—atau tepatnya pada tahun 1826—Joseph Niecephore Niepce membikin terobosan dengan membuat kamera yang mengharuskan objek fotonya bergaya selama 8 jam hanya demi satu buah foto yang masih buram. Saya ulangi, 8 jam hanya untuk satu foto! Berbekal pengalaman tersebut, sang ilmuwan bekerjasama dengan seorang seniman asal Prancis bernama Jacques Daguerre, dan mengembangkan teknologi daguerreotype. Yakni proses pembuatan foto yang menggunakan lempengan tembaga (copper) dalam proses cetak. Untuk teknologi ini, keduanya mendapat pensiun seumur hidup dari Pemerintah Prancis[5].

Dan berterima kasihlah Saudara-saudara Alayers sekalian kepada Frederick Scott Archer, karena dialah yang berhasil mengembangkan teknologi ‘foto-cepat’. Dari asalnya harus 8 jam hanya demi satu foto, kini hanya perlu lima detik saja! Tak kurang tak lebih! Beneran! Pada 1852 tercatat! Hanya 26 tahun setelah Joseph Niecephore Niepce menciptakan teknologi foto-delapan-jam-nya. Frederick Scott Archer menggunakan teknik collodion, yang memungkinkan gambar sudah dicetak ketika plat masih basah.

Penggunaan bahan gelatin menjadi rangkaian evolusi berikutnya, pada 1871. Richard Maddox menjadi aktor protagonis di balik penemuan tersebut. Bukan hanya menyempurnakan teknologi yang sudah diciptakan sebelum-sebelumnya, Richard Maddox juga membikin terobosan dengan membuat satu foto bisa dicetak lebih banyak dengan kualitas yang lebih baik. Jadi bergembiralah, Saudara-saudara, bergembiralah!

Evolusi kamera dan dunia fotografi semakin tak terbendung ketika memasuki abad ke-20. Setelah film berwarna ditemukan pada 1901, giliran film berwarna berlapis (kodachrome) meraja sebelum akhirnya ditutup oleh roll Kodak 35 mm. Itulah awal dari ‘akhir’ sebuah era. Kamera digital dan menyingkirkan yang tak mampu menyesuaikan.

Alay Syndrome

Sidang Alayers yang cemungudh eeaa.

Bergembiralah karena berkat inovasi invasi kamera digital dan social media, kaum kita akan menjadi 3 kali bahkan 4 kali lebih banyak. Tersebar tidak hanya pada kalangan ABG labil atau orang tua yang terlambat dewasa, tetapi juga kepada para politisi kelas kakap. Saya tidak mengada-ngada, sesungguhnya bersungguh-sungguh.

Baiklah, biar saya beri gambaran. Sepanjang 2003 sampai pertengahan 2006, setiap kali melewati gedung salah satu parpol besar di Indonesia, tak sekalipun saya menemukan baligo yang isinya foto-foto kader mereka, foto-foto ‘tokoh’ yang akan diusung partai ke kursi pemerintahan. Hari ini, ke manapun saya bepergian, saya selalu disambut dengan baligo, spanduk, stiker, dan/atau apapun yang berisi foto-foto para politisi.

Memang, pada pemilu langsung yang pertama, di tahun 2004, terdapat banyak foto para calon wakil rakyat dan presiden-wakil presiden, tapi kesemuanya tak pernah lepas dari gaya berfoto untuk KTP. Sebagian bahkan berwajah tegang seperti maling ketahuan warga. Tapi sekarang, lihatlah, gayanyapun bervariasi: ada yang menunjuk sembari mengubar janji akan membela rakyat, ada yang mengangkat tinju sembari tersenyum, ada yang duduk menyulam tangan sembari tersenyum tipis sekali, ada yang duduk di kursi warung nasi sembari bercanda dengan rakyat jelata, ada yang memakai baju adat lengkap dengan tagline dalam bahasa daerah, ada yang tiba-tiba menjadi alim dan mengucapkan selamat idul fitri padahal ia tak pernah puasa, ada yang saling berpegangan tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi, ada yang—karena tidak pede—memasang wajah tokoh negara sebagai latar belakang—entah Soekarno entah SBY.

Tapi yang paling unforgetable bagi saya adalah foto salah satu pimpinan parpol besar sekaligus taipan yang berhutang hidup kepada warga Porong Sidoarjo. Di beberapa pasar tradisional yang saya lewati, selalu saya menemukan baligo bergambar wajah sang taipan yang tersenyum senang disertai testimoni mengharukan dari rakyat yang telah ia bela. Testimoni itu kira-kira berbunyi: cemungudh eeaa kakaks (^_^)9


[1] Seperti kita tahu, hari ini ponsel turun tahta lagi, seperti banyak barang elektronik lainnya menjadi barang standar kebutuhan yang dimiliki mulai dari Presiden Bank Dunia sampai tukang mie ayam di Pasar Induk.

[2] Yang setara dengan frasa: tingkat kealayan.

[3] Akan dibahas di buku Makan Nggak Makan Asal Twitteran.

[4] Dan hal semacam ini biasanya sering dijadikan media untuk menipu teman yang katakanlah ‘mata keranjang’.

[5] Khusus untuk Niepce, karena dia sudah keburu meninggal sebelum Pemerintah Perancis memberinya pensiun seumur hidup, maka uang pensiunnya diserahkan kepada ahli waris.

“Jangan Kampungan, Mang!”

Rezza, keponakan saya yang baru selesai UN SD, dapet hadiah blackberry baru dari ayahnya. Sembari ingin pamer, dia ngedatengin saya buat minta pin. Saya membuka profil saya dan hendak mendiktekan nomor pin ketika dia bilang, “Jangan bodoh, Mang. Pake barcode saja.”

Karena saya belum pernah ngeadd blackberry temen pake barcode, saya bingung. Dia menepuk bahu saya sambil bilang, “Jangan kampungan, Mang. Sini, lihatin ini.”

Dia ngambil ponsel saya, ngebuka barcode, trus ‘motret’ si barcode itu pake ponsel milik dia. Setelah barcode itu tersimpan di ponselnya, sebuah ajakkan pertemanan masuk. Dari Rezza. Dengan sebuah nama alay-nya yang lain. Ya Masya Alllah!

Seminggu kemudian blackberry saya nge-hang. Semua data mesti direset dan dihapus karena erornya sudah tingkat dewa. Kontak blackberry saya kosong. Kali itu, saya nge-add Rezza pake pin. Nggak pake barcode.

Walaupun saya bisa saja ngebales dia, toh sebagai Amang yang baik saya berusaha memberi suri tauladan.

Sehari kemudian saya ngechat dia minta dia kirimin kontak blacberry Mamanya plus Irma. Dia bilang, “Nanti saja ya Mang.” Sampai disini saya belum curiga. Ketika sore harinya kami ketemu, cengengesan dia bilang, “Ngirim kontaknya gimana, Mang?”

“Kakak nggak tahu?”

“Dicopy kontaknya terus dikirim kan?”

“Bukaaaaaaaaan!” Teriak saya, tertawa. Kemudian, sebagai Amang yang baik, saya tepuk bahunya menenangkan dan bilang, “Makanya, Kak, jangan bodoh, jangan kampungan.”

Kemudian hening.

Kategori:PandoRandom