Beranda > Sarjana Copas > Siapa yang Harusnya Lebih Dulu?

Siapa yang Harusnya Lebih Dulu?

Perasaan bersalah saya setiap kali menyalip antrian di bank itu tak lepas dari rasa kesal saya kalau disalip ibu-ibu saat mengantri di kasir supermarket. Biar tidak bingung, saya pilah satu-satu. Saya menyalip antrian di bank hanya ketika ditugaskan menyetor uang oleh kakak saya. Sialnya 9 dari 10 kali saya ke bank, selalu untuk melaksanakan tugas kakak saya. Jadi, 90% saya ke bank pasti nyalip antrian.

Sebagai sweetheart man, nyalip antrian itu sama tak jantannya dengan minta jatah BLT dua kali. Jadi pas awal-awal melaksanakan tugas menyetor uang itu, saya harus berhadapan di tengah dua arus: pertama, saya ditugaskan untuk setor cepat-cepat dengan memanfaatkan akses yang dijaminkan oleh bank. Tapi kedua, saya juga tak tega melihat orang lain yang mengantri sejak pagi, jatahnya saya salip.

Sialnya, saya sadar betul bahwa jika saya merasa bersalah ketika saya berjalan ke arah kasir untuk menyetorkan uang, saya hanya akan membuat orang lain secara tidak sadar akan menyadari bahwa saya memang menyalip antrian—dan itu akan menghancurkan akting si kasir yang telah berpura-pura saya nasabah yang terlewat. Kesadaran itu membuat saya harus menunduk sepanjang keluar dari bank dan berpura-pura segalanya baik-baik saja.

Memang lama-lama menjadi biasa juga, persis seperti yang saya tulis dalam Sehabis Lampu Corong Terbitlah Generator. Tapi isu utamanya tetap sama: bagi saya, menyalip antrian itu hanya pantas dilakukan ibu-ibu di antrian kasir supermarket. Bukan karena saya membenarkan, melainkan karena kaum ibu-ibu ini sering merasa berhak menyalip antrian. Entah karena motivasi apa. Kaum lelaki yang menyalip antrian biasanya malu karena ego dia sebagai lelaki, tapi ibu-ibu selalu punya pembenaran bahwa mereka perempuan dan perempuan harus diutamakan. Mommy should got first!

Budaya Nyalip

Budaya nyalip terjadi karena ada budaya ngantri. Sialnya, di Indonesia, budaya ngantri nyaris jadi pemandangan sehari-hari. Ngantri di bank, ngantri di pintu masuk jalan tol, ngantri di kasir supermarket, ngantri BLT, ngantri pembagian zakat, ngantri ngambil air di sumur, ngantri wudlu, ngantri pas beli tiket sepak bola, ngantri beli bunga dalam proyek sejuta Mawar untuk Marwan, ngantri beli pulsa untuk menenangkan hati Kimyi, ngantri beli Oreo biar bisa ketemu Afika, ngantri daftar audisi Indonesian Idol, ngantri dapat jatah kursi di DPR, ngantri jadwal terbit buku, ngantri jadwal tayang di bioskop, ngantri tiket pesawat, ngantri tiket kereta api, ngantri masuk ke kapal feri, dan lain sebagainya.

Sialnya, budaya nyalip sama sekali tak dianjurkan. Selain karena hanya akan memperlihatkan ketidaksabaran dan ketidakdewasaan kita, menyalip antrian dapat memicu serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Kok bisa? Karena menyalip antrian bisa memicu adu mulut, percekcokan, perkelahian, yang bisa saja menyebabkan seseorang kakek yang menjadi saksi mata terkena serangan jantung, seorang yang lain terluka alat kelaminnya sehingga berakibat impotensi, ibu-ibu yang hamil melahirkan di tempat karena shock, dan lain-lain, dan lain-lain.

Menyalip memiliki aturan yang lebih longgar di jalanan. Benar. Di jalan, jika Anda ingin menyalip, Anda dipersilakan. Asal, (1) memberi tanda dengan lampu sen. Untuk apa? Untuk memberi tahu kendaraan di belakang bahwa Anda akan menyalip, sehingga yang belakang tidak ikut-ikutan menyalip yang bisa membahayakan. (2) membunyikan klakson. Untuk apa? Untuk memberitahu kendaraan di depan bahwa Anda ingin menyalip. Jika jalanan luang dan tidak sedang banyak kendaraan dari jalur berlawanan, Anda diperbolehkan melambai-lambaikan tangan seperti Miss Universe. (3) dari kanan. Jadi kalau Anda ingin menyalip, menyaliplah secara baik-baik dari kanan. Jangan dari kiri karena itu akan seperti Anda mengkhianati, menusuk dari belakang.

Tapi kadang-kadang kelonggaran selalu dibuat-buat lebih longgar. Undang-undang lalu lintas hanya membolehkan rombongan Presiden dan Wakil Presiden, ambulance, tamu negara, pemadam kebakaran, dan kereta api[1], untuk menyalip sejumlah mobil dengan biasanya dibuka oleh satu unit mobil pengawal yang menyalakan sirine. Tapi sialnya, saking mentauladaninya rakyat Indonesia kepada akses Presiden dan Wapres dan Ambulance, sampai-sampai: rombongan menteri, rombongan gubernur, rombongan wagub, rombongan bupati, rombongan wabup, rombongan kapolda, rombongan konvoi m0tor, rombongan motor gede, rombongan geng motor, rombongan club motor, sering memaksa kendaraan lain menyingkir hanya agar mereka bisa dengan mudah menyalip. Kadang-kadang ikut-ikutan pakai sirine, kadang-kadang menggunakan tongkat selebar lutut yang biasanya digunakan tukang parkir.

Jika akses untuk menyingkirkan itu ibarat BLT yang hanya hak untuk mereka yang terdapat dalam Undang-undang lalu lintas. Maka, rombongan menteri, rombongan gubernur, rombingan wagub, rombongan bupati, rombongan wabup, rombongan kapolda, rombongan konvoi motor, rombongan motor gede, rombongan geng motor, rombongan club motor, yang suka semena-mena terhadap pengguna jalanan lain sama saja dengan pemilik mobil mewah menggunakan premium, seperti orang kaya yang berobat pake kartu Askes, seperti pejabat yang mengkorupsi BLT, seperti oknum wartawan dan LSM yang memeras kepala sekolah yang mendapat bantuan dari pemerintah untuk merenovasi sekolah.

Egosentris

Sederhananya, kesemena-menaan dalam menyalip hanya memperlihatkan sikap egosentris. Seolah diri lebih penting daripada orang lain. Seolah urusan sang diri jauh lebih fundamental daripada orang lain. Seolah hanya kita yang punya waktu terbatas. Seolah orang lain tidak punya hak yang sama di mata hukum dan pemerintahan.

Padahal, pesan-pesan moral semisal, “kebebasan yang bertanggung jawab”, “saling menghargai”, “saling menghormati”, “tenggang rasa”, adalah pesan-pesan moral yang seiring sejalan dengan sifat hati dan spiritualitas. Jika hal-hal demikian sudah kalah oleh sikap ‘egosentris’, di mana kira-kira derajat spiritualitas kita sebagai manusia?

Konsep Antrian

Budaya mengantri ada untuk memastikan terciptanya rasa berkeadilan, rasa nyaman, ketertiban, dan keamanan. Dengan membudayakan mengantri mereka yang lebih dulu mengambil nomor, berhak mendapatkan service lebih awal. Dengan demikian tidak ada yang dirugikan, tidak ada yang diuntungkan di atas penantian suram orang lain. Hal ini selain mendamaikan secara individual, juga akan lebih menjamin terciptanya masyarakat madani yang non violence.

Bahkan, saking pentingnya sikap mengantri, di Padang Mahsyar saja nanti, ketika manusia dikumpulkan untuk ditimbang amal ibadahnya dan ditentukan akhir nasibnya—surga ataukah neraka—kita mengantri. Kita akan diabsen oleh Malaikat dan dipanggil sesuai nomor urut. Bayangkan jika di Padang Mahsyar kita tak diharuskan dan dikondisikan untuk mengantri, akan seperti apa keributan yang terjadi. Bukan hanya karena ingin lebih dulu tahu, tapi juga karena semua orang panik memikirkan kehidupan di dunia yang disia-siakan.

Dalam konteks sejarah nabi, nama Ali bin Abi Thalib layak diketengahkan. Dalam sebuah riwayat diceritakan, Ali bin Abi Thalib terlambat pergi ke mesjid sehingga nyaris ketinggalan shalat berjamaah. Seolah belum cukup, di jalan dia terhadang oleh seorang kakek yang berjalan pelan. Ali bin Abi Thalib tak berani menyalip tapi juga gemetar luar biasa karena takut tak kebagian shalat berjamaah bersama sang nabi.

Alhasil, Malaikat turun dan ‘memaksa’ nabi untuk memperpanjang rukuk pada salah satu rakaat sehingga Ali bin Abi Thalib bisa tetap ikut shalat berjamaah tanpa sama sekali harus menyalip.

Penutup

Di Jawa ada pribahasa “alon-alon asal klakon”, biar lambat asal selamat. Daripada nyalip dan menyakiti kemanusiaan kita dan berlaku tidak adil kepada orang lain, lebih baik lambat saja, tenang saja. Rezeki takkan kemana. Sudah ada yang mengatur.

Dalam al-Quran dijelaskan “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang sabar”. Melahirkan pribahasa “Orang sabar disayang Tuhan”. Sabar menanti sesuai giliran ngantri atau sabar didahului yang nyalip tanpa permisi. Tapi sebagian lain menyindir, “Orang yang sabar memang akan kebagian, tapi itu sisa. Jadi segalanya harus dilakukan dengan cepat!”

Jadi siapa sebetulnya yang boleh lebih dulu?

Tentu saja jawabannya kontekstual. Yang boleh lebih dulu di kasir supermarket dengan di jalanan kan berbeda. Di kasir supermarket harus yang lebih duluan nyamperin kasir, di jalanan asal kita nyalip dari kanan. Tapi secara umum semangatnya tetap sama: mari pastikan seseorang hanya mengambil yang sesuai haknya karena dengan demikian kita bisa saling memanusiakan manusia. Jadi biarkan yang lebih dulu mendapat giliran lebih awal. Karena ajal pun takkan dipercepat apalagi diperlambat.


[1] Sujiwo Tedjo. Ke Antasari Via Java Jazz. http://www.beritasatu.com

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: