Arsip

Archive for Mei, 2012

Interview Perdana Sirruhart

Dan buat kawan-kawan yang nanti tanggal 16 Juni 2012 ada waktu luang, boleh lah pantengin radionya. Tapi mesti diarahinnya ke 91,2 FM RRI Pro Jakarta yak. Akan ada interview Sirruhart sekitar pukul 18.30. Masih pada punya radio kan by the way? 😀

Kategori:PandoRandom

Ke Kanan, ke Taman Labirin

Ada pameo yang bilang kalau Cipanas memisahkan diri dari Cianjur, Cianjur bakal mengap-mengap nggak bisa makan. Kenapa? Karena mayoritas pendapatan daerah berasal dari sana.

Walaupun sekarang Cianjur Kota sudah mulai berbenah, toh daya tarik wisata Cipanas tetaplah tidak pudar. Seminggu yang lalu, saya dan Arifa main ke Taman Bunga Nusantara

Tiket 20 ribu belum termasuk biaya parkir 5 ribu. Masuk melalui pintu utama, kami disambut air terjun jernih yang bersisian dengan Burung Merak. Sehabis leyeh-leyeh bentar, kami mengambil jalur kiri dan melewati patung dinosaurus besar untuk masuk ke lokasi Taman Mawar, Taman Paris, Taman Labirin, Taman Air, Menara, dan seterusnya!

Patung Dinosaurusnya sih dibikin dari kawat yang dibentuk sedemikian rupa dimana dibagian luar ditumbuhi rerumput dan daun yang merambat. Akibatnya, dari kejauhan akan tampak seperti Pohon berbentuk Dinosaurus.

Taman Mawar memiliki beberapa area duduk berpayung dedaun. Membikinnya mirip taman yang biasa kita lihat di film-film romansa bersetting kerajaan Eropa.

Di hadapan Taman Mawar terdapat Taman Paris. Cirinya kursi taman memanjang, air mancur, dan beberapa pohon yang dibentuk kubus tegak di berbagai sudut.

Dari sana kami masuk ke Taman Labirin. Lewat pintu belakang. Memutari tak jauh, tapi langit keburu gelap. Kami harus sedikit berlari sebelum hujan menderas tapi jalan keluar entah dimana! Akhirnya, berbalik ke arah awal kami masuk, kami berhasil menemukan jalan keluar lalu memaksakan diri hujan-hujanan dan berteduh di mushola.

Setelah hujan reda, kami ke Taman Musik dan hanya melihat sekilas, kemudian berfoto agak lama di Taman Bali. Sebelum masuk saya mempersiapkan diri untuk kecewa. Kenapa? Karena tak berapa sebelumnya saya sudah ke Bali dan saya khawatir ekspektasi saya terhadap taman ini terlalu tinggi.

Tapi tidak. Saya justru kagum. Seperti barongsai: awut-awutan oleh perpaduan berbagai pohon yang acak dan alami, diselingi keindahan sungai kecil yang beriak, danau yang memiliki jembatan kayu, serta tempat lesehan dan pura.

Dari sana, kami keluar dan bersantai sejenak di Taman Palem. Berfoto dua kali di kursi memanjang.

Perjalanan berlanjut ke Taman Mediterania. Berfoto di area luar yang sangat “Mediteran” (Pohon kaktus, kerikil, meja dan kursi batu, bahkan tiga patung kura-kura dari batu). Di sebuah rumah bercat merah muda, tetumbuhan kaktus meraja. Pintu rumah itu hanya sebuah ‘payung’ bergaya Meksiko tanpa pintu.

Keluar dari pintu samping, kami naik ke Menara dan memandangi berhektar-hektar Taman ini. Saya mengajukan pertanyaan kepada Arifa kenapa namanya harus “Taman Bunga Nusantara” sedangkan Taman yang banyak dipamerkan justru Taman Luar Nusantara, seperti Paris, Mediteran, Amerika, Jepang, dan lain-lain. Tapi kemudian saya ngeh, barangkali yang disebut Nusantara di sini adalah fase ketika bangsa Majapahit atau Sriwijaya menguasai berbagai negara. 700 dan 1400 tahun yang lalu.

Itu hanya hipotesa.

Karena kelelahan, kami berjalan santai menuju Taman terakhir. Arifa sangat jatuh hati pada Jepang, jadi kunjungan ke Taman Jepang wajib hukumnya. Kami mengabaikan danau besar yang memiliki patung setengah badan seorang perempuan (Nyi Roro Kidul? Entalah). Alih-alih itu, kami berjalan terus dan masuk ke Taman Jepang.

Lagi-lagi seolah udara yang ada di sana adalah udara Jepang. Semua tanamannya, tanaman Jepang. Kolam dan rumah kayu dan kursi taman dan bebatuan dan tempat leseh-leseh. Sangat minimalis, tertata, sekaligus menggemaskan seperti… seperti siapa yah? Ahahaha.

Karena kaki kami sudah kelewat lelah dan waktu sudah semakin sore, kami tak masuk ke Rumah Kaca dan memilih langsung pulang setelah berfoto di dekat Taman Merak dan Kereta Putih di Areal Parkir.

Sekian. Wassalam. 😀

Kategori:Trekking.

Siapa yang Harusnya Lebih Dulu?

Perasaan bersalah saya setiap kali menyalip antrian di bank itu tak lepas dari rasa kesal saya kalau disalip ibu-ibu saat mengantri di kasir supermarket. Biar tidak bingung, saya pilah satu-satu. Saya menyalip antrian di bank hanya ketika ditugaskan menyetor uang oleh kakak saya. Sialnya 9 dari 10 kali saya ke bank, selalu untuk melaksanakan tugas kakak saya. Jadi, 90% saya ke bank pasti nyalip antrian.

Sebagai sweetheart man, nyalip antrian itu sama tak jantannya dengan minta jatah BLT dua kali. Jadi pas awal-awal melaksanakan tugas menyetor uang itu, saya harus berhadapan di tengah dua arus: pertama, saya ditugaskan untuk setor cepat-cepat dengan memanfaatkan akses yang dijaminkan oleh bank. Tapi kedua, saya juga tak tega melihat orang lain yang mengantri sejak pagi, jatahnya saya salip.

Sialnya, saya sadar betul bahwa jika saya merasa bersalah ketika saya berjalan ke arah kasir untuk menyetorkan uang, saya hanya akan membuat orang lain secara tidak sadar akan menyadari bahwa saya memang menyalip antrian—dan itu akan menghancurkan akting si kasir yang telah berpura-pura saya nasabah yang terlewat. Kesadaran itu membuat saya harus menunduk sepanjang keluar dari bank dan berpura-pura segalanya baik-baik saja.

Memang lama-lama menjadi biasa juga, persis seperti yang saya tulis dalam Sehabis Lampu Corong Terbitlah Generator. Tapi isu utamanya tetap sama: bagi saya, menyalip antrian itu hanya pantas dilakukan ibu-ibu di antrian kasir supermarket. Bukan karena saya membenarkan, melainkan karena kaum ibu-ibu ini sering merasa berhak menyalip antrian. Entah karena motivasi apa. Kaum lelaki yang menyalip antrian biasanya malu karena ego dia sebagai lelaki, tapi ibu-ibu selalu punya pembenaran bahwa mereka perempuan dan perempuan harus diutamakan. Mommy should got first!

Budaya Nyalip

Budaya nyalip terjadi karena ada budaya ngantri. Sialnya, di Indonesia, budaya ngantri nyaris jadi pemandangan sehari-hari. Ngantri di bank, ngantri di pintu masuk jalan tol, ngantri di kasir supermarket, ngantri BLT, ngantri pembagian zakat, ngantri ngambil air di sumur, ngantri wudlu, ngantri pas beli tiket sepak bola, ngantri beli bunga dalam proyek sejuta Mawar untuk Marwan, ngantri beli pulsa untuk menenangkan hati Kimyi, ngantri beli Oreo biar bisa ketemu Afika, ngantri daftar audisi Indonesian Idol, ngantri dapat jatah kursi di DPR, ngantri jadwal terbit buku, ngantri jadwal tayang di bioskop, ngantri tiket pesawat, ngantri tiket kereta api, ngantri masuk ke kapal feri, dan lain sebagainya.

Sialnya, budaya nyalip sama sekali tak dianjurkan. Selain karena hanya akan memperlihatkan ketidaksabaran dan ketidakdewasaan kita, menyalip antrian dapat memicu serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Kok bisa? Karena menyalip antrian bisa memicu adu mulut, percekcokan, perkelahian, yang bisa saja menyebabkan seseorang kakek yang menjadi saksi mata terkena serangan jantung, seorang yang lain terluka alat kelaminnya sehingga berakibat impotensi, ibu-ibu yang hamil melahirkan di tempat karena shock, dan lain-lain, dan lain-lain.

Menyalip memiliki aturan yang lebih longgar di jalanan. Benar. Di jalan, jika Anda ingin menyalip, Anda dipersilakan. Asal, (1) memberi tanda dengan lampu sen. Untuk apa? Untuk memberi tahu kendaraan di belakang bahwa Anda akan menyalip, sehingga yang belakang tidak ikut-ikutan menyalip yang bisa membahayakan. (2) membunyikan klakson. Untuk apa? Untuk memberitahu kendaraan di depan bahwa Anda ingin menyalip. Jika jalanan luang dan tidak sedang banyak kendaraan dari jalur berlawanan, Anda diperbolehkan melambai-lambaikan tangan seperti Miss Universe. (3) dari kanan. Jadi kalau Anda ingin menyalip, menyaliplah secara baik-baik dari kanan. Jangan dari kiri karena itu akan seperti Anda mengkhianati, menusuk dari belakang.

Tapi kadang-kadang kelonggaran selalu dibuat-buat lebih longgar. Undang-undang lalu lintas hanya membolehkan rombongan Presiden dan Wakil Presiden, ambulance, tamu negara, pemadam kebakaran, dan kereta api[1], untuk menyalip sejumlah mobil dengan biasanya dibuka oleh satu unit mobil pengawal yang menyalakan sirine. Tapi sialnya, saking mentauladaninya rakyat Indonesia kepada akses Presiden dan Wapres dan Ambulance, sampai-sampai: rombongan menteri, rombongan gubernur, rombongan wagub, rombongan bupati, rombongan wabup, rombongan kapolda, rombongan konvoi m0tor, rombongan motor gede, rombongan geng motor, rombongan club motor, sering memaksa kendaraan lain menyingkir hanya agar mereka bisa dengan mudah menyalip. Kadang-kadang ikut-ikutan pakai sirine, kadang-kadang menggunakan tongkat selebar lutut yang biasanya digunakan tukang parkir.

Jika akses untuk menyingkirkan itu ibarat BLT yang hanya hak untuk mereka yang terdapat dalam Undang-undang lalu lintas. Maka, rombongan menteri, rombongan gubernur, rombingan wagub, rombongan bupati, rombongan wabup, rombongan kapolda, rombongan konvoi motor, rombongan motor gede, rombongan geng motor, rombongan club motor, yang suka semena-mena terhadap pengguna jalanan lain sama saja dengan pemilik mobil mewah menggunakan premium, seperti orang kaya yang berobat pake kartu Askes, seperti pejabat yang mengkorupsi BLT, seperti oknum wartawan dan LSM yang memeras kepala sekolah yang mendapat bantuan dari pemerintah untuk merenovasi sekolah.

Egosentris

Sederhananya, kesemena-menaan dalam menyalip hanya memperlihatkan sikap egosentris. Seolah diri lebih penting daripada orang lain. Seolah urusan sang diri jauh lebih fundamental daripada orang lain. Seolah hanya kita yang punya waktu terbatas. Seolah orang lain tidak punya hak yang sama di mata hukum dan pemerintahan.

Padahal, pesan-pesan moral semisal, “kebebasan yang bertanggung jawab”, “saling menghargai”, “saling menghormati”, “tenggang rasa”, adalah pesan-pesan moral yang seiring sejalan dengan sifat hati dan spiritualitas. Jika hal-hal demikian sudah kalah oleh sikap ‘egosentris’, di mana kira-kira derajat spiritualitas kita sebagai manusia?

Konsep Antrian

Budaya mengantri ada untuk memastikan terciptanya rasa berkeadilan, rasa nyaman, ketertiban, dan keamanan. Dengan membudayakan mengantri mereka yang lebih dulu mengambil nomor, berhak mendapatkan service lebih awal. Dengan demikian tidak ada yang dirugikan, tidak ada yang diuntungkan di atas penantian suram orang lain. Hal ini selain mendamaikan secara individual, juga akan lebih menjamin terciptanya masyarakat madani yang non violence.

Bahkan, saking pentingnya sikap mengantri, di Padang Mahsyar saja nanti, ketika manusia dikumpulkan untuk ditimbang amal ibadahnya dan ditentukan akhir nasibnya—surga ataukah neraka—kita mengantri. Kita akan diabsen oleh Malaikat dan dipanggil sesuai nomor urut. Bayangkan jika di Padang Mahsyar kita tak diharuskan dan dikondisikan untuk mengantri, akan seperti apa keributan yang terjadi. Bukan hanya karena ingin lebih dulu tahu, tapi juga karena semua orang panik memikirkan kehidupan di dunia yang disia-siakan.

Dalam konteks sejarah nabi, nama Ali bin Abi Thalib layak diketengahkan. Dalam sebuah riwayat diceritakan, Ali bin Abi Thalib terlambat pergi ke mesjid sehingga nyaris ketinggalan shalat berjamaah. Seolah belum cukup, di jalan dia terhadang oleh seorang kakek yang berjalan pelan. Ali bin Abi Thalib tak berani menyalip tapi juga gemetar luar biasa karena takut tak kebagian shalat berjamaah bersama sang nabi.

Alhasil, Malaikat turun dan ‘memaksa’ nabi untuk memperpanjang rukuk pada salah satu rakaat sehingga Ali bin Abi Thalib bisa tetap ikut shalat berjamaah tanpa sama sekali harus menyalip.

Penutup

Di Jawa ada pribahasa “alon-alon asal klakon”, biar lambat asal selamat. Daripada nyalip dan menyakiti kemanusiaan kita dan berlaku tidak adil kepada orang lain, lebih baik lambat saja, tenang saja. Rezeki takkan kemana. Sudah ada yang mengatur.

Dalam al-Quran dijelaskan “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang sabar”. Melahirkan pribahasa “Orang sabar disayang Tuhan”. Sabar menanti sesuai giliran ngantri atau sabar didahului yang nyalip tanpa permisi. Tapi sebagian lain menyindir, “Orang yang sabar memang akan kebagian, tapi itu sisa. Jadi segalanya harus dilakukan dengan cepat!”

Jadi siapa sebetulnya yang boleh lebih dulu?

Tentu saja jawabannya kontekstual. Yang boleh lebih dulu di kasir supermarket dengan di jalanan kan berbeda. Di kasir supermarket harus yang lebih duluan nyamperin kasir, di jalanan asal kita nyalip dari kanan. Tapi secara umum semangatnya tetap sama: mari pastikan seseorang hanya mengambil yang sesuai haknya karena dengan demikian kita bisa saling memanusiakan manusia. Jadi biarkan yang lebih dulu mendapat giliran lebih awal. Karena ajal pun takkan dipercepat apalagi diperlambat.


[1] Sujiwo Tedjo. Ke Antasari Via Java Jazz. http://www.beritasatu.com